Cerpen J. Akid Lampacak (Analisa, 08 Maret 2020)

Perempuan yang Pura-Pura Bercerai ilustrasi Rio Art - Analisa (1)
Perempuan yang Pura-Pura Bercerai ilustrasi Rio Art/Analisa

Malam telah tiba di pekarangan rumah. Bulan yang separuh terpotong seperti celurit yang tergantung di dinding bambu, menampakkan kilau gerimis di malam minggu. Hanya harum aroma tanah yang menemani raut wajah Dina. Menebar kemana-mana. Hingga penduduk kampung mendengar semua. Bahwa Dina tak lagi mau bersuami.

Entah, apa yang membuat Dina tak mau bersuami lagi, hingga sampai saat ini. Aku pun belum tau, meski aku merupakan orang terdekat di antara mereka yang selalu bertanya-tanya. Tapi aku belum juga berani menentukan bahwa Dina benar-benar tak mau lagi bersuami. Sebab aku takut menanyakannya, walau pernah suatu kali orang tua Dina menyuruhku untuk membujuk Dina, angar cepat-cepat mencari pasangan hidup. Aku sama sekali tak mau, karena takut Dina memarahiku atau ia malah berperasangka aku yang ingin menikahinya.

***

Senin malam terpaksa aku duduk di teras cafe. Dengan maksud ingin bertaya kepada Dina tentang segala yang menjadi omelan tetangga. Karena sudah tak kuat lagi kudengar, bisik-bisik angin rendah yang biasa terjerumus dalam fitnah, Maka harus kubelah terlebih dahulu tanya di cafe ini. “Din, kenapa sampai saat ini kau belum mencari pasangan baru, padahal kau sudah lama dicerai suamimu?”. Suarku seperti memecah beragam sunyi yang berdiang di pintu-pitu hati Dina. “aku memang tak ingin lagi bersuami Fan” kata-katanya menyentuh lembut otakku, seakan aku harus beralih akting agar dapat bicara setelah Dina menyangkal pertanyaanku.

Dingin menyelimuti hening. Aku tak lagi sanggup berbicara. Kerena berbicara dalam suasan seperti ini terkadang nanti membuatku malu. Hanya bisa kutatap runcing matanya, di mana setiap kedip yang ia lontarka padaku seperti detik jam yang kupandang menjelang tidur. Kebingugan telah mengintaiku. Mulutku tersa disulam dengan beragam kegugupan.

“Jangan tanya masalah itu, Fan. Aku sudah berjanji dalam hatiku sendiri, bahwa sepanjang hidupku aku tak ingin bersuami dua kali”. Bening kopi hitam dan kata-kata yang terlontar dari bibir merah Dina, seperti kupu-kupu malam yang mencari cahaya dalam kediaman. Sementara di balik pepohonan aku harus membayang. Kenapa di saat malam kupu-kupu itu terbang, bukankah? Ia harus di pagi dini melentangkan sayapnya yang telah lama sunyi.

Lalu Dina mengambil tasnya dan memberikan uang padaku untuk membayar pesanan yang telah terhidang. Ia bagun tanpa menghadap kepadaku lagi, melangkah di atas jalan yang berlapis dua kemungkinan antara pergi dan menungguku di luar pintu. Tapi yang kupandang ia tetap melangkah hingga pada tatapanku muncul rinai-rinai cahaya yang membuat tubuh Dina tiada. Barangkali, Dina marah karena aku telah menanyakan tentang itu, karena aku sudah tau sejak dulu, bahwa Dina tetap mencintai suaminya yang dulu. Namun aku rasa tak masalah. Menanyakan ketidakpastian hingga menemukan titik keputusan itu kewajiban agar pertanyaan yang beredar menemukan jabawaban.

Aku belum tau pasti. Perihal Dina mengapa dicerai oleh suaminya, jangan-jangan sebab suami Dina galak, sebab pernah suatu kali, aku melihat Dina Dipukul suminya, saat itu aku tak sengaja mampir berteduh di rumahnya, dikarenakan hujan, saat itu aku lupa membawa payung, tapi itu sudah lama. Sekitar setahun sebelum Dina dicerai.

Sekarang aku hanya bisa kasihan kalau apa yang telah dikatakan Dina menjadi kenyataan. ia akan selamanya menjadi janda. Padahal menjadi janda sangat berat tanggungannya, seperti yang sudah terjadi saat ini, ia hanya 4 bulan menjadi janda, tapi omelan tetangga sudah menebar, melebihi terbangnya kelelawar. Mungkin terpaksa aku harus mencari tau terlebih dahulu, mengapa ia dicerai oleh suaminya atau perlu aku menemui suaminya agar Dina bisa kembali seperti asal mulanya.

Membenahi masalah ini, nyatanya bukan ihwal yang gampang untuk diselesaikan, untung saja Dina masih termasuk familiku, jika tidak, siapa yang mau capak-capek mengurus hubungan ini. Sebab Hubungan itu jika tidak ada yang menangani akan berakibat fatal, maka dari itulah aku sebagai famili harus berani membasmi semua ini.

***

Matahari yang diungkapkan pagi, menyuruhku untuk segera berjalan menemuai mantan suami Dina. Sesampai di rumahnya sunyi yang menjadi pagar beserta kembang mawar yang masih tak sanggup meneteskan sisa bulir embun untuk menyapa tanah. Terpaksa angin menjatuhkannya, memisahkan dingin dari daun yang selalu rindu pada hari-hari yang rabun, lantaran kemarau selalu datang tak tentu, terkadang menjelma siang yang membuat hujan dirindu bagi kelopak kembang yang mulai melayu. Maka datang seekor kumbang untuk menghirup sisa sarinya, sebagaimana aku datang di halaman rumah mantan suami Dina.

Langkahku lurus pada pintu yang terbuka, dengup jantungku telah nampak memenuhi dada. Apa? yang harus aku katakan. Jika yang sudah terjadi menjadi ketidak yakinan. Boleh saja untuk saat ini aku gagal, boleh saja untuk saat ini aku kembali kerumah untuk menyusun kata-kata yang perlu aku haturkan kepadanya. Namun, aku kira semua kata hatiku untuk saat ini tidak perlu diikuti, yang tertanam dalam fikiranku saat ini memperbaiki keluarga Dina, di mana kata-kata Dina yang pernah aku dengar tetap menjadi kenyataan. tapi tidak dengan cara Dina menjadi janda selamanya. Ia harus kembali pada suaminya.

Akhirnya aku sampai juga di hadapan pintu dengan dada yang bergemuruh. “assalamualaikum” salam itu terlentang nyaring seakan sampai ke pocok-pocok kamar belakang. Aku yakin salam itu akan berakhir pada lubang telinga yang berada di dalam rumah ini. Sekitar setengan menit, salam yang aku lempar akhirnya tertangkap juga oleh   perempuan tua bergaun biru. “waalaikumsalam” suaranya begitu lembut dan santun membuatku pasrah bertanya. “Mbok, penghuni rumah ini kemana ya…?”. Ia menempakkan senyumnya. Lalu berkata “kamu sedang mencari Dahlan ya..?”. aku terkejut , ia malah balik bertanya dengan menyebutkan nama Dahlan. Karena mimang suami Dina itu bernama Dahlan. “ia, Mbok” jawabku dengan suara yang lumayan tengas. “Dahlan sekarang berpindah rumah”. Menyimak jawaban itu aku bingung. Lalu kutanyakan sedikit penjelasan tentang Dahlan,

“Sebenarnya Dahlan itu sudah beristri lagi Mbok..?”

“Tidak, dia tetap dengan istrinya, tapi hanya pindah rumah ke kota”

Mendengar penjelasan itu, aku seperti serentak dijatuhkan di tengah lautan, bingung menentukan arah menuju pulang, kemana yang paling dekat untuk berenag kekali. Agar aku cepat sempai dan selamat dari urusan masalah ini. Akhirnya aku minta alamat rumah baru yang ditempati Dahlan saat ini, mungkin ini adalah jalan terakhir yang perlu dilangkahi. Mungkin kebenaran sudah dilukis di depan mata, seperti sebuah cermin yang sedang jatuh cinta dengan penatapnya.

Setelah mendapatkan alamat itu, aku langsung bergagas pergi dengan ucapan salam dan terima kasih, lelah di tubuhku menjadi sebuah duri yang menusukku agar berjalan ke rumah Dina. Hitam aspal yang terus memanjang, menjelma perkataan hati yang besar “apa mungkin Dina tidak mengakui suaminya agar ia tetap bisa meminta belanja kepada orang tuanya”. Hatiku tetap berselisih atara kasihan dan sedih.

Begitu sampai dirumah Dina, tanda pertama sudah membuka kepastian pada kata hatiku. Dina benar-benar tidak ada. Mungkin saja kepastian yang ke dua, aku akan mendapatkannya dengan mendatangi alamat yang telah Mbok berikan, tanpa berfikir panjang. Aku langsung berangkat dengan bekal kebencian yang baru mengakar.

Sesampai pada alamat yang ditulis Mbok tadi. Tanpa kupanggil salam langsung kumasuk ke pintu yang sebelah terbuka. Kulihat rumah itu tidak ada siapa-siapa, mungkin Dina sedang sembunyi karena ia sudah menerima telfon dari Mbok bahwa aku akan kesini. Atau jangan-jangan Dina sengaja sembunyi karena ia telah berpura-pura bercerai dengan suaminya dan berbohong kepada orang tuanya. Dengan rasa yakin aku pulang sebab dua sandal Dina telah kulihat di pintu rumah belakang.

 

J. Akid Lampacak, dikenal dengan nama panggilan B.J. Akid. Lahir di Sumenep, Madura, Jawa timur. Anak seorang petani tembakau. Tulisannya telah tersiar di berbagai media. Sekarang sedang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di Popes Al-Mansyuriah, Katapan, Sampang.