Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 04 Maret 2020)

 

Yuval Noah Harari dalam mahakaryanya Sapiens (2011) menyatakan  bahwa kekuatan manusia dalam menciptakan tatanan khayali (imaginary order) dapat bekerja dengan baik dan masif karena kecakapan kita mendayagunakan bahasa. Simpanse bisa solid dalam kumpulan yang terdiri dari 190 ekor, mampu berkoordinasi menggunakan bahasa yang, meskipun sangat terbatas kode dan artinya, tapi jelas spesifikasinya. Namun ribuan manusia tak saling kenal dapat berkumpul di sebuah lapangan luas untuk mengangkat tangan, memberikan hormat kepada bendera negara yang sedang berkibar dengan iringan lagu kebangsaan atas nama tatanan khayali Nasionalisme.

Dalam residensi kebudayaan di Selandia Baru (November-Desember 2016), percakapan saya dengan Tainui, ketua Te Phou Teatre mengerucut pada kebanggaan berbahasa. Seniman Maori itu  gemar sekali menyelipkan bahasa Maori dalam kalimat-kalimat bahasa Inggrisnya. Laki-laki jelang paro baya itu menyatakan bahwa banyak sekali diksi Maori yang tak mampu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sehingga ia memilih untuk mempertahankan diksi tersebut dalam percakapan yang berlangsung dalam bahasa Inggris.

Bangsa Tiongkok, di mana pun mereka berada, senantiasa mengamalkan bahasa  Mandarin dalam berkomunikasi, tak terkecuali ketika berada di negeri orang, tak terkecuali ketika mereka berbicara dengan orang-orang non-Tiongkok. Mengejutkan ketika saya bertanya pada seorang penumpang Tiongkok yang sepanjang perjalanan dalam kereta cepat di Paris sibuk berbicara dengan rekannya dalam bahasa Mandarin. Saya menggunakan bahasa Inggris demi memastikan kalau kelalaian saya memilih Orly—padahal pesawat yang akan menerbangkan saya ke Maroko bertolak dari Charles de Gaulle—tidak akan membuat saya ketinggalan pesawat. Penumpang Tiongkok itu menjawab pertanyaan saya dengan bahasa Inggris yang bisa saya mengerti sebelum melanjutkan percakapan dengan rekannya dalam bahasa Mandarin.

Baca juga: Kerja Buruk Itu Perlu – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 26 Februari 2020)

Pedantis Indonesia, Ivan Lanin, merilis buku Xenoglosofilia sebagai bentuk kecemasannya—sekaligus perhatiannya—pada bahasa Indonesia yang mulai terjangkiti perangai keinggris-inggrisan, terutama komunikasi sehari-hari kaum urban. Ivan mengetengahkan—sekaligus mengajak—pembaca untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan utuh, meskipun sebagian (besar) bahasa Indonesia itu sendiri terbentuk dari serapan bahasa Belanda, Inggris, Arab, Portugis, dll.

Nasib Bangsa Melayu di Mata Yusmadi Yusoff dan Ivan Lanin
Nasib Bahasa Melayu di mata Yusmadi Yusoff dan Ivan Lanin

Parasite, film yang meraih Oscar 2020 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik, Skenario Terbaik, Sutradara Terbaik, dan kategori pamuncak: Film Terbaik, adalah film besutan Bong Joon-ho yang beredar secara internasional yang ditulis dalam bahasa Korea! Dalam speech-nya Joon-ho menyatakan bahwa kemenangan Parasite adalah keberhasilan mendobrak tembok besar bernama subtitle atau penerjemahan dialog. Bayangkan, di bawah kesadaran tentang pentingnya filmnya dipahami dunia pun, Joon-ho tidak ingin memproduksi film dalam bahasa Inggris!

Lawatan kebudayaan Benny Institute ke Lokacipta, Malaysia (28 Februari – 3 Maret 2020), mengingatkan saya pada hal-hal di atas. Anggota rombongan yang baru kali pertama ke negeri—yang mereka pikir sangat—Melayu itu dibuat syok. Selama panel acara dan lawatan lepas di Petaling Jaya dan Kuala Lumpur, orang-orang Malaysia tidak menggunakan bahasa Melayu, tapi menggunakan bahasa Inggris yang dicampur bahasa Melayu, bukan sebaliknya!

Baca juga: Apakah Gelasmu Belum Pecah? – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 19 Februari 2020)

Dea Aditya, aktor Benny Institute yang setahun belakangan ini tinggal di Jakarta Selatan (Jaksel) yang dikenal sebagai asal bahasa  Jakarta yang keminggris, yang harusnya sudah terbiasa dengan pola bicara campur ala Malaysia itu pun masih syok. Menurutnya, di Jaksel, bunyi bahasa Indonesia masih mendominasi. Sementara sepenemuannya di Malaysia, keadaan berlaku sebaliknya, sebagaimana yang diutarakan di atas: bahasa pokok komunikasinya adalah bahasa Inggris, tapi diselipi bahasa Melayu!

Saya pernah mengonfirmasi fenomena itu pada pasangan seniman berdarah Malaysia—Nik Khusairie dan Lara Hassan—yang merupakan bagian dari Lokacipta dalam kunjungan saya Oktober tahun lalu. Mereka menyatakan bahwa di kampung-kampung keadaannya berlaku tidak demikian. Saya susah memercayainya sebab selain saya tidak berada di kampung yang mereka maksudkan, yang saya lihat—hingga kunjungan 5 hari kemarin—adalah fenomena bicara Inggris campur Melayu itu subur dan lestari.

Sampai kemudian saya membaca buku Lelaki di Sebalik Pulau (2015). Dua dari 21 artikel yang ditulis senator muda Yusmadi Yusoff dalam buku itu mengungkapkan keprihatinannya terhadap eksistensi bahasa Melayu di Malaysia.

Bersama Yusmadi Yusoff dalam sebuah makan malam santai (Kuala Lumpur, 2-3-2020)
Bersama Yusmadi Yusoff dalam sebuah makan malam santai (Kuala Lumpur, 2 Maret 2020)

Dalam artikel Membunuh Bahasa Melayu, pengacara 45 tahun itu menyatakan bahwa, di tengah ekspansi (pengaruh) bahasa Inggris yang begitu kuat di Malaysia sehingga bahkan bangsa Melayu sendiri memandang sebelah mata bahasa ibunya, maka bahasa Melayu pun tak jarang diperlakukan sebagai adab semata di forum resmi. Yusmadi menulis:

…. Penggunaan bahasa Melayu ibarat melepas batuk di tangga. Yang sopan akan memuliakan hujahan mereka dengan sepatah dua dalam bahasa Melayu, misalnya menggunakan ungkapan “Dengan izin, Yang Arif ….” sebelum sejurus kemudian beralih ke bahasa Inggeris sehingga akhir. Yang agak kurang sopan juga ada. Mereka terus menggunakan bahasa Inggeris dari awal hinggalah kes berakhir ….

Dalam artikelnya yang lain Ke Arah Bangsa tanpa Jiwa Bahasa?, Yusmadi menajamkan keprihatinannya tentang bahasa Melayu (Malaysia) yang dipinggirkan di negeri sendiri. Ia bahkan membandingkan dengan banyaknya buku tentang hukum yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau pelaku dan pegiat hukum di Indonesia, meskipun berkewarganegaraan asing, tapi fasih berbahasa Indonesia.

Baca juga: Lokalitas Mengaliri Darahmu (2) – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 05 Februari 2020)

Dalam penerbangan Kuala Lumpur-Palembang, saya mencoba mencari akar kata xenoglosofilia yang digunakan Ivan Lanin dalam bukunya tentang bahasa Indonesia yang malang itu. Saya menemukan nama Octavia da Cunta Botelho.

Melalui makalah bertajuk The Xenoglossy Analized by Linguist, Botelho menerakan bahwa xenoglossy adalah perpaduan dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu ξένος (xenos) “aneh” dan γλῶσσα (glōssa) “bahasa”. Jadi, xenoglossy adalah “bahasa aneh”. Lebih jelas, Botelho menulis bahwa xenoglossy adalah kemampuan kontroversial seseorang untuk berbicara atau menulis dalam bahasa yang tidak mereka pahami. Xenoglossy bukan hanya untuk “ceracauan” yang sepenuhnya menggunakan bahasa yang tak dipahami oleh pengucap atau penulis—karena di bawah pengaruh gangguan kejiwaan yang kompleks, tapi juga untuk ceracauan yang menyisip dalam bahasa sehari-hari. Botelho juga mengungkapkan, orang-orang normal yang kerap berbicara dengan kosakata atau istilah yang sebenarnya tak terlalu ia pahami adalah pengguna xenoglossy tanpa mereka sadari.

Oh Indonesia dan Malaysia, dua bangsa besar Melayu ini, sejatinya bukan hanya harus berwaspada dengan virus corona yang lamat-lamat menyusup ke negaranya, melainkan juga harus mengasihani dirinya sendiri sebab sebagian penduduknya sedang mengalami gangguan jiwa dalam berbahasa.***

 

Lubuklinggau, 4 Maret 2020