Cerpen Kak Ian (Medan Pos, 08 Maret 2020)

Resolusi Sassy ilustrasi Medan Pos (1)
Resolusi Sassy ilustrasi Medan Pos

“Wow, nggak menyangka aku sebagai sahabat baikmu selama ini. Ternyata sahabatku satu ini pengoleksi cowok-cowok keren di sekolah. Mau dong aku bisa seperti kamu, Sy!” celetuk Ve setiba di rumah Sassy yang langsung Ve dapati sahabatnya itu lagi mengumpulkan poto-poto cowok keren di kamarnya.

Sassy yang mendengar celetukan itu langsung tersenyum kecut. Sebab, sahabat baiknya dari SMP itu mendadak main masuk saja ke kamarnya. Sudah begitu berucap tidak mengenakan di telinga.

“Apa-apaan si kamu, Ve! Ini aku lagi kumpulkan setelah itu kubakar. Aku nggak mau lagi Ve jadi playgirl. Bukan itu saja aku sudah tidak mau menyakiti perasaan cowok di sekolah. Kamu tidak tahukan berapa banyak cowok di sekolah yang sudah aku lukai hatinya? Mereka jadi patah hati. Walaupun itu salah mereka sendiri sudah menganggap lebih padahal hanya berteman. Maka dari itu aku mau membakar poto-poto ini agar aku terbebas dari doa-doa cowok yang pernah patah hati padaku. Kamu tahu sendirikan mereka secara tidak langsung sudah aku zolimi. Itukan yang sering dibilang Pak Irfan, guru agama kita. Ucapan orang-orang tersakiti itu makbul. Dari itulah aku mau menutup segala prilakuku macam itu. Aku ingin berubah, Ve. Aku ingin stop jadi playgirl Apalagi sebentar lagi tahun berganti,” panjang lebar Sassy mengatakan hal itu pada Ve dengan lirih.

Ve yang mendengar ucapan Sassy tetiba matanya berkaca-kaca. Ia sangat terharu pada perkataan Sassy. Ternyata di balik Sassy suka mempermainkan perasaan cowok ada terselip pelampiasan dan penyesalan amat dalam dari segala perbuatannya selama ini. Coba bayangkan bila dari kelas X di sekolah favorit itu Sassy sudah kenal cowok-cowok keren dari sesama satu kelas sampai kakak kelas sudah dipacari. Cowok-cowok keren lagi.

Semua itu berasal dari cowok-cowok popular di sekolah. Sebut saja dari ketua ekskul basket, futsal, jurnalistik maupun mading bahkan juara umumpun Sassy pernah menaklukan itu. Bukankah itu sebuah prestasi pula untuk Sassy?

“Aku mau berubah Ve! Aku tidak ingin menjadi Sassy si Playgirl. Apalagi sudah sebulan ini aku ikut rohis. Di sana aku ternyata sangat nyaman dan tentram,” lanjut Sassy pada Ve. Kali ini mata Sassy berkaca-kaca.

“Tapi bukan karena Bilal, si ketua rohis kita itukan?!” Ve langsung menebak pikiran Sassy.

“Lihat sajalah Ve nanti! Sekarang karena ini hari Minggu bantu-bantu aku ya untuk bakar-bakar poto-poto cowok itu sampai dengan pemberiannya juga,” lanjut Sassy.

“Maksud kamu sama boneka Teddy Bear yang aku pegang ini? Jangan ah lebih baik buat aku saja ya!” pungkas Ve.

Sassy membulat matanya. Kemudian tersenyum kecut melihat kelakuan sahabatnya itu. Karena memaanfaatkan asas kesempitan dalam kesempatan. Itulah Ve.

“Iya, tapi bantu aku sampai selesai ya. Seharian ini kamu bantu aku di rumah. Kita tidak kemana-mana dulu, okay! Deal…?” tawar Sassy.

Ve yang rencana mau mengajak Sassy hunting tiket untuk konser EXO yang akan diadakan di Jakarta itu langsung lemas. Acara hunting tiket pun hempas. Ve akhirnya menuruti Sassy. Lagi pula tidak rugikan malah berpahala membantu sahabat sendiri yang berubah. Pikir Ve saat itu. Ve pun mengiyakan permintaan Sassy.

***

Pagi itu cukup cerah. Secerah hati Sassy yang hari itu sudah bertekad untuk berubah. Ia ingin hijrah sepenuhnya. Ia ingin menjadi lebih baik lagi sebagai seorang cewek.

Ya, itu terlihat Sassy sedang mematutkan diri di depan cermin. Dan di tangannya tampak memegang jilbab berwarna hijau toska yang belum ia beli di Tenabang. Hatinya sedang bergejolak. Antara ia memutuskan untuk berhijab atau tidak. Ingin berubah sepenuhnya. Hingga ucapan Bilal, si ketua rohis yang berlesung pipit dan berkacamata minus itu terngiang kembali di benak Sassy.

“Dalam berhijrah tidak ada suatu paksaan apalagi dipaksa. Sebab yang menjalani perubahan itu ya pribadinya sendiri. Sedangkan aku sebagai ketua rohis yang memang tugasnya hanya memberikan saran yang terbaik ya kuberikan seperti itu. Tapi yang memutuskan kamu sendiri nantinya,” ucap Bilal seusai taklim bakda asar usai di aula sekolah saat Sassy memberitahukan pada Bilal jika dirinya ingin berubah. Sassy ingin hijrah.

Usai Sassy mengingat ucapan Bilal kembali ia mematutkan diri dan melihat jilbab yang sejak tadi ia genggam. Ia akhirnya mencoba dulu memakai jilbab. Pertama kali ia pun risih. Namun karena ia sudah berniat berubah akhirnya jilbab itu ditancapkan di wajah tirusnya yang mirip pemain opera sabun Turki. Ia tidak mau menunda-nunda lagi.

“Bismillah, izinkan aku berhijab ya, Tuhan! Tuntun aku agar menjadi cewek yang istiqomah pada agama dan ajaran-Mu,” Sassy pun mantap menacapkan jilbab hijau toska ke wajahnya. Seketika itu pagi berubah begitu cerah sekali. Seperti hati Sassy saat itu. Ia sudah ‘membungkus’ dirinya dengan hijab. Ia sekarang sudah menjadi cewek berhijab bukan lagi Sassy si Playgirl. Tidak ada lagi gelar itu sekarang.

Seusai itu Sassy pun berangkat ke sekolah. Ia sengaja tidak mengambil jalur rumah Ve seperti biasanya. Itu ia lakukan memberikan suprise untuk sahabat baiknya. Dan Sassy berharap sahabat itu bisa menerima kondisinya saat ini. Bukan lagi Sassy si Playgirl yang kenal dulu. Tapi Sassy si cewek hijaber.

Benar. Ternyata saat Sassy baru masuk ke kelas pagi itu seisi anak-anak pun gempar melihat keadaan dirinya yang sudah 100% berubah.

Ve yang pertama melihat Sassy sudah menutup diri ia termangu. Ia sangat kaget bahkan shocked. Apalagi Sassy sebangku dengan Ve.

“Benarkah ini kamu, Sy?” tanya Ve keheranan.

“Iya, ini sahabat baikmu sejak SMP. Sassy Setiawati Hernawan. Sassy si Hijaber bukan Sassy si Playgirl,” tukas Sassy. “Maaf aku sudah meyakini diriku jika aku ingin berubah. Bukankah aku sudah bicara waktu itu sama kamu. Saat inilah aku juga sekalian mengatakan padamu. Jika memang kamu sahabat baikku terimalah aku saat seperti ini. Bila tidak kamu boleh menjauhi diriku karena inilah pilihanku!” lanjut Sassy meyakinkan Ve kembali.

Ve mendengarkan ucapan Sassy kini matanya kembali berkaca-kaca. Ternyata sahabat baik itu benar-benar ingin berubah total. Ingin menjadi cewek lebih baik lagi.

“Yaiyalah biar bagaimanapun kamu bukan hanya sahabat tapi sudah seperti saudaraku!” Ve akhirnya menerima keadaan Sassy segala perubahannya saat itu.

Ve merangkul Sassy. Sassy pun kembali merangkul sahabatnya itu. Pagi itu di dalam kelas tampak dua anak manusia berlainan kepribadian kini saling memahami dan menerima segala keputusan masing-masing. Dan itulah sebuah persahabatan.

Usai mereka saling berpelukan. Sassy pun memberikan kejutan pada Ve. Kini lebih mengguncang hati Ve.

“Oya, usai lulus tahun ini aku mau taaruf. Aku mau menikah muda. Dan pilihanku dan jodohku itu adalah Bilal, si ketua rohis itu….” akhirnya hempas juga ucapan itu dari mulut mungil Sassy.

Seketika itu kembali ruang kelas tiba-tiba senyap. Semua ikut hanyut pada ucapan Sassy yang akan nanti menikah muda. Apalagi saat Sassy mengucapkan seperti itu semua teman sekelas memperhatikan dirinya. Sassy sudah bisa dikatakan cewek hijaber yang sudah berhijrah secara kaffah.

Dan julukan Sassy si Playgirl tinggalah kenangan. Yang ada hanya Sassy si Hijaber.

 

Kak Ian, penulis dan aktivis anak. Aktif di Komunitas Pembatas Buku Jakarta (KPBJ). Karya-karyanya telah termaktub di berbagai koran lokal dan nasional. Penulis buku “Kumpulan Cerita Remaja Malaikat yang Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama”, Penerbit Mecca, Desember, 2019.