Cerpen Artie Ahmad (Koran Tempo, 29 Februari-01 Maret 2020)

Amuk ilustrasi Koran Tempo (1)
Amuk ilustrasi Koran Tempo

20 September 1863.

Angin semilir berembus. Hawa dingin khas pegunungan menyapa. Namun, bagiku, cuaca tak ubahnya panas terik yang membuat kerongkongan terasa kerontang. Surat penugasan yang kusimpan di dalam saku baju adalah satu-satunya alasan kenapa hariku mendadak terasa buruk. Andai kemarin aku tak berjanji kepada Elizabeth bahwa akhir pekan ini kami akan berlibur, tentu perasaanku tak senyaman ini. Rencana yang aku janjikan kepadanya semacam menunggang kuda, berendam di kolam sembari menikmati hijaunya rerimbunan cemara. Hal ini yang sangat disukai Elizabeth. Tapi sungguh, surat penugasan yang tiba-tiba ini membuyarkan semua rencana, meruntuhkan sebuah janji.

Sampai di rumah, Elizabeth menyambutku dengan senyum cemerlang seperti matahari di bulan Juni. Hawa sejuk yang seakan-akan mengikuti sampai ke dalam rumah tak melepaskan rasa pengap yang menyergapku sejak di kantor.

“Ada yang ingin aku bicarakan, Sayang,” aku menggamit tangan Elizabeth sebelum dia berlalu ke dapur.

“Mau bicara apa?” Elizabeth terlihat sedikit penasaran.

“Besok, aku tak bisa mengantarmu berakhir pekan. Ada tugas mendadak.”

Tebakanku tak meleset. Mata yang sedari tadi bersinar cerah, mendadak berubah kelam.

“Haruskah kau yang mengambil tugas itu?” suara Elizabeth terdengar datar, namun dalam.

Baca juga: Nyonya Dini – Cerpen Artie Ahmad (Kedaulatan Rakyat, 15 Desember 2019)

“Harus. Aku harus mengawasi pesta pernikahan putri Regent [1] Toemenggoeng. Atasan memintaku yang turun langsung ke sana.”

“Tak bisakah orang lain? Atau setidaknya bawahanmu saja? Itu hanya sebuah pesta pernikahan, kan?” Elizabeth terlihat mulai kurang sabar.

“Tidak bisa, Sayang. Yang menggelar pesta ini seorang regent. Lain kali saja bagaimana? Setelah tugasku selesai, mau?”

Elizabeth tak menjawab, dia berlalu. Jurk [2] berwarna pastel yang dia kenakan diangkat cukup tinggi. Langkahnya terlihat tak sabar. Tak lama kemudian, tubuhnya menghilang ditelan rimbunnya tangkai bunga rose di pekarangan belakang. Khas Elizabeth ketika marah. Tak mau bicara, berupaya selalu terlihat sibuk dengan bunga-bunga miliknya.

Sebagai seorang ambtenaar [3] yang bekerja di sebuah instansi pemerintah bidang keamanan, tentu aku tak bisa mengelak ketika atasanku meminta secara khusus agar aku mengamankan pesta pernikahan putri seorang regent. Acara yang akan digelar Raden Toemenggoeng Prawiro Koesoemo, seorang Regent Salatiga yang sangat dihormati, adalah acara istimewa. Bagiku, dia seorang pribumi unggul, memiliki kedudukan, kekayaan, dan beberapa istri. Beberapa kalangan menyebutnya sebagai golongan kaum priayi. Seseorang seperti inilah yang akan menggunakan jasaku untuk pengawasan acara penting dan sakral.

Baca juga: Pengkhianatan Seorang Kuncen – Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 22-23 Februari 2020)

Tertanggal 21 September 1863, esok hari. Aku sudah ditugaskan untuk melaksanakan serangkaian pengawasan untuk acara ulang tahun putrinya yang lain, Raden Loro Soeminah, yang akan berulang tahun ke-19. Sebuah pesta akan digelar dengan mengundang kerabat dan sekian tamu undangan.

Aku memulai tugas luar diiringi tatapan sebal Elizabeth. Sungguh, pilihan antara Elizabeth dan tugas adalah sesuatu yang sulit. Meski begitu, aku memilih tugas luar, mengawasi pesta yang akan digelar Raden Toemenggoeng Prawiro Koesoemo selama dua hari berturut-turut.

***

21 September 1863.

Dari pos penjagaan sementara, aku mengamati acara yang sedang digelar keluarga Raden Toemenggoeng. Sado yang dinaiki tamu undangan beriringan menuju rumah Raden Toemenggoeng. Tak banyak memang, hanya beberapa sado yang kuhitung. Mungkin mereka kawan-kawan Raden Loro Soeminah yang sengaja diundang untuk merayakan hari jadinya yang ke-19 tahun. Remaja-remaja dari kalangan priayi saling bertegur sapa dan melempar tawa.

Raden Loro Soeminah terlihat demikian bahagia atas hari jadinya yang dirayakan sedemikian rupa. Teman-teman yang diundang tak sebatas dari kalangan priayi pribumi, tapi juga dari kalangan pemerintahan. Gadis-gadis berkebaya berkumpul dengan gadis-gadis berambut terang yang menggunakan jurk panjang menjuntai. Sebagai putri seorang regent, tentu Raden Loro Soeminah memiliki relasi dari beberapa kalangan yang berkedudukan di pemerintahan.

Acara ulang tahun Raden Loro Soeminah berjalan secara kondusif. Kerabat-kerabat mulai berdatangan. Tidak hanya untuk menghadiri pesta ulang tahun, tapi juga berkepentingan menghadiri acara pesta pernikahan yang akan digelar keesokan harinya. Putri Raden Toemenggoeng lainnya, Raden Loro Soetijah, akan menggelar pesta pernikahan dengan Raden Pringgo Koesoemo, putra seorang wedana dari Banyubiru.

Baca juga: Hari Buruk untuk Berburu – Cerpen Mawan Belgia (Koran Tempo, 15-16 Februari 2020)

Selama melakukan serangkaian pengawasan pesta ulang tahun, sesekali pikiranku terbang ke rumah. Entah apa yang sedang dilakukan Elizabeth sekarang. Mungkin dia sedang menenggelamkan diri di rerumpunan bunga-bunga rose kesayangannya. Atau mungkin dia sedang mengurung diri di dalam kamar. Meredam kekesalan karena batal berakhir pekan ke pegunungan.

Seharian kemarin dia memang terlihat kesal. Di meja makan, dia enggan berbicara. Hanya sekali dia berbicara sesaat sebelum berangkat tidur.

“Aku, kau ajak kemari dari Nederland sebagai seorang istri, Van. Bukan sebagai penjaga rumah. Semoga kau tak lupa dengan itu.”

Mendengar ucapan Elizabeth, aku merasa ada lubang di hatiku. Ketika tugas tak bisa ditinggalkan, aku harus bagaimana? Memang, ini bukan pertama kalinya aku membatalkan janji dengannya. Entah sudah berapa kali aku mengingkari janjiku sendiri. Tapi semata-mata ini semua lantaran tugas penting yang sering datang secara tiba-tiba.

***

22 September 1863.

Hiasan dari janur kuning sudah terpasang di beberapa sudut rumah Raden Toemenggoeng. Acara pesta pernikahan akan segera dilangsungkan. Kerabat-kerabat yang belum sempat datang kemarin, baru hari ini tiba. Sado mulai berdesakan memenuhi sepanjang jalan menuju rumah Raden Toemenggoeng. Iring-iringan pengantin pria sudah datang dari Banyubiru. Gending dari seperangkat gamelan Jawa sudah terdengar. Tamu-tamu undangan sudah mulai berdatangan.

Dari atas kuda, aku mengawasi serangkaian acara. Mencoba menghafal tamu-tamu dari golongan orang penting yang datang. Tamu undangan dari gubernurmen sudah mulai berdatangan. Beberapa opsir yang turut menjaga memberikan laporan kepadaku secara bergantian. Aku mendekati rumah Toemenggoeng. Beberapa sado yang diparkirkan kurang rapi, aku perintahkan agar merapikan diri. Jalanan menuju rumah Toemenggoeng memang nyaris penuh, namun setidaknya harus ada ruang untuk berjalan.

Baca juga: Rumah Tetangga – Cerpen Jeni Fitriasha (Koran Tempo, 08-09 Februari 2020)

Dari sekian tamu yang hadir, beberapa kerabat dari Raden Toemenggoeng juga datang. Di antara mereka, aku mengenal seorang kerabat Raden Toemenggoeng yang menduduki jabatan seorang mantri perkebunan kopi di Tengaran bernama Raden Prawiro Direjo.

Acara berjalan sangat meriah. Beberapa pekerja rumah tangga terlihat sangat sibuk melayani tamu undangan. Keluarga dari Wedana Banyubiru yang hadir juga cukup banyak. Dari tempatku, aku melihat serangkaian upacara sakral pernikahan kaum pribumi secara runtut dan khidmat. Beberapa tamu undangan terlihat hanyut dalam serangkaian acara. Gending-gending yang terdengar lirih namun sesekali menyentak melengkapi upacara sakral pernikahan Raden Loro Soetijah dengan Raden Pringgo Koesoemo. Senyum kepuasan tak lepas dari bibir Raden Toemenggoeng. Dari sekian banyak undangan yang disebar, hampir semuanya datang. Tentu hal ini adalah satu prestasi yang membanggakan bagi seorang regent seperti dirinya.

***

23 September 1863.

Pesta pernikahan itu berakhir dengan menggembirakan. Tuan rumah dan tamu undangan terlihat begitu bahagia. Menjelang tengah malam, acara benar-benar selesai. Aku beranjak meninggalkan kediaman Raden Toemenggoeng Prawiro Kusumo. Malam ini aku memutuskan bermalam di rumah peristirahat yang letaknya tak jauh dari kediaman Raden Toemenggoeng. Esok hari saja aku pulang menemui Elizabeth. Meminta maaf dan mengajaknya berdamai.

Namun, belum juga aku melepas sepatu, gedoran keras terdengar di pintu. Seorang opsir bawahanku terlihat tegang di depan pintu kamar.

“Ada masalah di rumah Raden Toemenggoeng, Meneer!”

“Masalah apa?” aku berjalan keluar.

“Raden Prawiro Direjo mengamuk, Meneer. Semua orang dilukai.”

Baca juga: Kakek Taman Kanak-kanak – Cerpen Gus tf Sakai (Koran Tempo, 01-02 Februari 2020)

Mendengar penjelasannya, aku segera berlari ke arah kuda dan menuju kediaman Raden Toemenggoeng. Keadaan di sana sudah tak terkendali. Beberapa bawahanku yang jumlahnya tak banyak terlihat cemas di depan kediaman Raden Toemenggoeng. Aku segera masuk ke dalam, dan apa yang aku lihat hampir membuatku pingsan. Darah berceceran di mana-mana, di dinding, lemari, bahkan di hiasan janur kuning sisa acara pernikahan. Darah mengalir di lantai seperti aliran anak sungai. Beberapa jasad bergelimpangan di ruang tengah. Bagaimana mungkin seorang mantri perkebunan kopi yang terhormat seperti Raden Prawiro Direjo melakukan semua ini?

Suara erangan bercampur dengan teriakan terdengar dari beberapa sudut rumah. Di mataku, pemandangan itu sangat mengerikan. Dari ruang dalam, seseorang merangkak dengan keadaan berlumuran darah. Segera aku mendekatinya, namun secara tiba-tiba Raden Prawiro Direjo menerjang sembari menghunus senjata. Dengan cepat aku menangkis serangannya. Beberapa opsir bersiap menembak.

“Tahan! Jangan tembak!”

Aku menahan mereka. Hal terbaik adalah membawa Raden Prawiro Direjo secara hidup. Bagiku, keterangan darinya hal terpenting. Tak ubahnya banteng luka, mantri perkebunan kopi itu menerjang, menghunus senjata secara membabi buta.

“Kenapa Anda melakukan semua ini, Tuan?” aku berhasil mencengkeram tangannya.

“Dendamku sudah terbalas tuntas. Yang bersalah telah aku hukum.” Raden Prawiro Direjo menyentakkan cengkeramanku.

Dengan gesit aku memukul pelipisnya dengan gagang senapan. Raden Prawiro Direjo terjungkal ke belakang. Namun secepat kilat dia bangkit, menghunus senjatanya ke arahku. Belum sempat dia menghunus senjatanya, suara letusan senapan terdengar. Tubuh mantri perkebunan kopi limbung, lalu jatuh terlentang tak bergerak. Aku menoleh ke belakang, seorang opsir muda berdiri dengan muka tegang, keringat membanjir di wajahnya. Tangannya bergetar hebat, moncong senapan miliknya masih mengeluarkan asap sisa letusan mesiu.

Baca juga: Pencegahan Bunuh Diri – Cerpen Anton Kurnia (Koran Tempo, 18-19 Januari 2020)

“Kenapa kamu menembaknya?!” aku membentak dia. Yang aku inginkan, jagal malam ini harus dibawa hidup-hidup.

“Maaf, Meneer. Saya gugup, tanpa sengaja saya menekan pelatuk.”

Jumlah korban amukan Raden Prawiro Direjo berjumlah 16 orang. Sepuluh di antaranya tewas di tempat, termasuk Raden Toemenggoeng Prawiro Kusumo. Regent Salatiga itu tewas dengan beberapa luka serius di beberapa bagian tubuhnya. Dengan berbagai perasaan yang entah bagaimana aku menggambarkannya, aku mengeluarkan buku catatan. Nama-nama korban aku catat secara runtut dan lengkap. Sepuluh korban tewas terdiri atas Raden Toemenggoeng Prawiro Kusumo, Raden Aiju Prawiro Redjo, Raden Wirio Prawiro, Raden Aiju Wirio Prawiro, Raden Soera Koesoemo, Embok Ajing Kalie Gondong, Resso, Baiman, Tjitro, dan Singo Rejo. Kesemuanya kerabat Raden Toemenggoeng.

Sedangkan korban luka yang segera dibawa ke ziekenhuis [4] sebanyak enam orang. Dari apa yang aku dapatkan, Raden Prawiro Direjo mengamuk secara tiba-tiba dan membantai kerabat Raden Toemenggoeng yang sedang tertidur nyenyak lantaran lelah setelah menggelar acara pesta pernikahan sehari penuh. Sulit dipercaya, seseorang seperti Raden Prawiro Direjo mampu membantai satu keluarga besar. Menewaskan sepuluh orang dan mencederai enam orang lainnya.

***

Akhir September 1863.

Kabar tentang pembantaian satu keluarga seorang regent sangat menggemparkan Dutch East Indies [5]. Terlebih lagi, sang jagal adalah kerabat korban sendiri. Beberapa surat kabar ramai mengabarkan peristiwa itu. Dari seorang teman yang berdinas di Kota Surabaya, aku mendapatkan salinan surat kabar De Oostpost yang terbit di sana. Tertanggal 28 September 1863, De Oostpost memuat berita pembantaian itu dengan tajuk “Nadere Berigten Ontrent Den Moord Te Salatiga”. Aku membaca surat kabar itu sembari sesekali menjumput kue kaasstengels dari dalam stoples.

Baca juga: Percakapan di Ruang Tunggu – Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Koran Tempo, 11-12 Januari 2020)

Dengan kesal aku melemparkan surat kabar itu ke atas meja. Bayangan pembantaian itu masih selalu terbayang-bayang begitu saja. Dari belakang, Elizabeth memeluk pundakku. Aroma perfume yang segar miliknya segera menyapa penciumanku.

“Jangan terlalu dipikirkan, semuanya akan beres,” Elizabeth mencium pipiku dengan lembut.

Desah napasnya yang hangat menggelitik telinga. Aroma gula-gula menguar lembut dari dalam mulutnya. Tak berselang lama, gula-gula yang sedari tadi bermain di dalam mulut Elizabeth berpindah ke dalam mulutku dengan lembut.

 

Keterangan:

[1] Bupati

[2] Gaun

[3] Pegawai

[4] Rumah sakit

[5] Hindia Belanda

 

Catatan:

Cerpen ini terinspirasi oleh peristiwa pembantaian yang dilakukan mantri perkebunan kopi di Tengaran (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Semarang) bernama Raden Prawiro Direjo pada 23 September 1863. Pembantaian itu menewaskan sepuluh orang, termasuk Bupati Salatiga saat itu, Raden Toemenggoeng Prawiro Koesoemo, dan mencederai enam orang lainnya. Cerpen dikembangkan secara fiksi untuk keperluan pengembangan cerita.

 

Artie Ahmad lahir di Salatiga, 21 November 1994, dan besar di sana. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Selain menulis cerpen, dia menulis novel. Beberapa bukunya adalah novel Sunyi di Dada Sumirah (Penerbit Buku Mojok 2018), kumpulan cerpen Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri (Penerbit Buku Mojok 2019), dan novel Manusia-manusia Teluk (Penerbit Buku Mojok 2020).