Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 18 Maret 2020)

 

Tiga bulan ini saya bergelut dengan proyek baru di bawah tajuk Bulan Madu Matahari (BMM) menggunakan nama lain: Sanra Ynneb. Format utama BBM adalah novel. Disebut format utama sebab proyek ini akan hadir atau melahirkan format yang lain, seperti buku suara, lagu, hingga insya Allah film nantinya. Karya yang rencananya akan terbit Juli tahun ini, tiap babnya akan dirilis tiap hari di Instagram @bulanmadumatahari dan www.bennyinstitute.com, dan dalam format suara di chanel Youtube Benny Institute terhitung 15 April 2020. Menariknya, novel ini ditulis Sanra hanya dalam waktu tiga hari—26 hingga 28 Januari 2020, meskipun kemudian sejauh ini mengalami 29 kali revisi alias draf 30 per 17 Maret 2020.

Salah satu rekan yang untuk kali pertama menjadi first reader (pembaca draf) saya dengan sembrono berkata, “Kamu nggak punya pekerjaan lain selain membongkar Bersemi?” Ya, mulanya draf novel itu bertajuk Bersemi, Bersemi Lagi, sebelum berubah menjadi Bersemi pada draf 15 dan menjadi Bulan Madu Matahari sejak draf 25. Saya memaklumi pertanyaan itu sebab dia memang first reader baru.

***

Tak sekali dua kita mendapati orang-orang menggeneralisasi (be)kerja sama dengan (ber)karya, padahal keduanya sangat mungkin berbeda. Artinya bisa saja sama apabila tidak berorientasi “(asal) selesai” saja.

Baca juga: Membaca, Einstein, dan Nabi Muhammad – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 11 Maret 2020)

Kerja bertumpu pada perkara dasar yaitu menunaikan kewajiban, sedangkan karya bertolak dari desain mutu. Menunaikan kewajiban membuatnya rentan asal jadi, asal selesai. Sedangkan berorientasi mutu, bukan saja membuatnya tak asal selesai, bahkan tak kunjung selesai! Oleh karena itu, sungguh dapat dipahami, ketika seniman seni rupa pertunjukan Indonesia yang sudah mendunia, Melati Suryodarmo, mengatakan bahwa karya yang baik adalah karya yang tidak pernah selesai (Pinjam, DKJ, 22 Juni 2016).

Jadi, BMM yang mengalami 29 kali revisi dalam waktu 2 bulan, sejatinya tidak ada apa-apanya dengan lukisan Monalisa yang dibuat Leonardo da Vinci dalam 4 tahun atau Bond 25 yang rencananya akan dirilis bulan depan mengalami beberapa kali penulisan ulang di bawah produser dan penulis skenario yang berganti-ganti. Satu penulis skenario saja biasanya membuat puluhan—atau bahkan ratusan revisi—apalagi berganti-ganti penulisnya. Dapat dibayangkan?

Halaman biodata yang memuat akun Instagram novel @bulanmadumatahari dan penulisnya @sanra_ynneb.
Halaman biodata yang memuat akun Instagram novel @bulanmadumatahari dan penulisnya @sanra_ynneb.

Ya, dapat dibayangkan?

Bagaimana (ber)karya benar-benar menjadikan proses sebagai bagian utama—atau bahkan sangat panjang—untuk kemudian sampai di draf akhir, di draf yang akan dirilis sebagai karya. Karya. Bukan kerja. Bukan semata kerja.

***

Saya mengkhususkan pagi hingga zuhur sebagai waktu untuk (ber)karya, membongkar draf, lalu mengirimnya lagi pada first reader. Siang-sore adalah jadwal saya di Benny Institute. Dan malam adalah waktu keluarga dan atau jadwal membaca saya. Apakah itu (manajemen sedemikian rupa) berlaku untuk semua kreator? Tentu saja tidak. Belum tentu. Saya hanya ingin mengatakan, dengan menejemen waktu sedemikian rupa, saya hanya bisa melakukan proses menghasilkan mutu hingga rombakan ke-29 alias draf 30. Artinya, seseorang yang sepenuhnya, seharian penuh, sepanjang hidupnya, hanya berurusan dengan bakal karyanya jangan-jangan sudah sampai revisan tak terhitung. Apabila mutu prosesnya bahkan jauh di bawah apa yang saya lakukan, saya harus berbelasungkawa padanya.

Baca juga: Bahasa Melayu, Yusmadi, dan Kacamata Botelho – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 04 Maret 2020)

Proses berkarya mungkin saja membuat semua rutinitas berjalan di atas jalan berbatu, semua tak mulus lagi, semua tak sama lagi, seolah-olah berkarya menuntut kita membuang yang lain? Apa iya? Memang iya! Kalau mau dapat semuanya, ya kerja saja. Ikut putaran kewajiban, menuntaskan apa yang memang harus tuntas dalam waktu yang telah ditentukan.

Pada titik ini, ada kecakapan yang kadang lupa dimiliki pada kreator, para pengkarya: kecakapan membuang. Ya, karena berkarya menuntut waktu yang banyak, perhatian lebih, dan ketelitian yang tinggi, harus ada rutinitas, agenda, atau bahkan urusan yang harus ditinggalkan (sementara), dinomorduakan, dibuang.

Semakin mengabaikan kecakapan ini, semakin mumet urusan rutinitas yang menopang kebutuhan atau bahkan kehidupan keluarga. Semakin mengabaikan urusan ini, bisa saja kreator berproses secara semu: ia merasa berkarya, padahal sedang jalan di tempat karena kepalanya digelayuti urusan-urusan lain, meskipun secara permukaan ia tampak sangat sibuk dengan karyanya—yang sebenarnya tak lebih dari kerja semata!

Di sinilah, pikiran—bukan hati!—harus sepenuhnya dimainkan, sebab satu perkara yang harus disiapkan dalam berkarya adalah menata ulang rumah kreatif—mengisinya dengan yang sangat dibutuhkan untuk memberi ruang lebih pada area kegembiraan: area berkarya! Beginilah, mood alias kondisi nyaman berkarya itu mula-mula diciptakan. Setelahnya, barulah hati mengambil alih urusan. Kita akan berada di “tempat” yang membuat pandangan hanya menangkap hal-hal yang mesti dituntaskan, sehingga waktu untuk “bersenang-senang” dengan draf menjadi lebih banyak, lebih fokus.

Baca juga: Kerja Buruk Itu Perlu – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 26 Februari 2020)

Salah satu ciri berkarya adalah, sesering apa pun revisi, takkan membuat kreator mengeluh, apalagi jera. Hal yang sama tak ada dalam bekerja. Maka, ungkapan bekerja dari hati adalah berkarya yang sebenarnya.

Mungkin, apabila kita merasa kurang bisa berkarya, perlu dipastikan, telahkah pertanyaan paling dasar—Telahkah kita mampu menciptakan mood?—telah terbereskan. Kalau belum, jangan-jangan terlalu banyak “barang” atau “orang-orang” atau “urusan” yang belum dibuang dari rumah kreatif tadi.

Di periode darurat Covid-19 ini, bagi pegawai kantoran, anjuran WFH sebenarnya bisa dimaknai sebagai peluang untuk berkreasi di ruang yang ditata sesuai keinginan, kebutuhan, dan kenyamanan. Siapa tahu, hal itu membuat WFH tak semata tentang Work from Home, melainkan juga Work from Heart. Tentu saja sebelumnya, pastikan kita sudah (cakap) membuang apa-apa yang harus dibuang untuk WFH yang berorientasi karya.

Siapa tahu. ***

 

Lubuklinggau, 18 Maret 2020