Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 25 Maret 2020)

 

Kaisar Hirohito, pemimpin Jepang pada masa penjajahan Indonesia, menatap Selat Tsushima dengan mata yang nanar. Ia seperti menyesali, mengapa pada masa kekuasaannya, Jepang melibatkan diri dalam Perang Dunia (PD) II. Namun, ia hanya menyilakan kegeraman dan kemenyesalan ini bergeliat di kepala. Ya, saat kehancuran pasukannya tampak jelas sehingga dalam prediksinya Jepang tidak mungkin lagi melanjutkan perang, dengan penuh kesadaran ia mendorong Jepang untuk menyerah tanpa syarat kepada pihak sekutu (AS). Jepang kalah? Ya. Benar-benar kalah? Tidak. Terbukti, dalam waktu singkat, Jepang mampu bangkit kembali.

Pemimpin Rusia, Michael Gorbachev, menghadapi kenyataan imperium komunis dan hegemoninya di Eropa Timur (Pakta Warsawa) bangkrut karena ketakmampuannya mengontrol wilayah yang begitu luas, setelah dihantam perang berkepanjangan dalam invasi ke Afghanistan yang menghadiahi mereka bumerang, dengan merilis glasnost dan perestroika (keterbukaan dan restrukturisasi), kebijakan reformis untuk mempertahankan Rusia. Memang, Imperium Komunis dan Pakta Warsawa runtuh pada 26 Desember 1991, tetapi negara Rusia masih menjadi salah satu negara adidaya hingga hari ini.

Baca juga: Pelajaran Membuang – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 18 Maret 2020)

Pada final perebutan Piala Sudirman tahun 1989 di Jakarta, Indonesia sudah ketinggalan 0-2 di final dari Korea Selatan. Eddy Hartono dan Rudi Gunawan kalah dari pasangan Park Joo Bong dan Kim Moon Soo di partai pertama. Begitu pun Verawaty Vajrin dan Yanti Kusmiati juga kalah dari Hwang Hye Young dan Chung Soo Young di partai kedua. Di partai ketiga atau penentuan, Susi Susanti kalah di set pertama melawan Lee Young Suk 10-12. Di set kedua ia tertinggal 2-10, satu angka lagi Piala Sudirman akan diboyong ke Korea Selatan. Tapi, apa yang terjadi? Susi menolak tawaran ilusi bahwa ia masih muda sehingga masih bisa menyumbangkan piala dunia bulutangkis beregu campuran itu untuk Indonesia. Susi pun mengejar; 3-10, 4-10, 5-10, 6-10, 7-10, 8-10, 9-10 …. Ia menang 12-10. Akhirnya, set ketiga Susi menangi dengan skor telak 11-0, sekaligus mengobarkan semangat rekan-rekannya di dua partai berikutnya, sehingga Piala Sudirman pun diraih Indonesia—yang sampai hari ini belum pernah lagi kembali ke Tanah Air.

Apa yang dilakukan oleh Hirohito, Gorbachev, dan Susi, bukan tentang kecakapan memanfaatkan kesempatan, melainkan tentang kemampuan menangkal ilusi kesempatan.

Ya, ilusi kesempatan.

Bayangkan kalau Hirohito berpikir bahwa masih ada kesempatan bagi Jepang untuk memenangkan peperangan dengan sumber daya tak memadai atau Gorbhacev yang berpikir masih banyak waktu untuk menghimpun kembali negara-negara bagiannya yang berserakan sehingga tak fokus pada eksistensi Rusia atau Susi yang berpikir bahwa saat itu ia masih belum berusia 20 tahun sehingga masih begitu banyak waktu untuk ambil bagian memenangkan Piala Sudirman (dan buktinya Indonesia tak pernah memenangkannya lagi hingga hari ini), apa yang akan terjadi?

Fatal. Penyesalan. Atau bahkan kehancuran.

Baca juga: Membaca, Einstein, dan Nabi Muhammad – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 11 Maret 2020)

Hari ini, ilusi itu memeluk kita setiap hari, setiap jam, atau bahkan setiap detik. Perkembangan dan informasi terkini terkait keganasan Covid-19 ternyata tak juga membangkitkan kesadaran bahwa kehancuran sudah di depan mata. Bagi banyak kalangan—saya tak mengatakannya “sebagian”—Covid-19 masih jauh, masih fiktif, takkan mengetuk pintu rumah tiba-tiba. Semua dipeluk, dibelai-belai ilusi.

DMaura (2,5) belum mengerti apa-apa tentang ilusi kesempatan dan Covid-19. O, alangkah inginnya kembali ke masa suci sepertinya.
DMaura (2,5) belum mengerti apa-apa tentang ilusi kesempatan dan Covid-19. O, alangkah inginnya kembali ke masa suci sepertinya.

Ilusi kesempatan senantiasa membuat kita kerap tenang tanpa perhitungan. Social-distancing bolehlah dilanggar, toh cuma sesekali kumpul atau ketemu teman atau kolega. Cuci tangan juga gak perlulah dipatuh-patuhi amat, toh tukang tambal ban di simpang tiga juga masih hidup padahal sering kedapatan makan tidak cuci tangan. Apalagi sampai harus segera mencuci pakaian di badan begitu pulang dari bepergian, alamak … kayak gak punya kerjaan aja—Rinso gak gratis kali!

***

Apa yang paling nyata bagi kita adalah apa yang sedang dihadapi; apa yang sedang kita kerjakan, katakan, pikirkan, dan upayakan. Bukan yang sedang kita rencanakan apalagi yang sudah berlalu. Bukan.

Baca juga: Bahasa Melayu, Yusmadi, dan Kacamata Botelho – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 04 Maret 2020)

Kesempatan adalah kata benda yang sengaja diturunkan, salah satu tujuannya adalah untuk melalaikan. Mungkin. Kalau sadar tentang ilusi yang terus memeluk—ya “memeluk”, bukan “mencekik”—dari waktu ke waktu, mungkin semua kita akan bersiaga, dengan atau tanpa kekisruhan ajakan menjaga diri yang berkelindan dengan berita hoaks setiap hari.

Di tengah wabah Covid-19 ini, yakinlah kita masih bisa menjadi Hirohito, Gorbachev, atau Susi, yang memanfaatkan kesempatan di hadapannya, bukan terpedaya oleh ilusi kesempatan!

 

Lubuklinggau, 25 Maret 2020

Benny Arnas lahir dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Saat ini tengah mempersiapkan karya perdana Bulan Madu Matahari di bawah nama pena Sanra Ynneb.