Cerpen Rumasi Pasaribu (Minggu Pagi No 47 Tahun 72 Minggu IV Februari 2020)

Bibir ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Bibir ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

Sebagai perempuan, bibirnya memang seksi sekali. Semerah apel. Sebasah hujan. Berkilau seakan cahaya hanya tertuju ke sana. Bila ia bicara—dan ia suka sekali bicara—kesunyian  macam apapun retak. Kata-kata yang melewati bibirnya berhamburan, berjalan-jalan di udara, memandang sekejap rumah tempatnya berasal, untuk kemudian pergi dan hinggap di mana saja tanpa ia ketahui.

Tapi, ada yang aneh dengan bibirnya beberapa hari ini. Ia merasa bibirnya semakin hari semakin tipis dan kian terasa ringan. Ini membuat mulutnya terlihat sedikit terbuka. Karena itu, ia balurkan lipstik berulangkali hingga bibirnya terasa penuh seperti biasa. Tapi ia semakin khawatir ketika keesokan harinya, di cermin ia melihat bibirnya tak ada sama sekali.

Tentu saja ia menjadi panik. Gigi yang biasa tertutup bibir menyembul di antara lubang mulutnya. Berulangkali ia meyakinkan diri bahwa apa yang ia lihat hanyalah sebuah kesalahan. Tapi ternyata, bibirnya memang benar-benar hilang.

Pagi itu hatinya benar-benar rusuh. Bagaimana bisa ia berangkat kerja tanpa bibir? Ia terlihat aneh. Dan parahnya, ia menjadi tidak menarik sama sekali. Gila! Bibir yang selama ini ia anggap tak penting karena gratis ia dapatkan sejak lahir, ternyata jadi urusan ketika telah raib dari mulutnya.

Baca juga: Dalam Mimpi pun Kita Tak Bertemu – Cerpen Rumasi Pasaribu (Haluan, 16 Desember 2019)

Ia mendempul mulutnya dengan adonan terigu dan telur, setelah membuka gawai dan menelusuri cara membentuk bibir yang banyak terdapat di situs pencarian. Dipolesnya lipstik matte merah jambu dengan hati-hati. Pada situasi darurat yang menuntutnya harus tetap keluar rumah, setidaknya keanehan di wajahnya itu tak terlihat orang-orang. Sore kelak, ia akan ke dokter kecantikan untuk memermak mulutnya.

Ketika cahaya masih teduh dan langit dibedaki awan tipis-tipis, ia tiba di kantor. Dengan terpaksa hari ini ia harus puasa senyum dan bicara agar bibir buatan itu tidak copot. Makan dan minum juga mesti hati-hati dan dijaga betul agar bibirnya tetap oke. Tapi begitu berjumpa dengan kawan sekantornya, jantungnya serasa digedor kencang serupa kekasihnya menggedor pintu rumah, sementara ia sedang marah atau ngambek.

Lekas-lekas ia menuju meja kerjanya dengan tubuh gemetar. Ini betul-betul mustahil. Ia melihat bibir teman-temannya menyerupai bibirnya yang hilang itu. Sama persis. Ia cubit lengannya, berharap bahwa ia sekadar bermimpi atau hanya berimajinasi. Tapi perih membuatnya sadar bahwa ini benar-benar kenyataan.

Dari meja kerjanya, sekali lagi ia perhatikan bibir teman-temannya. Bibir mereka seragam, sama dengan bibirnya yang raib. Bahkan, Tami yang kemarin masih berbibir dower, pun begitu. Ia tidak akan salah, sebab ia hapal bentuk bibirnya yang hilang itu. Hanya warnanya saja yang berbeda. Ada yang pink, nude, oranye, dan juga marun.

Ia mengerjap, meraba bibirnya yang tiba-tiba terasa berat. Tak sengaja kukunya menggores lipstik, dan baret kecil membuat ia harus menambahkan lipstik di bibirnya. Dipandangnya kembali teman-temannya dari balik kaca yang membatasi meja kerjanya dengan meja lainnya. Mereka sibuk bicara tanpa memperhatikan kegelisahannya. Apakah teman-temannya tak merasa aneh dengan bibir mereka? Ia membatin dan tanpa sadar meneguk air segelas—yang telah disiapkan di atas meja—untuk menenangkan pikirannya. Tapi rasa terigu bercampur lipstik membuatnya kecut dan terburu-buru memperbaiki bibirnya.

Baca juga: Perempuan Masa Lalu – Cerpen Ilham Wahyudi (Minggu Pagi No 46 Tahun 72 Minggu III Februari 2020)

Teman-temannya—termasuk ia jika tak ada keganjilan ini—selalu berkumpul sebelum memulai pekerjaan yang kerap membikin jenuh. Ngobrol dicampur menggosip seakan menjadi cara terbaik untuk menjaga kewarasan di tempat kerja. Dari ekspresi dan suaranya yang samar, ia yakin teman-temannya saat ini sedang membicarakan seorang teman sekantor yang digosipkan selingkuh dengan pejabat. Perempuan yang mereka bicarakan sedang mengerut di kursinya, merasa terasing dan diasingkan. Kesunyian adalah hukuman terperih dalam sebuah hubungan.

Mereka terus bicara dengan penuh semangat, saling menguatkan untuk melupakan dan meniadakan seorang kawan. Kata-kata yang keluar dari bibir mereka adalah duplikat kata-katanya kemarin. Sama persis. Hanya sedikit polesan untuk menambah kebencian dan amarah, tapi juga sekaligus kebahagiaan.

Kepalanya pening. Ia amati perempuan yang mengerut di kursinya itu. Rasa-rasanya bibir perempuan itu tak seperti bibirnya, meski sama-sama tipis dan merah. Bibir atas perempuan itu sedikit lebih besar daripada bibir bawah. Lalu, kenapa hanya bibir perempuan itu yang berbeda?

Ia berdiri, mendekati teman-temannya yang sedang tertawa mencibir. Ia raba bibir salah satunya untuk merasai kalau-kalau bibir itu bukan bibir buatan seperti bibirnya. Temannya terkejut dan menjauhkan kepala. Namun begitu melihat ia yang datang, cepat-cepat mereka menanyakan perkembangan terbaru gosip itu. Ia hendak menjawab. Tapi menyadari bahwa bibirnya bisa copot, ia menjadi kesal dan berlari keluar. Ia benar-benar bingung dan hendak mencari tahu perihal keanehan ini. Tapi bagaimana caranya?

Baca juga: Perempuan Nyaris Gila di Kota yang Hilang Tiga Perempat Bagian – Cerpen Chikma W Putri (Minggu Pagi No 45 Tahun 72 Minggu II Februari 2020)

Di luar ia melihat orang-orang yang berpasangan atau bergerombol duduk atau berjalan sambil bicara. Matanya berkeliaran menyapu wajah mereka. Astaga. Bibir-bibir mereka juga sama dengan bibirnya yang hilang. Apa yang telah terjadi? Kenapa bibirnya yang hilang seolah membelah diri dan bersarang di mulut orang-orang?

Ia panik. Tubuhnya gemetar dan telapak tangannya basah dibanjiri keringat. Melalui kaca jendela kantor yang lebar dan bening, ia melihat dirinya berdiri dengan bibir palsu yang terasa berat.

Ia menguping pembicaraan orang-orang. Hey, kenapa sama persis dengan pembicaraan teman-temannya di dalam? Dadanya kian berderap. Karena penasaran, ia terus mendengarkan hingga mereka puas bicara dan berganti topik. Dilihatnya bibir mereka terlepas, lalu jatuh. Runtuh seperti daun yang copot dari tangkainya.

Aduh, apalagi ini? Ia hampir menangis melihat keanehan yang bertubi itu. Di jalan-jalan, ia melihat begitu banyak bibir yang menyerupai bibirnya berceceran.

Diambilnya satu bibir yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia copot bibir palsunya dan direkatkannya bibir yang jatuh. Bibir itu menempel, tapi tak sesempurna bibirnya beberapa waktu lalu. Ia pungut bibir lain yang sempat terinjak orang, dibersihkannya dengan jari gemetar, lalu direkatkannya ke atas bibir sebelumnya. Bibir itu melesap seperti air yang diserap pasir. Ia pungut lagi bibir yang berserakan, begitu terus hingga ia merasa lelah. Bibir yang menyerupai bibirnya masih banyak yang tercecer, terinjak-injak, atau pecah digilas ban. Tapi ia sudah tak sanggup lagi memungutnya.

Baca juga: Pesan Keabadian – Cerpen Rudi Riadi (Minggu Pagi No 44 Tahun 72 Minggu I Februari 2020)

Dengan sedih ia kembali ke kantornya. Matahari kian terik dan peluhnya telah membanjir. Sebelum masuk, ia bercermin di kaca jendela kantor dan melihat wajahnya yang gelap karena membelakangi cahaya. Tapi ia sedikit lega karena samar-samar terlihat bibir di bawah hidungnya. Ia masuk ke dalam dan melihat teman-temannya telah berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Tapi mereka tetap mengenakan bibirnya.

Ia kembali kesal. Didekatinya salah satu temannya. Ia ingin merebut bibirnya. Tapi tercium bau bangkai dan ia mual. Jorok sekali, ia membatin. Ia dekati temannya yang lain, namun ia mencium bau yang lebih busuk dan ia semakin tak tahan. Akhirnya, ia ke toilet dan muntah-muntah. Seorang teman yang melihat keganjilan pada dirinya mengikuti dan bertanya heran. Tapi ia marah dan dengan kasar merebut bibir di wajah temannya yang ketakutan.

Bibir temannya berdarah. Direkatkannya ke bibirnya, namun bau busuk membuat ia kembali muntah. Beberapa temannya yang lain datang, membuat bau busuk bersekutu dan semakin kuat. Ia muntah parah. Wajahnya pias, pucat, dan tubuhnya tak lagi bertenaga. Ia diminta atasannya berobat dan istirahat di rumah.

Sambil memegang perutnya yang panas, ia mengambil tas dan berjalan lunglai.

“Kenapa si Pian?”

“Iya, kenapa, ya? Seperti orang hamil saja.”

“Iya, sepertinya Pian sedang hamil. Eh, tahu kan pacarnya?”

Kata-kata temannya sayup-sayup tiba di telinganya. Ia tak gubris. Sebab, bau busuk yang merebak membuatnya kian mual dan ingin cepat-cepat pulang. ***

 

Rumasi Pasaribu, saat ini berdomisili di kota Bengkulu.