Cerpen Priyo Handoko (Radar Banyuwangi, 08 Maret 2020)

Rahasia Keluarga ilustrasi Radar Banyuwangi (1)
Rahasia Keluarga ilustrasi Radar Banyuwangi

Maya mencopot memory card dari kamera DSLR miliknya dan langsung memasukkannya ke USB port komputer. Proses scan virus berlangsung cepat. Beberapa gambar mulai terlihat. Suasana konser band kesukaannya, kesukaanku juga–di GOR kemarin malam.

”Aku terjatuh dua kali gara-gara terdorong penonton,” ujar Maya tanpa melepaskan pandangannya dari layar monitor. Kedua tangannya yang bertato henna masih memegangi mouse berwarna kuning itu. Darahku selalu berdesir setiap berada di dekatnya. Aku tidak menyangka, Maya masih setia kepadaku.

”Kalau saja aku bisa menemanimu menonton konser itu, pasti lebih aman. Aku memang tidak bisa diharapkan. Mestinya kamu cari pacar lain saja,” kataku datar. Tentu saja aku sama sekali tidak serius ketika mengucapkannya. Sebab, aku terlalu mencintai Maya. Bersamanya aku seperti larut hingga terparut-parut.

”Aduh, Wisang. Aku cuma ingin cerita. Tidak ada maksud lain,” ucap Maya sambil memelukku. Harum rambut panjangnya yang segar langsung menjalari saraf otakku. Memancing naluri nakalku. Aku menarik nafas panjang yang sangat dalam.

Perlahan aku melepas pelukan Maya. Konsentrasiku kini tertuju pada gambar- gambar suasana konser hasil jepretannya. Bukan hanya kualitas gambarnya yang tajam, Maya juga cerdas dalam memilih angle. Dia semakin jeli untuk menangkap ekspresi terbaik dari objek-objek fotonya. Tidak heran bila mahasiswi ekonomi semester dua itu sudah beberapa kali memenangi lomba fotografi.

”Seperti biasa. Foto-fotomu selalu bagus. Suatu saat nanti kamu pasti bakal jadi fotografer top,” pujiku. Maya tersenyum lebar. ”Tapi, dari foto-foto konser ini ada yang kira-kira menginspirasi kamu enggak?” tanya Maya. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah foto-foto di layar monitor. Aku belum sempat mencermati semuanya satu per satu. ”Pasti ada. Nanti aku coba lihat lagi,” ucapku sambil menyalin tempel semua foto itu.

***

Aku suka melukis. Spesialisasiku adalah suasana keramaian. Aku kerap menjadikan suasana pasar atau lapangan yang dipenuhi orang sebagai objek goresan kuasku. Suasana hajatan di perkampungan, orang-orang yang datang ke pasar malam, kampanye pemilu atau pilkada di lapangan, karnaval budaya, konser musik, demonstrasi buruh dan mahasiswa, kompetisi basket antar SMA yang super meriah, termasuk pertandingan sepak bola di stadion kota. Semua suasana yang meleburkan banyak emosi pribadi menjadi tumpukan emosi komunal adalah objek yang kerap menggodaku.

Awalnya aku juga melukis objek lain. Bunga di kanvas, sawah menguning di pedesaan, gadis penari, pepohonan, ataupun ikan-ikan yang berenang di kolam dan akuarium. Namun, selama tiga tahun terakhir aku hanya melukis suasana keramaian. Hanya satu tema itu. Sudah puluhan lukisan dengan beragam tema tentang keramaian aku selesaikan. Sebanyak 17 lukisan di antaranya telah berpindah ke tangan kolektor. Bahkan, salah satu lukisanku yang menampilkan pemandangan antrean ribuan warga saat pembagian zakat terjual belasan juta rupiah. Lumayan untuk ukuran pelukis muda yang masih bau kencur sepertiku.

Semua itu tidak terlepas dari peran Maya. Dia yang memotivasiku untuk memampang foto semua lukisan itu di blog. Tentu saja dia juga yang membantuku untuk mendokumentasikannya. Dengan memanfaatkan jaringan perkawanan di media sosial, hanya dalam waktu tiga bulan blog sederhana itu langsung dikunjungi ribuan orang.

Memasuki bulan keempat, muncul seorang pengusaha dari Malang yang tertarik untuk membeli salah satu lukisanku. Tanpa banyak negosiasi, aku langsung menyetujui saat dia menyebut angka Rp 2,5 juta. Setelah itu, semakin banyak orang menghubungiku. Akhirnya, aku semakin percaya diri untuk mematok harga. Dari satu lukisan ke lukisan lain, harganya terus meningkat.

Tidak sekadar menjadi konsultan dalam soal promosi dan penjualan, Maya juga rajin mencarikan foto-foto suasana keramaian untuk menginspirasiku. Seperti ketika dia menonton konser kemarin malam. Dia menyempatkan untuk memotret puluhan objek menarik dengan kameranya. Sudah banyak foto hasil jepretan Maya yang mengispirasi lukisanku.

Melihat perkembangan ini, ayah, ibu, Mas Abdi, Mbak Niken, termasuk Maya, berulang kali mendorongku untuk menyelenggarakan pameran. Aku sendiri memang sangat berkeinginan menggelar pameran. Namun, ada persoalan besar yang masih mengganjalku. Apa lazim seorang pelukis yang masih hidup tidak menghadiri pamerannya sendiri?

”Soal anggaran dan sponsor aman. Kamu fokus pikirkan konsep pamerannya saja,” kata Ayah, beberapa hari lalu. Tawaran yang menarik. Entah sudah beberapa kali ayah menyampaikannya. Aku tahu ayah tidak sedang berbasa-basi. Ketika dia bilang aman, berarti memang sudah beres. Ayah kenal banyak orang dan banyak orang mengenal ayah. Tapi, aku masih ragu.

***

Ayahku adalah politikus yang sedang naik daun. Karirnya meroket dengan mulus. Dia difavoritkan banyak orang. Semua tindak-lakunya seperti magnet yang selalu sukses menarik perhatian. Hobinya untuk blusukan terus mendapat porsi yang besar dalam pemberitaan.

Gayanya yang hangat, ceplas-ceplos, dan apa adanya menjadikan ayahku mudah akrab dengan siapa saja. Pesonanya yang luar biasa seolah tidak berjarak dengan semua lapisan masyarakat. Beragam gagasannya yang out of the box membuat ayahku semakin dikagumi. Mulai teman-teman separtai sampai tokoh parpol lain merasa segan dengan pria 51 tahun yang baru terpilih menjadi orang nomor satu di daerah ini.

Moncernya langkah ayah di dunia politik tentu saja tidak terlepas dari dukungan besar keluarga. Ibu yang paling utama. Bukan sekadar perempuan yang bisa berdandan wangi atau mendampingi saat acara-acara resmi, ibu juga teman diskusi bagi ayah. Diskusi semacam itu bisa terjadi di mana saja. Di meja makan, di tempat tidur, di dalam mobil, di kamar mandi, bahkan di pinggir kolam renang rumah kami. Sesekali bersitegang, namun selalu berakhir dengan canda.

Tidak hanya kisah perjalanan politik ayah, kehidupan keluarga kami pun sudah beberapa kali diliput media. Soal ibu yang jago masak dan sampai sekarang masih mengajar pencak silat. Soal Mas Abdi, si sulung yang sukses membangun bisnis franchise warung spesial bubur nusantara. Soal Mbak Niken yang polyglot. Saat ini, dia mampu berbicara dengan lancar dalam sembilan bahasa asing. Termasuk, aku, si bungsu yang lulus SMA tahun lalu, namun masih belum mau kuliah. Saat ini, aku memang lebih memilih untuk fokus menekuni hobi melukis.

Awalnya, belai sanjung puja datang tanpa henti kepada keluarga kami. Namun, belakangan salah satu media mulai menyorotiku. Mereka mulai sadar bahwa dalam musim kampanye politik lalu, aku tidak pernah sekalipun nongol di hadapan publik. Berbeda dengan ibu, Mas Abdi, atau Mbak Niken yang sering terlihat dalam beberapa agenda roadshow kampanye ayah. Bahkan, sampai naik dan menyapa para pemilih dari atas panggung. Sampai sekarang pun aku terkesan menjauh dari hiruk pikuk.

Ketidakhadiranku itu akhirnya berkembang menjadi desas-desus politik. Aku dianggap arogan dan elitis. Tidak mau berbaur dengan masyarakat. Kontras dengan ayahku yang sangat merakyat. Yang lebih menyakitkan, beberapa hari terakhir ini ada media yang menyebutku anak haram. Ah….

***

Pameran tunggal lukisanku akhirnya digelar juga selama seminggu penuh. Aku tidak hadir saat malam pembukaannya. Dari cerita yang kudengar, ratusan undangan dan puluhan wartawan yang datang sempat terheran-heran saat ayahku naik ke atas panggung untuk membacakan sambutanku.

”Maaf saya tidak bisa datang malam ini. saya sangat sedih tidak bisa berdialog dengan Anda semua untuk menjelaskan sendiri satu per satu kisah di balik setiap lukisan itu. Bukannya saya tidak menghormati. Bukannya saya tidak ingin menikmati suasana saat banyak orang menikmati karya yang saya buat dengan sepenuh hati. Namun, sebagai orang yang yang mengalami agoraphobia, hal sesederhana itu menjadi sangat rumit dan berat.

Bagi yang belum tahu, ini adalah perasaan takut terhadap kerumunan orang. Setiap berada di tengah kerumunan, hati dan pikiran saya merasa cemas. Lalu, jantung berdetak kencang dan keringat dingin mengalir deras. Sampai sekarang, saya belum mampu mengendalikan perasaan yang entah apa pemicunya itu. Fobia ini semakin parah sejak saya duduk di bangku kelas tiga SMP. Sejauh ini, hanya keluarga dan orang-orang tertentu yang mengetahuinya.

Kehidupan sosial saya pun otomatis terganggu. Saya sampai takut ke luar rumah. Bahkan, masa sekolah menjadi sangat menyiksa. Terutama saat upacara bendera, senam kesegaran jasmani setiap Jumat, jam istirahat, maupun jam pulang sekolah. Karena itulah, saya sangat jarang mengikuti upacara bendera. Saya juga selalu datang telat ke sekolah, namun meninggalkan kelas paling terakhir. Semua itu sengaja saya lakukan untuk menghindari kerumunan. Saat berada di tengah kerumunan, orang lain hanya akan melihat wajah saya yang murung, bicara terbata-bata, dan datar. Beberapa teman memusuhi saya karena dianggap sombong. Beberapa yang lain sebaliknya menganggap saya tidak asyik untuk diajak gaul.

Saya sebenarnya sudah mencoba beberapa terapi. Yang terakhir atau sejak tiga tahun lalu, seorang ahli hipnoterapi meminta saya untuk lebih sering melukis suasana keramaian atau kerumunan orang. Dia yakin melukis objek keramaian secara bertahap akan mengikis efek fobia saya. Tak disangka, lukisan bertema keramaian itu malah diminati. Padahal, awalnya itu hanya media terapi. Saya cuma bisa bersyukur kepada Tuhan.

Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada ayah yang sudah mau membacakan sambutan tertulis ini. Saya tahu taruhannya sangat besar. Soal ketidakhadiran saya selama musim kampanye saja sudah membuat salah satu media menuding saya anak haram. Siapa yang tidak sakit hati disebut anak haram? Tetapi, kini saya sudah ikhlas. Saya hanya takut jangan-jangan setelah ini ada yang menjadikan fobia ini sebagai kampanye negatif untuk menyerang ayah. Bukan tidak mungkin akan ada yang mengisukan aksi blusukan yang ayah lakukan selama ini hanyalah pura-pura alias pencitraan. Dan, agoraphobia yang saya alami ini sebagai karmanya. Kalau itu sampai terjadi, saya akan merasa sangat bersalah. Demikian, terima kasih”.

Dan, tepuk tangan riuh langsung terdengar saat ayah mengakhiri sambutan tertulis itu.

***

Sore itu, dua hari setelah acara pembukaan pameran, aku melihat ayah dan ibu terlibat dalam perdebatan di taman belakang rumah. Tapi, tidak seperti biasanya. Kali ini tidak ada canda atau tawa yang menyelingi. Ibu berkali-kali membentak ayah. Ekspresi wajah ayah juga tidak kalah kerasnya. Keduanya sama-sama ngotot. Entah apa yang dibicarakan.

Aku tak kuasa menahan rasa ingin tahu. Aku berusaha mendekat dan menguping dari balik jendela. Mereka terus berbicara dengan nada tinggi. Karena itu, meskipun jarak dari ruang setrika ke tempat ayah dan ibu berdiri hampir 100 meter, aku dapat mendengar apa yang mereka perdebatkan. Beberapa kali namaku disebut. Aku semakin penasaran.

”Kapan kamu mau menceritakannya kepada Wisang? Semakin cepat dia tahu, semakin baik. Kamu tidak bisa menutupinya terus,” kata ibu.

”Nanti pasti aku akan ngomong ke dia,” jawab ayah.

Halah. Sudah bertahun-tahun kamu hanya berencana dan janji. Kamu tidak bisa menutupi terus dosamu di masa lalu. Wisang harus tahu siapa ibu kandungnya. Aku tidak tega setiap menatapnya,” ucap ibu, lantas terisak.

Dari balik jendela yang separuh kordennya tertutup, aku menahan nafas. Tenggorokanku terasa kering. Mataku perih. Dengan dada yang semakin sesak, aku kembali naik ke lantai dua, menuju galeri lukisanku. Di sana, ada satu lukisan yang sudah hampir rampung. Dengan tangan bergetar, aku mengambil kuas dan mulai melukis lagi.

Seorang perempuan berambut panjang dengan tangan yang dipenuhi tato henna sedang memeluk hangat seorang pria. Mata gadis itu terpejam seolah larut dalam suasana. Mereka berada di antara ribuan orang yang sedang berloncat-loncat menikmati lagu yang dimainkan sebuah band di atas panggung. Gadis itu Maya. Sedangkan, sosok pria berhidung mancung itu, aku tidak pernah mengenalnya.

Inilah objek lukisanku yang sedang kugarap sekarang. Kuambil dari salah satu foto yang diberikan Maya sepulang menonton konser minggu lalu. Mungkin dia lupa menghapus foto itu. Aku tersenyum getir. Suara ayah dan ibu yang masih bertengkar, nafas halus Maya dan pria misterius yang didekapnya, teriakan ribuan penonton konser musik, terus berdatangan menerjang. Semua berjejalan mengacak-acak otakku yang kini perih meradang. (*)

 

Priyo Handoko, Mantan jurnalis (2006-2018), kini menjadi komisioner KPU Provinsi Kepulauan Riau, kampung halamannya. Cerpen-cerpennya dimuat di sejumlah media dan antologi bersama, di antaranya Segelas Air yang Mirip Perasan Lemon (Radar Sultra, 2019), Mbah Ning (Jawa Pos, 2018), Mangkuk Bunga Lotus (Majalah Femina, 2015). Cerpen berjudul Bayangan Amis, lolos 20 karya terbaik lomba cerpen nasional LPM Sketsa 2015. Dimabuk Kopi, lolos 25 finalis terbaik lomba cerpen Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com 2015. Cerpen Hujan Panas di Desa Narawi masuk sepuluh besar lomba cerpen HAM yang diselenggarakan oleh Kedutaan Swiss dan Forum Lingkar Pena (FLP), Desember 2005.