Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 11 Maret 2020)

 

“If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.” — Albert Einstein

Saya merupakan satu dari sekian anak yang tumbuh dari lingkaran dongeng (fairy tales), dari andai-andai ke andai-andai, dari mitos ke mitos, yang diceritakan oleh neknang (kakek) dan papa saya. Ya, kedua lelaki inilah yang melanjutkan tradisi bercerita kepada cucu dan anak-anaknya menjelang waktu tidur.

Tradisi itu membuat tidur saya lebih nyenyak sehingga menjadi lebih bersemangat menyongsong pagi. Oh, alangkah hebatnya kekuatan dongeng-dongeng yang diceritakan.

Seiring waktu berjalan, saya merasa tak cukup sekadar menjadi pendengar cerita. Maka, beberapa kali saya mencoba mengambil alih “tugas” neknang dan papa. Tak jarang, adik-adik saya juga menyukai cara saya bercerita. Tak sekali dua saya mengantar tidur mereka dengan dongeng Labu Emas, Si Buta dan Suling Sakti, atau Batu Belah Batu Betangkup.

Ternyata, menyimak dan menceritakan-ulang dongeng-dongeng itu pun, dengan berjalannya waktu, juga tak cukup lagi memuaskan saya.

Saya juga ingin jadi pembuat cerita.

Baca juga: Seberapa Gembira Kamu Membaca – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 04 Desember 2019)

Sejak itu, tugas Neknang dan Papa makin ringan. Mereka menceritakan andai-andai pada kami, terutama saya, hanya tiga kali sepekan. Sisanya saya ambil alih dengan dongeng-dongeng karangan sendiri.

Cukup? Tidak. Saya tak puas lagi sekadar memproduksi cerita-cerita rekaan. Saya tak puas dengan stok cerita yang mulai banyak. Saya ingin membuat cerita-cerita yang bagus. Yang terpilih. Yang memberikan saya tantangan.

Saat itulah, adik-adik saya ajak masuk labirin, masuk ke sana keluar sini, untuk menemukan ujung cerita, tempat saya biasa meletakkan kejutan (twist) di sana!

Saya percaya, kecakapan saya beretorika, bercerita, negosiasi, bicara depan publik, atau hal-hal terkait komunikasi oral, sedikit-banyak adalah pengaruh dari tradisi bercerita yang menemani tumbuh kembang saya.

Kalau begitu, tradisi bercerita, termasuk yang dipraktikkan untuk mengantar anak tidur, harus terus lestarikah?

Kalau tiba di Benny Institute, rak yang memajang buku di lobi kerap mereka sasar duluan.
Dinda dan Dkayla. Kalau tiba di Benny Institute, rak yang memajang buku di lobi kerap mereka sasar duluan.

Mulanya saya pikir begitu. Namun, setelah menerapkannya pada Dinda, putri pertama saya sejak usianya 3 tahun—dan saya mendapati tumbuh kembangnya mirip dengan yang saya alami; menceritakan ulang dongeng dari saya lalu mengarang dongeng untuk ia ceritakan pada adiknya, hingga hari ini ia tumbuh menjadi anak yang percaya diri dalam pergaulan karena kecakapannya berbicara dan kegemarannya bercerita—saya pun berpikir ulang, hingga akhirnya saya putuskan menghentikan tradisi bercerita (lisan) pada anak-anak.

Mungkin untuk sementara. Mungkin selama-lamanya. Tergantung, segembira apa cara baru yang akan saya terapkan pada Dkayla menunjukkan hasilnya.

Pada putri kedua kami itu, saya lebih sering membacakannya cerita, terutama untuk mengantarnya tidur. Ya, MEMBACAKAN. Bukan MENCERITAKAN.

Baca juga: Bahasa Melayu, Yusmadi, dan Kacamata Botelho – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 04 Maret 2020)

Saya perkenalkan ia dengan tulisan sejak dini. Saya bentangkan buku cerita anak, yang meskipun kaya gambar, tetap ada tulisannya. Saya lakukan berulang-ulang. Sama intensnya dengan yang pernah saya lakukan ketika menceritakan Dinda dongeng-dongeng secara langsung.

Persis sekali. Bulan kedua, Dkalya merasa tak cukup lagi menjadi penyimak buku dongeng. Ia ingin membacakan buku-buku dongeng koleksi kami pada adiknya. Meskipun ia belum bisa membaca sebagaimana adiknya, ia berakting seakan-akan sedang membaca. Ah.

Ternyata, ketika sudah bisa membaca, Dkayla butuh kepuasan baru. Ia pun ingin menjadi pembuat cerita. Ia pun menulis sendiri cerita-ceritanya. Cerita apa saja. Putri-putrian. Pengalaman ke pasar. Masakan bundanya yang enak. Apa saja.

Ketika tak semua cerita-cerita itu disukai adiknya saat dibacakan, pada usia 5 tahun Dkayla seperti tahu kalau ia tak cukup jadi produsen cerita saja. Ia harus memproduksi cerita-cerita yang baik. Ia pun menulis ceritanya lebih banyak lagi, meski sebagian tak jadi ia bacakan karena menurutnya jelek. Lihat, bagaimana penyuntingan itu bekerja—tanda dihantui perasaan berdosa karena membuang begitu banyak kata, sebagaimana yang kerap dikeluhkan penulis baru hari ini!

***

Budaya ngobrol, menggosip, bahkan memfitnah, yang tumbuh subur pada diri dan lingkungan kita, jangan-jangan adalah produk bercerita lisan yang kadung mengalir deras lewat urat nadi kehidupan. Kita menjadi lebih gemar bicara, daripada lamat-lamat menulis—aktivitas yang memberikan kenikmatan bermain diksi hingga menyunting buah pikiran sampai ia layak diketengahkan kepada banyak orang. Jangan-jangan, tanpa sadar, budaya mendengarkan dan bercerita-ulang telah membuat kita jadi pribadi yang hanya mau menerima (malas). Kalaupun memproduksi cerita, ia rentan menjadi karangan-karangan yang tak terverifikasi alias hoaks karena komunikasi oral tak memberi ruang pada penyuntingan atau berpikir-ulang sebelum merilis.

Baca juga: Kerja Buruk Itu Perlu – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 26 Februari 2020)

Sebagai metode menanamkan nilai-nilai, Story Telling bentuk pengayaan alias tangga ketiga setelah membaca dan menulis yang harus dibereskan terlebih dahulu.

Kalau tidak, bagaimana? Apakah dilarang bercerita? Tidak! Tidak ada yang melarangmu bercerita. Tapi, hanya orang-orang yang malas berpikir yang mau mendengar bualan-bualan mereka yang malas mengisi kepala dan mengasahnya dengan menuliskannya. Dan saya, sungguh tak ingin menuhankan keramaian yang kering seperti itu.

***

Baca lagi kutipan Einstein di atas. Ia bilang read—bacakan anak kita dongeng-dongeng, bukan tell—sekadar menceritakannya. Einstein seperti memahami dengan baik alasan turunnya wahyu pertama untuk Nabi Muhammad Saw yang berbunyi:

Iqra’, yang berarti bacalah. Artinya ada teks atau tulisan yang dibaca, yang mendahuluinya.

Bukan berceritalah.

Bukan berbicaralah.*

 

Lubuklinggau, 11 Maret 2029