Cerpen Ema Afriyani (Banjarmasin Post, 29 Maret 2020)

Kangen Bapak ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post (1)
Kangen Bapak ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post 

Bapak belum meninggal. Jadi setiap hari kami masih bertemu, juga bertegur sapa meski seadanya. Namun kerinduan tak melulu soal jarak. Kerinduan yang menyusup tanpa permisi ini lebih pada perubahan sikap.

Setiap malam, Bapak ada di rumah. Bergelung dengan selimut kumal di atas dipan bambu kamarnya. Jarang mengajak dua anaknya bicara atau bercerita seperti saat masih ada ibu dulu.

“Ayo, Kak,” ajakan Akbar—adik tunggalku, memecahkan kumpulan kejadian yang tadi berputar dengan rakusnya. Karena selalu merangsek jika ada sedetik waktu yang kumiliki tidak digunakan untuk apa-apa.

Demi mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari speaker mushola yang sudah memecah keheningan desa tempat tinggalku, aku berlalu permisi pada kenangan yang sempat singgah. Meninggalkannya begitu saja, walau sangat kuyakini beberapa jam kemudian dia akan datang lagi.

***

Selepas melaksanakan solat isya, aku dan Akbar pulang. Kami berdua selalu pergi ke mushola sebelum magrib, dan kembali ke rumah selepas melaksanakan solat isya berjamaah. Berada di rumah Tuhan, aku selalu merasa nyaman.

Tapi kenyaman itu langsung hilang jika aku sudah berada di rumah. Melihat Bapak yang begitu nyenyak mengistirahatkan tubuh. Iya, aku tau. Bapak bekerja. Berangkat pukul 7 pagi dan kembali ke rumah pukul setengah enam sore. Memanggang tubuhnya di bawah terik sepanjang hari, untuk mendirikan bangunan-bangunan perumahan, dengan penghasilan yang lebih sering habis di pertengahan bulan.

“Dina berhenti sekolah saja, Pak,” saranku beberapa minggu setelah kepergian Ibu. “Dina sudah besar. Mungkin dengan bekerjanya Dina, bisa meringankan beban Bapak.”

Bukannya merasa senang, Bapak malah menatapku sinis. Seolah laki-laki dengan kerutan yang sudah muncul di wajahnya itu, tak pernah mengalami hal yang aku bicarakan; beban. Padahal aku tau, hidupnya terus ditekan oleh biaya hidup yang semakin hari menjadi melonjak.

“Dina sudah besar, Pak,” sekali lagi aku menegaskan. Tak hanya pada kalimat itu, tapi juga melalui tatapanku. “Dalam posisi berduka itu memang sulit, Pak. Tapi perlahan kesedihan itu bisa diurai. Dengan saling bahu membahu.”

Bapak meraih gelas kaca berisi kopi yang tersisa setengah. Pasti sudah dingin. Sama seperti sikap Bapak yang dingin pada aku dan Akbar semenjak Ibu menutup mata untuk selamanya.

“Dina mengalah, untuk Akbar. Karena… setidaknya ada satu anak Bapak yang mendapat pendidikan lebih baik dari orangtuanya.”

Bapak masih bungkam.

“Supaya kesengsaraan itu tidak turun temurun, Pak,” tegasku.

“Tidak ada yang meminta kamu untuk mengalah,” bentak Bapak.

Dan yang paling membuatku tidak percaya, adalah bentakan darinya. Sekeras apapun aku pada sebuah keinginan yang tak disetujuinya, Bapak selalu berusaha menjelaskan penuh kelembutan dengan senyuman di wajah. Itu dulu.

Kehilangan yang menghampiri keluarga kami benar-benar memutar roda sikap Bapak. Tadinya lembut, menjadi kasar. Dulunya penuh senyum, sekarang selalu menatap tajam. Tak hanya itu, kehilangan sudah mengikis rasa kepedulian serta perhatian dari dalam dirinya. Entah semua itu dibuang ke mana. Atau ia jatuhkan dari atas ketinggian bangunan yang dibangun?

“Lanjutkan sekolahmu. Luluskan dirimu dari SMA itu. Tak usah pikirkan biaya. Toh, biaya sekolahmu ditanggung pemerintah. Dan untuk kehidupan sehari-hari, Bapakmu ini masih sanggup mencarinya,” jelas Bapak dengan amarah yang jelas terselip melalui nada bicaranya.

Bapak menyeruput kopi hitam di gelas sampai habis. Dilangkahkan kakinya menuju kamar. Setelah pintu itu ditutup dengan kasar, malam di balik rumah sederhana itu berselimut kesedihan.

Kesedihan yang hingga kini masih setia menyelimuti. Tak hanya menyelimuti rumah, namun juga hati. Terkadang ada pemberontakan dari dalam diri. Menyalahkan Tuhan atas semua yang terjadi.

Jelas aku salah. Semua memang terjadi atas kehendak Tuhan. Tapi tak ada satupun manusia yang berhak menyalahkan Tuhan. Lantas, siapa yang harus aku salahkan?

Bapak? Keadaan? Kematian Ibu? Atau aku?

Tidak. Tidak ada yang dapat disalahkan. Bapak, keadaan, kematian Ibu, dan aku adalah milik Tuhan. Menyalahkan atas hal-hal itu sama saja menyalahkan Tuhan.

Ah, aku benci. Lagi-lagi semua yang terjadi kembali pada keikhlasan hati tanpa harus menyalahkan siapapun dan apa saja.

***

Perubahan sikap Bapak makin hari membuatku bosan menjalani hidup ini. Yang pecah setiap hari hanyalah kemarahannya. Dan aku sudah tidak tahan untuk bersuara. Melakukan pencerahan, karena aku yakin Bapak sudah lupa tentang warna-warni yang diciptakan Tuhan.

Sejak kematian Ibu, yang dia tau hanya warna abu-abu dan hitam. Pikiran dan gerak tubuhnya terkoneksi sebuah program yang mengharuskannya hanya untuk tidur, makan, dan bekerja.

Sebegitu menjadi robotkah sampai rasa kepedulian di hatinya hilang? Bapak sudah dimasuki progam yang salah. Dan harus segera diprogram ulang agar kehidupan kami ke depan menjadi normal bahkan lebih baik.

“Pak…” panggil Akbar hati-hati.

Bapak yang sedang menikmati makanan di piring sedikit mengangkat pandangan.

“Besok Akbar ada pelajaran menggambar. Dan Akbar belum punya pensil warna,” dengan ketakutan di wajah Akbar mengatakannya.

Tanpa perlu melanjutkan kalimat pun, Bapak pasti tau. Jika putranya yang duduk di bangku SD itu ingin meminta dibelikan pensil warna.

“Bapak belum gajian. Uang yang ada itu untuk biaya makan selama beberapa hari ke depan. Kalau dipakai buat beli pensil warna, apa kamu mau, enggak makan sampai gaji Bapak dibayar?”

“Tapi, Pak…”

Akbar tak berani melanjutkan ucapannya ketika mata Bapak menatap tajam. Sungguh, berada pada posisi ini sangat tidak enak.

Uang tabungan dari jajan sehari-hari sudah aku gunakan untuk membeli buku materi beberapa pelajaran. Sayang sekali, untuk kali ini aku tak bisa berbuat apa-apa untuk Akbar.

“Cari kerja itu susah untuk yang enggak sekolah seperti Bapak. Sekalinya dapat kerja, gajinya kecil dan tersendat. Jadi sekolah yang rajin. Jangan sia-siain kesempatan,” ucap Bapak.

Bapak meneguk air putih di gelas hingga tandas. “Makanya, do’ain Bapak supaya rejekinya lancar.”

“Bagaimana bisa rejekinya lancar, kalau yang sedang melakukan usaha saja tidak berdo’a?” protesku.

Saat itu juga Bapak menghadiahkan pelototan tajam yang nyaris mencopotkan bola mata dari kelopaknya. Aku bukan hendak bersikap kurang ajar. Hanya memberikan peringatan pada waktu yang tepat.

“Pak, Dina dan Akbar tak pernah berhenti mendo’akan Bapak, agar Allah membukakan pintu rejeki untuk keluarga kita,” aku menatap teduh. “Masalahnya ada di Bapaknya. Bapak enggak pernah solat lagi. Suatu kesedihan itu, enggak akan hilang kalau kita cuma nangis. Kita harus ingat Allah, Pak. Supaya kita senang terus.”

“Enggak usah sok menyeramahi Bapakmu. Tau apa kamu soal itu?” sengit Bapak.

Aku menatap manik matanya lebih lekat. “Dina memang minim soal pengalaman hidup kalau dibandingkan sama Bapak. Tapi, Pak. Kalau ada sesuatu yang salah, ya harus dibenarkan. Enggak peduli tua ataupun muda yang melakukan kesalahan dan yang memberi peringatan. Sesama manusia harus saling mengingatkan. Apalagi kita terikat dalam hubungan yang bernama keluarga.”

Bapak menghempaskan napas dengan kasar. Dia berdiri dari duduknya. Hendak meninggalkan meja makan. Sebelum tangannya memegang knop pintu, aku bersuara, “Kalau bukan anak Bapak yang mengingatkan, siapa lagi, Pak? Mengharapkan tetangga yang usianya lebih tua dari Bapak?”

Tangan Bapak mengambang di udara.

“Mereka bukannya mengingatkan, malah membicarakan di belakang,” seruku lagi.

Setelah ada jeda hening cukup lama, Bapak memutar knop pintu. Yang pasti di dalam kamar itu, dia bergelung pada selimut kumalnya, lalu terlelap dengan membawa kesedihan serta kenangan saat menjalani hari bersama Ibu.

“Akbar kangen Bapak yang dulu, Kak. Akbar kangen Bapak solat berjamaah lagi di mushola,” kata Akbar.

“Kakak juga, Bar,” jawabku.

Kami kangen Bapak. Namun sayang perasaan Bapak ikut mati dan terbang bersama Ibu ke alam abadi. Dan membuat kerinduan ini tak kunjung tuntas untuk dilepas. Pada akhirnya aku tau, bahwa kami harus menunggu Bapak ikhlas atas kematian Ibu. ***

 

Ema Afriyani kelahiran Kendal, 9 Mei 2001. Lulusan Teknik Elektronika Industri di SMK Negeri 1 Bintan Utara. Cerpen dan puisinya pernah dimuat koran Batampos, Mbludus.com, dan Redaksi Kawaca. Domisili di Bintan.