Cerpen Mugi Astuti (Suara Merdeka, 15 Maret 2020)

Bunga Kuning Liar pada Suatu Pagi ilustrasi Suara Merdeka (1)
Bunga Kuning Liar pada Suatu Pagi ilustrasi Suara Merdeka 

“Setiap laki-laki pasti ingin menjadi pahlawan untuk kekasihnya,” katamu waktu itu setelah multiple orgasm yang kauberikan padaku.

“Namun tidak denganmu,” jawabku malas-malasan. Tanganku menelusuri dadamu yang masih berkeringat.

Pergumulan panjang yang baru saja terjadi membuatku sedikit mengantuk. “Bukankah kau tak pernah mau memberitahukan nomor rekening? Dan selalu menolak barang-barang pemberianku?”

“Nanti saja kalau aku jadi istrimu.”

“Sekarang kau bilang begitu, padahal baru saja kautolak lamaranku.”

Mataku beralih memandang wadah cincin merah hati yang terbuka di atas nakas di samping tempatmu berbaring. Sebentuk cincin berlian solitaire berpengikat emas rose gold. Tak besar memang, tapi terlihat sangat cantik. Aku iseng menghitung berapa bulan gaji yang kauhabiskan hanya untuk menukar benda yang ingin kaugunakan mengikatku.

Baca juga: Mono (Log) – Cerpen Radeya Q Kalimi (Suara Merdeka, 29 Maret 2020)

Tanpa sadar aku tersenyum. Seberhargakah itu aku bagimu, sehingga kau mau melakukan hal yang bodoh; menghabiskan uang jutaan rupiah hanya untuk benda seperti itu? Dengan lembut kausingkirkan kepalaku yang berbantal pundakmu. Berbaring miring menghadapku, tangan kirimu menopang kepala. Dengan lembut telunjuk kananmu menelusuri wajahku, berhenti sejenak di bibir dan mengelus-elusnya. Spontan aku mengecup jarimu. “Kau mengantuk?” tanyamu. Mata cokelatmu yang bening menembus hatiku. Getaran-getaran yang mereda, kini kembali menjalari perutku. Segera kualihkan pandanganku ke bibirmu.

Tanpa menunggu jawaban, kautarik tubuhku mendekat. Kutenggelamkan wajah ke dadamu. Samar-samar bau ketiak bercampur deodoran membuatku makin ingin tenggelam dalam pelukmu.

Kurasakan bibirmu menyentuh kening, menyapukan ke mata, hidung, pipi sebelum berhenti di bibir dan mengecupnya berulang kali. “Aku mencintaimu. Kumohon, hiduplah bersamaku,” katamu. Lirih.

Kubalas permintaanmu dengan pelukan lebih erat. Tidak, aku tak ingin menjawab saat ini. Pelan aku menggeleng. Kau tak berkata-kata lagi. Hanya bibirmu yang makin liar mengulum bibirku. Menjejalkan lidahmu yang segera kusambut selayak bayi yang lapar akan puting sang ibu. Dengan segera lidah kita bertaut.

Baca juga: Kota Ini Memberiku Kesedihan Terbaik – Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 09 Februari 2020)

Mulutmu rakus melahap setiap inci bagian tubuhku. Mencium, mengisap, menjilat, hingga aku sudah tak tahu lagi tubuhku basah oleh keringat atau air ludah. Aku melayang tinggi di antara bintang-gemintang. Tubuhku menari, meliuk, menggelinjang serupa ular. Tanganku menggapai apa saja yang bisa kujadikan pegangan. Diiringi dengus dan lenguhmu yang menjelma serupa petikan gitar Al Marconi di telingaku, darah terpompa makin cepat, membuat rahimku menuntut dibuahi, menuntun tubuhku menari di pangkuanmu.

***

Aku mengingatmu sebagai pemuda pemalu belasan tahun lalu. Pemuda yang tak pernah absen menungguku di gerbang sekolah dengan sepeda berjeruji penuh dengan mata kucing. Saat itu seragam kita masih putih-biru. Satu-satunya kata yang kauucapkan adalah, “Naiklah.” Lalu kita akan diam sepanjang perjalanan hingga sampai di depan gang rumahku.

Begitu terus berbulan-bulan hingga tiba-tiba kau hilang tanpa kabar setelah pengumuman kelulusan. Aku nyaris tak mengenalimu ketika pada suatu pagi tiba-tiba kau sudah berada di depan pagar rumah kontrakanku. Kau memegang setangkai bunga liar kuning, yang dulu sering kaulingkarkan di jari tengahku.

“Aku tahu pasti bisa menemukanmu.”

Senyummu tak berubah. Manis, meski sedikit malu-malu. Aku butuh waktu lama mengumpulkan ingatan tentangmu sebelum kubuka pintu pagar dan kupersilakan kau duduk di teras. “Sayang aku harus mengantar anakku ke sekolah. Kalau tak keberatan, kau bisa tunggu di sini. Mungkin hanya sekitar 45 menit. Biar kubuatkan kau kopi,” kataku.

Baca juga: Merampas Kewanitaan – Cerpen Joss Wibisono (Suara Merdeka, 26 Januari 2020)

“Tak perlu. Kita bisa pergi bersama. Aku bawa mobil. Omong-omong, di mana suamimu?” Kau bertanya sambil melongok ke pintu terbuka di belakangku.

“Haruskah kujelaskan sekarang? Aku buru-buru,” jawabku sambil mengunci pintu. Kulihat kau berjalan mendekati anakku. Berjongkok di hadapannya, berbincang sejenak. Tak butuh waktu lama buatmu membujuk anak semata wayangku berada dalam gendonganmu. Waktu mengubah banyak hal, tetapi ternyata tidak dengan perasaanmu padaku.

Kupikir kau sama seperti aku; dengan segera bisa melupakan perasaan kehilangan saat tiba-tiba kau pergi. Lalu, aku pun hanya mengingatmu sebagai seorang laki-laki kecil cinta monyetku yang suka berhenti di tengah perjalanan kita pulang sekolah. Memetik setangkai bunga liar kuning, membentuk serupa cincin, dan mengenakannya di jari tengah tangan kiriku. Setiap hari, selama dua tahun semenjak kaubilang ingin jadi pacarku. “Coba lihat tangan kirimu,” katamu di sela menunggu pesanan kopi datang.

Kuangsurkan tangan kiriku.

“Kau belum menikah?” tanyamu saat melihat jemariku tanpa cincin. Matamu menatap wajahku; tak mengerti.

“Kau datang mencariku hanya untuk melanjutkan kebiasaan bodohmu melingkarkan bunga itu di jariku? Kau kurang kerjaan,” ketusku, tetapi tetap membiarkanmu melingkarkan bunga liar itu di jari tengahku.

Baca juga: Perempuan Tembakau – Cerpen Istifari (Suara Merdeka, 19 Januari 2020)

“Seharusnya tadi aku bawa cincin sungguhan untuk melamarmu. Bukan bunga jelek ini,” kau menggumam. “Jadi di mana suamimu? Ayah anakmu?” sambungmu.

“Dia anakku. Tak penting siapa bapaknya. Aku belum pernah menikah,” tukasku lirih dan getir. Kau diam menekuri meja, memainkan ujung tisu saat kaulihat pelayan mengantar pesanan ke meja kita. Kau datang setiap pagi setelah pagi pertama kau berdiri di depan gerbang dengan bunga liar kuning di tanganmu hanya untuk mengantar anakku sekolah dan berbincang sebentar denganku di kedai kopi pinggir jalan arah pulang. Sebetulnya tak tepat disebut kedai. Lebih mirip kafe, meski tak luas, dengan desain interior ala victorian.

Era Instagram membuat tempat ngopi menjamur di setiap tempat dengan desain interior unik dan berbeda, membuat acara ngopi sudah bukan lagi acara menikmati kopi, melainkan acara pamer foto ngopi. Kucecap sedikit kopi di hadapanku. Terlalu manis, rasanya lebih mirip kopi instan sasetan yang biasa kubeli di minimarket. “Jadi ke mana kau selama ini, kenapa tiba-tiba menghilang?” tanyaku suatu pagi untuk mencairkan kebekuan antara kita.

Kau benar-benar tak banyak berubah. Tetap pendiam dan alih-alih menatap wajahku, kau lebih suka asyik dengan sesuatu di tanganmu dan sesekali mencuri pandang padaku. Kau bercerita setelah lulus, seluruh keluargamu pindah ke kota J, menyusul ayahmu yang bekerja di sana. Kau tak sempat berpamitan padaku karena jadwal kereta mepet. Konflik ibu dan nenekmu membuat kau dan keluargamu harus secepatnya pergi dari rumah itu. Ingatan tentangmu begitu cepat memudar seiring kesibukanku sebagai siswa baru di sebuah SMA favorit di kota tempat kita lahir. Namun tidak denganmu. Kau masih mengingatku hingga sekarang. “Kenapa kau bisa sampai ke kota ini?” tanyamu setelah bercerita tentang kepindahanmu di kota S ini. Seorang diri. Aku diam. Tak mungkin aku ceritakan padamu betapa Ibu mengusirku karena aku lebih memilih putus kuliah dan membesarkan janin yang tumbuh di rahimku. Aku tak ingin menambah dosa yang sudah kulakukan dengan menggugurkan sesuatu yang sudah memiliki detak jantung dalam rahimku. Tidak, aku tidak mau.

Baca juga: Sebelum dan Sesudah Terompet Ditiup – Cerpen Aji Saputra (Suara Merdeka, 12 Januari 2020)

Ibu sangat marah saat itu. Sebetulnya pacarku pun mau bertanggung jawab. Namun aku tidak tahu kesepakatan apa yang dibuat orang-orang tua itu demi menyelamatkan kehormatan mereka. Orang tua pacarku memindahkan dia entah ke mana. Dan Ibu memaksaku menggugurkan kandungan.

Semua anggota keluarga menghujatku. Satu-satunya orang yang bisa kumintai tolong adalah sahabat baik yang kukenal lewat media sosial. Aku belum pernah berjumpa dengan dia, meski kami biasa mengobrol berjam-jam setiap hari. Sahabat baik yang belakangan kuketahui berprofesi sebagai pemandu karaoke itu menawari aku tinggal di rumahnya. Hingga suatu saat ia berkata, “Ada laki-laki mencari teman tidur yang sedang hamil. Kau mau menemani? Jangan khawatir, ia hanya akan mengelus perutmu dan merasakan bayi itu bergerak. Tidak lebih.”

“Bagaimana kau tahu ia tidak akan memintaku melayaninya?”

“Ia langgananku. Impoten. Percayalah padaku. Bayimu sebentar lagi lahir. Dari mana kau dapat duit untuk membiayai hidupnya? Jangan khawatir, ia pasti membayar mahal,” katanya acuh tak acuh. Asap rokok aroma mentol mengepul dari mulutnya.

Malam hari, seorang lelaki setengah baya datang menjemputku. Sebelum pergi, Sisy, temanku itu, bilang kalau aku tak nyaman ketika dibawa ke hotel, kami boleh memakai kamarnya. Ia sudah menelepon lelaki itu, menerangkan bahwa aku baru kali pertama melayani laki-laki dan dia boleh memakai kamarnya untuk tidur denganku jika aku tak mau ke hotel bersamanya.

Baca juga: Kematian Dulahmat dan Suara Kucing Hitam – Cerpen Khairul Fatah (Suara Merdeka, 05 Januari 2020)

Mendengar ucapannya, aku hanya menghela napas panjang. Kuelus perutku. Janin itu bergerak. Ada rasa nelangsa yang sulit kuterjemahkan. Tendangan-tendangan lembutnya terasa, seolah-olah menguatkan hatiku untuk membuat bendungan yang kukuh agar air mata tidak ambrol.

Sisy mendandaniku sedemikian rupa; daster sifon mungil yang manis berwarna kuning gading dengan ornamen bunga oranye muda. Riasan tipis natural makin menonjolkan kecantikanku. Aku baru sadar, ternyata aku bisa tampil sedemikian cantik. Dia membelikan sepatu flat cokelat muda kombinasi pita cokelat tua tadi siang. Tas tangan kulit berwarna cokelat ia pinjamkan. Dia ambil sejumput rambut di atas kupingku dan dia satukan di belakang kepalaku. Ia tersenyum puas, memandangiku dari atas ke bawah. “Baiklah, aku pergi. Enjoy your time. Dia pasti memperlakukanmu dengan baik,” katanya sebelum menutup pintu.

***

Keributan belum mereda atas penutupan kompleks lokalisasi Sunan Kuring. Ada sekitar bantuan pesangon dari Dinas Sosial untuk 40 orang yang salah sasaran.

Entah bagaimana bantuan itu bukan diberikan kepada para pekerja seksual yang jelas mempunyai kartu tanda anggota, malah diserahkan pada warga sekitar kompleks pelacuran. Sebagian menyarankan pekerja seksual itu meminta bantuan dari LBH Perempuan dan demonstrasi di gubernuran. Sebagian lagi skeptis. Ada mami yang malah menakut-nakuti anak buahnya. Ia menyuruh mereka ikhlas tak menetima bantuan, daripada masuk penjara karena melawan.

Baca juga: Perempuan yang Kupanggil Tetangga – Cerpen Safitri Wulandari (Suara Merdeka, 29 Desember 2019)

Aku menjejalkan pakaian ke dalam kopor. Di sudut sana Mbak Reni menangis. Ia salah seorang anak asuh mami yang tidak menerima pesangon sebesar 6 juta rupiah akibat mekanisme pembagian pesangon yang tidak benar. Ia begitu takut meminta haknya, tidak seperti teman lain yang berencana demonstrasi besok pagi. Aku berjalan mendekati Mbak Reni. Kuangsurkan buku tabungan dan kartu ATM pesangon atas namaku. “Pakai saja punyaku, Mbak. Kita keluar dari sini besok,” kataku.

“Bagaimana denganmu?”

“Kalau kau takut menuntut hak, sebaiknya jangan pergi, Mbak. Pakai saja punyaku buat pulang kampung. Aku masih punya tabungan,” kataku.

Mami masuk, menggendong Vie yang sekarang berusia hampir empat tahun. “Jadi benar kau mau pergi? Bagaimana nanti jika Sisy bertanya? Kau tahu kan ia menitipkanmu padaku?”

“Vie sudah hampir empat tahun, Mam. Aku tak bisa di sini terus. Kalau Sisy tak ditahan, aku tak berada di sini kan? Aku pasti mengunjungi Sisy seperti biasa.”

Mami tak berkata apa-apa lagi. Dalam pelukannya, Vie berceloteh riang.

Baca juga: Mata Apa? – Cerpen Lisna RJ (Suara Merdeka, 22 Desember 2019)

Sisy, kali terakhir kami mengunjungi di penjara wanita, ia tampak begitu kurus. Ia harus menjalani hukuman berapa tahun karena didakwa terlibat perdagangan perempuan. Aku menghela napas panjang.

***

Dengkurmu masih terdengar, meski pagi menjelang. Tanpa suara aku berpakaian, melangkah menuju wastafel untuk mencuci muka, mengoleskan bedak dan lipstik tipis-tipis. Wajahmu yang tenang terpantul jelas di kaca wastafel. Aku termangu. Tidak, aku merasa tak cukup pantas untuk seseorang dengan cinta dan kesetiaan begitu besar seperti kamu. Aku menunduk. Butiran air yang jatuh ini jelas bukan air dari keran untuk membasahi rambutku. Aku terisak lirih. “Bodoh!” rutukku. “Kalau begini tentu kau harus mengoleskan bedak dan lipstik lagi. Mengapa tak kauperlakukan saja ia seperti para lelaki yang menidurimu selama ini?”Aku makin terisak. Segera kubasuh muka dan mengoleskan bedak sekali lagi. Tentu aku tak bisa pulang dengan mata sembap seperti ini. Aku berbalik. Kupandangi lagi wajahmu yang lelap, seprai acak-acakan sisa semalam, cincin yang masih tersimpan rapi dalam kotak beludru merah hati yang terbuka, sebelum aku melangkah keluar kamar hotel dan menutup pintu perlahan. (28)

 

Semarang, 4 Februari 2020: 19.10

Mugi Astuti, ibu dua orang anak, mantan buruh migran di Hong Kong, kini tinggal di Semarang