Cerpen Unda Anggita (Republika, 08 Maret 2020)

Ibu Mau Bantal Baru ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Ibu Mau Bantal Baru ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Ibu bilang, kepalanya pening bukan kepalang. Sudah dua malam ini ibu tak bisa melewatkan dini hari tanpa mata terbuka dan gelisah di atas dipannya. Namun, saat Yuni, menantunya, ingin ajak ia ke puskesmas di seberang pasar, ia menolak

“Aku ini sehat!” semburnya.

Kali lain ditawarkan obat sakit kepala, ia malah menolak makan segala cara. Yuni pikir, siapa tahu susah tidurnya itu karena pusing kepala. Atau jangan-jangan sebaliknya, pusingnya itu justru karena kurang tidur? Ketika ditanyakan kepada ibu, hal apakah yang sekiranya membuatnya sulit tidur, ia tak menjawab, tapi malah memijit pelipisnya kuat-kuat sambil menutup mata.

Hari ini Yuni masak semur tahu sesuai keinginan Ibu. Sampai jam makan siang, sepiring nasi yang Yuni siapkan untuknya tak jua disentuh oleh ibu. Jelang sore, ia minta didadarkan telur dengan loncang dan rawit satu biji saja.

“Lidahku entah sedang kenapa,” gumamnya sembari menerima piring berisi nasi hangat dan telur dadar pesanannya.

Baca juga: Suatu Pagi di Kuburan – Cerpen Acik R (Republika, 16 Februari 2020)

Yuni bilang, “Telat makan bisa bikin pusing juga, Bu.”

Ibu lalu balik menceramahinya tentang kondisinya yang makin renta dan selera makan yang turun-naik. Jadi, maksudnya ya lumrah saja jika permintaannya kerap berubah-ubah. Ia bilang, Yuni jangan jadi menantu durhaka.

Sepanjang tiga tahun bersama, ibu tak pernah rewel, apalagi hanya soal makanan. Ia mudah sekali untuk urusan ini. Kalaupun ditanyakan mau dimasakkan apa, itu semata-mata agar ia tetap bergairah untuk makan sesuai seleranya. Pun, Yuni merasa itu sebetulnya sangat membantu untuk urusan menyusun menu.

Malam ketiga terhitung dari masalah tak bisa tidur, Ibu mengetuk kamar Yuni dan suamianya, Rahmat, saat jarum jam dinding berada di pukul 10.15 malam.

“Bantalku sudah tak enak dipakai.” Ia menyerahkan seonggok bantal kuyu pada Rahmat yang membukakan pintu untuknya dan kembali ke kamarnya. Rahmat memandangi bantal itu dan bergantian pandangan dengan Yuni. Istrinya hanya bisa mengangkat bahu.

Pagi hari waktu suami dan anak-anak sudah berangkat, Yuni melihat ibu masuk ke kamarnya. Ia membawa keluar sepasang bantal milik mereka ke kamarnya. Tak sempat bertanya, Yuni sibuk mencuci lalu segera ke pasar. Selesai masak, ia bermaksud menyapu kamar dan sepasang bantal itu ternyata telah kembali.

Baca juga: Sketsa Berbingkai Perak – Cerpen Suzi (Republika, 09 Februari 2020)

Siang hari, si bungsu mengalah tidur di kamar Yuni sebab ibu membawa bantalnya. Bungsu merengek minta bantalnya kembali, tapi ibu tetap bergeming di kamarnya yang tumben dikunci dari dalam. Belakangan, Yuni tahu ibu turut serta “menculik” bantal si sulung.

Yuni harus berkali-kali meyakinkan anaknya bahwa bantal kesayangannya itu akan kembali—setidaknya mungkin esok hari. Jelang petang, ibu menyerahkan dua buah bantal yang ia bawa dari kamar cucu-cucunya seraya berkata, “Nih, aku tetap susah tidur.”

Rahmat berjanji kepada ibu untuk mencarikannya bantal baru besok di toko besar di seberang stasiun—sebuah toko lama yang besar dan tak pernah bernama. Saat menyiapkan makan malam untuk suaminya yang pulang kemalaman, Yuni diberi tahu Rahmat.

“Besok coba kulihat di Toko Puspa dulu yang lebih dekat, baru ke toko di seberang stasiun. Tadi kuambilkan bantal ruang tamu, siapa tahu bisa membuatnya lelap sejenak.”

Yuni bergumam isyaratkan persetujuan.

Esok sorenya, ibu membolak-balik bantal baru yang masih berplastik dari Rahmat. Tak lama, ia masuk ke kamarnya. Rahmat menghela napas berat. Yuni tahu, hari ini Rahmat tentu lelah betul. Toko furnitur di seberang stasiun itu memang toko terbesar, tapi jauhnya bikin tobat. Makanya, Rahmat mencari di Puspa— supermarket cukup besar yang paling dekat dengan rumah mereka—lebih dulu.

Baca juga: Merindukan Nabi di Mushala Kami – Cerpen Supadilah (Republika, 02 Februari 2020)

Tapi, ternyata Puspa tak menjual bantal satuan. Hanya menjual bantal yang dipasangkan dengan gulingnya. Sebab berpasangan itu, harganya jadi mahal.

“Aku akhirnya beli di seberang stasiun. Yah, siapa tahu cocok buat ibu,” kata Rahmat sembari duduk di meja makan dan meraih sepotong pisang goreng hangat.

Yuni dapat membaca wajah letihnya bermotor hampir 20 menit menuju toko itu dari kantornya. Belum lagi, izin pulang cepat yang tentu berdampak pada upah hariannya. Tapi, semoga semua terbayar dengan….

Ibu keluar kamar dan menyerahkan bantal yang masih beraroma toko itu. “Aku tak bisa pakai yang ini. Coba besok beli yang model lain.”

Yuni sama terkejutnya dengan Rahmat. Coba sambil menyusun napas, Rahmat menyahut, “Tapi, Ibu belum coba pakai. Malam ini dipakai dululah. Dicoba satu-dua hari.”

Ibu menggeleng. Bantal ditaruh di atas meja makan yang memisahkan mereka dengannya. Ia lalu melenggang pergi.

Rahmat bertanya kepada istrinya yang sedang mengaduk segelas kopi di sebelahnya sambil menerawang pandangannya di antara pohon-pohon pisang di belakang rumah mereka.

“Menurutku sih, tidak, Mas. Aku pernah intip waktu habis shalat malam. Ia pulas-pulas saja.”

Baca juga: Yang Lebih Hebat dari Kata Rindu – Cerpen Maya Sandita (Republika, 26 Januari 2020)

Sore itu adalah Ahad sore yang cerah. Selesai mencuci motornya di belakang rumah, Rahmat minta dibuatkan kopi. Sembari duduk di dipan bambu yang sengaja ditaruh di belakang rumah untuk sekadar dipakai duduk-duduk, mereka berbincang mengenai ibu.

“Lalu bagaimana, Mas?”

Yuni sendiri curiga jangan-jangan ibu justru ingin kasur baru. Atau dipan baru. Atau malah ingin pindah kamar. Yang terakhir ini celaka betul jika terjadi. Sebab, kamar ibu hanya pas untuk dipan satu orang. Ini jelas menyusahkan kalau mau tukar kamar dengannya, apalagi dengan kamar anak-anak.

“Tunggu dululah. Kalau memang masalahnya harus beli sesuatu yang di luar kemampuanku, Mas mau coba ngobrol sama Mbak Kun.”

Mbak Kun, kakak kandung Rahmat, tinggal beda pulau dengannya. Rahmat ingin berbagi resahnya pada kakaknya sendiri yang kini ikut suami barunya. Sudah dua tahun ini Mbak Kun datang hanya pada saat Lebaran. Anaknya tiga. Dua dari suami barunya dan satu dari pernikahan pertamanya.

Kakaknya diketahui mengelola warung kopi di sana. Sementara, suaminya kerja ikut orang lain. Kadang kerja bangunan, kadang bantu calo SIM, macam-macam dan ganti-ganti. Rahmat berharap, kali ini kakaknya bisa diandalkan. Sebab, untuk biaya ibu sehari-hari, ia tak ikut urun duit dan Rahmat tak mempersoalkannya.

Baca juga: Musnahnya Hutan Larangan – Cerpen Bahagia (Republika, 19 Januari 2020)

Upah bulanan Rahmat bisa dibilang cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan dua anak sekolah. Namun, untuk perkara belanja yang di luar pengeluaran rutin, seperti bantal baru itu—apalagi nanti harus beli lagi—rasanya mau tak mau ia harus ambil uang dengan memangkas pos lainnya. Ia bahkan terpikir kalau harus berutang pada kakaknya itu.

Sore ini, Mbak Kun akan tiba. Ibu baru diberitahu pagi hari setelah makan bersama agar jadi kejutan baginya. Waktu dihubungi Rahmat, Mbak Kun berinisiatif datang untuk sekalian jenguk orang tua kandung satu-satunya yang masih sehat itu. Katanya, ia bawa juga bantal yang diisi kapuk dari kampungnya. Siapa tahu ibu cocok.

Selepas siang, ibu terlihat sibuk. Baju-baju ditata dan dimasukkan tasnya yang hampir meledak karena tak cukup ruang.

Rahmat mendekati ibu yang masih sibuk di kamar setelah ia diberitahu Yuni bahwa ibu tak kunjung keluar kamar untuk makan.

“Ibu ini mau ngapain?” Rahmat menggeser tumpukan baju agar dapat duduk di sampingnya.

“Siap-siap mau ikut Mbakmu.”

“Loh. Mbak Kun cuma mau nengok Ibu, kok. Nanti dibawain bantal juga.” Rahmat merasa geli, namun tak ingin tertawa juga.

“Ya tak apa. Siapa tahu di sana kasurnya lebih enak juga, Mat. Aku titip tanamanku, ya.”

Yuni yang mengintip dari balik tirai kamar saling bersitatap dengan suaminya. Lalu, memandang nanar pada dua buah bantal baru di pinggir dipan milik ibu.

 

Loncang = daun bawang

 

Unda Anggita, lulusan Antropologi Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Saat ini bekerja penuh waktu.