Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 28-29 Maret 2020)

Jatuhnya Seorang Astronaut ilustrasi Koran Tempo (1)
Jatuhnya Seorang Astronaut ilustrasi Koran Tempo

Ayikaka sedang membawa gajahnya berjalan-jalan ketika sinar matahari sore membuat kelopak-kelopak bunga berkilauan. Dia menunggang binatang besar itu sembari memperhatikan sekitar, gajahnya melangkah perlahan seakan takut menyakiti bunga-bunga yang berserakan menutupi permukaan tanah. Sebelumnya, langit dipenuhi gumpalan-gumpalan awan kelabu yang bergerak dihela angin. Ketika Ayikaka memasuki garis hutan, sekonyong-konyong awan-awan itu terpencar, seolah mereka adalah kanak-kanak yang dilepas ibunya untuk bebas bermain. Ini musim gugur bagi bunga violeta. Permukaan tanah hutan berwarna jingga terang. Pohon violeta berbuah kecil-kecil seperti ceri, tetapi pohonnya tinggi seperti jati. Buah violeta tak bisa dimakan, kelopak bunganya juga terlalu lembek sehingga tak cocok dijadikan hiasan. Hanya saja, ketika musim gugurnya tiba, hutan tempat tumbuhnya pohon ini jadi tampak menakjubkan.

Sesuatu yang menakjubkan biasanya menyimpan bahaya besar. Ini kesimpulan Ayikaka kala suatu ketika dia menemukan beberapa ekor katak berwarna-warni di sebuah goa di hutan yang lain. Permukaan kulit katak itu biru terang, di atas permukaan itu ada garis-garis merah, hijau, kuning. Ayikaka menangkap seekor dan begitu tangannya menyentuh kulit katak, seperti ada aliran listrik yang mengentaknya. Dia terjungkal, seluruh tubuhnya terasa lumpuh. Untung saat itu dia bersama Cikamikaniko, orang tua yang tinggal di hutan. Butuh beberapa lama untuk membuatnya bugar kembali, setelah serangkaian pengobatan menggunakan ramuan dan roh-roh para moyang.

Pada satu titik, gajah tunggangannya berhenti. Belalainya bergerak naik-turun. Ayikaka menepuk-nepuk punggung binatang itu seraya menajamkan pandangannya ke sekitar. Terdengar bunyi desing seperti benda yang diluncurkan. Ayikaka tak tahu dari arah mana suara itu, dia menyesali kerimbunan daun yang menghalangi sinar matahari. Suara desing semakin kuat, semakin dekat, lalu pahamlah Ayikaka bahwa suara desing itu datang dari atas, dari arah langit. Dia mendongak, tapi daun-daun menghalangi pandangannya. Dia kembali menepuk punggung gajahnya, kali ini dengan tujuan membuat binatang itu bergerak ke tempat yang lebih lapang. Tetapi gajah itu bergeming, telinganya yang seperti lembaran manuskrip purba membuka dan mengatup, lantas binatang itu mendengus seakan marah dan bunyi yang seperti lengking terompet menggema di seantero hutan seiring bunyi desing yang kian dekat.

Baca juga: Teo Berubah Jadi Bebek – Cerpen Kiki Sulistyo (Suara Merdeka, 08 September 2019)

Sebuah benda jatuh dari langit, beberapa depa dari tempat Ayikaka dan gajahnya berdiri. Benda itu berdebum menimpa tumpukan bunga violeta. Segumpal batu putih yang mengepulkan asap tergeletak menimbulkan kesan kontras dengan warna di sekitarnya. Ayikaka sedikit tegang, bayangan katak listrik membersit di pikirannya. Jika di bawah sini saja banyak hal-hal berbahaya yang tak dipahami, bagaimana pula dengan benda-benda dari atas sana? Ketegangan Ayikaka kian kuat ketika dilihatnya batu putih itu bergerak-gerak. Bukan hanya bergerak, batu itu terlihat mekar dan memanjang, seperti berubah menjadi bentuk lain. Sadarlah Ayikaka bahwa batu itu membentuk sosok manusia. Karena merasa tak punya petunjuk apa-apa, Ayikaka memperhatikan tingkah gajahnya. Binatang itu sama sekali tak gelisah, ia tenang saja berdiri sambil menggerakkan belalai dan daun telinganya. Melihat itu, Ayikaka sedikit tenang; bila benda di hadapannya itu berbahaya, pastilah gajahnya akan gelisah.

Ayikaka memutuskan turun dari tunggangannya ketika sosok putih di hadapannya berdiri, sempurna seperti manusia dengan pakaian sepenuhnya putih dan mengenakan helm dengan bagian muka terbuat dari kaca tembus pandang. Cahaya yang tidak begitu terang dan jarak yang cukup jauh membuat Ayikaka tak bisa melihat wajah di balik helm itu.

Sosok itu melangkah mendekat. Mereka berhadap-hadapan.

Sesaat kemudian, sosok itu mengangkat kedua tangan untuk membuka helmnya. Ayikaka terkejut, dia berusaha mengingat wajah siapa yang muncul dari balik helm itu, lantas seperti mendapat kejutan, dengan segera, sedikit di luar sadarnya, Ayikaka berseru.

“Ju’uni!”

Perempuan itu menarik kedua ujung bibirnya sehingga membentuk lengkungan yang manis. Wajahnya ramping dengan hidung mungil seperti hiasan, sebagaimana juga bibir yang melengkung cukup lama sebelum kembali datar itu. Rambutnya sebahu, disemir dengan campuran warna emas dan perak, rona merah pada pipinya tampak menonjol. Ju’uni masih tidak berkata-kata, bahkan ketika Ayikaka tepat berada di hadapannya. Ju’uni menatap ke belakang punggungnya, memperhatikan gajah yang tak bergerak dari tempatnya semula.

Baca juga: Hellena dan Teror Sesosok Hantu – Cerpen Adam Yudhistira (Koran Tempo, 21-22 Maret 2020)

“Aku kira binatang itu sudah punah,” Ju’uni bergumam. Ayikaka menengok seakan baru menyadari kehadiran gajahnya. “Itu satu-satunya gajah di sini. Dia binatang yang ramah.” Ju’uni memperhatikan wajah Ayikaka seakan sedang mengingat-ingat.

“Iya…” jawab Ju’uni seraya melangkah mendekati gajah. Gerakannya demikian ringan seolah ia sedang melayang-layang di permukaan bulan. Barangkali di suatu masa, permukaan bulan pernah (atau akan) berwarna violet. Gajah menjulurkan belalainya ketika Ju’uni sudah cukup dekat, Ju’uni tertawa oleh sambutan itu. “Betul, kan? Gajah adalah binatang yang ramah,” ucap Ayikaka yang tiba-tiba sudah ada di samping si gajah dan menepuk-nepuk tubuh binatang itu.

“Pernah menunggang gajah? Kalau belum, ayo coba. Kau akan merasa seperti seorang ratu.” Ayikaka melompat ke punggung gajah dan menjulurkan tangannya. Ju’uni menyambut, Ayikaka menariknya dan mendudukkannya di belakang. Si gajah berbalik dan dengan riang berjalan meninggalkan hutan.

Mereka menyusuri tepi sungai di luar kawasan hutan. Sungai sedang surut, bunyi gemericik membubung ke udara. Di sekitar sungai ada banyak batu aneka warna dan ukuran, mirip jamur. Kedua penunggang gajah itu nyaris tidak berkata-kata. Di suatu titik, mereka melihat sekelompok orang duduk-duduk di tepi sungai. Orang-orang itu tidak heran melihat gajah lewat, tetapi tampaknya mereka tertarik pada Ju’uni.

Baca juga: Perjalanan Puitis Seorang Pembunuh Bayaran – Cerpen Surya Gemilang (Koran Tempo, 07-08 Maret 2020)

“Apa yang mereka lakukan di tepi sungai?” tanya Ju’uni, entah pada Ayikaka, entah pada dirinya sendiri.

“Mereka percaya air sungai itu suci. Mereka mandi di sana untuk membersihkan diri dari wabah.”

“Wabah?”

“Iya. Wabah.”

“Maksudmu wabah…”

Orang-orang yang tadi duduk di tepi sungai diam-diam mengikuti mereka dari belakang. Orang-orang itu setengah berlari mengimbangi langkah gajah. Pemandangan di sekitar pelan berubah; barisan tanaman dan pepohonan mulai menghilang, digantikan bangunan-bangunan. Rupanya mereka memasuki kawasan kota. Setiap kali ada orang yang melihat mereka, orang itu terheran-heran sesaat sebelum kemudian setengah berlari mengikuti dari belakang. Sepanjang jalan, Ju’uni memperhatikan bentuk bangunan-bangunan. Semakin diperhatikan semakin tampak keganjilannya; tidak ada satu pun bangunan yang memiliki pintu atau jendela. Semua berwarna putih semata dan tak terdapat tulisan apa pun. Bentuk-bentuk kubus, piramida, oval, dan bulat, polos serta solid tanpa celah.

“Apakah orang-orang tinggal di bangunan-bangunan itu?” tanya Ju’uni, entah pada Ayikaka, entah pada dirinya sendiri.

“Iya, mereka tinggal di sana.”

“Bagaimana cara mereka masuk? Aku tidak melihat ada pintu.”

“Mereka tidak perlu pintu. Mereka bisa menembusnya.”

“Maksudmu menembus…”

Baca juga: Amuk – Cerpen Artie Ahmad (Koran Tempo, 29 Februari-01 Maret 2020)

Orang-orang yang mengikuti mereka semakin banyak. Sekarang mereka mulai mengeluarkan suara-suara. Ju’uni menengok ke belakang dan sedikit merasa cemas. Dia seperti baru menyadari segala sesuatu. Dia menyadari bahwa dari tadi dia tak menggunakan ingatannya. Lalu dia mulai merangkai apa-apa yang bisa diingatnya; wabah penyakit yang menyebar dan menyerang manusia di seluruh dunia telah disimpulkan tidak berasal dari bumi; para peneliti menduga itu adalah tahap awal dari invasi makhluk luar angkasa. Sejumlah peneliti lain meragukan dugaan itu dan menganggap pernyataan itu menyesatkan serta tiada lain adalah ungkapan keputusasaan. Sementara para penganut teori konspirasi juga terbelah. Mereka yang terobsesi pada kehidupan luar angkasa segera memercayai pernyataan para peneliti pertama, sedang mereka yang lebih percaya pada konspirasi politik meyakini bahwa wabah tersebut adalah bikinan negara adidaya dalam upaya untuk semakin menguasai dunia. Akibat wabah tersebut, semua negara mengunci diri dan berkonsentrasi menanggulangi wabah. Situasi itu dimanfaatkan di seluruh kawasan oleh para pemberontak, milisi oposisi, serta orang-orang yang menginginkan berdirinya negara agama, satu agama bagi seluruh umat manusia. Kekacauan terjadi di mana-mana, dunia seperti memasuki masa apokaliptik.

Ju’uni, yang tinggal di sebuah kota kecil di Asia Tenggara dan bekerja sebagai staf lembaga swadaya masyarakat yang mengurus persoalan lingkungan, pada suatu malam diculik oleh sekelompok orang. Ia tidak tahu kenapa ia diculik dan tak ingat berapa lama ia disekap, yang ia ingat hanyalah ketika ia dirias seperti pengantin sebelum lantas dilontarkan dari sebuah ruangan tertutup ke ruang terbuka yang benar-benar hampa. Ia melayang-layang beberapa saat sebelum meluncur deras dan jatuh di tengah-tengah hutan violeta.

“Kenapa mereka mengikuti kita?” tanya Ju’uni, entah pada Ayikaka, entah pada dirinya sendiri, setelah melihat orang-orang semakin banyak di belakang.

“Mereka sudah lama menunggu.”

“Maksudmu menunggu…”

Baca juga: Pengkhianatan Seorang Kuncen – Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 22-23 Februari 2020)

Gajah bergerak semakin gesit, binatang itu bahkan melompat-lompat seperti katak. Matahari yang turun tidak sepenuhnya menghilang, seakan bulatan besar itu hanya mencelupkan sebagian dirinya di garis cakrawala. Sinarnya meredup, persis sumbu lampu petromaks yang kehabisan daya. Orang-orang di belakang kian banyak, seolah-olah sepanjang perjalanan itu mereka berkembang biak dengan sendirinya, dan sebagaimana si gajah, mereka juga ikut melompat-lompat seperti katak.

Pada satu titik, si gajah pelan-pelan melambatkan gerakannya. Dari berlari, lalu melompat-lompat, kini binatang itu berjalan. Ju’uni melihat pemandangan sekitar dan seperti mengenali tempat mereka berada. Mereka menyusuri tepi sungai di luar kawasan kota. Sungai sedang surut, bunyi gemericik membubung ke udara. Di sekitar sungai ada banyak batu aneka warna dan ukuran, mirip jamur. Di ujung sungai tampak barisan pepohonan, bunga-bunga berwarna violet berserakan di tanah.

“Kenapa kita kembali ke tempat tadi?” tanya Ju’uni, entah pada Ayikaka, entah pada dirinya sendiri.

“Kita tidak kembali. Kita pergi.”

“Maksudmu pergi…”

Memasuki kawasan hutan, si gajah melangkah semakin perlahan seakan takut menyakiti bunga-bunga yang berserakan menutupi permukaan tanah. Pada satu titik si gajah berhenti. Belalainya bergerak naik-turun. Ayikaka menepuk-nepuk punggung binatang itu seraya menajamkan pandangannya ke sekitar. Orang-orang di belakang mereka ikut berhenti pada jarak tertentu. Dari kerimbunan hutan, terdengar bunyi-bunyi riuh seiring dengan gerisik langkah. Ayikaka turun dari tunggangannya, meraih tangan Ju’uni dan membantunya turun. Dari sela batang pohon, seorang lelaki tua muncul. Di belakangnya katak-katak melompat, semakin lama semakin banyak, seakan merubungi si lelaki tua. Permukaan kulit katak itu biru terang, di atas permukaan itu ada garis-garis merah, hijau, kuning. Katak-katak itu membuat bunyi riuh.

Baca juga: Hari Buruk untuk Berburu – Cerpen Mawan Belgia (Koran Tempo, 15-16 Februari 2020)

“Cikamikaniko!” seru Ayikaka.

Lelaki tua itu membelalakkan mata, melihat sosok Ju’uni berdiri di sebelah Ayikaka. Pandangannya mengarah ke bagian perut Ju’uni. Ayikaka melangkah ke depan, dan pada jarak tertentu, berbalik dan turut menatap perut Ju’uni. Terheran-heran Ju’uni ikut menunduk, menatap perutnya sendiri. Dari balik pakaian astronautnya, persis di titik rahimnya, suatu cahaya lembut berpendar dan bergerak-gerak. Cahaya itu mirip sekali dengan cahaya matahari senja hari. Sesekali cahaya itu terlihat mekar dan memanjang, seperti berubah menjadi bentuk lain; sosok bayi yang menendang-nendang.

“Aih, inilah makhluk bumi!” seru Cikamikaniko.

Katak-katak yang merubungnya seketika riuh berbunyi. Orang-orang yang mengikuti mereka turut menirukan bunyi katak itu. Bahkan si gajah ikut berbunyi seperti katak.

“Makhluk bumi?” tanya Ju’uni, entah pada Ayikaka, entah pada dirinya sendiri.

“Iya, kau diturunkan dari bumi, bukan?”

“Maksudmu bumi…”

 

Mataram, Februari-Maret 2020

Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.