Cerpen Kristin Fourina (Rakyat Sultra, 17 Maret 2020)

Roh Wisrawa ilustrasi Istimewa
Roh Wisrawa ilustrasi Istimewa 

Roh Wisrawa diam-diam telah menyusup ke dalam tubuhmu. Mengisi kekosongan yang ada di setiap sudut jiwamu. Bahkan roh Wisrawa menggunakan tubuhmu untuk melakukan apa yang juga telah dilakukannya pada Dewi Sukesi, puteri Prabu Sumali dari Negeri Alengka yang sebelumnya ingin menguraikan “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”.

Selebihnya, sebagaimana manusia yang dikuasai lupa, kau mengaku tidak mengerti atas segala macam tuduhan yang orang-orang tujukan padamu. Kau bahkan mengatakan dengan lantang bahwa orang-orang telah dengan sengaja—dengan maksud yang kau sendiri tak paham—berusaha melukai harga dirimu dan martabatmu sebagai manusia yang memiliki nilai etika. Namun, apa kau memang benar-benar tak melakukan semua itu atau kau justru menyembunyikan sesuatu?

Aku tak tahu persis bahwa kau adalah satu dari sekian makhluk yang luput dari dosa. Bahkan aku mulai membayangkan kau melakukan segala perbuatan yang orang-orang tuduhkan padamu. Kau menggiring perempuan itu. Kau mengurungnya bersamamu dalam ruangan gelap itu. Namun, kau tak pernah menyadari bahwa ada berpasang mata yang dengan tak sengaja menangkap gerak-gerik dan perbuatanmu.

Kau menangis tanpa suara ketika orang-orang masih menuduhmu melakukan perbuatan yang menurutmu sama sekali tak kau lakukan.

“Aku tak pernah melakukannya,” katamu.

Baca juga: Koloni Rayap – Cerpen Kristin Fourina (Minggu Pagi No 38 Th 72 Minggu IV Desember 2019)

Kau tahu, semua orang ingin mendengarmu mengatakan bahwa “ya” kau memang melakukan sesuatu. Tapi sebaliknya, kau selalu membantah semua tuduhan itu. Bahkan, apa yang kau katakan selanjutnya terdengar sangat mustahil di telinga semua orang.

“Kenapa? Kalian tak percaya?” tanyamu, “Aku benar-benar tak menyentuh perempuan itu. Dalam sekejap, roh Wisrawa menyusup dalam tubuhku. Aku tidak tahu mengapa ia menyusup ke dalam tubuhku. Aku hanya bisa membiarkan roh Wisrawa berbuat semaunya dengan perantara tubuhku.”

Pikiranku berlompatan padamu dan perempuan itu. Roh Wisrawa menyusup ke dalam tubuhmu, kau bilang? Coba bayangkan, bagaimana mungkin kau menyatukan alam Wisrawa dan alam manusia ke dalam satu alam? Dan kau membiarkan roh Wisrawa berbuat semaunya atas tubuhmu? Mulutku ternganga membayangkan jika hal itu benar-benar nyata. Astaga, sejak kapan tokoh pewayangan bisa menyusup ke dalam tubuh seseorang?

Lalu kalau kau yang sekarang adalah benar-benar kau. Maka, kau yang Wisrawa terbang ke mana? Aku mengedarkan pandang, kalau-kalau Wisrawa betul masih ada di sekitar. Wajahku menengadah ke langit, adakah roh Wisrawa tengah melayang di atas? Aku ingin sekali mendengar kau berteriak sambil menunjuk ke salah satu arah, “Lihat itu, di atas sana, roh Wisrawa sedang melihat kita dari atas!” Tapi sayangnya kau tak melakukan itu. Sungguh, kalau saja kau melakukan itu, tentu semua tuduhan padamu akan berganti dengan ketakjuban yang tak bisa kugambarkan.

Mengapa tiba-tiba kau mengatakan tentang Wisrawa? Seperti baru saja kau menyaksikan pagelaran wayang yang dulu sempat kita gemari sewaktu kanakkanak. Kau mengaku pada semua orang bahwa kau melihat sendiri Wisrawa turun ke hadapanmu ketika kau dan perempuan itu berada di dalam suatu ruangan yang gelap. Kau menceritakan semua kejadian yang kami anggap tak masuk akal dengan sungguh-sungguh tanpa khawatir bahwa semua orang akan menganggapmu sebagai seorang pembual.

Baca juga: John, Sang Bubalus Man – Cerpen Ahmad Amirul Sir (Rakyat Sultra, 03 Februari 2020)

Benar-benar pengakuan yang di luar nalar, batinku. Wisrawa. Di jagat pewayangan, ia memang melakukan— setidaknya kurang lebih—seperti apa yang telah kau lakukan pada perempuan itu. Kukatakan setidaknya kurang lebih karena dalam ingatanku Wisrawa memang melakukan perbuatan terlarang itu. Namun, sebelumnya ia memiliki tujuan untuk menguraikan arti yang terkandung dalam “rahasia kehidupan dan takdir” yang dimiliki oleh para dewa pada perempuan yang kemudian menjadi pendamping hidupnya.

Aku mulai berpikir, apa samanya kau dengan Wisrawa selain melakukan perbuatan terlarang itu? Adakah kau juga sama seperti Wisrawa hendak menguraikan rahasia kehidupan dan takdir pada perempuan yang kau kurung bersamamu di ruangan gelap itu?

“Aku tak berbohong,” katamu.

“Seperti Wisrawa, apa yang sebelumnya hendak kau lakukan pada perempuan itu sebelum Wisrawa menyusup ke dalam tubuhmu?” tanyaku.

Kau menjawab dengan menyebutkan satu kata yang membuatku takjub, “Puisi.”

Kau memang tergila-gila pada puisi. Tanpa ragu, dulu, kau mengatakan padaku bahwa puisi adalah kau dan kau adalah puisi itu sendiri.

Kau mengatakan hal itu sekali lagi, “Aku hanya ingin menguraikan pada perempuan itu, apa itu puisi.”

Bualan yang indah, batinku.

Baca juga: Yang Lebih Kuat dari Cinta adalah Waktu – Cerpen Dadang Ari Murtono (Rakyat Sultra, 27 Januari 2020)

Namamu adalah puisi. Kau jarang menamai dirimu sendiri sebagai penyair karena kau menganggap bahwa kau adalah puisi itu sendiri. Aku masih mengingatmu karena kata-kata yang terlepas dari bibirmu adalah puisi dan coretan yang membekas di kertas-kertasmu juga puisi. Kau sengaja menjadikan dirimu sebagai bahan perbincangan karena kau terlahir dikutuk menjadi puisi.

“Perempuan itu mengaku ingin mengetahui apa itu puisi padaku,” katamu, “Ya, hanya seperti itu.”

“Lalu?” tanya seseorang.

“Tiba-tiba saja Wisrawa menyusup ke dalam tubuhku ketika pelan-pelan kubisikkan pada perempuan itu bahwa puisi adalah kita,” jawabmu.

Haruskah aku percaya? batinku.

Kau memang penyair, namun kau tak bisa begitu saja menyembunyikan dirimu di balik sebuah bualan tentang Wisrawa. Mana mungkin Wisrawa jauh-jauh datang hanya untuk menyusup ke dalam tubuhmu? Pengakuanmu mengherankan banyak orang.

Bahkan kau juga mengatakan bahwa Wisrawalah yang telah mengurung kau dan perempuan itu di sebuah ruangan yang gelap. Juga Wisrawa pula yang selanjutnya menyentuh perempuan itu dan membuat kalian berdua menyatu. Kurasa kau sedang mengigau dalam tidur.

Aku merasa buntu. Ceritamu tentang Wisrawa memukul-mukul kepalaku secara bertalu-talu. Kakiku terasa membeku. Seseorang menuntunku menjauh agar tubuhku tak roboh.

Kau berhasil menculik kepercayaanku padamu yang dulu terkunci rapat dalam hatiku. Adakah kau melakukan semua itu karena sebenarnya kau telah bosan padaku—istrimu?

 

Kulonprogo, 2019

Kristin Fourina, lahir di Yogyakarta, 13 November 1987. Menyelesaikan pendidikan di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Tulisannya berupa cerita anak-anak, cerita remaja, cerpen, puisi, dan opini pernah dimuat di beberapa media massa. Cerpen-cerpennya termuat dalam beberapa antologi bersama, Rendezvous di Tepi Serayu (2009) yang diselenggarakan oleh STAIN Purwokerto, Antologi Peraih Anugerah Golden Award (2010) yang diselenggarakan oleh PT Rohto Laboratories Indonesia dan Rayakultura, Lelaki yang Dibeli (2011) yang diselenggarakan oleh STAIN Purwokerto, Lemon Cake: Calon Suamiku Harus Bisa Membuat Lemon Cake Terenak (2012) terbitan DIVA Press, dan Bayang-bayang (2012) terbitan Garudhawaca.