Cerpen Ken Hanggara (Minggu Pagi No 49 Tahun 72 Minggu II Maret 2020)

Kota Serigala ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Kota Serigala ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi 

MANUSIA-MANUSIA serigala berkumpul di pusat kota. Mangsa terakhir sudah ditumbangkan. Darah membanjir di sudut-sudut gelap yang biasanya selalu penuh tumpukan sampah dan air selokan. Bau amis merajai beberapa jam, tapi tidak ada yang dikhawatirkan. Angin akan menghalau bau itu, dan lagi pula setiap penghuni kota tak lagi risau bau darah dan mayat. Mereka terbiasa sejak bertahun-tahun lalu. Kini, kota dikuasai orang-orang berta-ring yang menjelma serigala, bukan hanya ketika bulan purnama.

Pemerintahan kota kembali diatur usai matahari bersinar terik esoknya. Di gedung dewan, beberapa manusia serigala berpengaruh, terkuat dan tercerdas, mengambil keputusan siapa saja yang akan memerintah kota, juga apa saja yang mereka lakukan untuk menjaga agar pembantaian malam itu tak terdengar pihak luar.

Ketika malam berdarah itu berlangsung, seluruh akses menuju kota dibuntu. Para penjaga perbatasan yang bertugas dengan santai harus berakhir di perut para manusia serigala yang memulai langkah awal penyerangan. Dengan adanya makhluk-makhluk keji di seluruh gerbang terluar kota dari berbagai penjuru, tak akan ada pihak luar yang tahu.

Baca juga: Sang Peracik – Cerpen Ken Hanggara (Padang Ekspres, 02 Februari 2020)

Siang itu, wali kota baru diperkenalkan. Orang-orang bertaring bersorak ria demi menyambut hari baru setelah tahun-tahun panjang penuh derita ha-

rus hidup di hutan dan saling berebut tempat dan makanan dengan bina-tang-binatang yang ditakdirkan liar dan menyantap daging.

“Berapa abad kita hidup dengan cara serendah binatang? Berapa abad kita didepak, ditolak manusia-manusia itu? Sekarang, kita berkuasa atas diri sendiri dan saatnya manusia tahu betapa kita mampu, bahkan jauh lebih mampu, untuk berbuat lebih dari yang mereka tahu!” teriak wali kota di podium, diiringi tepuk tangan dan suitan panjang dari warganya.

Sejak itu, kota yang dikuasai kaum bertaring mengubah wajahnya. Orang-orang bekerja dari siang hingga matahari terbenam untuk mewarnai tem-bok-tembok, menara, sumur, tempat-tempat ibadah, jembatan, dan bangunan apa pun di seluruh bagian kota, dengan cat hitam dan kelabu. Toko-toko yang menjual sayur diubah fung-si; mereka tak makan sayur. Benda-benda tak berguna seperti piano, boneka, komidi putar, buku-buku, yang tak bisa memuaskan hasrat makan yang selalu diidap manusia serigala, dikumpulkan di pusat kota bersama sisa-sisa para mangsa yang tinggal tulang belulang.

Sebentar lagi matahari tak akan tampak dan mereka harus menyiapkan diri untuk penjelmaan. Bagi mereka yang tidak ingin mencari makan, mengunci diri di kamar dirasa lebih dari cukup. Tapi, sebagian di antara mereka belum puas jika belum mengelilingi dan memeriksa setiap sudut kota itu dengan mata kepala sendiri. Maka, malam itu, makhluk-makhluk ganas bertaring, yang bertampang bagai serigala tapi berbadan tegap laiknya manusia, tampak berkeliaran di sudut-sudut kota.  Tak ada yang tahu kengerian macam yang terjadi jika saja seorang manusia biasa berada di sana.

Baca juga: Sepi – Cerpen Yenni Djafar Day (Minggu Pagi No 48 Tahun 72 Minggu I Maret 2020)

Tentu tidak ada manusia yang mun-cul dengan kesadaran jika kota itu kini dikuasai orang-orang bertaring, karena para penjaga bekerja dengan baik.   Setiap orang yang memasuki kota, segera dibantai. Di siang hari, mereka dibiarkan terlebih dulu melewati perbatasan sebelum dimangsa atau dibunuh untuk dijual mayatnya kepada orang-orang bertaring yang malas berburu. Jika para pendatang melintas di malam hari, jangan harap dapat melewati batas kota, bahkan untuk sejengkal.

Hanya saja, para penghuni kota yang seluruhnya membutuhkan daging manusia ini tak bisa begitu saja menggantungkan nasib perut mereka pada para pendatang sial. Mereka sering kali harus ke luar untuk berburu.

Berbulan-bulan kehidupan macam itu berlangsung. Suatu hari, seseorang di sebuah perpustakaan di kota yang sangat jauh, bertanya-tanya tentang pesuruhnya yang tak juga kembali sejak dua hari lalu. Pesuruh itu gemar membaca dan dia mengira sang pesuruh tidak pulang untuk membaca beberapa buku di perpustakaan. Ternyata dia tidak pernah ke perpustakaan.

“Coba Anda hubungi si penjahit di kota X, di mana pesuruh Anda mengirim barang ke sana. Saya kira itulah cara yang tepat mencari tahu di mana dia berada,” saran si penjaga perpustakaan.

“Andai ada seseorang yang jauh lebih muda mengantarku. Sekarang tubuhku tidak mampu bepergian jauh. Untuk itulah kusuruh pembantuku!” balas seseorang itu. Dia pergi setelah mengucap terima kasih.

Baca juga: Bibir – Cerpen Rumasi Pasaribu (Minggu Pagi No 47 Tahun 72 Minggu IV Februari 2020)

Sepanjang perjalanan pulang, tak ada yang dipikirkan selain anak perempuannya yang begitu baik. Setiap tahun dia akan selalu mengirim hadiah untuk putrinya yang bekerja sebagai penjahit sukses di kota yang jauh itu. Kebanyakan kiriman kado diantar kurir atau pembantu dilengkapi surat darinya. Biasanya putrinya juga akan membalas surat itu, tapi tahun ini tidak ada balasan. Dan, pesuruh yang bertugas itu juga tidak pernah kembali.

Selama bermalam-malam, lelaki tua ini terus memikirkan tentang si pesuruh yang bodoh. Apa yang terjadi? Di suatu pagi yang dingin, dia putuskan dia sendiri berangkat ke sana, dengan kereta kuda. Tak ada seorang pun di kota ini yang bisa dipercayainya untuk sekadar mengantarnya. Orang-orang zaman sekarang terlalu banyak meminta dan cerewet, demikian pikirnya. Maka, dia benar-benar pergi seorang diri. Di pos perbatasan, tak tampak orang pun penjaga. Hari benar-benar sepi. Udara terasa tak bergerak dan tak ada bunyi binatang malam apa pun, seakan kota tua ini diselubungi tabung waktu. Tiba-tiba kudanya berontak dan menolak maju. Kereta terguling dan si lelaki tua tak sadarkan

diri setelah terbentur kepalanya. Entah berapa lama lelaki tua itu pingsan. Dia bangun esok paginya dengan kondisi sangat tidak nyaman. Di sekelilingnya, aroma tak sedap menguar. Anehnya, dia bisa segera bangkit tanpa merasa sakit pada persendian dan kepalanya.

“Apa yang terjadi?” Si lelaki tua menatap kejauhan. Menara gereja tampak lusuh terselubungi kabut pagi.

Baca juga: Perempuan Masa Lalu – Cerpen Ilham Wahyudi (Minggu Pagi No 46 Tahun 72 Minggu III Februari 2020)

Orang-orang berjalan tanpa pakaian, gedung-gedung dengan tembok kelabu, dan jalanan yang tampak licin oleh cat merah.

Ketika melewati sebuah toko baju yang sudah lama ditutup, lelaki tua itu merasa ia tak bisa memandang tubuhnya sendiri. Dia bahkan mulai tidak yakin tubuhnya berada di sini, bersamanya. Lalu, bagaimana cara dia berjalan? Si lelaki tua menoleh ke balik punggungnya, dan dari sanalah rahasia (setidaknya rahasia tentang kondisi aneh yang menimpa tubuhnya pagi ini) terungkap. Gunung jasad tampak basah oleh darah membumbung tinggi; dirubung lalat dan belatung sana-sini. Si lelaki tua tidak ingin muntah sama sekali, meski jijik. Dia hanya dapat berlari dan memikirkan nasib anaknya, tapi tentu itu sudah sia-sia belaka. Bukankah dia juga sudah tewas? Kini arwahnya yang berlarian ke sekeliling kota dengan orang-orang bertaring yang terlihat malas mengenakan pakaian, seakan di malam sebelumnya terjadi pesta liar yang melahirkan sejuta dosa.

 

Gempol, 2019-2020