Cerpen Komala Sutha (Pikiran Rakyat, 15 Maret 2020)

Alternatif ilustrasi Rifki Syarani Fachry - Pikiran Rakyat (1)
Alternatif ilustrasi Rifki Syarani Fachry/Pikiran Rakyat

PAGI   masih mendekap erat ketika lelaki itu keluar dari pintu rumahnya. Ia sudah rapi dengan atasan kemeja biru polos dipadukan celana jins hitam. Kedua kakinya beralas sandal kulit coklat yang masih baru. Sesaat ia berdiri, matanya tengadah menatap langit pagi yang cerah. Udara terasa hangat membalur kulit lengan juga wajahnya yang putih. Ia pun menghampiri kursi malas yang ada di beranda. Lalu duduk.

Secangkir kopi panas dihidangkan kakak perempuannya yang usianya selisih setahun darinya.  Dirogoh saku kemejanya, mengeluarkan bungkusan rokok yang masih utuh yang semenjak pagi sudah tergelar di atas meja ruang tamu dan ibunya yang sengaja menaruhnya di sana sesaat setelah pulang dari warung.

Ida mengulas sedikit senyum tanpa dibalas adiknya yang lebih memilih menyulut ujung rokok dengan korek api. Ida menatap sejenak lalu geleng-geleng kepala. Ia ingin sekali menasihati adiknya agar tidak banyak merokok. Namun tak ada yang bisa dilakukan. Untuk berkata-kata tak mungkin tersebab ia bisu, pun dengan bahasa isyarat, ia yakin itu hal yang sia-sia sebab Dani tak akan memedulikannya. Lelaki itu lebih tertarik dengan kepalanya yang di dalamnya terisi mimpi-mimpi yang bececeran.

“Idaaaa…. kemari, nih bantu Mama!” Terdengar lengkingan ibunya dari dalam rumah. Lalu Ida dengan bergegas menghampiri ibunya yang sebenarnya tidak hendak meminta bantuan apapun. Hanya ingin mengingatkan agar anak perempuannya itu tak bicara lama-lama dengan adiknya. Terlebih Ida sudah sangat cantik dengan pakaian bagus yang membelit tubuhnya yang semampai.

“Biarkan Dani sendirian, ya?” ibunya menatap anak sulungnya sembari tangannya bergerak-gerak sebagai isyarat yang diharapkan mudah dimengerti Ida. Ida mengangguk.

Ibunya mengintip dari tirai di dalam rumah. Memerhatikan Dani yang tengah menghisap rokok dan menatap  asapnya  mengepul di udara,  perlahan menyeruput kopi panas. Sesekali Dani tersenyum sendiri. Beberapa orang banyak lalu lalang di depan beranda rumahnya karena itu jalan umum. Ia tampak acuh. Tak merasa beberapa manusia sebagian meliriknya.  Seperti biasa ia ingin menyulam mimpi.

Mimpi itu masih sama dengan hari-hari lalu. Mimpi bersua perempuan yang pernah menjadi istrinya. Perempuan yang dinikahinya sepuluh tahun lalu. Lalu mereka membangun rumah indah di daerah lain.  Berbahagia terlebih setelah kelahiran anak pertama. Namun kebahagiaan mereka harus terusik dengan Lastri yang acapkali  berkunjung dan kerap mengatur banyak hal. Hingga pada suatu sore yang mendung, perselisihan antara Dani dan istrinya pun terjadi.

“Mama ingin kalian tinggal di rumah Mama!” seru Lastri saat bicara berdua dengan Dani.

“Tapi Rina tidak mau,” ucap Dani.

“Jika dia tak mau, kau tinggalkan saja! Bukankah seorang istri harusnya patuh pada suami?”

Perceraian terjadi. Vivi—buah hati mereka yang belum genap setahun—diboyong Lastri karena merasa lebih pantas dirawat ayahnya.

“Perempuan itu banyak!” begitu yang kerap diucapkan Lastri yang begitu percaya dengan ketampanan anaknya yang tak akan sulit mencari istri baru. Dani yang sedari kecil terkenal penurut tak berani membantah sedikit pun. Sebagai seorang ibu, Lastri adalah sosok yang selama hidupnya tentu saja Dani teladani. Perempuan tangguh dan mandiri, yang merawat sendiri kedua anak setelah mendapat penghianatan suami. Lastri berubah menjadi pembenci laki-laki sekaligus mengutuk bentuk perkawinan.

Semenjak Dani tinggal bersama Lastri, ia tak diperbolehkan bekerja. Segala kebutuhannya ditanggung ibunya.  Terkadang Lastri pernah berkeinginan melihat Ida seperti anak gadis lainnya. Memiliki suami namun  tak ada seorang pun lelaki yang sudi mendekatinya. Bukan karena Ida bisu. Wajahnya terbilang cantik dengan kulit putih bersih terawat. Namun banyak lelaki yang mengurungkan niat setelah tahu karakter Lastri yang otoriter. Kegagalan rumah tangga Dani menjadi contoh akibat ulah Lastri.

Tahun pertama dan kedua, sikap Dani masih biasa-biasa saja. Ia masih mau bersosialisasi dengan orang lain. Namun di tahun ketiga, ia mulai sering mengurung diri di dalam kamarnya bahkan tanpa penerangan lampu. Sesekali keluar rumah hanya sampai beranda. Merokok dan minum kopi tanpa peduli kehadiran orang lain. Ia menjadi anti manusia. Terkadang, saat di dalam kamar, terdengar membaca puisi dengan lantang dan semangat lalu tiba-tiba teriak. Bahkan tak jarang menangis pilu.

Orang-orang sekitar menganggap Dani sakit ingatan. Sementara Lastri  menganggap itu hal biasa hingga tahun demi tahun terlebih ketika Vini sudah masuk sekolah dasar, tingkah Dani kian aneh. Lelaki itu kerap merenung berjam-jam bahkan berhari-hari. Dalam kepalanya penuh mimpi yang berceceran dan ia bahagia ketika mampu menyulamnya. Ia bisa bersama Rina tertawa. Memeluk Rina, menciumnya dan membuat perempuan itu bahagia. Perempuan yang tak pernah dilihatnya lagi. Pernah suatu kali Rina datang hendak menengok Vini namun Lastri dengan segera mengusirnya seperti melihat anjing gila.

“Mama mau pergi mengaji,” Lastri menatap Ida. Vini tengah berada di sekolahnya. Anak itu sudah kelas tiga. Di rumah hanya ada Dani dan Ida. Lastri merasa waswas terjadi hal yang tak diinginkan. Beberapa waktu lalu, saat ia kembali dari pasar, pukul sembilan pagi, Lastri memergoki Dani yang hendak memperkosa Ida di kamarnya. Mulut Ida sudah dibekap kain. Tubuhnya telentang dan Dani tengah menggerayanginya dengan liar. Untungnya peristiwa mengerikan itu tak berlangsung karena keburu dihentikan. Semenjak itu Lastri menjadi khawatir meninggalkan Ida di rumah tanpa kehadirannya.

“Ida masuk kamar, ya?” Lastri menarik lengan Ida dan masuk kamar depan. Setelah Ida di dalam, Lastri pun mengunci pintu kamar dari luar dan kunci itu dibawanya pergi. Ia baru merasa tenang jika sudah mengurung anak sulungnya di kamar. Dan baru dibuka ketika ia sudah kembali tiba di rumah.

Dani kian parah. Ia kerap teriak-teriak di dalam kamarnya. Orang-orang yang melintasi kerap melirik ke arah rumah. Lelaki itu tengah menyulam mimpi. Entah mimpi yang bagaimana yang pasti bukan mimpi mantan istrinya lagi. Musim pemilu, Dani teriak seperti tengah berorasi. Teriakannya bisa juga didasari mimpi-mimpi yang berceceran di dalam kepalanya.

Tak ada seorang pun yang berani masuk ke rumah Lastri. Semua takut dengan Dani. Termasuk adik-adik Lastri yang rumahnya berada di sekitarnya, mereka jadi enggan mengunjungi. Lastri tetap tak merasa bersalah. Apa yang terjadi pada Dani tak ada hubungannya dengan sikapnya, begitu yang selalu diyakininya.

Pagi itu sangat mendung. Semalaman bumi diguyur hujan lebat. Hingga pukul tujuh pagi, Dani tak keluar dari kamarnya. Semalam masih terdengar teriakannya yang tak berhenti mengutuk hujan. Terkadang menjerit ketika suara halilintar menggelegar. Vini sudah manis dengan pakaian seragamnya. Tiba-tiba tak seperti biasanya anak itu menanyakan ayahnya.

Lastri dan Ida saling pandang. Vini kembali bertanya. Lastri terdiam sejenak hingga langkahnya perlahan menuju kamar Dani. Memanggilnya. Tak ada sahutan.  Lalu pintu diketuk berkali-kali. Di dalam kamar sepi. Seperti tak ada kehidupan. Tetiba resah mengelayuti hati Lastri.  Ia tergopoh-gopoh ke beranda, berteriak memanggil adik-adiknya yang kebetulan belum berangkat kerja.

Dua adik laki-lakinya membongkar kamar Dani. Semua mata terbelalak. Lastri histeris seketika  mendapati tubuh Dani yang tergantung di atap kamar dengan tambang terikat di lehernya. Mulut lelaki itu terkuak dan lidahnya menjulur. ***

 

Bandung Barat, 7 Februari 2020