Cerpen Muhamad Irfan (Singgalang, 29 Maret 2020)

Kesepian Linduang Bulan ilustrasi Singgalang (1)
Kesepian Linduang Bulan ilustrasi Singgalang 

LINDUANG Bulan selalu sabar menunggu kehadiran si buah hati yang diidam-idamkannya sebagai penerus keturunan. Bandaro juga sudah berusaha dan berdoa kepada Tuhan agar dianugrahi anak.

Bahkan hampir setiap malam mereka mandi basah. Namun sudah sepuluh tahun setelah ia menikah yang ia lalui hanya menunggu kedatangan tersebut, tak jua hadir pelita pengisi kesunyian di kehidupannya. Sampai ia benar-benar pasrah menerimanya.

“Mungkin di balik persoalan ini, ada hikmah yang bisa diterima dengan lapang dada.” Kata Bandaro berpikir.

“Hari-hari tetap akan berlanjut. Bukan karena tak punya anak saja semua persoalan kebutuhan manjadi barubah.” Kata Bandaro sambil membangunkan istrinya.

Mereka pergi ke ladang di pagi hari. Membersihkan lahan yang sudah ditumbuhi rumput. Ladang mereka bersebelahan dengan ladang salah satu masyarakat di desanya. Setiap mereka pergi ke ladang tidak pernah merasa kesepian seperti yang dirasakannya saat di rumah. Sebab mereka beserta warga masyarakat lainnya rata-rata berkerja sebagai peladang, karena tanahnya yang subur dan sangat cocok untuk bercocok tanam seperti menanam kol, cabe, labu, dan bawang. Umumnya mata pencaharian masyarakat di desanya berladang.

Saat Bandaro dan Linduang Bulan sedang membersihkan labu dari hama, rumput jalar, dan benalu. Mereka mendengar risihnya suara seorang peladang yang sedang memburu seekor tupai yang memakan tanamannya. Itu tidak hanya sesekali mereka dengar. Hampir setiap hari mereka mendengarnya. Bahkan dari masyarakat lainnya semenjak mereka menanam labu. Tupai tersebut menjarah ladang masyarakat secara bergilir. Seperti ladang itu adalah hidangan yang akan dilahapnya setiap hari. Bandaro dan Linduang Bulan mulai khawatir akan labu yang mereka tanam.

“Jika hanya sabuah labu yang dimakannya tak apalah, tapi jika hampir semua dimakan si tupai itu, bagaimana pikiran Bulan tentang itu?” Tanya Bandaro kepada istrinya.

“Jangan pangana dipersempit, Uda. Di balik rezeki kita ada juga rezeki makhaluk hidup yang lainnya, uda,” Jawab Linduang Bulan sambil mengajak suaminya pulang.

Sampai di rumah, kesepian datang lagi menghampiri Bandaro dan Linduang Bulan. Mereka kembali teringat akan keinginannya memiliki seorang anak yang ingin dipangku, ditimang-timang, suara rengekan bayi yang minta disusui yang selalu mereka tunggu selama bertahun-tahun setelah menikah. Tiba-tiba Linduang Bulan menangis terisak-isak dan memohon kepada Tuhan agar dianugrahi anak. Ia sudah tidak bisa lagi menahan semua kesunyian yang bersemayam di rumahnya. Bandaro segera merangkul istrinya, memeluknya sambil membelai kepalanya dan mencoba menenangkannya, akan tetapi istrinya tidak bisa tenang. Semua amarahnya meledak seketika. Muncratlah kata-kata yang tidak sepatutnya diucapkan oleh Linduang Bulan.

“Asalkan beranak, biarlah sarupa tupai di ladang,” Hentak Linduang Bulan tak menentu.

Bandaro juga tidak kuasa melihat istrinya mengucapkan kata seperti itu. Air matanya juga luruh menimbang keadaan hidupnya.

“Bersabar diperbanyak, Bulan, tidak elok berkata serupa itu,” kata Bandaro sambil mencium kening istrinya.

Linduang Bulan tertidur di pelukan suaminya. Bandaro membaringkan Linduang Bulan ke tempat tidur dan menemani istrinya tidur. Sebelum tidur ia berkhayal tentang rengekan bayi, senyuman bayi, wajah bayi yang sangat lucu, dan ketawa bayi, serta panggilan ayah dan ibu yang disebutkan seorang anak untuk kedua orang tuanya. Ia selalu membayangkan peristiwa-peristiwa itu. Khayalan itulah yang mengantar tidurnya setiap malam sewaktu ia hendak tidur.

Esok harinya mereka kembali berkerja ke ladang membersihkan buah-buah labu yang sudah elok dipanen. Mereka sangat senang melihat labu tersebut tumbuh dengan subur. Ketika membersihkan ladang mereka menemukan satu buah labu bekas dimakan oleh tupai. Kekhawatiran mereka pun terjawablah sudah. Untungnya hanya satu buah labu. Mereka segera memanen buah-buah labu tersebut tanpa menyisakan satupun kecuali buah labu bekas dimakan tupai itu. Setelah labu itu dipanen, Bandaro meminta beberapa warga untuk membantunya membawa hasil panennya ke rumahnya. Sebagai imbalannya Bandaro memberi beberapa buah labu untuk beberapa warga yang membantunya. Karena begitulah tradisinya sesama peladang dan sesama warga setempat setiap kali peladang yang panen.

Linduang Bulan memanggil Bandaro yang sedang merapikan buah-buah labu di gudang yang usai dipanennya. Setelah letak buah-buah labu itu rapi, Bandaro segera menemui istrinya yang sudah sejak tadi memanggilnya. Linduang Bulan mengutarakan pendapatnya sambil menyuguhkan segelas kopi kepada suaminya yang tepat sudah berada di ruang tamu.

“Uda, Bulan teringat dengan tupai yang sudah memakan buah labu itu, jika tupai itu dijerat, bagaimana menurut uda tentang itu?” Tanya Linduang Bulan.

“Setelah dijerat, mau kita apakan lagi, Bulan. Dibunuh?” Tanya Bandaro terheran.

“Tidak uda Bandaro. Jika tupai itu terjerat, kita pelihara. Sebelum orang-orang menangkap dan membunuhnya. Elok kita pelihara serupa memelihara anak sendiri,” kata Linduang Bulan mengutarakan pendapatnya.

Bandaro setuju dengan pendapat Linduang Bulan. Mereka mulai mengatur rencana untuk menjerat tupai yang selalu meresahkan peladang. Bandaro mengambil sebuah labu. Lalu buah labu itu dibelah dua. Setengah ia simpan dan setengahnya lagi diletakannya di atas atap rumahnya. Setengah buah labu tersebut dibiarkannya selama semalam sebagai hidangan untuk si tupai, sekaligus untuk memancing kehadiran si tupai.

Paginya ketika Bandaro dan Linduang Bulan bangun dari tidurnya, mereka segera melihat ke atap rumahnya. Setengah buah labu tersebut benar-benar dilahap oleh tupai. Bahkan hanya kulit buah labu yang tersisa, selebihnya tandas oleh tupai. Mereka semakin penasaran dan semakin yakin bisa menangkapnya. Bandaro meminta istrinya untuk mengambil dan memotong sisa setengah buah labu yang dibelahnya kemarin. Lalu setengah buah labu itu dipotong kecil-kecil oleh istrinya. Sementara Bandaro membuat perangkap yang berupa rumah kecil yang dibuatnya dari ranting-ranting pohon. Proses penangkapan tupai itu pun dilaksanakannya sebelum matahari terbenam. Perangkap yang berupa rumah kecil itu diletakkan Bandaro di gudang penyimpanan buah-buah labu hasil panennya. Ia memanggil istrinya dan meminta setengah buah labu yang sudah dipotong-potong oleh istrinya tadi. Lalu potongan-potongan buah labu tersebut disusun satu persatu dari dalam perangkap sampai ke atap rumahnya seperti sebuah jalan yang sudah tersedia untuk dilalui si tupai.

Sinar matahari mulai mati dan bertukar dengan sinar bulan dan bintang. Tiba waktunya bagi Bandaro dan Linduang Bulan untuk mengintai gerak-gerik si tupai dari dalam gudang. Bandaro mengikatkan tali di pintu perangkap tersebut dan membelintangkan tali itu ke sebuah kayu yang membentang di bawah loteng gudangnya. Agar ketika ia menarik tali tersebut pintu perangkap akan terbuka, begitu juga sebaliknya jika ia melepaskan tali itu, maka pintu perangkap akan tertutup. Lalu mereka bersembunyi di balik buah-buah labu dan mengintip perangkap berupa rumah kecil itu dari celah buah-buah labu yang tersusun. Setelah mereka menunggu berjam-jam, namun tidak ada juga tanda-tanda kehadiran si tupai. Linduang Bulan lelah menunggu dan akhirnya ia tertidur. Sedangkan Bandaro tetap mencermati potongan demi potongan buah labu yang disusunnya. Tidak lama setelah itu tupai tersebut melompat dari pohon di halaman rumahnya. Tupai langsung menyantap potongan demi potongan buah labu yang telah disusun. Sementara Bandaro sudah tidak sabar melihat tupai masuk ke dalam perangkap yang sudah dibuatnya.

Bandaro tidak membangunkan istrinya yang ketiduran, karena jika ia membangunkan istrinya itu akan mengusik tupai yang akan memasuki perangkapnya dan tupai seketika akan kabur. Tupai mulai mendekati perangkap yang berupa rumah kecil itu. Tanpa menyadari apapun tupai masuk ke dalam perangkap, karena fokus menyantap potongan-potongan buah labu. Bandaro langsung melepaskan tali yang dipegangnya dan pintu perangkap itu pun tertutup. Tupai terperangkap. Bandaro langsung bergegas ke tempat perangkap itu dan memegang tupai.

Linduang Bulan yang tadinya ketiduran, terbangun oleh suara Bandaro. Ia langsung bergegas ke tempat suaminya dan langsung merebut tupai yang digenggam suaminya itu. Linduang Bulan memandangi mata tupai yang penuh rasa takut. Seakan-akan ia terhanyut merasa iba terhadap tupai itu.

“Uda, ingatlah janji yang terkarang sudah di waktu itu. Tupai ini akan kita pelihara serupa anak sendiri.” Kata Linduang Bulan ke suaminya.

“Uda ingat akan hal itu, tapi apakah binatang bisa disamakan dengan manusia?” Tanya Bandaro memotong perkataan istrinya.

“Setidaknya ada yang kita beri makan Uda, sebelum orang-orang di ladang menangkap dan membunuhnya. Membiarkan makhluk hidup terbunuh adalah prilaku binatang buas, Uda. Lebih baik kita pelihara aja.” Tegas Linduang Bulan.*

 

Padang, 2016