Cerpen An. Ismanto (Jawa Pos, 15 Maret 2020)

Cerita Pohon Pukul Lima ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Cerita Pohon Pukul Lima ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

GERGAJI mesin kembali menderu di tangan algojo itu, tetapi sudah kukeraskan seluruh pembuluh dan kambiumku. Perih memang menyebar ke seluruh tubuhku ketika rantai bermata runcing ditanamkan di kulitku dan mulai berputar. Namun, seperti kemarin-kemarin, hanya kulit saja yang bisa dikelupas mesin itu dariku. Setelah lima menit mencoba, algojo itu mundur sambil menggeleng kepada teman-temannya. Seluruh mata gergajinya sudah kubikin tumpul ketika menyentuh lapisan terluar dagingku.

Sudah seminggu ini para pekerja menebangi pohon-pohon di sekitar museum ini. Hanya aku yang tersisa. Pohon randu, asam, kluwih, dan beringin tak tampak lagi, sudah ditebang hingga tunggul-tunggulnya, dan akar-akarnya dicabut tanpa sisa. Pohon-pohon itu tak melawan ketika gergaji mesin menyayat batang mereka. Kata mereka kepadaku, semakin banyak orang tinggal di kota yang dulunya hutan ini sehingga pohon-pohon harus dikorbankan. Agar manusia dapat membangun rumah, mal, sirkuit, stadion, dan sebagainya.

Namun, aku belum bisa mengikhlaskan diri menjadi tumbal. Aku lebih dulu lahir ketimbang siapa pun di kota ini. Lingkaran tahun di batangku lebih banyak ketimbang bilangan usia manusia paling tua sekalipun. Kusaksikan langsung jalannya sejarah! Begitu banyak yang kusaksikan hingga aku berani mendaku lebih bijaksana dari siapa pun, bahkan para filsuf. Jika aku bisa menulis, tentu sudah kutulis buku-buku tebal berisi hikmah dan pengetahuan.

Baca juga: Bek Sayap – Cerpen Alfian Dippahatang (Jawa Pos, 08 Maret 2020)

Tubuhku belum setinggi pohon jagung ketika kota ini masih belantara lebat tanpa manusia dan satu-satunya hukum adalah hukum rimba. Macan tutul pernah memanjati batangku untuk menerkam musang yang bersembunyi di dahan paling tinggi. Tekukur, pipit, kutilang, dan sebagainya membangun kota dalam kerimbunan daun-daunku. Rumput lebih segar dan hijau di bawah naungan kanopiku yang membentang luas dan memberi teduhan bagi siapa pun tanpa membeda-bedakan ketika hari begitu terik.

Ketika kanopiku lebih tinggi dari siapa pun kecuali pohon-pohon kelapa di daerah ini, kusaksikan manusia pertama yang membawa panah dan berburu kancil dan babi hutan. Juga masih kuingat laki-laki pertama yang membuka lahan untuk berladang. Laki-laki itu sering bernaung di bawah tajukku untuk beristirahat. Sering pula jatuh tertidur hingga sore dan harus kubangunkan dengan tetesan air dari ujung daunku agar ia tak terlambat pulang. Selalu ia mengucapkan terima kasih kepadaku sambil tersenyum saat terjaga.

Aku tak tega jika laki-laki santun dan rajin itu kemalaman. Aku dan dia sama-sama tak menyukai gelap, tetapi mungkin dengan alasan yang berbeda. Aku tak suka gelap atau remang karena, tanpa panas dan cahaya, aku tak bisa mengolah bahan makanan yang seharian kukumpulkan. Karena itulah pada malam hari kulipat daun-daunku dan baru keesokan harinya, saat tanah mulai terang, sekitar pukul lima pagi, kubuka lagi. Jika hujan turun atau hari mendung, daun-daun juga kulipat.

Setiap kali lingkaran kambiumku bertambah, pengetahuan dan kebijaksanaanku juga bertambah. Lalu kutemukan cara paling manjur untuk mengelola makanan. Hasilnya, akar-akarku menjadi sangat kuat, sanggup menembus tanah yang sangat padat, dan bisa menjalar sampai jauh di bawah permukaan tanah. Jika perlu, bisa kusisihkan batu atau kerikil yang menghalangi pertumbuhan akarku. Karenanya, air bukan masalah bagiku. Akar-akarku sanggup mengisap air tanpa henti, dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu.

Baca juga: Nelayan Pensiun – Cerpen M. Amin Mustika Muda (Jawa Pos, 01 Maret 2020)

Jika air yang terisap terlalu banyak, sering kuteteskan air dari tajukku. Lantaran itulah orang juga menyebutku sebagai pohon hujan. Jika musim hujan menumpahkan air tak henti-henti dari langit, kuisap air yang meresap hingga jauh ke dalam tanah hingga tak pernah ada banjir di daerah ini. Banjir baru kusaksikan setelah daerah ini berubah menjadi kota dan pohon-pohon ditebangi untuk memberi ruang bagi manusia.

Dengan pengetahuan dan kebijaksanaan seperti itu, siapa pun akan mafhum jika aku tumbuh menjadi raksasa: pada puncak usiaku sekarang ini, butuh tujuh orang dewasa untuk membentuk lingkaran utuh mengelilingi batangku. Namun, aku tak pernah takabur dengan kelebihan itu. Ketika kampung pertama dibangun di daerah ini, kuizinkan siapa pun memotong dahan dan rantingku untuk kayu bakar. Bahkan setelah kampung berubah menjadi kota ramai, tak pernah kutolak orang-orang yang berteduh di bawah kanopiku.

Tak kuingat lagi sudah berapa pasangan yang pernah bersandar di batangku dan berkasih-kasihan dipayungi daun-daunku. Aku menjadi saksi entah berapa ciuman pertama, janji-janji manis, dan pertengkaran-pertengkaran asmara. Aku menikmati cerita-cerita cinta itu karena aku pun merasakan keindahannya. Kutaburkan madu di bunga-bungaku yang putih dengan bercak merah muda di bagian atasnya agar serangga tertarik dan membantu menyebarkan benih-benihku ke seluruh penjuru untuk melestarikan keturunanku.

Kusaksikan juga kebodohan-kebodohan. Beberapa orang pernah bersila di pangkal batangku dan menyalakan dupa. Mulut mereka berkomat-kamit mengungkapkan permohonan. Minta dilancarkan rezeki, minta dibantu mengirim santet, minta ini-itu yang hanya membikin aku tersenyum geli. Aku hanyalah sebatang pohon trembesi, bukan dewa atau Tuhan. Yang bisa kuberikan hanyalah teduhan dan bantuan untuk mencegah banjir saat musim hujan serta membersihkan udara dari polusi yang kian parah.

Baca juga: Karena Hantu Itu Tidak Ada – Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 23 Februari 2020)

Kebodohan paling menyedihkan adalah keputusan laki-laki yang mengaku sebagai pemilik lahan tempatku berdiri. Kepada dewan kota, lembaga yang ia menjadi pemimpinnya, ia mengungkapkan rencana untuk membangun taman ajaib di sini. Ia menyombongkan bahwa taman itu tidak hanya akan memperindah kota dengan bunga-bunga beraneka warna. Tetapi juga memberikan pengalaman tak terlupakan bagi para pengunjung dengan berbagai wahana yang akan mewujudkan impian mereka.

Ada wahana berupa pesawat ruang angkasa yang membawa penumpangnya ke galaksi-galaksi yang jutaan tahun cahaya jauhnya. Wahana lain yang berupa istana gaya Eropa akan membuat para pengunjung yang memasukinya menjadi raja dan ratu paling gagah dan paling cantik di dunia. Wahana berwujud mesin tidur diklaim dapat menyembuhkan insomnia. Wahana berbentuk tanda cinta membikin pengunjung yang patah hati sembuh seketika dari kesedihan. Dan wahana berupa tempat ibadah menjamin pengunjung yang memasukinya masuk surga.

Aku tak terkejut jika gagasan bodoh juga melahirkan tindakan bodoh. Setelah para pekerja gagal menebangku pertama kali, pemilik lahan mengundang seorang dukun untuk menundukkanku. Dukun itu bersila dekat pangkal batangku, menyalakan dupa, dan berkomat-kamit. Kupatahkan dahanku yang agak besar, lalu kujatuhkan menimpa kepalanya. Orang itu pingsan dan cepat-cepat dibawa ke rumah sakit. Karena itulah mereka menunda usaha menebangku hingga hari ini.

Namun, usaha terakhir mereka pun sia-sia. Kulihat algojo yang baru saja gagal menebangku berbicara di telepon. Beberapa menit kemudian pemilik lahan tiba dan memarkir mobil agak jauh dari tempatku berdiri. Laki-laki buncit berkacamata itu mendekati dan menanyakan kepadaku, apa yang kuminta agar aku bisa ditebang. Lewat pembuluhku, kubisikkan bahwa aku ingin ia menyaksikan saat gergaji mesin menggergaji batangku. Ia mengangguk-angguk, lalu memerintahkan algojo untuk bekerja lagi.

Kuperiksa tempat pemilik lahan itu berdiri. Aku puas karena kakinya masih berada dalam jangkauan bayang-bayang kanopiku. Ketika gergaji mulai berputar menyayat batangku, kulemaskan pembuluh dan kambiumku. Bisa kurasakan saat aku terhuyung-huyung sementara para pekerja menarik tali yang diikatkan di pangkal-pangkal dahan. Sebelum tumbang, kupastikan gerumbul dahan paling keras yang telah kusiapkan mengarah tepat di kepala pemilik lahan. ***

 

An. Ismanto. Lahir di Bantul pada 13 Agustus 1980. Saat ini tinggal di Jogjakarta dan menjadi penerjemah lepas.