Cerpen Yenni Djafar Day (Minggu Pagi No 48 Tahun 72 Minggu I Maret 2020)

Sepi ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Sepi ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi 

AKHIR pekan sangatlah mahal. Karena Anik bekerja di sebuah hotel terbesar di Besancon, kota di sebelah timur Prancis, dengan jam kerja sangat berat.

Seperti biasa, Rumy yang sudah seperti adik, menyiapkan program bertemu di kota. Berhias cantik dan mengenakan busana cukup menawan, karena setiap harinya Anik hanya memakai seragam kerja. Acara akhir pekan seperti biasa, nongkrong di kafe sambil ngobrol ke sana-kemari.

Rumy selalu bertanya mengapa dia tidak ingin memulai kisah cinta lagi. Jawabnya selalu sama, hingga Rumy bosan menanyakan lagi.

Setelah pernikahan dengan pemuda Prancis dan pindah ke negaranya puluhan tahun lalu, kemudian gagal, Anik menco-ba memulai dengan kehidupan baru. Di mulai mengunjungi negara-negara asing lain. Juga mengunjungi teman-teman yang sudah lama tak bertemu. Tentu tak pernah lupa ikut pertandingan golf, olah raga kesukaannya. Hebatnya, langganan menjadi juara.

Baca juga: Bibir – Cerpen Rumasi Pasaribu (Minggu Pagi No 47 Tahun 72 Minggu IV Februari 2020)

Di antara kunjungan-kunjungan itu, Anik sangat bahagia bertemu kembali dengan Yunita, sahabat kecilnya waktu masih di Tanjung Pinang.

Sebagai wanita yang tidak begitu jelek, pintar nyanyi, menulis dan juara golf, tentu saja banyak penggemar dan pernah dekat dengan beberapa pemuda. Tapi tak ada yang cocok. Akhirnya Anik menjadi sangat angkuh untuk jatuh cinta lagi.

“Nik, kamu nggak ingin memulai hidup baru lagi?” tanya Yunita.

“Nggak ah, udah takuuuttttt!,” jawab Anik sambil tertawa.

Sejak di Prancis, terkadang Anik ingin sekali menyanyi lagi. Semasa di Indonesia, pernah menjadi penyanyi. Bahkan sempat rekaman. Suatu hari Anik  ke rumah Rumy, menyatakan keinginan menyanyi lagi.

“Anik, coba deh ada website karaoke di internet, kamu bisa menyanyi di sana sendirian atau dengan orang lain.”

***

AKHIR pekan panjang, Anik kembali ke rumah desa di Normandie yang berjaraknya 546 km dari Besancon. Di rumah itu, Anik tinggal sendiri. Sebuah kastil kecil. Keraton Rouge yang artinya keraton merah. Di sini ia bisa menyanyi sekeras-kerasnya karena halaman yang sangat luas dan tetangga juga sangat jauh.

Sore itu Anik ingin sekali menyanyikan lagu Girl From Ipanema.

Baca juga: Perempuan Masa Lalu – Cerpen Ilham Wahyudi (Minggu Pagi No 46 Tahun 72 Minggu III Februari 2020)

Mulai mencari di website karaoke yang Rumy download di HP-nya  kemarin.

Seorang pemuda bernama Tianzuuu menyanyikan sebagian lagu itu dengan sempurna. Langsung Anik gabung, menyanyikan bagian lain lagu itu. Duet dengan Tianzuuu asyik sekali.

“Terima kasih lagunya Tianzuuu.”  Anik meninggalkan pesan, mengucapkan terima kasih.

“Wow, it’s so nice, thank you,” jawab Tianzuuu.

Sejak lagu itu, terkadang Anik gabung Tianzuuu, nyanyi lagu-lagu lain.

Karena pekerjaan yang berpindah-pindah kota, Anik tidak sempat bernyanyi di karaoke internet lagi.

Suatu hari keinginan Anik menyanyi tak terbendung. Dicarinya lagu yang dinyanyikan dengan Tianzuuu. Dan seperti biasa,  Anik meninggalkan pesan dan mengucapkan terima kasih.

Anik tak ingat bagaimana mulanya. Yang dia ingat, dimulai menulis pesan di message private dan menceritakan kegiatan masing-masing. Berkenalan dan ingin mengenal lebih lanjut. Dan tak lupa nyanyi, duet atau berkirim lagu juga bertukar foto.

“Wah Anik, kamu kayaknya lagi jatuh cinta ya,” goda Rumy.

“Ya nggaklaaaahhhh!! Nggak mungkin aku bisa jatuh cinta lagi,” jawabnya di telepon.

Baca juga: Perempuan Nyaris Gila di Kota yang Hilang Tiga Perempat Bagian – Cerpen Chikma W Putri (Minggu Pagi No 45 Tahun 72 Minggu II Februari 2020)

Anehnya dia selalu memikirkan pemuda itu.

Keinginannya untuk menceritakan kisah itu ke Yuni sahabat kecilnya, tak terbendung.

“Nik, aku rasa kamu jatuh cinta,” kata Yuni via telepon.

Anik tak menjawab. Hanya tersenyum.

Hubungan Anik dengan Tianzuuu semakin erat, semakin sering nyanyi berdua.  Rupanya mereka saling jatuh cinta, meski hanya lewat internet. Hari, bulan dan tahun berganti. Cinta mereka semakin dalam.

“Tianzuuu, aku akan ke Singapura Januari, apakah kita bertemu?” tanya Anik.

“Hummm iya, aku rasa sudah saatnya kita bertemu. Aku juga sangat merindukanmu,” jawab Tianzuuu yang tak pernah bertemu muka dengannya.

“Begini aja, kita janjian bertemu minggu depan, aku tunggu di kebun anggrek pukul dua siang ya.”  Tianzuuu menetapkan waktu  bertemu.

***

Setelah berjam-jam di udara, pesawat yang ditumpangi Anik pun mendarat di Airport Changi Singapura.

Baru sehari di Singapura, Anik mendapat WhatsApp dari Tianzuuu yang membatalkan pertemuan mereka.

Baca juga: Pesan Keabadian – Cerpen Rudi Riadi (Minggu Pagi No 44 Tahun 72 Minggu I Februari 2020)

“Maaf Anik, aku nggak bisa datang di hari janji kita nanti, aku lagi tugas kerja di Cina, sementara aku tidak bisa keluar rumah karena di sini lagi banyak virus corona. Semua warga di kota ini diminta tidak keluar rumah dulu. Virus ini sangat menular. Mematikan,” jelas Tianzuuu.

“Oh no..!” Anik sangat terkejut dan sedih mendengar pembatalan pertemuannya dengan Tianzuuu.

Hari-harinya di Singapura sangat sepi. Sedih. Anik hanya bisa menanti, namun Tianzuuu tak kunjung datang.

Saatnya pun tiba, esok malam Anik harus kembali ke Prancis. Malam itu hujan turun sangat deras. Tak dapat tidur, hanya memikirkan Tianzuuu.

Di sehelai kertas berwarna merah jambu, Anik menuangkan isi hatinya….

 

Menatap hujan yang menerpa jendela

Lengkingan petir datang dan pergi

Membelah keheningan… tiba-tiba sepi

Di tengah kesendirian

Ku menanti dan merenung…

Sepi….

 

Singapura, 22 Februari 2020