Cerpen Artie Ahmad (Tribun Jabar, 01 Maret 2020)

Pohon Belimbing Bapak dan Cerita-cerita Ibu ilustrasi Tribun Jabar (1)
Pohon Belimbing Bapak dan Cerita-cerita Ibu ilustrasi Tribun Jabar

Suara pohon yang tumbang itu membuat seisi rumah terkejut. Ibu yang sedang terkantuk-kantuk di ruang keluarga terperanjat kaget. Dengan terburu-buru, kami segera berlari keluar. Hujan masih lebat diiringi angin kencang. Jalanan di depan rumah tak tampak, tertutup kabut yang cukup tebal.

“Gusti Allah, pohon belimbingnya tumbang!” seru ibu yang sudah berdiri di beranda rumah.

“Kena angin mungkin itu, Bu.” Ujarku setelah berdiri di samping ibu.

Ibu tak menjawab. Wajahnya mengerut, seakan sedang menahan rasa sakit. Bibirnya seperti berbicara sesuatu, namun aku tak mendengarnya. Dalam hati sesungguhnya aku sedikit bahagia melihat pohon belimbing tua di pekarangan itu tumbang. Sudah lama aku ingin menebangnya, tapi ibu selalu melarangnya.

“Pohon belimbing itu yang menanam bapakmu. Buah kesukaannya. Tak perlulah ditebang.” Ucap ibu saban kali aku menyarankan kalau pohon belimbing itu seharusnya ditebang saja.

Baca juga: Amuk – Cerpen Artie Ahmad (Koran Tempo, 29 Februari-01 Maret 2020)

Pohon belimbing itu memang sudah tua. Banyak buahnya yang tak bisa dipetik lantaran pohonnya terlalu tinggi. Buah-buah yang terlalu matang dan nyaris busuk setiap hari jatuh ke tanah. Halaman yang berplester kerap menjadi licin. Beberapa kali aku nyaris jatuh terpeleset belimbing-belimbing yang belum sempat disapu. Tapi ibu tampaknya tak terganggu dengan belimbing-belimbing yang selalu berserakan itu. Dengan sabar ibu akan membersihkannya, tanpa berbicara apa-apa.

Pohon belimbing di depan rumah seakan tak mengenal musim. Setiap waktu buahnya selalu lebat. Dulu, saat bapak masih ada, dialah yang dengan telaten merawat pohon belimbing itu. Dahan-dahan yang menjuntai, selalu bapak pangkas dengan rapi. Bapak bahkan membuat galah khusus untuk memetik belimbing. Galah dari bambu panjang namun ramping, ujungnya diberi jeriken bekas berukuran sedang yang dipotong menjadi dua bagian dan dipasang terbalik. Tak lupa, bapak memberikan inovasi khusus di sisi jeriken untuk mengaitkan gagang buah. Belimbing yang dipetik dengan galah itu, selalu mulus lantaran tak menyentuh tanah.

Selepas bapak meninggal, terkadang aku masih sering memetik belimbing-belimbing dengan galah itu saat sedang senggang. Namun beberapa bulan yang lalu, galah itu patah. Jeriken untuk menampung buah itu juga hilang. Maka kami biarkan belimbing-belimbing itu berjatuhan begitu saja.

Kini, hujan yang disertai angin menumbangkan pohon belimbing tua peninggalan bapak itu. Ibu duduk di beranda, seakan menunggu hujan reda. Aku yang tak tega meninggalkannya seorang diri, turut duduk menemani ibu. Kami berdua mengamati pohon belimbing tumbang yang menimpa bunga-bunga di pekarangan. Beberapa pot bunga ibu pecah, isinya berantakan. Mata ibu menatap sekeliling. Ada titik air mata di sudut matanya. Kami berdua memang duduk bersebelahan, memandang hal yang sama, namun dengan rasa yang berbeda. Ibu dengan rasa duka. Aku dengan titik rasa bahagia. Setidaknya, tak ada lagi belimbing-belimbing masak yang mengotori pekarangan rumah.

Hujan seakan belum ingin berhenti. Aku mulai tak sabar menunggu, tapi ibu masih bergeming di tempat duduknya.

Baca juga: Penabuh Gendang – Cerpen Ratna Ning (Tribun Jabar, 02 Februari 2020)

“Kita masuk saja dulu, Bu. Hujan masih sederas ini,” aku menoleh ke arah ibu yang masih memandangi pohon belimbing itu dengan mata berkaca-kaca.

“Tidak. Kalau kamu mau masuk, ya, masuk saja. Ibu mau di sini dulu.”

Aku mengusap wajahku. Melihat ibu yang bersikukuh menunggu hujan reda, terpaksa aku mengurungkan niatku untuk menghangatkan badan di ruangan dalam.

***

Aku paham betul jika pohon belimbing itu lebih dari sekadar pohon yang menghasilkan buah berlimpah tanpa mengenal musim. Ada romansa, ada kenangan yang teramat kental di setiap jengkal batangnya. Kata ibu, pohon belimbing itu ditanam bapak saat kali pertama tinggal di rumah ini. Beberapa tahun sebelum aku lahir. Jika pada akhirnya pohon itu tumbang, tentu tak mengherankan jika ibu teramat berduka.

Hujan belum benar-benar reda ketika ibu memunguti buah-buah belimbing yang berserakan. Aku membantu mencari belimbing-belimbing yang tertutup daun-daun. Saat itulah aku tahu kalau begitu banyak belimbing-belimbing besar yang masak.

“Untuk apa nanti belimbing ini, Bu?” aku bertanya sembari menyibak rimbunan daun.

“Entah. Nanti coba kita buat sesuatu. Sayang jika belimbing-belimbing bagus seperti ini dibuang begitu saja. Oh, iya. Coba kamu hubungi Kasmanto untuk membersihkan pekarangan dan pohon belimbing yang tumbang.”

Tak lama setelahnya kami sudah duduk berhadapan di meja dapur. Satu keranjang buah belimbing ditaruh ibu tepat di tengah meja.

“Mau dibikin apa ini, Bu?”

“Asinan belimbing saja. Bisa kita simpan di dalam kulkas nanti. Sebagian kita bagikan kepada tetangga.”

Baca juga: Menulis Itu Pekerjaan Mabuk – Carpen Mashdar Zainal (Tribun Jabar, 12 Januari 2020)

Aku tak banyak bertanya lagi. Satu per satu buah belimbing aku bersihkan, ibu memotongnya menjadi beberapa bagian.

“Setiap kali melihat pohon belimbing itu, ibu mengingat bapakmu. Dia begitu menyayangi belimbing-belimbing ini,”

Mendengar ucapan ibu, aku mendongak. Ibu sedang menunduk, tangannya terampil memotong-motong buah belimbing. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum. Namun di detik lain, senyum itu memudar dengan sendirinya. Aku kembali menekuri buah-buah belimbing yang cukup banyak.

“Setelah bapakmu pergi, terkadang ibu berpikir tentang hari tua nanti. Bagaimana ibu melanjutkan hidup saat renta tanpa bapakmu.”

Suara ibu terdengar lagi, dan untuk kesekian kalinya aku tak menemukan kata-kata. Entah, tak seperti biasanya ibu gemar bercerita. Dulu, bahkan almarhum bapak mengatakan bahwa suara ibu teramat mahal. Ibu yang pendiam memang selalu enggan berbicara banyak. Tapi sore ini agak berbeda. Ibu seolah menjadi manusia lain. Seseorang yang suka berbicara. Sedangkan aku sebaliknya. Seolah aku kehilangan diriku sendiri. Tak banyak kata yang kukeluarkan.

Ibu bercerita tentang banyak hal. Tentang ketakutannya pada kesepian di hari tua, terlebih setelah ditinggal bapak. Kesedihannya lantaran kedua kakakku yang jarang berkunjung dan ketakutannya apabila kutinggal pergi jauh.

“Terkadang ibu sampai tak bisa tidur setelah kau bilang akan pindah dan mencari hidup baru di negara lain. Terlebih saat kau berencana untuk pindah ke Inggris. Ragil kok mau pergi jauh-jauh,” sampai di sini suara ibu sedikit parau.

“Itu baru rencana, Bu. Hanya keinginan saja,” jawabku perlahan.

Baca juga: Kawin ka Ucing – Carpon Komala Sutha (Tribun Jabar, 05 Januari 2020)

“Tapi semua keinginanmu selalu terwujud. Terus itu, omongan tetangga tentangmu juga menyita pikiran ibu. Mereka sering tanya, kenapa di umurmu sekarang ini kok belum menikah,”

“Ibu jawab apa?”

“Ya jodohnya belum ketemu,”

Aku tersenyum mendengar jawaban ibu. Baru kali ini ibu membahas tentang pernikahanku.

“Apa ibu ingin aku segera menikah? Menikah memang salah satu tujuan hidup, Bu. Tapi bukan yang utama. Toh, setidaknya ada alasan mengapa aku belum ingin menikah,” aku memandang ibu dengan serius. Tapi yang kupandang masih menunduk dan sibuk mengiris-iris buah belimbing.

“Tentu ibu tahu alasanmu tak kunjung menikah. Cuma ibu malas menjelaskan kepada mereka. Lagipula apa urusannya tetangga itu. Bahkan ibu juga tahu, kenapa kau tak ingin menikah secara adat. Selain lantaran kau pernah ketakutan saat melihat bapakmu yang hampir terjatuh saat memasang bleketepe di pernikahan mbakyumu, ada hal lain yang membuatmu enggan menikah secara adat,”

“Apa itu, Bu?”

“Karena kau yang paling lelah saat kakak-kakakmu menikah. Disuruh ini dan itu.”

Kali ini aku tertawa. Aku baru tahu kalau ibu banyak mengetahui hal tentang diriku. Memang, aku tak memiliki rencana untuk menikah secara adat. Aku salah satu orang yang selalu menikmati hal-hal berbau adat, tapi bukan diriku yang harus menjalankannya. Bagiku, adat tak harus selalu dijalankan. Dan juga aku selalu menginginkan hal-hal yang sederhana dan mudah saja.

Baca juga; Kaceb! – Cerpen Setia Naka Andrian (Tribun Jabar, 29 Desember 2019)

Selain tentang dirinya dan diriku, ibu juga bercerita tentang kedua kakakku. Mendiang bapak begitu menyita angan-angannya. Tentang bapak yang selalu ceria, suka bercanda dan pergi tiba-tiba. Bapak pergi dengan mudahnya. Sore itu, dia duduk di depan televisi, tertidur seperti biasanya, namun tak bangun lagi ketika dibangunkan.

Hujan di luar menderas lagi. Angin yang cukup kencang membuat pohon-pohon bergoyang-goyang begitu menakutkan. Udara dingin menelusup masuk ke dapur. Tapi seolah tak peduli, ibu masih bercerita tentang apa saja. Tangannya dengan terampil mulai membuat asinan belimbing.

Pohon belimbing bapak yang tumbang bertambah merana lantaran dihajar hujan yang kian melebat. Tapi seolah merelakan kenang-kenangannya yang tumbang itu, ibu menyibukkan diri dengan begitu banyak stoples untuk menyimpan asinan belimbing. Ibu merelakan kenang-kenangan dari bapak lewat asinan belimbing, aku menemukan ibuku dalam bentuk lain. Ibu yang selama ini pendiam, hari ini bisa bercerita tentang banyak hal. Tentang kesepian, tentang rindu, tentang kasih sampai ke hal yang remeh-temeh. Dan aku tersadar, betapa selama ini yang diperlukan ibu bukan sosok mendiang bapak, melainkan seorang kawan untuk berbagi cerita. []

 

Artie Ahmad lahir di Salatiga, 21 November 1994. Dia menulis novel dan cerpen. Novel terbarunya ‘Sunyi di Dada Sumirah’ Penerbit Buku Mojok, Agustus 2018 dan kumpulan cerpen ‘Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri’ Penerbit Buku Mojok, Januari 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta.