Cerpen Yonas Suharyono (Suara Merdeka, 01 Maret 2020)

Terjebak Kota Minyak ilustrasi Hangga - Suara Merdeka (1)
Terjebak Kota Minyak ilustrasi Hangga/Suara Merdeka 

Bukan pilihan mereka, ketika akhirnya kedua gadis itu terdampar di kota kecil kaya minyak bernama Lapalic. Bukan pula salah pilih ketika mereka menentukan bekerja di perusahaan kacang kara bermerek Oke. Bukan juga salah Mak Darpen yang mengizinkan anaknya, si Sanira, satu dari dua dara itu tergiur bujukan seorang juru parkir di perusahaan kacang kara Oke. Mereka tergiur tawaran gaji besar untuk ukuran kota kecil penghasil energi vital itu.

Nama Lapalic memang sejak dahulu dikenal hingga mancanegara sebagai kota pojok, kecil, tetapi memiliki pelabuhan alam yang strategis, bahkan sejak zaman Portugis menjajah negeri ini. Pabrik kacang kara Oke tempat dua dara bekerja itu tidaklah sebesar pabrik kecap Blekok di seberang jalan. Namun penampilannya cukup mencolok dan bergaya ngepop. Tak ada gambar kacang kara di papan nama, bahkan merek Oke juga tak tampak. Yang ada malah gambar jarum penyemat dan tulisan yang menegaskan: Peniti. Tulisan “peniti” dibentuk ngepop dengan warna putih berlatar hitam dan berbingkai kombinasi merah dan putih.

Bagi Sanira, yang pernah bekerja sebagai kasir di salah satu supermarket, pekerjaan meracik kacang kara Oke tentu bisa dibilang terjun bebas. Betapa tidak? Dari tingkat gengsinya juga jauh lebih rendah. Di depan meja kasir, dia terbiasa memilahmilah uang kertas merah, biru, jingga, dan unggu hingga bergepok-gepok, meski bagiannya hanya beberapa lembar dalam seminggu.

Baca juga: Menolak Hujan – Cerpen Yonas Suharyono (Kedaulatan Rakyat, 09 Februari 2020)

Namun di pabrik kacang kara Oke ini, seperti yang bisa dibaca di loker dan cerita sang juru parkir, dia bisa menerima sepuluh kali lipat dibandingkan ketika bekerja sebagai juru pungut di supermarket. Belum ditambah fee dan akomodasi lain yang pasti mengalir dari para pelanggan penikmat racikan kacang kara Oke.

Sedangkan bagi Tupi, teman Sanira yang tampak lebih muda dan masih teramat lugu, bekerja di tempat itu sesuatu yang baru. Sebelumnya, gadis mungil itu membantu uwanya berjualan ikan dan udang di tempat pelelangan ikan dekat pantai Penyuk Telu, pantai terindah di kota Lapalic. Emaknya ikut jejak teman sesama janda, merantau ke negeri orang dan bapaknya menikah lagi. Tentu saja tawaran bekerja di pabrik kacang kara Oke bisa menjunjung gengsinya. Dia semula bergulat dengan bangkai ikan dan udang busuk bau anyir, kini ada harapan memperbaiki hidup dengan bekerja di kantoran meski masih sekelas meracik kacang kara Oke. Dia tak ingin menyusul, mengikuti jejak emaknya yang menjadi asisten, istilah pengganti diksi babu di negeri orang.

Laiknya karyawan baru, dua dara itu harus menjalani pelatihan terlebih dahulu. Maka kehadiran mereka berdua menjadikan suasana asrama lebih hangat dan semarak. Kemolekan tubuh dan keluguan dua dara tentu saja menjadi pusat perhatian para pelanggan yang kebanyakan para cukong, para tauke, direktur, dan makelar (meniru Bimbo, Tante Sun). Mereka berebut menyapa dan sekadar berjabat tangan. Namun ada juga yang tak suka dengan kehadiran dua dara itu. Mereka adalah penghuni lama yang sudah menjalani rutinitas pekerjaan di tempat itu bertahun-tahun.

Baca juga: Menunggu sang Tuan – Cerpen Ismul Farikhah (Suara Merdeka, 23 Februari 2020)

Hari kesepuluh, dua dara masih tampak canggung. Belum tampak di mata mereka pekerjaan meracik kacang kara yang dijanjikan perusahaan. Malah dihadapkan pada perangkat audio yang tentu saja asing bagi dua dara, Sanira dan Tupi. Mereka dipandu bagaimana menyambut tamu dan menyediakan mikrofon serta memutarkan daftar lagu pesanan pelanggan. Meskipun canggung, mereka belajar juga. Namun, bayangan tentang pekerjaan meracik kacang kara Oke belum hilang dari angan.

Hingga pada puncaknya, Sanira dipanggil pemilik perusahaan. Dara cantik, anak Mak Darpen itu, kebingungan ketika harus meracik kacang kara Oke di tempat yang belum pernah dia kunjungi: hotel berbintang. Di sana seorang pelanggan sudah menunggu. Maka, bagai kerbau yang sudah dicongok hidungnya, gadis itu menurut saja saat sang majikan menyuruh masuk mobil jemputan sang pelanggan. Dia sudah pasrah atas apa yang akan terjadi demi mendapatkan banyak uang.

Tupi masih lebih beruntung. Gadis mungil itu tidak dikirim oleh majikan ke tempat lain karena tidak ada yang mem-booking. Rupanya pelanggan lebih memilih Santi, Sinta, dan sederet dara lain yang sudah lebih dulu mereka kenal. Namun ternyata sebelas-dua belas, Tupi juga mendapat perlakuan sama. Dia juga tidak pernah disuruh meracik kacang kara Oke, melainkan menimang-nimang mikrofon sebelum menyodorkan kepada pelanggan lain. Semula gadis Tupi kaget dan canggung, tetapi lama-kelamaan terbiasa karena telanjur pamer kepada teman: dia tidak lagi bergulat dengan udang busuk dan bangkai ikan. Di sini, dia mudah mendapatkan uang hanya dengan memandu lagu dan menimang mikrofon.

Baca juga: Kota Ini Memberiku Kesedihan Terbaik – Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 09 Februari 2020)

Paruh bulan kedua, dua dara masih bertahan di pabrik siluman itu. Lembaran-lembaran merah bergepok-gepok ternyata belum sampai ke tangan mereka. Gadis Sanira mestinya mendapatkan lebih banyak daripada rekannya, gadis Tupi. Nyatanya mereka hanya mendapatkan seperempat dari jumlah yang semestinya. Majikan bilang akan mentransfer gaji harian dan fee serta transpor dan akomodasi melalui rekening pribadi. Dua dara itu masih memiliki harapan.

Dan badai itu datang tepat pada hari ke-27 bulan kedua. Di sebuah stasiun televisi terlihat seorang pejabat dicokok KPK. Mengenakan rompi jingga dan borgol di tangan, pria itu masih bisa memamerkan senyum. Gadis Sanira dan Tupi terperanjat, kemudian saling pandang penuh makna. Pria gagah itu salah satu pelanggan mereka yang rajin menikmati hidangan racikan kacang kara Oke di Peniti.

“Dia itu, Pi, ya dia.”

“Benar, Kak Sanira, benar dia.”

Hari ke-23, bos Peniti minggat dari kantor. Sanira kembali berjualan rames di warung Mak Darpen, sedangkan Tupi kembali bergulat dengan onggokan ikan dan udang dagangan uwaknya.

Hari ke-24 terjadi malapetaka, pabrik kacang kara Oke terbakar hangus. Orang-orang berbondong-bondong melihat pabrik yang terbakar, tetapi bukan untuk memadamkan api. Bahkan mereka bersorak sorai kegirangan. Pun Sanira dan Tupi. Kedua gadis itu bersyukur tidak gosong bersama perangkat audio yang pernah mereka timang-timang. Mereka lepas dari jebakan kota minyak. (28)

 

Teluk Penyu, Februari 2020

Yonas Suharyono, mantan guru SMP Negeri 1 Cilacap, menulis cerpen, pentigraf, novel, puisi, dan opini. Novel terbarunya Wayang Lembah Dawul. Kini, menghabiskan masa purnatugas di Purwokerto.