Cerpen Rosni Lim (Medan Pos, 01 Maret 2020)

Tertipu ilustrasi Medan Pos (1)
Tertipu ilustrasi Medan Pos

Sore itu, cuaca tampak mendung dan jalan raya sepi. Evan berjalan menyusuri trotoar kaki lima menuju tempat kursus komputer. Di punggungnya, tergantung tas ransel merk Adidas. Sambil melihati hp Samsung di tangannya, Evan berjalan  tanpa menghiraukan sekelilingnya. Tampaknya, dia sedang sibuk membalas chat dari teman sekelasnya ketika sebuah sepeda motor berhenti di dekatnya.

“Dek… Dek… Tolong Abang sebentar!” begitu kata si pengendara sepeda motor sambil menghentikan kendaraannya dengan posisi duduk di atas sepeda motor.

Dipanggil begitu, Evan pun berhenti sambil memandangi orang yang memanggilnya.

Sebelum Evan menjawab, si pengendara melanjutkan ucapannya. “Tolong, Dek, kasih tahu Abang di mana rumah sakit Kasih Bunda yang katanya di dekat sini?”

Evan mengerutkan kening sebentar, lalu tangannya menunjuk ke sebuah arah.

“Sebelah mana, Dek? Jauh nggak dari sini?” tanya si pengendara.

“Sana, Bang!” kata Evan sambil menunjuk ulang.

“Aduh, Abang bukan orang sini, Dek. Abang dari kota lain, mau menjenguk keponakan Abang yang dirawat di rumah sakit. Abang disuruh hubungi dokter yang namanya Risno di rumah sakit itu. Aduh, gimana nih, ya?” si pengendara sepeda motor tampak bingung.

Evan pun cuma berdiri bingung, mendengar cerita si pengendara sambil melihatinya.

“Kata dokternya, keponakan Abang sedang kritis. Harus segera telepon dokternya  Tapi Abang lupa bawa hp karena terburu-buru tadi. Aduh, gimana,. nih? Kondisi keponakan sedang kritis. Abang boleh pinjam hp Adek sebentar buat telepon dokternya?”

“Hp saya nggak ada pulsanya, Bang,” jawab Evan jujur.

“Oh, kalau begitu, Abang isikan pulsanya dulu. Nanti Abang yang bayar uangnya. Tolonglah, Dek, Abang perlu sekali buat telepon dokternya.”

Evan menurut ketika si pengendara membawanya mengisi pulsa hp di sebuah kios pulsa. Setelah itu, mereka berjalan kembali ke tempat semula, yaitu tempat si pengendara memarkir sepeda motornya.

Di bawah pepohonan rindang, Evan menunggui si pengendara yang sedang meminjam hp-nya buat menelepon dokter Risno yang ada di rumah sakit Kasih Bunda.

“Halo… halo…? Dokter Risno? Oh, bukan? Dokter Risno sedang keluar? Ada nomor hp-nya, Sus? Tolonglah minta nomor hp-nya, Sus?” si pengendara menunggu sebentar. Setelah itu tangannya menunjuk-nunjuk tas Evan, seperti sedang menyuruh Evan mengeluarkan pulpen dan selembar kertas untuk menulis. “Iya? Iya?” serunya keras ketika Evan sudah melakukan apa yang diperintahnya.

“Tolong, Dek, tuliskan nomor hp dokternya,” kata si pengendara.

Evan pun berjongkok, menaruh kertas di pahanya. Tetapi dia merasa agak sulit menulis, karena itu, Evan pun mengambil tas ransel yang ada di punggungnya untuk dijadikan alas menaruh kertas. Dia menulis di kertas yang diletakkan di atas tas ranselnya.

“Nomornya ini, Dek, tolong tuliskan, ya! 0852-7549-….?”

Evan menunggu sambungannya. Kepalanya menunduk melihati kertas yang tergeletak di atas tas ranselnya, sementara telinganya mendengar aba-aba si pengendara yang sedang membacakan nomor hp Dokter Risno. Dilihatinya tulisannya sendiri: 0852-7549-….?

“Lalu apa, Bang?” tanya Evan setelah menunggu cukup lama tapi tak terdengar suara si pengendara melanjutkan nomor yang sudah disebut duluan tadi. “Abang? Lanjutannya apa?” Evan mengangkat kepalanya. Dilihatnya si pengendara sudah duduk di atas sepeda motornya. Ketika Evan kebingungan, si pengendara pun tancap gas tanpa menghiraukan pertanyaan Evan.

Evan terkesiap. Jantungnya berdetak kencang bagaikan menyadari sesuatu. Lho? Si pengendara itu kok pergi begitu saja? Bukankah Evan sedang mencatat nomor hp Dokter Risno seperti perintahnya tadi? Lalu?

“Eh, Bang, hp saya…!” Evan seolah tersadar seketika. Dengan terburu-buru dia meletakkan tas ranselnya di lantai trotoar dan berjalan ke depan, tempat sepeda motor tadi diparkir. Tapi si pengendara sudah kabur, tak kelihatan lagi batang hidungnya.

Evan berdiri bingung. Dia betul-betul bingung! Hatinya berdesir dingin dan keringat dingin pun menetes sebutir demi sebutir dari keningnya. Tangannya gemetar, sore yang sebenarnya sejuk itu entah kenapa malah membuatnya berkeringat banyak.

Evan ketakutan. Dia meraih tas ranselnya dan berjalan buru-buru. Langkah-langkah kakinya menuju rumah kembali. Iya, dia tak tahu harus berbuat apa selain balik kembali ke rumah.

Mama Evan membuka pintu yang diketuk Evan dari luar. Evan mengetuknya dengan keras dan cepat sehingga Mama Evan pun terburu-buru membuka pintu rumahnya.

“Lho? Evan? Kok balik lagi ke rumah? Kamu nggak jadi ke kursus?” tanya Mama Evan.

Evan tak menjawab. Dia hanya berdiri di luar pintu sambil menatap mamanya dengan ekspresi wajah pucat seperti kapas. Keringat dingin mengucur deras di dahi dan wajahnya. Tak sanggup lagi dia menahan sesak di dadanya. “Aku… aku… hp-ku…!” lalu tangisnya pun meledak keras di luar pintu. Evan menangis sesunggukan.

“Ada apa, Evan? Ceritakanlah pada Mama! Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Mama Evan.

Mama Evan cepat-cepat menarik tangan Evan untuk memasuki rumah. Setelah di dalam rumah dan duduk tenang di ruang tamu, Evan pun bercerita. Hp-nya dibawa kabur si pengendara sepeda motor yang berpura-pura menanyakan alamat.

“Haduh, polos sekali kamu, Van! Padahal kamu sudah kelas 3 SMP! Kenapa kamu pinjamkan hp-mu ke orang asing? Lagipula, untuk apa kamu meladeni permintaan orang tak dikenal yang pura-pura menanyakan alamat? Sekarang banyak modus penipuan, Van! Kan Mama sudah sering pesan ke kamu, jangan sembarang bicara dengan orang asing. Untung kamu nggak dihipnotis, cuma ditipu saja.”

Evan masih menangis. “Hu-hu-hu…!”

“Sudahlah, untung dirimu nggak apa-apa. Hp hilang ya sudahlah, anggap saja buang sial atau malah nyumbang.”

“Tapi hp-ku harganya 6 juta, Ma!” sedu sedan Evan sambil berlinangan air mata.

“Salahmu sendiri, kenapa kamu nggak ingat pesan Mama? Sudah berapa kali Mama pesan ke kamu, hati-hati sama orang asing! Jangan sembarang percaya pada orang tak dikenal!”

“Tapi, aku kan berniat menolongnya, Ma? Katanya tadi, keponakannya dirawat di rumah sakit, mau pinjam hp-ku buat telepon dokternya. Bukankah kita diajari untuk berbuat baik dan menolong sesama?” Evan membela diri.

Mama  Evan menghela napas berat. Memang niat anaknya baik ingin menolong sesama. Tapi kalau sampai ditipu gara-gara ingin berbuat baik, kali lain, orang  tak berani lagi berbuat baik.

“Ya sudahlah, semoga saja ini menjadi pelajaran berharga buatmu kelak. Dan kamu bisa mengingatnya seumur hidup,” kata Mama Evan. Setelah itu dia mengambil secangkir air minum dan memberikannya pada Evan.

Evan menerima cangkir yang diberikan mamanya dan meminumnya segera. Satu pelajaran atau pengalaman hidup memang mahal harganya. Tapi untunglah Evan tak apa-apa dan masih harus mengucap syukur juga untuk satu pelajaran hidup yang berharga. ***