Cerpen Ismul Farikhah (Suara Merdeka, 23 Februari 2020)

Menunggu sang Tuan ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka (1)
Menunggu sang Tuan ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Sore hampir menghilang, malam menjelang. Namun tuanku belum juga pulang. Sudah tak terbilang kali aku mondar-mandir di depan pintu. Berharap tuanku segera datang. Hari semakin gelap, bahkan kini rintik hujan mulai turun. Dalam dingin aku menuju ke luar, berdiri di depan pintu, menanti tuanku.

“Kau masih di luar, Me?”

Aku mencari siapa yang bertanya. Terlihat temanku di depan sana. Di balkon rumah tuannya.

“Tuanku belum kembali sejak pergi subuh tadi,” aku menjawab setengah berteriak agar suaraku tidak kalah oleh nyanyian hujan yang makin kencang.

“Masuklah, Me. Tunggu tuanmu di dalam. Cuaca makin dingin, nanti kau masuk angin.” Nasihat temanku sambil perlahan memasuki ruangan.

Malam memang makin dingin. Aku pun memutuskan menunggu tuanku di dalam. Tidak biasanya tuanku pergi sendirian. Ke mana pun aku biasanya mendampingi. Namun pagi tadi, kala aku sudah siap menemani, tuanku bilang akan pergi sendirian. Dia meminta aku menunggunya hingga kembali. Apakah ada yang tidak beres?

Baca juga: Matinya Guru – Cerpen Ismul Farikhah (Suara Merdeka, 25 November 2018)

Aku cemas. Perutku makin keroncongan. Sebenarnya masih ada persediaan makanan yang dapat kumakan, tetapi aku enggan. Tadi ketika sarapan, kulihan raut kecemasan pada wajah tuanku.

Langkahku menuju ruang baca. Kupandangi berjejer-jejer rak penuh buku di setiap sisi. Di tengah ruangan terdapat hamparan permadani dari Turki. Di atasnya ada sebuah meja dan dua buah bantal; satu untuk tuanku dan satu untukku. Aku menuju bantalku, duduk meringkuk di situ. Kupandangi bantal tuanku yang kosong. Tuanku sering menghabiskan hari di ruangan ini. Matanya tak lelah membaca, sedangkan jemarinya gemar sekali menulis. Aku hanya setia menemani. Sering kali aku tertidur.

Perlahan aku membuka mata. Ternyata semalam aku terlelap. Apakah tuanku sudah pulang? Segera mataku mencari sosoknya. Namun bantal itu masih kosong. Di atas meja pun masih seperti semula. Tidak ada tanda-tanda bekas aktivitas di sana. Aku melangkah, menyusuri setiap ruangan, sambil terus memanggil-manggil tuanku. Namun tak ada jawaban. Perutku makin keroncongan, langkahku makin gontai. Aku harus makan.

Kembali aku menunggu di depan pintu. Sehari tuanku tak pulang. Hatiku makin bimbang. Aku menerka-nerka, apakah ini berhubungan dengan kedatangan tamu tiga hari lalu? Dua orang laki-laki datang secara tak sopan. Mereka berjas dan berdasi. Terlihat sangat perlente. Namun sikap mereka tampak angkuh dan arogan. Berbanding terbalik dengan tuanku yang mengenakan jubah dan serban.

Baca juga: Virus C-77 Louisa Heathcote – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 08 Maret 2020)

Sikap tuanku tentu saja sangat tenang. Mereka meminta tuanku untuk berhenti menyikapi secara kritis para politikus. Mereka menyodorkan segepok uang. Tentu saja tuanku menolak. Merah padam rupa mereka. Cacian dan makian menghujani tuanku. Namun tuanku tetap tenang dan menunduk sopan.

Aku tetap menunggu di depan pintu dengan rasa tak menentu. Aku merindukan tuanku, sangat rindu. Air mata tak dapat lagi kubendung. Sudah tiga hari tuanku tak pulang. Tuanku yang baik hati dan berbudi. Tak pernah sekali pun tuanku berlaku kasar. Ia selalu lembut padaku. Sikap dan tutur katanya menunjukkan tuanku sayang padaku. Aku pun sangat sayang pada tuanku.

Pernah suatu ketika, aku tertidur ditumpukan pakaiannya. Hari itu aku sangat lelah. Namun tuanku tak marah. Kutundukkan wajah sebagai rasa bersalah. Tuanku tersenyum dan mengelus lembut kepalaku.

Aku tetap menunggu di depan pintu.

“Tuanmu belum pulang juga, Me?”

Kujawab dengan gelengan kepala. Lalu dia pun pergi tanpa bertanya lagi. Kupandangi jalanan dan deretan perumahan. Masih sama seperti dulu, ketika kali pertama tuanku membawa aku ke sini. Aku terus memandangi jalanan, berharap tuanku segera datang. Tak terasa mataku terpejam.

Baca juga: Kota Ini Memberiku Kesedihan Terbaik – Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 09 Februari 2020)

Aku tetap menunggu tuanku di depan pintu. Kulihat tuanku memasuki ruangan. Sudah ada mereka di sana. Mereka tamu beberapa hari lalu. Terlihat seseorang membawa nampan berisi minuman. Tuanku juga kebagian. Tuanku dan mereka minum bersama. Mereka rakus seperti tikus. Mereka tertawa-tawa. Tuanku diam saja. Mereka bangkit. Tuanku tak berkutik. Mereka menghampiri tuanku dan menyentuhnya. Tuanku tumbang. Mereka begitu saja melenggang meninggalkan ruangan.

Aku memanggil Tuanku. Namun suaraku tak pernah keluar. Perlahan mataku terbuka. Ternyata hanya mimpi. Mimpi yang seolah sangat nyata. Apakah Tuanku sudah tiada?

***

“Lari, Me, lari!” Makin lamat kudengar suara ibuku menyuruhku berlari, dan aku terus berlari. Hanya aku yang dapat meloloskan diri. Ibuku dan saudara-saudaraku mungkin sudah mereka tangkap. Mereka yang tidak suka pada kami. Mereka yang menganggap kami kotor, liar, dan merusak pemandangan kota. Dengan kaki kecilku, aku terus berlari, hingga napas ini tak kuat lagi. Aku berhenti, mencari tempat bersembunyi.

Ketika malam menjelang, aku memberanikan diri keluar dari persembunyian. Kususuri deretan toko yang sunyi. Girang hatiku ketika melihat kardus dan beberapa kain kumal. Segera kurebahkan badanku di sana. Hangat, kardus dan kain dapat melindungiku dari dingin malam.

Baca juga: Merampas Kewanitaan – Cerpen Joss Wibisono (Suara Merdeka, 26 Januari 2020)

Aku mendengar ada langkah mendekat. Kutajamkan pandangan, mengamati sosok lelaki yang berjalan ke arahku. Tampak wajahnya teduh, di tangannya ada beberapa buku. Tampaknya seseorang yang baik. Jadi aku tak perlu lari. Aku terus memandangnya.

Lelaki itu menyadari keberadaanku. Mata kami beradu. Ia melepaskan serbannya, membungkuk dan menggendongku dalam balutan serban. Kemudian kembali berjalan. Pulang.

“Kamu punya nama?” dia bertanya.

“Me.” Itulah kata-kata yang dapat aku ucapkan berkali-kali.

“Baiklah, kalau begitu aku akan memanggilmu Me,” ucapnya memberikan nama padaku.

Sejak saat itulah aku dipanggil Me. Sejak saat itu pula lelaki itulah tuanku. Aku selalu setia mengikutinya.

***

Aku menunggu tuanku di depan pintu. Ini hari keempat sejak kepergian tuanku. Badanku makin lemas. Persediaan makanan yang tuanku tinggalkan sudah habis. Aku harus mencari makanan agar perut dapat terisi. Aku harus kuat lagi untuk menunggu tuanku. Tak mungkin aku mencari makan di dalam rumah.

Baca juga: Perempuan Tembakau – Cerpen Istifari (Suara Merdeka, 19 Januari 2020)

Sebenarnya setiap hari banyak makanan berkeliaran di sini, di depan rumah tuanku. Namun aku tak biasa. Kali ini aku harus memakannya. Aku hanya tinggal menunggu makananku.

“Nah, itu dia.” Ketika sudah dekat, hap! Dalam sekali loncat, berhasil kudapat. Sebuah tikus sudah berada dalam gigitanku. Namun bau tikus ini sangat aneh. Darahnya tampak sudah terkontaminasi virus. Tidak, aku tidak dapat memakannya. Aku takut tertular. Tikus itu kubuang begitu saja.

Aku mencari mangsa lagi. Dapat. Namun lagi-lagi tikus yang kudapat sama, terkontaminasi virus. Kubuang lagi. Kutangkap lagi tikus dan kubuang lagi. Begitu seterusnya. Aku tahu virus apa itu. Virus yang berbau sama dengan bau tamu tuanku beberapa hari lalu. Jika makan tikus-tikus itu, aku takut korupsi pada tuanku. Aku tidak mau. Namaku Me. Aku seekor kucing yang tak doyan tikus bervirus karena mungkin mereka, para tikus itu, telah membunuh tuanku. (28)

 

Ismul Farikhah, guru SMP Negeri 5 Kepil, Wonosobo