Cerpen Mashdar Zainal (Jawa Pos, 22 Maret 2020)

Lumatan Cabai di Wajah ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Lumatan Cabai di Wajah ilustrasi Budiono/Jawa Pos

CABAI-CABAI dalam cobek itu belum lagi lumat seutuhnya, tapi Tinah sudah meraupnya dengan tangan telanjang, lalu mengusap-ratakan ke wajah suaminya –yang sedang asyik menonton TV. Lelaki itu meraung, berjalan pontang-panting mencari air buat basuh muka. Segenap wajah dan matanya bagai dicelup ke bara api. Panas amit-amit. Sementara Tinah bergegas pergi dari rumah itu sambil menuntun tangan anaknya yang cuma melongo.

“Kita akan pergi dari rumah ini! Tak usah balik!” dengusnya penuh emosi.

Sepanjang jalan menjauhi rumah itu, Tinah membayangkan, ada dinding-dinding yang ambrol. Dinding-dinding itu adalah kesabaran yang terus dia bangun dari waktu ke waktu. Sepanjang jalan menuju antah-berantah itu, Tinah menangis. Seakan seseorang tengah menyodorkan omelan ke mukanya: Kau menikahi lelaki yang salah… Kau berada di tengah keluarga yang salah… Sementara anaknya akan tetap melongo sepanjang waktu dan akan tetap tak menggubris ke mana pun Tinah bakal membawanya pergi.

Di dunia ini cuma Tinah yang peduli kepada bocah itu. Bocah tujuh tahun yang baru menguasai beberapa perbendaharaan kata. Bocah tujuh tahun yang bahkan masih kesulitan menutup bibirnya sendiri. Sehingga dia benar-benar melongo nyaris sepanjang hari. Mulutnya yang bagai pintu tak berdaun itu kerap menjadi bidikan utama tabokan suami Tinah. Dan meski ditabok, bocah itu sepertinya telah kehilangan banyak ekspresi semenjak dilahirkan, kecuali melongo, dan sesekali menggumam.

***

Rumah itu mungil, cuma enam kali dua belas meter. Tanpa halaman, terasnya cuma diisi rak plastik yang berisi sandal-sepatu yang lebih kerap berantakan ketimbang tertata rapi. Tak ada pot bunga ataupun hijau-hijauan yang lain. Kali pertama melihat rumah itu, Tinah merasa kurang sreg. Tinah tidak menyukai rumah yang tidak ada hijau-hijaunya. Tapi, garis nasib sepertinya memang menggiring Tinah ke rumah itu, menikah dengan lelaki yang beberapa tahun terakhir dia anggap sebagai lelaki yang salah.

Baca juga: Pengintai – Cerpen Mashdar Zainal (Kedaulatan Rakyat, 01 Maret 2020)

Rumah mungil itu seharusnya tidak menjadi rumah yang begitu buruk seandainya penghuninya cuma Tinah dan suaminya seorang, ditambah dengan bocah melongo itu tentu saja. Tapi, Tinah tentu tidak bisa berharap seperti itu. Sebab, rumah mungil itu bukanlah rumah suami Tinah, melainkan rumah mertua Tinah. Rumah yang tak bisa Tinah utak-atik sesuka hati. Dulu Tinah pernah mencoba mengganti tata letak meja dan kursi di ruang tamu. Lalu, mertua Tinah, terutama yang perempuan, mengoceh tak reda-reda. Menyindir Tinah sebagai orang lancang yang suka menyentuh barang yang bukan miliknya. Tinah juga pernah mencoba menaruh tiga pot bugenvil di teras rumah yang sempit itu. Tapi, kata mertua Tinah, bunga di teras rumah hanya akan mengotori teras, terutama kalau daun-daunnya sudah kering dan rontok. Pada akhirnya, tiga pot bugenvil itu Tinah pindah ke depan pagar, di atas got tertutup, di pinggir trotoar. Semenjak itu, Tinah tak sudi lagi mengubah atau menyentuh apa pun yang ada di rumah tersebut, kecuali ada perintah yang turun.

Di rumah itu banyak sekali perintah yang turun. Sampai-sampai kalau Tinah mau menghitungnya, alih-alih menuliskannya dalam sebuah daftar, perintah itu akan menghabiskan satu buku tulis kosong dalam sebulan. Tinah yakin begitu.

Rumah mungil itu dihuni enam kepala. Sepasang mertua Tinah yang bagai ratu dan raja, suami Tinah yang berlagak bagai pangeran, serta kakak ipar Tinah, seorang perawan tua—yang demi Tuhan, sama sekali tak bisa diandalkan. Tinah dan bocah melongo itu sudah masuk dalam hitungan. Tinah pernah membayangkan, seandainya setiap orang mendapat jatah ruang sekat di rumah itu, maka setiap orang hanya punya tempat satu kali dua meter. Tak jauh-jauh dari lebar liang kubur. Bisa dibilang begitu.

Di rumah itu tak ada yang bangun lebih pagi daripada Tinah. Dan, Tinah kadang merasa serbasalah. Seisi rumah itu akan menyalahkan Tinah bila mereka terlambat kerja karena tidak dibangunkan pagi-pagi. Di sisi lain Tinah akan mendapat dampratan yang sama karena mengganggu orang yang sedang enak-enak tidur. Suatu kali Tinah pernah menyarankan mereka untuk memasang weker di kamar masing-masing. Dan, kata mereka, “Wekernya ya kamu itu, tak bakal soak dan tetep bisa bunyi meski tak pakai baterai,” sambil tergelak-gelak. Tinah ikut tergelak atau pura-pura tergelak sebagai ungkapan syukur bahwa mereka masih punya selera humor.

Baca juga: Cerita Pohon Pukul Lima – Cerpen An. Ismanto (Jawa Pos, 15 Maret 2020)

Di rumah itu nyaris semua pekerjaan rumah dipasrahkan kepada Tinah, mulai mencuci celana dalam mertua sampai menjemur kasur yang ketumpahan susu. Sebab, kakak ipar Tinah suka sekali bermain telepon genggam di atas kasur sambil makan biskuit celup dan minum susu. Ditemani kucing putih kesayangannya. Tak jarang, perawan tua itu meletakkan gelas susunya di atas seprai sambil terbahak-bahak sendiri menatap layar telepon genggam. Karena itu, sedikit saja kain seprai tersebut tertarik, susu dalam gelas langsung ambyar. Atau kalau tidak, kucing yang manjanya persis dengan sang majikan itulah yang akan menyenggol gelas susu. Apa yang lebih rumit dari susu yang tumpah di atas kasur? Tinah kerap mengumpat dalam hati, bagaimana mungkin dirinya bisa mempunyai ipar setolol itu. Bahkan anak kecil sekalipun tidak akan meletakkan gelas susu di atas kasur. Dan kalau susu itu sudah menyiram kasur, perawan tua tersebut akan teriak-teriak, mengumpat kebodohannya sendiri, atau menyalahkan si kucing yang tak hati-hati, dan kembali menyerahkan semua perkara rumit tersebut kepada Tinah seorang.

Hanya satu pekerjaan di rumah itu yang tidak dikerjakan oleh Tinah: memasak. Lidah ibu mertua Tinah adalah lidah perasa dengan sensor sempurna. Tidak ada makanan yang boleh masuk ke mulut orang serumah kecuali cocok dengan lidahnya. Dan sebab itu, ibu mertua Tinah melarang Tinah menyentuh sayur-mayur dan bumbu-bumbu, kecuali satu: meracik sambal. Orang serumah sepakat bahwa Tinah dilahirkan untuk mengulek sambal. Bahkan, ibu mertua Tinah mengakui bahwa sambal bikinannya satu tingkat di bawah sambal lumatan Tinah. Dan sebab itu, dalam urusan meja makan, Tinah mendapat satu tugas utama: menyiapkan sambal.

Semua orang di rumah itu tidak bisa makan tanpa pedas-pedas. Kalau tidak ada pedas-pedas, Tinah bakal jadi bulan-bulanan kata-kata pedas. Sebentar saja sambal telat terhidang, orang-orang yang makan di depan TV itu bakal mengomel, mengatai Tinah lelet, tidak bisa tangkas. Oh Tuhan, pikir Tinah, siapa yang membuat lantai rumah ini selalu kesat, membuat piring-piring selalu beraroma jeruk, menjadikan air dalam bak mandi selalu bening. Kerap kali Tinah ingin mengusapkan sambal lumatannya itu ke wajah mereka semua, sampai rata. Wajah-wajah itu tentu jauh lebih bermanfaat andai kata menjadi cobek. Tempat cabai-cabai dilumat. Tempat segala pedas berpusat.

***

Tinah kerap bertanya, kapan semua opera sambal yang membosankan itu bakal berakhir. Dulu, ketika hamil, Tinah sempat berpikir bahwa kisah Upik Abu itu akan segera berakhir setelah si jabang bayi lahir. Sepertinya orang-orang di rumah itu merindukan kehadiran bocah cilik. Tapi, begitu bayi itu lahir—dengan wajahnya yang melongo—, orang-orang berpaling. Suami Tinah sendiri nyaris tak pernah menggendong si melongo, bahkan semasa si melongo masih bayi. Dan pada suatu hari yang tak pernah ingin Tinah ingat, suaminya pernah berseloroh dengan wajah datar, “Karma apa ini, dikasih anak kok mirip lubang jamban begitu!”

Baca juga: Bek Sayap – Cerpen Alfian Dippahatang (Jawa Pos, 08 Maret 2020)

Waktu itu spontan Tinah mengumpat suaminya sebagai musyrik yang melecehkan ciptaan Tuhan. Mereka terlibat adu mulut dan ujung-ujungnya Tinah mendapat bonus tamparan di pipi. Rasa panas di pipi itu tak pernah hilang dari wajah Tinah, sampai sekarang.

Dua mertua Tinah juga sama, mereka tak pernah tertarik dengan cucunya sendiri yang cuma bisa melongo. Kerap kali mereka melemparkan sindiran-sindiran ringan yang sangat menyakiti hati Tinah.

“Bocah apa ini? Sudah tujuh tahun kok bisanya cuma ha ho ha ho… Cucu si anu baru empat tahun tapi sudah hapal doa mau makan, anak si anu belum genap tiga tahun malah sudah bisa mengurutkan abjad,” ujar ibu mertua Tinah.

Demi kata-kata itu, Tinah dijangkiti insomnia semalam suntuk. Hingga dia berpikir untuk mengulek mulut mertuanya sebelum benar-benar pergi dari rumah itu. Tapi, tentu saja Tinah masih terlalu waras untuk melakukan itu.

Suami Tinah sendiri adalah seorang guru olahraga. Meski cuma guru olahraga, pikir Tinah, guru tetaplah guru yang seharusnya pandai menjaga sikap dan kata-kata. Tapi, lelaki itu tidak. Dia bersikap begitu manis kepada semua orang, terutama kepada para gadis, tapi tidak kepada istri sendiri. Satu hal lagi yang membuat Tinah semakin muak kepada suaminya, lelaki itu suka sekali menggoda tukang bakso yang biasa berhenti di depan rumah. Seorang gadis muda dengan tubuh penuh, berkeliling dengan gerobak bakso di atas jok motor. Suami Tinah kerap membangga-banggakan gadis itu. Katanya, masih muda, cantik, tapi tidak malu berkeliling jualan bakso. Salut. Calon istri idaman…

Baca juga: Nelayan Pensiun – Cerpen M. Amin Mustika Muda (Jawa Pos, 01 Maret 2020)

Tinah yakin sekali, mata suaminya sudah tertutup pantat bahenol si tukang bakso. Lelaki itu tidak pernah bisa melihat apa yang sudah dilakukan istrinya sendiri di rumah, mulai pagi sampai pagi lagi. Mendaki segunung pakaian kotor sampai menjilati susu tumpah di atas kasur. Mengilapkan setumpuk perkakas dapur sampai mengurus bocah luar biasa itu. Tinah bisa mengukur dengan jelas tatapan mesum suaminya kepada tukang bakso itu. Suaminya yang seorang guru olahraga.

***

Dinding kesabaran Tinah ambrol sore ini. Dan semua bermula dari sambal. Sepulang mengajar, lelaki itu celingak-celinguk menengok meja makan. Lalu tiba-tiba menyerapahi Tinah. Sebab, di meja makan cuma ada nasi dan tempe goreng. Ibu mertua Tinah tidak memasak hari ini. Sebab, dia harus pergi ke kerabat dengan suaminya dan perawan tuanya. Tadi pagi ibu mertua Tinah sudah pesan, masak nasi saja di mesin penanak, tak usah masak lauk, goreng tempe boleh, tapi tak usah banyak-banyak. Sebab, mereka yakin, sore bakal pulang dengan banyak makanan. Dan Tinah hanya menjalankan titah tersebut. Akan tetapi, sampai sore ketika suaminya pulang, mertuanya belum juga pulang. Dan kalau meja makan itu sepi, semua murni kesalahan Tinah.

“Jangan cuma mengurusi bocah melongo tak berguna itu, suamimu baru pulang kerja… Lapar! Apa saja yang sudah kau lakukan seharian di rumah? Ha? Meja makan bisa kosong melompong begini.”

Tinah tidak menjawab. Sebab, sekali saja dia menjawab, umpatan lelaki itu akan menjadi-jadi. Sambil mendengar lelaki itu uring-uringan, Tinah masih saja berjibaku dengan muntahan kucing di sofa. Mana kucing brengsek itu? Tinah benar-benar ingin menyembelih kucing itu dan menghidangkan dagingnya di atas meja, tepat di muka lelaki yang berteriak-teriak tersebut.

Baca juga: Karena Hantu Itu Tidak Ada – Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 23 Februari 2020)

“Kau tidak punya kuping? Sambal! Mana sambal?” lelaki itu menggebrak meja.

Entakan itu membuat bocah melongo yang menggelosor di lantai terhenyak. Tinah tidak menghiraukan. Dia masih saja sibuk mengepel sofa. Sampai lelaki itu melempar gelas plastik –yang mendarat tepat di batok kepala Tinah. Membuat kepala Tinah ngilu berdenyut-denyut.

“Hei, tuli! Sekarang bikinkan suamimu sambal, tinggalkan itu semua. Suamimu mau makan. Sambal! Sekarang!”

Tinah mendengus sejenak, meninggalkan lap basah di atas sofa. Bergegas ke lemari es. Meraup puluhan cabai –yang terasa begitu dingin di tangan Tinah, tanpa tomat, tanpa bawang merah, tanpa bawang putih.

Di dapur, Tinah membalikkan cobek yang tengkurap karena belum kering habis dicuci. Tinah menumpahkan semua cabai di tangannya ke lesung cobek. Tanpa mencucinya. Menyambar ulek-ulek. Dan menggerus cabai-cabai itu tanpa ampun. Penuh gurat emosi. Keringatnya bercucuran, air matanya berlinangan, menitis ke lesung cobek. Bersatu padu dengan lumatan paling pedas.

Belum lagi cabai-cabai itu lumat seutuhnya, Tinah sudah meraupnya dengan tangan telanjang, bergegas ke meja makan di depan TV, lalu mengusap-ratakan lumatan cabai itu ke wajah suaminya. Lelaki itu meraung. Tinah tahu betul apa yang harus dia lakukan, dia mesti gegas, pergi dari rumah itu. Sebelum lelaki dengan lumatan cabai di wajah itu silih melumatnya. ***

 

Malang, 2018

Mashdar Zainal. Lahir di Madiun, 5 Juni 1984. Suka membaca dan menulis puisi dan prosa. Tulisannya tepercik di berbagai media. Buku terbarunya Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran (2018). Kini bermukim di Malang.