Cerpen Daanish Er Khursyid (Medan Pos, 15 Maret 2020)

Potongan Roti Tersisa ilustrasi Medan Pos (1)
Potongan Roti Tersisa ilustrasi Medan Pos 

Kutarik sandaran kursi agar dapat memasukkan tas sekolah dalam lacinya. Setelah duduk, aku sibuk merapikan jilbab dan pakaianku. ‘Aha’, tetiba aku teringat sebuah kotak hijau muda di meja.

Di sana terdapat berisi empat potong kue tart. Kue ini sengaja kubeli untuk Ariel, pacarku. Setelah mencium aromanya, dengan perasaan gembira kumasukkan kembali ke kotak itu di dalam sudut laci meja.

Ariel, pacarku, adalah anak yang dapat dikatakan pintar dan disayangi guru. Ia pandai dalam segala hal. Ia tampak sempurna saat sifat baiknya kepada siapapun di sekolah.

Bukan hanya itu saja wajah Ariel dapat dikatakan cukup tampan dan berwibawa. Tubuhnya cukup proporsional karena ia juga rajin berolahraga. Ia juga merupakan ketua ekstrakurikuler mading sekolah. Sementara aku, berwajah biasa saja dengan dandanan yang juga biasa saja.

Aku termasuk anak pendiam, di kelas lebih suka menghabiskan waktu untuk membaca berbagai novel kesukaan. Tubuhku kurus dan tinggi. Teman-temanku asyik saja memanggilku dengan sebutan ‘kutilang buku’.

Namun, aku tidak pernah peduli dan merasa terganggu akan hal itu. Dan juga kesamaan aku dan Ariel adalah karena kami sama-sama suka membaca. Kami resmi berpacaran karena sering bertemu dan ngobrol di perpustakaan sekolah.

Jam pelajaran ketiga baru saja usai. Pak Gatot, guru Matematikaku baru saja meninggalkan ruangan, setelah meninggalkan seabrek tugas tentunya. Aku langsung menuju ke kelas sebelah. Dari luar dapat kulihat dengan jelas Ariel bersama teman-temannya sedang bersenda gurau. Aku mencoba memberi isyarat kepadanya agar ia dapat keluar dan menemuiku. Namun Ariel tak memperhatikanku begitu juga teman-temannya.

Setelah beberapa lama aku berdiri di luar kelasnya akhirnya salah seorang temannya melihatku dan membertahukan perihal keberadaan aku kepada Ariel. Ariel pun sontak melihat ke arahku dan melambaikan tangannya sambil tersenyum. Dan ia bergegas keluar kelasnya untuk menemuiku.

“Kenapa, ada apa?” Ariel bertanya dengan senyum manis menghias bibirnya.

“Aku suka penampilanmu hari ini, Ghea. Meski aku tahu ini pakaian seragam kita, tapi entah kenapa aku selalu suka dengan penampilanmu ini,” lanjut Ariel sambil memperhatikanku.

“Dirimu ini…,” hanya itu kata yang bisa meluncur dari mulutku dengan semburat bahagia yang kucoba sembunyikan.

“Sudah sarapan?” Aku sengaja langsung mengalihkan pembicaraan romantis kepada kami.

“Alhamdulillah, sudah. Dirimu sendiri bagaimana, Ghea?” jawab Ariel menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan.

“Iya, aku juga sudah! Eh, Riel. Aku beliin kamu roti tadi di jalan. Nanti kuantarkan ke kelasmu ya saat istirahat,” lanjutku penuh dengan semangat.

“Nggak usah!” jawab Ariel tegas.

“Eh, aku masuk ya, nggak enak kita lama-lama di sini. Bye, Ghea,” Ariel berbalik badan dan berlalu saja meninggalkanku.

Aku merasa begitu kecewa. Ini kesekian kalinya Ariel mengecewakanku dengan sikapnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya sehingga ia sering melakukan ini kepadaku. Aku hanya tertunduk dan masih mencoba tersenyum melihat pundaknya yang berlalu meninggalkanku. Aku pun akhirnya berlalu dari sana dan masuk ke kelas.

Bel istirahat akhirnya berbunyi.

Teman-temanku berhamburan keluar kelas menuju ke tempat favorit mereka. Kantin. Sementara aku masih berharap kue yang kubeli dengan sisa uang terakhirku untuk Ariel, dapat diterimanya.

Kembali kubuka kotak hijau berisi beberapa kue tart yang tadi pagi aku beli. Setelah penolakan Ariel tadi, ada ragu yang menggelayuti hatiku. Apakah ia akan mau memakannya atau menolaknya? Perang batin pecah di hati dan pikiranku.

Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya kuberanikan diri melangkahkan kaki ke kelas Ariel dengan membawa kotak hijau. Di dalamnya bukan hanya berisi beberapa potong kue saja tetapi juga potongan-potongan harapan dan hatiku.

Saat masuk ke dalam kelas,  Ariel sedang asyik membaca buku di mejanya.

“Riel, buku apaan?” tanyaku santai sambil meletakkan kotak hijau yang kubawa didekatnya.

“Oh ini, buku antologi cerpen remaja. Baru kupinjam dari perpustakaan kemaren,” Ariel menjawab tanpa melihat ke arahku dan matanya masih tertuju ke buku yang dibacanya.

Ini sikap Ariel yang selalu membuatku tidak merasa nyaman. Jika iia sedang asyik dengan pekerjaannya seperti membaca atau menulis, aku selalu menjadi orang tidak penting. Jika diajak bicara, hanya jawaban singkat yang kudapat. Dan, aku diacuhkan saja. Padahal, aku sudah menahan berbagai rasa termasuk rasa malu. Karena harus menemuinya selalu ke kelasnya. Dan sekarang, lagi-lagi aku mendapat perlakuan seperti ini.

Kubuka kotak hijau kecil yang aku bawa tadi. Ia hanya melirik sebentar dan kembali asyik membaca bukunya. Kuambil satu iris kue yang ada di dalamnya dan memakannya. Aku berharap ia pun tertarik untuk mengambil serta memakan kue itu. Namun, hingga potongan kue itu habis masuk ke mulutku, sedikit pun ia tak bergeming dari aktivitasnya bahkan berkomentar pun tidak.

Bel tanda waktu istirahat habis pun akhirnya berbunyi. Teman-teman kelas Ariel mulai masuk satu per satu. Membuatku semakin merasa tidak nyaman di sana, sementara Ariel masih tak bergeming dari aktivitas dan duduknya. Kutinggalkan kotak hijau itu dengan isinya, berharap Ariel akan memakannya atau setidaknya menyimpannya untuk dibawanya pulang.

Saat pulang sekolah, Ariel berpesan kepada salah seorang temannya bahwa ia harus pulang lebih cepat karena ada hal penting yang harus dikerjakannya di rumah. Aku pulang dengan tanpa semangat. Tak sempat kutanyakan perihal kue yang tadi aku tinggalkan dan kuberikan kepadanya.

Dalam benakku Ariel akan memakannya sebagaimana sering aku lihat  memakan makan-makanan yang sering dibawa oleh teman-temannya. Aku mencoba menghibur hatiku sendiri dengan anggapan itu.

Saat melintas di depan kelas Ariel, tak sengaja sudut mataku menangkap sesuatu yang hari ini seolah tak asing di atas mejanya. Kotak kecil berwarna hijau. Bukankah itu kotak kue yang tadi aku berikan pada Ariel?

Aku berhenti. Namun, hati kecilku tetap berkata bahwa mungkin itu hanya kotaknya saja, sementara isinya pastilah sudah dimakan oleh Ariel. Aku tersenyum dan hendak melanjutkan langkahku. Tapi…

“Ada baiknya kulihat saja dulu untuk memastikan kalo kuenya sudah habis oleh Ariel,” aku berbicara sendiri sambil menghibur hati ditengah berbagai syak wasangka yang menggelayuti hati dan pikiranku.

Setelah berdiri di depan meja dan membuka kotak kecil itu, betapa terkejutnya aku melihat isi kotaknya. Masih utuh.

Potongan-potongan kue yang ada didalamnya selain yang sudah kuambil tadi, seolah tidak disentuh sama sekali. Aku terhenyak dan terduduk dikursi. Tanpa kusadari bulir-bulir air keluar dari sudut mataku. Hatiku pedih dan sakit sekali. Ariel tega berbuat seperti ini kepadaku. Ia tidak tahu bahwa demi untuk membelikan kue ini, aku rela tidak jajan.

Apa salahnya jika setidaknya Ariel makan satu saja dan bohong saja kepadaku kalau kue itu enak meski rasanya mungkin tidak enak. Potongan-potongan kue ini adalah potongan hati dan perasaanku yang tulus aku persembahkan untuknya. Tapi tak sedikit pun ia mau menghargainya.

Entah sudah berapa lama aku duduk dikelas ini menatapi kotak hijau berisi potongan kue dan harapan serta cintaku kepada Ariel. Air mataku masih mengambang di batas pipiku. Kupejamkan mata ini sambil menahan perih kecewa dan juga berbagai rasa. Potongan-potongan roti ini seolah menyaksikan dan menjadi saksi atas apa yang terjadi padaku. Perlahan kututup kotak hijau kecil itu. Kuusap air mataku dan berlalu dari ruang kelas itu.

Aku masih mencintaimu, Riel…

 

 (Penulis ada­lah seorang Guru SMP dan terg­abung dalam Komunitas Pembaca Buku Jakarta)