Cerpen Kartika Catur Pelita (Medan Pos, 01 Maret 2020)

Dinding-Dinding Putih Berkisah ilustrasi Medan Pos (1)
Dinding-Dinding Putih Berkisah ilustrasi Medan Pos

Dinding-dinding bangunan berwarna putih bersih. Ruang beraroma obat. Khas rumah sakit. Kecemasan terpahat pada wajah-wajah di sekeliling sebuah ranjang besi.  Putri  yang memeluk kedua adiknya: Aji dan Kinanti. Mereka tiada henti mendoakan agar sosok perempuan y a n g terbaring di ranjang, lemah, berselang infus, terselamatkan.

Badriah terbaring lemah. Dua hari sudah  dirawat di rumah sakit karena percobaan bunuh diri yang dilakukannya. Untung Putri, sang adik,  menemukannya. Untung Widuri, sang kakak sulung, segera membawanya ke rumah sakit. Untung para dokter segera menolongnya.

Perlahan mata cantik lentik itu membuka. Putri dan kedua adiknya mengucap syukur. Putri segera memeluknya. “Syukurlah kau selamat, adikku. Kau akan baik-baik saja,” ia menggenggam jemari Badriah yang lemah. Badriah mengiyakan. Ia ternyata tak jadi mati. Ia berhasil diselamatkan. Apa yang sudah dilakukannya? Samar-samar ia teringat malam kelam itu, ketika ia nekad mereguk cairan racun pembasmi serangga. Aroma khas itu terasa masih menyengat. Ia yang kemudian tergeletak tak sadarkan diri. Sayup-sayup terdengar jeritan. Sekarang saat tersadar sudah berada di rumah sakit. Kakak dan adik-adiknya tengah menungguinya. Oh, Tuhan, kebodohan apalagi yang sudah dilakukannjya?

Baca juga: Ibu yang Menangis Darah – Cerpen Kartika Catur Pelita (Bangka Pos, 22 Desember 2019)

Putri  memanggil dokter. Dokter jaga segera memeriksa keadaan Badriah. “Pasien sudah melewati masa kritis. Keadaannya sudah membaik. Ia masih perlu bedrest untuk mengembalikan kondisinya supaya pulih. Bayi yang berada di kandungannya kondisi sehat. Ia kuat. Kalian tak perlu khawatir.”

Dokter memberikan obat, kemudian berlalu. Putri mengucapkan terima kasih dan bersyukur. Memeluk adik-adik tercintanya.

Aji mencari Ibu yang ternyata berada di taman rumah sakit. Bayu mengabarkan jika keadaan Badriah sudah membaik. Ibu  gegas mengiringi Bayu, memasuki kamar inap.

Ibu menghampiri Badriah. Ibu menatap penuh-penuh, tajam. “Apa yang sudah kau lakukan, dungu. Kau pikir mengakhiri hidupmu berarti masalahmu berakhir, selesai begitu saja. Kau tahu, perempuan yang meninggal dalam keadaan hamil akan jadi kuntilanak, sundel bolong. Hidup bergantungan di pohon waru. Kau mau, kau mau? Dasar bodoh, dungu, kau hanya suka bikin orang lain menderita. Kau memang…”

Putri buru-buru memeluk dan merengkuh Ibu.”Sudahlah, Bu. Sudahlah, semua baik-baik saja. Ibu, mengumbar kemarahan membuat diri kita lemah. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Semua bukan keinginan kita. Semua bukan salah Badriah. Bukan salah Ibu. Semua tak bersalah. Semua akan baik-baik saja nanti.”

Putri membawa langkah Ibu ke luar kamar,  ke taman serambi rumah sakit. Widuri mencoba menenangkan Ibu. Putri dan Bayu termangu menjaga Badriah.

Baca juga: Bukan Persinggahan Sesaat – Cerpen Komala Sutha (Medan Pos, 23 Februari 2020)

“Maafkan Badriah, Bu. Maafkan dia,” Putri memohon pada Ibu yang duduk pada bangku taman. “Put mengerti perasaan Ibu. Badriah memang bersalah. Semoga kejadian ini membuatnya tersadar. Put  berharap begitu, Bu.”

“Ibu harus melakukan apa lagi, Put, agar si Badriah sadar, kalau yang dilakukannya salah. Kalau ia berbuat bodoh. Untuk apa ia membunuh dirinya. Kalau  si Badriah pandai, bunuh Mandor bejat itu yang sudah membuatnya menderita.”

“Put  mengerti apa yang dirasakan Ibu. Put  mengerti, Bu, “ perempuan usia 23 tahun duduk di sisi Ibu. “Ibu, jika kita hanya memikirkan dendam, apa yang akan terjadi lagi pada Badriah. Tadi dokter bilang jika kandungan Badriah baik-baik saja. Itu berarti makin hari kehamilan Badriah semakin kentara. Kita harus melakukan sesuatu, Bu.”

“Ibu pun memikirkannya, Put. Apa yang sebaiknya kita lakukan.”

“Badriah harus menikah, Bu. Demi anak yang nanti dilahirkannya. Mungkin Badriah menikah dengan…” ucapan Putri menggantung di udara. Ia tak melanjutkan kata-katanya.  Betapa ia tahu Ibu pasti tak sepakat. Sungguh, Putri  pun tak berangan memiliki ipar seperti lelaki buaya itu. Tapi jika kenyataannya nanti…

“Kau mau bilang jika Badriah menikah dengan mandor kero itu. Demi dunia akhirat, aku takkan merestuinya!” Ibu  bersikeras, menyumpah. “Aku tak sudi punya menantu seperti dia, coro. Aku ingin punya menantu gagah, ganteng dan kaya raya. Tidak mandor, melarat lagi!”

Baca juga: Tangisan Siapa di Balik Kamar itu? – Cerpen Bagus Sulistio (Medan Pos, 09 Februari 2020)

“Apa yang harus kami lakukan, Bob?  Ibu tak ingin Badriah menikah dengan mandor itu. Sementara kian hari kehamilan Badriah kian besar. Orang-orang kian menggunjingkannya tak karuan. Apalagi jika nanti bayi itu lahir tanpa ayah….”

Pada sebuah taman kota Putri bersua Bobi. Menguarkan kegelisahan. Bobi mencoba menelusupkan kedamaian. “Aku mengerti yang kau gelisahkan, Put. Mungkin ibumu benar, mungkin juga keliru. Tapi sebaiknya…”

“Mengapa semua ini terjadi, Bob. Seandainya aku memiliki orangtua yang utuh. Kami akan saling bantu dan support ketika tertimpa musibah. Bukan saling menyalahkan, saling menghujat. Aku…” suara Putri tersendat, menyandarkan  punggungnya pada bangku  beton taman. Sore ini taman terlihat indah. Bunga-bunga bermekaran. Beraneka bentuk dan warna. Indah dipandang. Namun, entah, Putri  merasa gundah. Gelisah. Pilu. Sedih. Semua campur baur jadi satu.

“Hapus kesedihanmu, Put. Aku akan selalu ada di sampingmu, “ Bobi menyentuh kuduknya, menguatkannya. “Aku akan selalu membantumu. Kita mohon petunjuk Allah. Yakinlah jika setiap masalah  Insya Allah ada jalan keluar. Percayalah jika Allah takkan memberi cobaan pada umatnya pada luar batas kemampuan.“

Dinding bangunan berwarna putih bersih. Ruang beraroma obat. Khas rumah sakit. Kelegaan terpahat pada wajah-wajah yang mengelilingi sebuah ranjang besi. Ibu memeluk keempat permata hatinya. Ibu tiada henti mengucap syukur dan memohon ampun atas dosa-dosa masa lalu. Badriah yang dalam tangis penyesalan berjanji bahwa ia akan bertobat, memohon ampun pada Sang Pencipta atas dosa-dosanya. Apa pun yang terjadi, Badriah berjanji akan membesarkan permatanya. Ia tak seorang diri di dunia ini. Masih ada keluarga yang mencintainya, tulus menyayangi tanpa pamrih. Biarlah saat ini dinding-dinding putih berkisah tentang kelukaan, kesedihan, kemalangan. Mungkin esok, atau lusa, dinding-dinding putih pun berkisah perihal kebahagiaan.

 

Kota Ukir, 07 Februari  2020.

Kartika Catur Pelita, karya prosa dan puisi termuat di puluhan media cetak dan daring. Sudah menulis 700-an cerpen. 100-an cerpen dimiat di media cetak dan daring. Buku: Perjaka, Balada Orang-Orang Tedcinta, Kentut Presiden, Koin Emas Ratu Shima, Kota, Amal, Prasasti Air Mata Ibu, Pewaris Macan Kurung. Bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ)