Cerpen Maya Sandita (Banjarmasin Post, 08 Maret 2020)

Pemakan Spanduk ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post (1)
Pemakan Spanduk ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post

Aku Eka. Usiaku 22. Aku anak adopsi tujuh belas tahun yang lalu oleh sepasang suami istri. Bapakku namanya Gito Halimu, dan ibuku namanya Dewi Ayu.

Pak Gito seorang petugas satuan polisi pamongpraja. Ia bertugas di perempatan jalan besar dan pasar tradisional, bersama teman-temannya tentu saja. Sementara Bu Dewi adalah seorang penjual jamu keliling yang berjualan dengan sepeda motor setiap pagi sampai sore hari.

Aku tak begitu ingat dan tak pernah tanya mengapa mereka perlu anak adopsi, aku juga tak penasaran sekali kenapa Eka Susanti kemudian mereka ganti jadi Eka Halidewi. Bagiku semua biasa saja. Yang luar biasa adalah, aku lebih beruntung dari teman-teman di panti asuhan yang bahkan sampai sekarang ada yang tidak diadopsi orang. Keberuntungan itulah yang luar biasa bagiku dalam hidup seorang Eka.

Pak Gito dan Bu Dewi sangat baik sekali. Menurutku kami cocok. Karena dengan kehidupan yang sangat sederhana, aku bukanlah anak yang banyak mintanya. Mereka berdua sayang padaku, tak terbantahkan. Tapi kadang-kadang panas juga kupingku kalau mereka berdebat perihal ‘kemanusiaan’.

***

“Bisa tidak kalau tidak usah jualan jamu lagi? Lama-lama nanti jadi begini; kamu kepingin orang lain sehat, kamu sendiri sakit otakmu,” Pak Gito bicaranya selalu begini, merapatkan gigi kalau sedang menahan emosi.

“Kenapa jadi jualanku yang dipermasalahkan? Aku jualan jamu sebelum nikah sama kamu, Pak. Ndak ada saudaraku yang nyuruh brenti. Terus cuma karena perkara ceritaku, kamu suruh aku brenti nggendong jamu?” jawab Bu Dewi.

“Aku ndak mau kamu gila, Wi!”

Lha piye? Aku kan cuma bilang sama kamu apa yang aku lihat tadi di jalan sewaktu jualan. Uwis! Di mana gila-nya?”

***

Keluarga sederhana ini begitu lucu buatku. Separah apapun pertengkarannya, paling-paling sebentar nanti sudah baik lagi. Ya, meski seperti yang kubilang tadi, kupingku panas sih sesekali. Tapi tak apalah, namanya bumbu pernikahan-kata sebuah artikel opini di majalah.

Aku suka membaca, membaca apa saja. Koran, buku, majalah, artikel di laman internet, bahkan iklan yang ditempel di perempatan. Aku tahu otakku juga perlu makan.

Pendidikanku hanya sampai SMK. Bu Dewi dan Pak Gito menyuruhku kuliah, tak perlu pikirkan kalau mereka akan susah. “Biaya kuliah itu yo mahal, tapi moso kamu ndak mau jadi sarjana seperti teman-temanmu, Ka?” kata Bu Dewi ketika bersiap menggendong bakul jamunya pagi-pagi.

Ndak apa-apa, Bu. Eka mau kerja saja. Nanti Eka bisa belajar sama teman-teman yang kuliah, atau nanti Eka baca buku yang banyak. Uang untuk kuliah itu bisa Bapak dan Ibu simpan untuk keperluan lain.”

Bu Dewi tersenyum. Senyum ibuku cantik sekali, ini perlu kuberitahu. Cocok dengan namanya Dewi Ayu.

Lalu Bu Dewi pergi. Berjualan seperti biasanya dengan kendaraan bermotor roda dua.

Obrolan empat tahun lalu itu masih melekat di kepalaku sampai ketika transportasi online yang kutumpangi berhenti di lampu merah ketika hendak berangkat kerja. Sebuah pemandangan menarik fokusku pada sesuatu. Sebuah spanduk besar bergambar apel yang juga besar.

Seorang ibu dengan dua anak kecil di kanan dan di kiri tangan, serta seorang dalam gendongan, menyeberang. Dua anak perempuan itu senang sekali berlarian. Sesampainya di trotoar lain, mereka berlari dan melompat di sekitar ibunya, di bawah matahari yang panasnya bukan main. Sementara adik bungsu ditutup kepalanya dengan koran jajaan.

Apel besar dalam spanduk diraba-raba, seolah benar-benar ada di tangan lalu masuk ke mulut, dikunyah, dan sampai ke perut. Dua bocah itu tertawa. Mereka lakukan itu berulang-ulang, seolah dengan begitu mereka bisa kenyang.

Sedang mereka bersenang-senang, sebuah mobil bak terbuka berhenti. Turun beberapa orang berseragam dan mengarah pada ibu serta anak-anaknya tadi. Salah seorang bocah tersangkut tangannya di ujung spanduk. Ketika tangan lain ditarik ibu yang ingin lari, spanduk tiba-tiba sobek panjang mengikuti arah mereka yang belok kiri. Manusia berseragam itu ikut ke kiri, dan tentu saja tidak seorang diri.

Lampu hijau menyala, mereka hilang dari pandangan mata. Ojeg online-ku kembali melaju mengarah jalan S.Parman.

Aku ingat Pak Gito. Barangkali salah seorang dari mereka itu bapakku. Lalu aku ingat Bu Dewi. Barangkali apa yang kulihat juga sama seperti yang waktu itu bola matanya dapat.

***

“Mereka itu makan spanduk. Dijadikan dendeng, digoreng, disup dengan tulang-belulang, dimasak lama sampai hitam jadi rendang!”

“Wi! Ojo ngawur! Mereka itu cuma berkhayal. Kenapa kamu juga ikut-ikutan ndak masuk akal, sih?”

***

“Ibu kenapa ndak mau berhenti jualan jamu?” tanyaku sepulang kerja sore itu. Bu Dewi pulang lebih awal.

Pertanyaanku hanya bermaksud agar Bu Dewi bisa istirahat saja di rumah. Tidak usah capai keliling-keliling kota untuk jualan jamu yang untungnya tak seberapa.

“Kalau masalah uang, gaji bapakmu itu sudah lebih dari cukup sebenarnya untuk kita bertiga. Ibu hanya sayang ninggali pelanggan-pelanggan. Sehari saja ibu ndak jualan, mereka bertanya-tanya. Gimana kalau ndak jualan selamanya?”

Ah, kenapa perempuan ini begitu setia. Bukan hanya pada suaminya, tapi juga pada pelanggannya.

“Dan ibu juga suka melihat-lihat kejadian di luar sana. Nanti di rumah, biasanya ibu cerita ke bapakmu. Kadang-kadang bapak mau dengar, kadang-kadang ibu malah ditinggal ke kamar,” ia tertawa kecil.

“Oh ya? Tentang apa, Bu? Kenapa tidak pernah cerita padaku?”

“Banyak hal, Eka. Banyak kejadian di luar sana. Jangan bilang kau tak pernah perhatikan sekitar tiap kali kau sedang di luar.”

“Mungkin Eka lihat, mungkin tidak,” jawabku.

“Ibu pernah melihat seorang tua yang bungkuk memakan spanduk.”

Aku menatap matanya lurus.

“Pagi-pagi dia sudah lapar sekali. Ia berdiri di perempatan ‘Madani’, lalu tangannya menggamit spanduk. Dimasukkan ke mulutnya…”

“Dikunyah, ditelan dan akhirnya sampai ke perut. Lalu ia tertawa?”

“Kemudian orang-orang berseragam…”

“Mengejarnya?”

Dewi Ayu hendak mengucapkan sesuatu, tapi segera kupotong dengan pertanyaanku.

“Bu, Bapak di mana?”

***

“Bertahun-tahun sampai detik ini, kamu belum bisa membersihkan perempatan dari mereka? Bertahun-tahun iklan jadi tak karuan bentuknya. Sobek sana-sini. Gambar makanan yang hilang seringkali. Bodoh kau ini!” hardik seseorang di hadapan Pak Gito.

“Mereka senang memakan spanduk, Pak.”

“Dijadikan dendeng, digoreng, disup dengan tulang-belulang, dimasak lama sampai hitam jadi rendang?”

Pak Gito mengerenyitkan dahi, seperti ada yang pulang tapi entah kapan kata-kata itu pergi.

“Pak Gito. Besok saya kasih kesempatan untuk yang terakhir kali. Atau kalau kamu tidak sanggup silakan ajukan surat pengunduran diri. Saya butuh laporan berupa bukti!”

Seorang petugas lain datang menenteng tiga durian yang tak ia beli dari seorang pedagang. “Pak, bolehlah ini jadi camilan sore nanti!” serunya.

Atasan mereka itu tersenyum sumringah, “Ada pedagang liar lagi di trotoar?”

***

“Bapak, ini kopinya.”

“Terima kasih, Eka.”

Aku duduk di samping Pak Gito, ikut melihat ke arah yang sama, tapi tak tahu sedang memikirkan apa.

“Eka.”

“Iya, Pak.”

Ia membuka kedua tangannya, menengadah menampung udara. Ia sejak tadi rupanya sibuk mengenang sesuatu. Tentang seorang lelaki yang tersiksa setiap hari ia bekerja. Tapi tak bisa berhenti karena butuh gaji, dan mesti menafkahi seorang anak dan istri.

Pak Gito resah tiap kali atasannya marah-marah, sementara ia tak begitu tega memaksa pengemis dan gelandangan naik ke mobil bak terbuka. Mereka biasanya harus dibawa ke pos, ditangkap, kadang-kadang ‘dikerjai’ kalau polos, lalu dilepas lagi tanpa ongkos.

Lelaki yang usianya kepala lima itu masih menatap tangannya, yang kali itu menunjuk seorang perempuan kecil yang lari membawa spanduk di perempatan jalan yang juga kecil. Memberi peringatan untuk jangan lari, dan meminta pada temannya untuk mengejar anak itu sendiri. Dengan begitu, lelaki itu bisa jadi dirinya sendiri. Tanpa terlihat oleh teman-temannya yang mengejar gelandangan lainnya.

“Tangan ini yang yang membawamu ke panti, tangan ini pula yang menandatangani surat adopsi. Tangan ini yang selalu menghapus peluh setelah jauh berlari mengejar pemakan spanduk setiap hari. Selama tujuh belas tahun ini.”

Bu Dewi datang, di tangannya ia membawa apel sekeranjang. Botol dalam bakul jamu kosong, “Di perempatan tidak ada spanduk,” katanya, berbohong.*

 

Batam, 30 Desember 2019

Maya Sandita, kelahiran Pekanbaru, 2 Mei 1994. Alumnus Seni Teater ISI Padangpanjang ini tergabung dalam banyak forum penulis. Karyanya berupa cerpen dan naskah teater pernah diterbitkan di beberapa media massa dan antologi cerpen bersama. Domisili di Batu Sangkar.