Cerpen Gandi Sugandi (Padang Ekspres, 23 Februari 2020)

Kotak Saran ilustrasi Orta - Padang Ekspres (1)
Kotak Saran ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Di Minggu pagi dengan bimbingan cucu, Sahaja yang kurang lancar membaca menulis, tekun membuat surat di atas kertas bergaris-garis. Dia mesti berkali-kali bertanya, dan berkali-kali pula cucunya membetulkan kata per kata pada surat yang disusun. Sahaja memang sering terbalik menulis huruf d menjadi b, atau salah huruf yang seharusnya c malah e.. Cucunya sampai jengkel, bahkan nyaris tega hendak meninggalkan pergi untuk bermain layang-layang…

Namun tentu Sahaja telah siap mengantisipasi, di saku baju kemeja pendek hitamnya telah tersedia selembar uang warna hijau.. Hingga pada akhirnya selesai pula satu surat berisi dua paragraf, dengan masing-masing empat kalimat dan lima kalimat—dan Sahaja berpesan pada cucunya agar siapa pun jangan ada yang tahu apa isinya..

Saat mengutarakan hendak bersiap-siap saat itu juga untuk pergi ke kota, cucunya mengingatkan. “Kantor-kantor, semuanya sedang tutup Kek. Iya di sini, liburnya hari Jumat..di sana, beda lagi..”

“Yang kakek tahu Cu, bukankah kotak saran ada di luar gedung perkantoran itu?”

“Tidak tahu Kek.. Iya kali.. Belum pernah ke kota soalnya.. Pokoknya kalau sekolahku, tiap hari Minggu pintu gerbangnya dikunci Kek, tidak bisa masuk.. Kayaknya sama..”

Baca juga: Si Manis Tak Lagi Manis – Cerpen Gandi Sugandi (Kabar Cirebon,18 Januari 2020)

Sahaja menarik napas panjang. Surat itu dilipatnya dua kali menjadi segi empat. Dimasukkan ke saku bajunya. Lalu dilihatnya cucunya beranjak ceria, berlari hendak bermain layang-layang. Sedangkan Sahaja dengan gontai melangkah keluar, hendak pulang yang hanya sekira beberapa puluh meter menuju rumahnya.. Di jalan sesekali mendehem..

***

Tibalah pula Senin pagi. Kali ini Sahaja berkemeja pendek coklat tua dan celana panjang katun hitam, menuruni jalan setapak satu bukit, yang akan sampai di jalan kecamatan. Dengan menumpang truk pengangkut sayuran yang bak belakangnya tidak penuh, berdiri di antara tumpukan kentang, kol, juga selada bokor.. Tentulah ini lebih irit, dibandingkan bila dengan naik ojek kampung. Sahaja tak sendiri, ada dua pemuda yang juga hendak pergi bekerja ke kota. Pemuda yang berkaos hitam bertanya, “Mau ke mana Ki?” Lugas juga mantap Sahaja menjawab akan pergi ke satu kantor untuk satu keperluan. Pemuda ini meragukan. “Memang tahu di mana kantornya?” Melihat kesungguhan Sahaja, tanpa menunggu jawaban, pemuda ini berinisiatif menerangkan kendaraan-kendaraan umum apa saja yang harus dinaiki untuk sampai ke kantor yang dimaksud.

Sekira tiga puluh menit kemudian, mereka tiba pula di tepi jalan raya kabupaten. Ucapan “Terima kasih..” kepada sopir pengangkut sayuran, oleh sebagian penduduk bukit itu sudah biasa dianggap sebagai ongkos..

Setelah berdiri beberapa lama, Sahaja menyetop satu angkutan pedesaan berwarna kuning yang memang hanya satu-satunya di sini. Sahaja duduk di kabin belakang sudut sebelah kanan, tepat di hadapan siswi SMA. Penumpang sedang penuh. Sahaja berkali-kali mendehem. Biar pun begitu, Sahaja santai saja mengeluarkan bungkusan tembakaunya, melintingnya membuat rokok, membakarnya. Ini membuat para penumpang lain menutup hidung lantaran menahan aroma kurang sedap.. Sahaja hanya menyeringai, tak peduli.

Baca juga: Rumah Lumpur Jelaga – Cerpen Maya Sandita (Padang Ekspres, 16 Februari 2020)

Angkutan pedesaan terus melaju. Kemudian ketika sopir menyebut satu nama tempat, Sahaja setengah berteriak, “Stop! Stop…!” Saat hendak membayar ongkos, sopir tak menerimanya.. Kiranya sopir tahu, Sahaja tak punya uang banyak. “Sudah bawa saja… Buat jaga-jaga. Jangan sampai nanti di tempat tujuan kehabisan…”

Kali ini Sahaja bingung di tepi jalan raya yang cukup sepi, harus naik bus jurusan apa. Bukankah tak lancar membaca? Ada rasa menyesal, mengapa cucunya yang sedang libur sekolah, sudah kelas V, tidak dibawa saja? Akhirnya, di tepi jalan ini sedari tadi celingak-celinguk, ragu, tak pernah menyetop bus. Padahal bus-bus umum sudah berkali-kali lewat di depan matanya. Plang tujuan jurusan yang tertera di atas kaca depan bus, selalu tak sempat terbaca. Baru saja mengeja sekitar 4-5 huruf, bus itu keburu melesat meninggalkannya, menjejakkan asap knalpot mesin diesel yang hitam.

Matahari mulai sepenggalah. Tentu Sahaja tak ingin naik bus yang salah. Entah ke mana nanti akan sampai. Bagaimana kalau di kota tujuan tersesat, atau malah tiba di kota lain, kehabisan ongkos, kelaparan, belum tentu ada yang akan menolong. Padahal, Sahaja tak serta merta begitu saja ingin menyampaikan surat untuk dimasukan ke kotak saran itu. Niatnya sudah bertahun-tahun lalu. Namun kini keraguan mulai meliputi. Bingung. Hendak berputar arah untuk pulang. Godaan untuk membatalkan rencananya datang..

Saat hendak menyeberang, seorang ibu muda mendekatinya. Kemudian keduanya bicara. Ibu ini berbaik hati menyetop satu bus bercat hijau dengan tujuan terminal pusat kota. Meskipun keadaan bus sedang penuh, Sahaja tetap saja naik, meskipun harus berdiri.

Baca juga: Perahu Kesedihan – Cerpen Ongky Arista UA (Padang Ekspres, 09 Februari 2020)

Tiba di terminal tak ada kendala, kondektur bus kota yang tak henti meneriakkan tempat-tempat tujuan, membuat Sahaja tak ragu menaiki satu bus kota dengan rute yang melewati satu kantor yang ditujunya. Bus pun melaju, melewati beberapa perempatan. Sahaja sepanjang jalan terpukau pada gedung-gedung. Lalu datang pula kebiasaannya, hendak merokok dengan membuat lintingan dari papir dan tembakau. Sahaja terkaget saat seorang penumpang menegur dengan halus, bahwa ini dilarang. Sahaja yang orang kaki gunung, menurut, mengurungkan keinginannya. Takut ada apa-apa, karena ini di kota besar, bukan di kampungnya.

Beberapa puluh meter sebelum sampai di kantor yang dituju Sahaja, kondektur berteriak-teriak menyebutnya. Gegas Sahaja bangkit.. Bus pun berhenti. Sahaja harus menyeberang dahulu untuk menginjakkan kaki di muka halaman kantor itu.

Gerak geriknya yang lugu disertai raut wajah polos, menarik perhatian seorang petugas keamanan. Sebelum sampai di muka gedung A, ada satu pertanyaan.. “Bapak dari mana, juga mau ke mana..”

Sahaja gugup.. Petugas keamanan mengulangi, dan malah ada tambahan pertanyaan.. “Ada keperluan apa..”

Sahaja malah menjadi lebih gugup.. “Itu…”

“Itu apa Pak.. Tenang-tenang.. Sekiranya bisa membantu…Kami siap..”

Sahaja harus berkali-kali mengatur napas agar bisa bicara teratur. Mula-mula menyebut asal daerahnya. Kemudian katanya, “Mau menyampaikan surat… Yang biasanya dimasukkan ke kotak.. kotak apa itu namanya.. Jadi lupa..”

Baca juga: Sang Peracik – Cerpen Ken Hanggara (Padang Ekspres, 02 Februari 2020)

Dengan sigap, petugas keamanan mengantarkan Sahaja, ke sebelah kiri bangunan kantor, dan sampai di depan kotak saran.. Kotak ini bergantung di dinding, tepat di pinggir pintu samping. Sahaja baru menyadari, suratnya tidak beramplop. Sebelum petugas keamanan mencegah,.. Selembar surat itu sudah masuk ke dalam kotak saran. Sahaja merasa lega..

Di pintu gerbang kantor tadi, tersungging senyum dari bibir Sahaja. Tak hendak ke mana-mana lagi, langsung saja pulang..

***

Berhari, berminggu, Sahaja menunggu jawaban surat itu, ingin agar ada tindak lanjut. Di rumah, seperti biasa beraktivitas. Pagi sampai siang, sibuk memelihara tanaman kacang tanahnya di sebelah kiri rumahnya. Menyiangi rumput-rumput. Bila sudah usai, ke sebelah kanan rumahnya, juga menyiangi rumput di lajur tanaman sayuran kol.. Saat sore, menyiraminya. Memang hujan sudah cukup lama tak turun.

Di satu siang, Sahaja duduk di atas tanah kebunnya. Memandang ke lahan-lahan di bawahnya, perkebunan berbukit-bukit tertanami sayuran yang makin saja berkurang keluasannya. Terdesak kavling-kapling perumahan. Saat Sahaja muda, jarak antarrumah sungguh jauh, bisa beratus-ratus meter. Tak seperti sekarang, yang semakin dekat saja. Sahaja miris..

***

Kini, sudah satu bulan surat itu dimasukkan ke kotak saran. Di satu Minggu pagi, Sahaja menemui cucunya. “Kok aneh Cu, apakah surat kakek itu tidak dibaca? Mereka tidak pernah datang ke sini. Padahal kan, lihat di bawah, di sebelah timur.. Sedang dibangun kembali kavling perumahan yang baru..”

Baca juga: Burung Kalimbang Hujan – Cerpen Afri Meldam (Padang Ekspres, 26 Januari 2020)

“Nggak mengerti Kek..”

“Kakek harus membuat surat lagi Cu. Mau bantu kan? Untuk dimasukkan kembali ke kotak saran itu.. Nanti kakek belikan layang-layang sepuluh buah beserta benang gelasannya sekalian..”

Cucunya terdiam.

“Surat itu penting Cu. Harus dibaca mereka pemegang kewenangan. Mau kakek, setiap satu kavling ada satu empang meskipun kecil. Jadi, bila satu saat hujan turun lama dan deras, airnya tertampung, dua aliran sungai di sini tak kewalahan. Kakek takut, bila sedang hujan deras itu, tentulah air di sungai melimpah, meluber ke jalan-jalan, menjadi bah, bisa-bisa menggenangi kota di bawahnya..”

“Oh.. Sampai begitu ya Kek..”

“Iya.. Malah lebih baik lagi kalau pemerintah sendiri yang memiliki empang-empang itu. Bagaimana, mau kan membantu kakek lagi membuat surat lagi? Sebelum semuanya terlambat..” Cucunya sejenak berpikir. Lalu, “Mendingan Kakek pergi lagi ke kota. Menanyakan surat itu Kek.. Apakah sudah dibaca? Dan aku juga ikut. Ingin juga sekali-kali berjalan-jalan ke kota. Biar saja libur sekolah sehari..”

Mata Sahaja berbinar.

Kali ini di pelataran gedung itu, Sahaja tak lagi celingukan, tak lagi beraut wajah polos. Petugas keamanan yang tempo lalu bertemu, hanya disalaminya, lalu bersegera ke tempat itu. Saat tiba, Sahaja kaget, kotak saran yang dulu sudah tak ada, telah diganti dengan yang baru, terbuat dari kayu yang mengilat. Dengan suara yang rendah, Sahaja bertanya pada cucunya. “Kira-kira, ke mana ya kotak saran yang lama beserta isinya, surat-surat yang lain? Juga, apakah semuanya sudah dibaca?”

“Tunggu saja Kek..” ***

 

Bandung, Januari 2020

Gandi Sugandi, alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000.