Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 08 Maret 2020)

Virus C-77 Louisa Heathcote ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka (2)
Virus C-77 Louisa Heathcote ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

“Ceritakan padaku tentang cinta, sayangku,” kata wanita itu kepada kekasihnya.

Maka kekasihnya yang lebih banyak diam itu menceritakan tentang nasib suatu kota tanpa cinta.

***

Berpuluh-puluh tahun di Kota Ellcoo dengan segala pencapaian yang dianggap lebih cepat daripada penciptaan Tuhan, Dewan Penguasa memutuskan sebuah perombakan besar. Perombakan ini secara cepat disebarluaskan melalui layar-layar hologram; baik di jalan-jalan, pusat kota, layanan sosial media, dan segala akses yang dapat diketahui oleh masyarakat. Dewan Penguasa menyuruh warga kotanya untuk tidak lagi menggunakan kata “cinta” dalam kehidupan. Bahkan kata “cinta” dianggap sebagai virus berbahaya yang dibasmi. Dewan Penguasa menggap kata “cinta” sebagai Virus C-77.

Baca juga: Mitos Makan Malam – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 02 Februari 2020)

Keputusan ini langsung dianggap gila oleh penduduk Ellcoo. Namun Dewan Penguasa tetap menjalankan pilihan ini dengan dasar khusus. Bagi Dewan Penguasa, Kota Ellcoo, walau dahulu dianggap kota damai, kini bertransformasi sebagai kota penyupalai bandit di kota-kota besar seperti Resistor dan Emitor. Angka kriminalitas tinggi di kota Ellcoo. Hampir setiap hari, dalam pantauan Dewan Penguasa, pembunuhan atau perampokan terjadi. Oleh sebab itu Dewan Penguasa memutuskan untuk melakukan penelitian penyebab itu. Dewan Penguasa menemukan akar permasalahannya adalah “cinta” atau Virus C77.

Siapa pun yang mendengarkan keputusan itu tentu langsung mengumpat seraya membayangkan kota semakin kacau.

“Apa kota ini mau dibuat menjadi neraka?” keluh masyarakat. “Cinta dianggap sebagai virus!”

“Mereka yang memutuskan pasti orang-orang yang tak pernah memiliki kasih sayang!”

Semua ketidaksetujuan penduduk Kota Ellcoo sama sekali tidak ditanggapi oleh Dewan Penguasa. Artikel-artikel dalam bentuk tulisan yang sifatnya mengkritik pun diabaikan. Bagi Dewan Penguasa, apa yang diambil ini adalah keputusan pantas.

Demikianlah selama berbulan-bulan—tanpa masyarakat Ellcoo tahu—Dewan Penguasa melakukan rapat-rapat rahasia untuk menuntaskan angka kriminalitas. Para pakar ilmu sosial, seni, bahasa, filsafat, sains, matematika, hingga tokoh-tokoh lain yang ahli pada bidangnya diundang untuk melakukan rapat. Mereka diberikan tugas untuk mencari solusi perdamaian.

Baca juga: Kota Ini Memberiku Kesedihan Terbaik – Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 09 Februari 2020)

“Kau tahu, cinta adalah hal rumit yang harus dihilangkan,” kata seorang filsuf memutuskan. “Perpecahan terjadi karena cinta.”

“Apa alasanmu mengatakan itu!” Debat pakar sosial dan seni. “Bukankah dengan cinta dunia ini bisa disatukan!”

“Ahh, slogan bahwa ‘dunia dapat disatukan dengan cinta’ adalah omong kosong!” bantah si filsuf. “Cinta sebenarnya hanya kendaraan untuk alasan melakukan kejahatan.”

“Aku tidak paham dengan cara berpikirmu,” kata pakar matematika. “Kau harus menjelaskan dengan konkret!”

Si filsuf diam seraya memandang para pakar lain.

“Betapa dibodohi kita selama ini oleh konteks dalam teks! Cinta, baik secara ‘kata’ atau ‘tindakan’ sebenarnya digunakan sebagai kendaraan penghancur kehidupan. Coba kita lihat bagaimana manifestasi kalimat ‘cinta tanah air’ merupakan bentuk dari pemberontakan; ‘cinta keluraga’ akan membuat seseorang menjadi agresif dan melakukan apa saja demi keluarganya. Lalu ‘cinta diri sendiri’ membuat seseorang menjadi antisosial. Manifestasi cinta dalam konteks bahasa serta tindakan kita sehari-hari sudah sangat kacau. Jadi cinta adalah virus berbahaya yang harus dibasmi!” ungkap si filsuf.

Para pakar tertegun saat mendengar penjelasan si filsuf. Mereka seperti baru menyadari sesuatu yang membuat kacau kota. Akhirnya, setelah memutuskan akar masalah, mereka mengajukan beberapa poin alasan bila diurutkan secara rapi akan tersusun berikut:

1. Penghapusan kata “cinta” dalam kehidupan dilakukan untuk mengurangi dan menekan; bahkan memangkas angka perpecahan, kriminalitas, dan peperangan antar saudara yang sering terjadi. Karena kata “cinta” akan selalu ditunggangi dengan berbagai kepentingan ideologi dan kapital.

Baca juga: Merampas Kewanitaan – Cerpen Joss Wibisono (Suara Merdeka, 26 Januari 2020)

2. Kata “cinta” dianggap sebagai kesalahan berbahasa yang begitu besar hingga akhir abad ke21. Manifestasi “cinta” selalu diartikan sebagai sesuatu yang menuntut perjuangan. Dan kata “perjuangan” sendiri selalu merujuk pada kekacauan yang berujung pada perpecahan kelas sosial.

3. Alasan paling penting dari penghapusan kata “cinta” adalah membenahi sistem berbahasa manusia yang salah. Karena bahasa, adalah sesuatu yang penting dan harus dibenahi terlebih dahulu untuk mencapai masyarakat luhur.

4. Kata cinta adalah virus yang dapat mengancam perdamaian.

Empat alasan ini membuat Dewan Penguasa mengambil keputusan gila tersebut. Dewan Penguasa akan menghapus kata “cinta” dari benak setiap penduduk kota. Maka tidak aneh penghapusan kata “cinta” berujung pada protes yang terus dikumandangan oleh masyarakat Ellcoo.

***

Ketika Dewan Penguasa mulai menghapus kata “cinta”, Ipang baru kali pertama merasakan jatuh cinta di dalam hidupnya pada seorang kawan sekolah bernama Louisa Heathcote. Sebagai penyair yang gagal, ia sedang asyik membuat banyak puisi dengan kata “cinta”. Hampir dalam setiap sajaknya terdapat kata “cinta”, seperti “cinta adalah keabadian dunia” atau “jatung cintaku berdenyut untukmu”.

Sebagai pria introver dan sangat jarang berinteraksi dengan orang-orang sekitar dan nyaris tidak pernah melihat kotak hologram bernama televisi, ia sama sekali tidak tahu rencana Dewan Penguasa. Selain itu Ipang juga tidak menyadari ketika para aparat keamanan mulai bertahap membongkar buku-buku di perpustakaan, dan menyunting  banyak kalimat agar kata “cinta” hilang. Virus “cinta” telah membutakan Ipang.

Ketololan Ipang ini makin menumpuk; karena ketika ia asyik menulis puisi, penduduk Kota Ellcoo sedang melakukan pemberontakan besar.

Baca juga: Perempuan Tembakau – Cerpen Istifari (Suara Merdeka, 19 Januari 2020)

“Cinta harus tetap ada di muka bumi ini!” Pekik masyarakat pejuang cinta di Kota Ellcoo. “Mau jadi apa dunia ini tanpa cinta?”

Kota Ellcoo berjalan tidak beraturan di luar hidup Ipang yang kini tenang. Protes dan kritik nyaris setiap hari mengisi lembar-lembar harian digital. Namun karena banyak media yang dibredel karena berani menayangkan kritik para aktivis pejuang cinta, protes mereka akhirnya dilakukan secara sembunyi. Sayang, apa yang diusahakan para aktivis pejuang cinta gagal. Bahkan tidak lama para aktivis pejuang cinta itu diringkus.

Pada akhir pemberangusan, Dewan Penguasa mengeluarkan maklumat penting kepada penduduk.

“Cinta sudah menjadi virus berbahaya di Kota Ellcoo,” bunyi maklumat Dewan Penguasa. “Cinta harus dihapus secara total dalam kehidupan masyarakat.”

Imbuan itu menyebar luas karena kecanggihan teknologi. Penduduk yang sudah jera selama seminggu terakhir dengan segala kekacauan, akhirnya memilih mengikuti imbauan.

Sementara itu pascapergolakan penghapusan kata “cinta”, Ipang baru saja menyelesaikan seratus sajak cinta pada Louisa Heathcote—wanita pujaannya. Tetapi pada waktu yang sama, ia juga baru menyadari cinta sudah menjadi benda tabu di Kota Ellcoo. Ia tahu ketika mendapatkan kiriman email berisi imbauan Dewan Penguasa kepada seluruh penduduk. Pada imbauan itu ia membaca kalimat kapital bertuliskan: SIAPAPUN YANG BERANI MENGGUNAKAN KATACINTA AKAN DITANGKAP!

***

Dewan Penguasa berhasil membungkam segala kata dan makna cinta. Namun makna dan kata itu masih bergentayangan di hati serta pikiran penduduk. Jadi bukan sesuatu yang ganjil, pada hari-hari biasa, masih terdapat seseorang menyampaikan cinta kepada kekasih atau keluarganya. Akhirnya, banyak orang yang ditangkap. Mereka yang tertangkap pun dihukum dengan cara pantas. Hukuman paling ringan adalah memenjarakan selama beberapa hari. Mereka yang tetap bersikeras memakai kata “cinta” dalam kehidupan akan diawasi dengan ketat. Sementara itu bagi para pelaku hukuman berat akan dibinasakan.

Baca juga: Sebelum dan Sesudah Terompet Ditiup – Cerpen Aji Saputra (Suara Merdeka, 12 Januari 2020)

Tetapi semua hukuman tidak dihiraukan oleh Ipang. Ia masih nekat berkendara ke rumah Louisa untuk memastikan orang yang dicintainya. Sepanjang jalan Ipang melihat hasil dari kekacauan kemarin. Kendaraan yang dibakar, batu yang berserak, atau sisa spanduk bertema cinta yang sedang dihapus. Namun ia tidak peduli.

Sesampai di rumah Louisa, Ipang termenung mengawasi halamannya. Louisa sedang menyirami taman yang penuh bunga. Tiba-tiba Ipang ingin mendekat dan menyatakan perasaan. Sayang, hal itu gagal dia lakukan karena ada mobil patroli milik Dewan Penguasa.

“Apakah Dewan Penguasa tidak sekali saja memberikan kesempatan untukku jatuh cinta!” pekik Ipang.

Ipang tahu Dewan Penguasa kini sedang mengembangkan minuman khusus yang bisa menghapus kata “cinta” dari benak siapa pun. Dewan Penguasa melakukan semua ini karena merasa masih banyak pembangkang di kota. Terlebih lagi masih sering penduduk ketahuan merayakan kata “cinta” dengan diam-diam. Oleh karena itu, selama beberapa minggu, Dewan Penguasa kembali mengembangkan pencapaian baru.

Dewan Penguasa beranggapan hukuman yang diberikan tidak membikin jera. Hukuman itu malah membuat penduduk makin ingin menyatakan kata “cinta”. Karena kata cinta, tak bisa dimusnahkan begitu saja dari pikiran seseorang. Ramuan itu pun sudah berhasil diuji pada para pembangkang. Ipang pun menjadi gelisah karena itu. Padahal ia belum sempat mengatakan perasaannya kepada Louisa.

***

Dewan Penguasa benar-benar mengeluarkan maklumat dengan mewajibkan penduduk meminum ramuan yang sudah dibuat untuk menghapus kata “cinta”. Pada hari Minggu yang cerah semua penduduk Ellcoo dikumpulkan di lapangan luas. Termasuk Louisa. Satu per satu penduduk dipaksa meminum ramuan itu. Mereka pun secara sadar kehilangan kata “cinta” di benak. Sampai kemudian jatuh giliran Louisa.

Baca juga; Kematian Dulahmat dan Suara Kucing Hitam – Cerpen Khairul Fatah (Suara Merdeka, 05 Januari 2020)

“Jangan minum itu!” Ipang berteriak.

Seorang petugas menyahut dan mengejar Ipang.

“Apa yang kaulakukan?” bentak si petugas.

Louisa melirik Ipang. Louisa meletakkan minuman itu. Namun petugas memaksa. Akhirnya Louisa meminum ramuan penghilang kata “cinta” tersebut.

“Hentikan!” pekik Ipang lagi. “Aku ingin mengatakan cintaku padamu!”

Louisa hanya diam ketika Ipang berulang mengatakan “cinta”. Wanita itu tidak paham.

Sedangkan Ipang terus mengatakan “cinta” yang sudah dilupakan Louisa. Ipang bahkan menyerahkan semua sajak cinta yang pernah dia tulis. Namun wanita itu sama sekali tak memahami.

***

Pria itu tiba-tiba terdiam saat menceritan kisahnya, lalu memekik lirih ke kasihnya.

“Aku mencintamu, Sayang,” kata pria itu.

“Aku juga,” wanita itu menjawab. “Lalu bagaimana nasib Ipang?”

“Ipang tetap hidup,” jelas si pria. “Tapi ia mengalami kehidupan yang susah dengan menyimpan kata ‘cinta’ seorang diri di Kota Ellcoo. Karena orang-orang yang ditemuinya sudah tak lagi mengenal cinta. Akhirnya ia pergi meninggalkan Kota Ellcoo dan menceritakan kisahnya kepada orangorang yang dicintainya.”

Pria itu diam lagi dengan wajah pucat.

“Kau baik-baik saja?” tanya wanita itu.

“Aku mencintaimu!” pekik pria itu sekali lagi.

“Kau mencintaiku bukan?” (28)

 

Risda Nur Widia menulis cerpen, yang termuat di berbagai media. Bukunya yang akan terbit Berburu Buaya di Hindia Timur.