Cerpen Khoirul Anam (Minggu Pagi No 50 Tahun 72 Minggu III Maret 2020)

Tali Gantungan ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Tali Gantungan ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi 

Beberapa minggu yang lalu, surat itu datang dan masih hangat di tangan Sarni. Dia membacanya sambil menitikkan air mata. Di sela-sela bacaanya, dia seolah dapat melihat satu atau dua adegan isi surat seperti di bioskop—jelas sekali seperti terpampang di atas kertas. Pukulan dan tendangan terus menghantam. Satu jambakan bisa saja membuat rambut lepas dari kulit kepalanya. Erangan keras mengiang di telinga Sarni. Dia terus menerus membaca surat itu, dari awal hingga akhir.

Satu tulisan penutup mengakhiri, bahwa sebentar lagi tali gantungan akan menjelma malaikat maut. Sarni meraung-raung. Malam semakin pekat. Warga sekitar terbangun mendengar suara keras dari rumah Sarni. Dia meringkuk di samping foto ibu dan bapaknya.

Selang beberapa menit, Sarni meremas surat, menangis sesegukan.

***

Minggu pagi yang cerah. Burung kenari para tetangga bersahutan saling adu keindahan bernyanyi. Gema irama dengan vokal masing-masing memancing kenari-kenari terus berlatih tanpa henti. Sebentar lagi akan ada kontestan kicau burung yang diadakan kepala desa untuk memperingati hari kemerdekaan. Dan orang-orang sudah menyiapkan kenari jagoan mereka. Setelah menjadi pemenang, biasanya salah satu di antaranya ada yang membusungkan dada, sambil memegang cendera mata dan menenteng sangkar ke depan panggung kehormatan.

Sedangkan Sarni, dia berjalan dengan langkah pelan, tapi pasti. Barangkali pagi ini satu-dua rayuan menampar Sarni ketika menyusuri jalan, rata-rata tetangga sedang mendandani kenarinya masing-masing. Sarni hanya terseyum, menolak tawaran untuk duduk sebentar dengan lembut. Kemudian melanjutkan langkahnya.

Baca juga: Kota Serigala – Cerpen Ken Hanggara (Minggu Pagi No 49 Tahun 72 Minggu II Maret 2020)

Setelah sampai di depan rumah Kang Jarot—begitu orang-orang memanggilnya—Sarni mematut diri sebentar. Dia memastikan di sekitarnya tidak ada orang. Sebelum melangkah masuk, dia memegang payudara kanan seperti membenarkan sesuatu yang hendak jatuh.

Sarni mengetuk daun pintu. Kemudian menarik nafas lega karena Kang Jarot tidak kemana-mana hari ini. Dia dipersilakan masuk dan duduk di atas sofa.

“Aku ambilkan dulu teh hangat, ya. Pembatu sedang mengantar istriku ke luar kota.” Padahal Sarni sudah melarangnya agar tidak merepotkan. Tapi pria itu berlalu meninggalkannya.

“Silakan diminum. Ada keperluan apa, nona cantik.” Ujar Kang Jarot sambil menjepit dagu Sarni dengan ibu jari dan telunjuknya. Cuih… kau kira aku seharga teh hangat, serapah Sarni dalam hati. Kang Jarot tertawa sebentar, agak nyaring.

Kang Jarot merupakan seseorang di desanya yang sering mengirim warga kampung untuk bekerja ke luar kota atau luar negeri. Sarni menjelaskan niatnya tanpa bertele-tele. Kang Jarot manggut-manggut setelah mendengar keinginan Sarni untuk bekerja sebagai pembatu rumah tangga. Dia berharap, Kang Jarot akan memberinya majikan yang sama seperti Jamilah, kakak perempuannya.

“Gimana, kalau sebelum kamu kerja, kamu tidur dulu denganku. Mumpung nggak ada istri di rumah!”

Bajingan, gerutu Sarni.

“Ah, ada-ada saja, Kang. Saya seriusan ingin kerja, bukan tidur-tiduran.” Sarni menjawab dengan nada sedikit genit, menggoda.

Baca juga: Sepi – Cerpen Yenni Djafar Day (Minggu Pagi No 48 Tahun 72 Minggu I Maret 2020)

Setelah berpikir panjang dan memberi senyum buaya pada Sarni, Kang Jarot berdiri mengambil ponselnya di dekat akuarium. Dia tampak berbasa-basi dengan suara di seberang sana, lalu tertawa, terbahak-bahak. Kang Jarot menutup telepon dengan kata, “Siap, Tuan!”

Sebelum Kang Jarot menghampirinya. Sarni merogoh kutang dan mengambil satu kertas yang dilipat-lipat menjadi kecil. Kemudian dengan cekatan dia membuka lipatan itu dan menumpahkan bubuknya ke dalam gelas. Sarni mengulum senyum melihat bubuk itu membuat gelebung kecil di permukaan air. Dia memasukan kembali lipatan kertas ke tempat semula.

“Nah, sekarang kamu tanda tangani surat keterangan ini. Dan besok lusa kamu sudah bisa berangkat ke kota dan mulai bekerja di sana.” Sarni tersenyum simpul melihat dokumen dengan nama lengkap, Bpk. Sudirman Siswanto. Agar tidak berlarut-larut. Karena dia sudah jijik sejak awal melihat Kang Jarot yang menatapnya nakal. Sarni menandatangani surat dan mengajak Kang Jarot untuk minum teh hidangannya. Karena sekarang hari terakhir Kang Jarot, Sarni pulang setelah mengecup bibirnya sebagai imbalan karena sudah mau membantunya.

***

Dua bulan sudah Sarni bekerja.

Satu bulan yang lalu dia mendengar kabar ketika menelepon dengan teman sekampungnya, bahwa polisi sedang menangani kasus kematian Kang Jarot yang terus berlanjut tak kunjung usai. Sarni menyunggingkan senyum tipis. Saat ini, dia masih mengantongi lipatan kertas di balik kutangnya setiap bekerja, untuk jaga-jaga.

Awal-awal, dia disambut ramah oleh tuan rumah. Sarni sebagai pembantu tentu saja selalu membungkukkan badan, sebagai hormat kepada tuannya. Namun, hari-hari berikutnya. Sebelum Sarni menindaklanjuti rencananya. Dia pernah terperanjat dan menitikkan air mata tiba-tiba, dia melihat ada satu tali gantungan tebal dan panjang di sebuah gudang. Dia amati tali itu dengan jeli, terdapat sedikit bekas bercak darah, juga ada bagian yang melingkar secara permanen. Hingga jika ujung tali ditarik, maka lingkaran itu akan semakin mengecil, mencekal.

Baca juga: Bibir – Cerpen Rumasi Pasaribu (Minggu Pagi No 47 Tahun 72 Minggu IV Februari 2020)

Tetapi bukan hanya itu saja, pada suatu hari. Tepat setelah suami-isteri itu bertengkar semalaman entah apa musababnya. Esok harinya, Sarni pasti akan kena imbas dari salah satu mereka, kendati hanya perihal kecil, besar kemungkinan tuan dan nyonya rumah ini bisa membuat kepala Sarni seakan-akan meletus mengeluarkan isinya.

Tiga bulan Sarni bekerja, dia sering terlihat murung dan tidak terlalu banyak bicara. Dia sudah dua kali terkena tamparan setelah menjatuhkan piring, dan tidak menjawab apa-apa meski dipaksa untuk meminta maaf pada majikannya yang sering mengomel itu.

Tepat, pada malam minggu, para tamu pulang setelah merayakan hari ulang tahun pernikahan tuan rumah. Di dapur, Sarni menunggu reaksi tuan dan nyonya di ruang makan menikmati hidangan penutup.

Dari suara yang sedikit jelas, terdengar dua orang jatuh ke lantai. Sarni buru-buru beranjak mengikat mereka berdua di atas kursi, dan menutup mulutnya dengan plester hitam.

***

“Selamat malam, Tuan Sudirman Siswanto dan Nyoya Tati Haryanti!” Sarni melangkah sambil mengayunkan tali gantungan. Keduanya berusaha berontak dengan suara parau yang tak mengeluarkan kata-kata, kecuali hanya erangan.

“Bagaimana kabar Raihan, anak kalian yang sedang liburan. Ah, semoga baik-baik saja.” Sarni mendekati Tati.

“Apakah sudah ada yang mendengar kematian Kang Jarot?” Sarni mengeluarkan lipatan kertas dari balik kutang dan menunjukannya tepat di mata Tati, “Dia ternyata menjual orang kampung untuk menjadi babu. Dia juga hampir saja meniduriku.” Sarni menjambak rambut Tati kebelakang dan berkata sambil menuding Sudirman, “Dan dia, sudah berhasil meniduriku diam-diam beberapa minggu yang lalu. Anjing, kan!” Sarni menjambaknya lebih kuat.

Baca juga: Perempuan Masa Lalu – Cerpen Ilham Wahyudi (Minggu Pagi No 46 Tahun 72 Minggu III Februari 2020)

Tati menangis dan menelan ludah berkali-kali, alih-alih dia mencari cara untuk membuka tali yang melilitnya.

Selanjutnya Sarni melangkahkan kakinya menuju Sudirman. Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Sejurus kemudian Sarni mengeluarkan foto Jamilah dari balik kutang yang sama. “Apakah kau juga meniduri dia?” tanya Sarni sambil menyesap leher Sudirman yang basah karena keringat. Dia menggeleng tak mengaku dan menghentakkan-hentakkan kakinya. “Ayolah jangan berpura-pura. Sebelum kematiannya, dia mengirim surat terakhirnya padaku.” Satu pukulan cukup keras tepat di mata Sudirman.

Tak puas dengan semua itu, Sarni menelanjangi keduanya, merobek pakaian mereka dengan pisau dapur. Sebelum Sarni mengirim mereka ke neraka. Dia mengambil ponsel Tati, kemudian mengirim pesan kepada polisi bahwa ada masalah di rumah ini.

“Selamat bersenang-senang!” Sarni menarik tali gantungan yang sudah dia lilitkan di leher mereka berdua. Tali itu ia bebani dengan batu besar yang sudah dia siapkan jauh-jauh hari. Sarni bersusah payah meletakkan batu di atas meja, kemudian dia menjatuhkannya. Otomatis, dia melihat tali mengangkat dua orang dengan kursinya masing-masing.

Sebelum polisi tiba, Sarni mengemas barang-barangnya dan segera pergi lewat pintu belakang.

 

Kutub 2020

Khoirul Anam, lahir di Sampang 2001. Dia menulis cerita pendek. Dan saat ini merasa bersalah karena telah murtad dari perpuisian. Pernah bergiat di Asoli (Asosiasi Literasi Indonesia) Bandung. Sekarang tinggal di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY)