Cerpen Rizky Alvian (Radar Banyuwangi, 29 Maret 2020)

Glauconian ilustrasi Reza Fairus-Raba - Radar Banyuwangi (1)
Glauconian ilustrasi Reza FairusRaba/Radar Banyuwangi 

RASANYA bibiku punya cinta dengan dosis berlebihan, hingga hormon endorfin lama-kelamaan menggerogoti akalnya menjadi pendek, dan hatinya semakin sulit berkompromi dengan realita. Ida melihat Marlon seperti sosok tanpa cela yang akan maju sebagai calon kuwu. Segala atribut kampanye melekat di badan, dan bukan tak mungkin wajah Marlon juga terpatri di hatinya.

Sebagai bukti, Ida selalu bergincu dengan tulang pipinya kemerahan tersapu riasan setiap ikut bersosialisasi bersama Marlon. Si Marlon ini—menurut selentingan orang-orang—istrinya kabur dan kawin lagi dengan seseorang dari Pulau Borneo sana, hasil berkenalan lewat dunia maya, kopdar, tersengsem, maka diajak kawin larilah istri Bang Brewok—Marlon itu.

Suami Ida adalah TKI yang terakhir pulang tiga bulan lalu, ketika lebaran. Itu pun hanya empat hari, lalu pergi lagi. Selebihnya, Ida disibukkan membantu pencalonan, sampai menjadi ketua kampanye Marlon bersama ibu-ibu lain.

Walaupun program kerja yang ditawarkan Marlon cukup milenial yaitu akan ada WiFi Station di setiap RW, yang katanya hasil kerja sama dengan satu perusahaan rokok. Marlon bilang, syaratnya hanya dengan membeli sepuntung rokok, gratis WiFi sampai matamu kendur.

Tapi, orang-orang mengingat Marlon adalah penjudi ulung. Satu dekade ia hanya kalah tujuh kali, itu pun karena dua pertandingan ia tak ikut karena masalah pencernaan, hingga terdiskualifikasi. Pasang buntut, poker, capsa, QQ, dan bahkan pencalonannya sendiri dijadikan taruhan jutaan rupiah. Sakit!

Aku tahu banyak tentang Marlon, karena lima bulan lalu Ida datang kepadaku untuk diinstalkan software edit-edit gambar di laptopnya. Dan aku rasa orang yang dimabuk cinta akan merabunkan segala-galanya. Waktu menginstal software tidak sampai dua jam. Tapi Ida bercerita tentang Marlon hampir tiga jam. Dan ia beberapa kali mencelup bakwan ke coklat panas (?).

Ajaibnya lagi, Ida mampu mempelajari edit gambar hanya dalam dua bulan. Di bulan ketiga beberapa foto Marlon sedang bersalaman dengan Trump, makan malam dengan Putin, dan satu frame dengan boyband Korea. Hampir setengah rim bibiku mencetak gambar-gambar nyeleneh itu, tak ketinggalan juga bubuhan kalimat politis nan manis. Meski hurufnya bergaya Comic Sans. Biarlah, namanya juga jatuh cinta.

***

”Kamu buatin gambar menarik gitu dong, supaya Bapak menang.”

”Pak, aku kuliah ekonomi, lho. Bukan anak desain,” keluhku sambil geleng-geleng.

Bapakku sebenarnya mencalonkan kuwu lagi. Namun aku terlalu malas menjadi tim sukses. Lebih tepatnya tak mau berada di pusaran kebencian. Seperti bibiku yang sedikit pecah kongsi dengan keluarga bapak.

Jika bapak singgah di tanah orang selama dua minggu, dari tokoh masyarakat, aparat, bocah-bocah, tukang parkir, pemuda yang nongkrong berjam-jam di warung kopi, sampai kepala preman dengan codet yang memenuhi muka, bisa bapak rangkul. Tapi jangan pernah menyuruhnya berkenalan dengan wanita baru, bisa bergetar hebat badannya. Semenjak ibu meninggal, bapak lebih suka bergaul dan memperbanyak jejaringnya. Kadang aku kasihan melihat bapak tiap malam merenung sambil menghisap dalam-dalam kreteknya.

Suatu hari aku pernah memancing bapak, ”Pak, nggak coba cari lagi? Biar kalau malem nggak main korek sama rokok aja.”

”Nanti lah, Bapak mau fokus ke….” Kemudian bapak menyebutkan proyek-proyek kemasyarakatan yang aku lihat tak pernah ada libur atau tak bisa meluangkan untuk liburan.

Aku tahu berat sekali, biar bagaimanapun ibu berhasil mengubah sikap bapak yang dahulu tak terlalu peduli dengan orang. Berawal dari ibu yang melihat bapak selalu melukis mangkuk-mangkuk polos di rumah, kemudian mengenalkan bapak ke Pak RT. Ibu bilang, bapak mempunyai keterampilan khusus di bidang seni rupa dan menggabungkannya dengan teknologi. Dengan latar belakang bapak kursus elektro selama dua tahun, akhirnya kampung kami diberikan gelar kampung unik nan futuristik.

Visi-misi bapak sebenarnya tak jauh-jauh dari pendidikan. Tanah bengkoknya ia beli lalu dibangunkan untuk belajar anak-anak. Dari anak usia dini, bocah, hingga ABG. Tak cuma mengajarkan agama, di sana juga mereka diberi keterampilan. Suatu hari bapak pernah berkata bahwa kenapa ia bangun sebuah lembaga pendidikan adalah wujud pembalasan dendam. Jika banyak motivator bilang bahwa sekolah tak penting, maka bapak orang yang pertama menentangnya. Bapak duhulu seorang introvert cukup parah. Namun akhirnya mau tak mau sekolah memaksanya untuk mengajarkan bergaul, sosialisasi, dan memahami perbedaan. Maka tak heran sikap kaum rebahan dan gadgetholic macam aku tak pernah diusiknya. Hanya ia menyuruhku lulus cepat-cepat, kemudian mengambil S-2.

***

Seminggu sebelum pemilihan kuwu, Ida mampir ke rumah dengan bertentengkan rantang susun enam.

”Mohon maaf, ini iktikad baik saya, supaya kita bisa rukun lagi, walaupun beda prinsip,” katanya. Aku sebenarnya tidak mudah percaya, mengingat sebelumnya bibiku ini pernah melakukan misi subliminalnya dengan pura-pura baik. Sayang sekali bapak saat itu berada di basis pemenangannya, jadi ia tidak bisa langsung bertatap muka dengan Ida.

”Makasih banyak, mau masuk dulu?” Aku tersenyum basa-basi.

”Tidak usah repot, saya masih ada janji dengan Akang Marlon.” Ida lalu berpamitan.

***

Seusai sarapan, aku hendak menunjukkan sesuatu pada bapak. Satu strip Dumolid.

”Kemarin bapak dari klinik,” kilah bapakku, yang tentu saja tak mudah dipercaya, apalagi dengan keringat yang mulai bertimbulan di pelipisnya.

”Aku nemu di saku belakang jeans bapak. Lagipula sepenting apa sih pemilihan kuwu ini?!” Aku kembali menunjukkan sesuatu ke bapak, sebuah bong. ”Sampai bapak rela mengorbankan segalanya.”

Menurut mantan kekasihku yang kuliah farmasi, di dalam Dumolid ada kandungan semacam tembaga atau emas, yang berfungsi menenangkan, apalagi bagi para pecandu sabu. Untuk meminimalkan efek antusias yang berlebihan.

”Nak, kau pikir bertemu orang baru, supel kanan-kiri, itu tak butuh usaha berlebih? Apalagi setelah ibumu meninggal. Yang biasanya menenangkan bapak sebelum tidur beliau, kini ibumu ada dalam perwujudan obat strip ini! Lagipula bapak supel kan juga untuk memudahkanmu suatu saat nanti.”

Aku berdiri, menarik napas panjang, dan bergegas pergi. Apa pun sanggahan bapak, tak mengembalikan kepercayaanku mendadak terpelanting keras. Rasanya jika tak tahu adat agama, ingin kuludah kuat-kuat di depan muka bapak.

***

Aku mengayuh sepeda di saat matahari hampir tergelincir, sinar jingga kekuningan menghujani desa. Karena aku sedang gusar dengan bapak, mungkin pergi dari rumah bisa sedikit menenangkan. Sepanjang jalan menuju rumah bibi, aku mencium aroma bangkai yang cukup menyengat. Ya meskipun kanan-kiri ini adalah kebun yang cukup rimbun, tak biasanya aku mencium bau bangkai yang sebegini menyengat. Apalagi tak kulihat lalat berdengung mengerubuti sesuatu. Maka dengan sedikit menahan napas, aku mempercepat kayuhan.

Aku ketuk pintu dengan ukiran bunga itu. Lebih dari tujuh kali, tak ada jawaban. Namun lamat-lamat kudengar suara musik mengentak.

”Bi….” Kutengok kanan-kiri, rumah ini masih melompong. Rantang kemudian kuletakkan di meja makan.

Bajingan! Dari pintu yang terbuka seperempat itu, kulihat Marlon duduk di emper kasur dengan bertelanjang dada, sementara Ida masih tidur dengan selimut.

”Hei, siapa itu? Dam? Sayang, kau lupa mengunci pintu?”

”Ah, bodohnya aku.” Ida menepuk keningnya.

Marlon meraih pundakku, ”Dam, ini tak seperti kelihatannya.” Buru-buru kutepis tangannya. Dengan napas menggebu, tanpa sepatah kata rasanya aku ingin cepat keluar dari rumah laknat itu.

”Aku hanya menyelamatkan bibimu dari kesepian.” Aku diam sejenak, ketika Marlon berbicara begitu. Tak peduli rumah siapa, pintu kubanting keras—sekeras kecewaku pada orang terdekat belakangan ini.

Almarhum Abah pernah memberi wejangan kala aku ikut pencalonan ketua BEM.

”Salah terus bukan berarti setan, selalu benar bukan berarti malaikat. Nanti jika kau menjadi pemimpin. Jadilah manusia! Yang tentu harus memanusiakan.”

Tapi kali ini aku minta maaf, Bah. Calon-calon pemimpin desa ini jauh dari malaikat dan melebihi setan. Ternyata benar, selama ada peluang, dan citranya aman, manusia pasti akan melakukan hal-hal buruk, kecil atau besar. Mungkin menjaga jarak sementara ada gunanya.  Ketika sampai di kebun yang aku lewati ketika berangkat masih berbau bangkai, sekarang sudah kembali menjadi bau tanah dan sampah-sampah basah. Ah, lagipula bangkai itu sudah ketahuan wujud rupanya. (*)

 

Cirebon, awal Februari 2020

 

KETERANGAN

*Glauconian: Diambil dari nama Glaucon adik kandung Plato. Menurut Glaucon, manusia hanya akan berbuat baik dan adil dalam hidup ketika ada di hadapan orang lain. Jika tidak ada yang melihat, atau tidak ada orang di sekelilingnya, manusia punya kecenderungan untuk berbuat curang atau tindakan buruk lainnya.

 

Rizky Alvian, lahir di Cirebon, 14 November 1998. Beberapa cerpennya pernah dimuat di media cetak dan online.