Cerpen Chaery Ma (Republika, 23 Februari 2020)

Kaus Kaki Bolong Bapak ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Kaus Kaki Bolong Bapak ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Rumah kami tak lagi seperti yang dulu. Tak ada kolam ikan de ngan beragam jenis koi, juga dinding yang bisa dicoret semau kami. Semua berubah. Drastis. Bapak hanya bilang bahwa kami sedang menjalani tahap kehidupan yang lain.

Apa itu kehidupan? Aku ingin menanya kan hal serupa tapi sudah didahului Pipik. Kakakku itu memang punya hobi menyerobot. Rambut berombaknya akan bergoyang setiap kali dia berhasil mengalahkanku diiringi dengan kedipan mata yang penuh kemenangan.

Bapak yang ditanya terdiam sejenak. Memandang Ibu, seperti minta bantuan. Kesalahan Bapak, dia sangat suka mengeluarkan kata yang begitu sulit kami cerna. Terlalu tinggi atau otak kami yang memang tak mampu menjangkau itu. Ketika kejadiannya sudah seperti itu, Bapak selalu bilang : tunggu, Bapak berpikir dulu. Tapi sekarang Bapak menjawabnya tak sampai dengan hitungan menit.

“Kehidupan itu kita makan, minum, bernapas, hirup udara….” Jeda sejenak. Bapak menatap ke arah atas. Barangkali ada jawaban yang tertulis di sana.

“Bermain, berlari, berjalan….” Pipik menimpali.

“Dan juga ke luar negeri,” potongku cepat, takut didahului Pipik lagi.

Baca juga: Putu Cangkir – Cerpen Chaery Ma (Jawa Pos, 05 Januari 2020)

Bapak menatapku, Ibu juga. Ternyata Pipik juga. Semua tertuju pada satu arah, diriku. Kalau sudah begini, aku ingin tenggelam saja. Takut menimbulkan kemarahan mereka. Padahal kalimat itu sekadar mengingatkan Bapak, tentang janjinya membawa kami liburan ke Dubai.

Sampai di situ, tak ada lagi kalimat lain. Aku rasa cukup, Pipik mungkin juga begitu. Kami masuk kamar dengan beragam pikiran kenapa semuanya menjadi berubah seperti ini. Tak hanya rumah, sekolah kami tak lagi sama dengan yang dulu. Teman-teman kami jelas juga berubah.

Dan di sinilah kami, mulai beberapa hari yang lalu, melintasi pematang sawah setiap pergi dan pulang sekolah yang menghubungkan rumah baru kami di ujung belokan sana. Berkali-kali aku harus terseok dan berhasil meloloskan sepatu dari lumpur. “Kehidupan,” kata Bapak. Dan kami tak pernah lagi bertanya macam-macam.

Kecuali pada waktu itu, saat sepatuku mulai berubah warna akibat jejak tanah yang ditimbulkan dari lumpur. Pipik menanyakan kepada Bapak lagi. Dengan setengah enggan.

“Ke mana mobil kita?”

“Ditinggal di rumah yang dulu….”

Kenapa?” Pipik kembali menyerobot, padahal pertanyaan itu hampir keluar dari mulutku.

“Jalanan di sini terlalu sempit dan terjal. Hanya bisa dilalui dengan jalan kaki.”

Sebenarnya aku rindu, dengan rumah yang dulu. Jalanan lebar dengan pepohonan di kanan-kiri jalan.

“Kalau sepedaku, kenapa harus ditinggal juga?” Kali ini aku berhasil bertanya.

“Biar kalian merasakan bagaimana nikmatnya jalan kaki, dan bagaimana serunya berlari jauh.”

Baca juga: Ibu Mau Bantal Baru – Cerpen Unda Anggita (Republika, 08 Maret 2020)

Sebenarnya, tinggal di rumah seperti ini tak apa-apa juga. Setiap pagi kami terbangun oleh kicauan burung dan kokokan ayam. Suara-suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Angin di sini juga kencang dan sejuk, tidak seperti di rumah dulu yang bercampur dengan debu sehingga harus rutin mandi sore.

Dan yang paling penting, aku dan Pipik mulai jarang berebutan mainan. Karena memang tak ada mainan yang bisa diperebutkan. Bapak hanya mengambil sekantong bola kecil di rumah dulu yang bisa dimainkan sekali waktu, karena sudah bosan, dan beberapa sudah meletus karena ulah kami yang suka menggigitnya diam-diam.

Selebihnya kami akan bergelantungan di tangkai pohon jambu depan rumah, dan berlarian di pematang sawah. Kabar baiknya lagi, sejak pindah di sini Bapak juga lebih banyak di rumah. Di rumah dulu, Bapak baru terlihat setiap menjelang tidur. Ibu pun begitu. Sekarang, kami menemukan Bapak sepanjang hari.

Bahkan beberapa kali sering berbenturan saat melewati salah satu pintu ruangan. Hanya ada satu kamar tidur di rumah ini. Tidurnya pun bersama, impianku dari dulu. Aku tak perlu takut jika lampu tiba-tiba mati, juga Pipik yang tak perlu takut lagi jika hujan turun. Bapak dan Ibu selalu hadir di samping kami, lebih lama dari biasanya.

“Bapak mau ke mana?” Pipik kembali menyerobot, keesokan harinya begitu melihat Bapak yang tidak seperti biasanya terlihat berpakaian rapi sejak kepindahan kami di sini.

Sepatu hitamnya ditenteng sampai di teras, terlihat kusam dengan sisa debu di ujungnya. Kami mengikuti Bapak sampai di teras, libur hari ini, sehingga boleh saja aku sedikit berharap Bapak akan mengajak kami keluar bermain, entah di mana saja.

“Ke rumah kami yang dulu?” Pipik kembali bertanya.

“Tidak. Bapak harus menemui seseorang.” Kali ini nada suara bapak terdengar serius. Aku merasa tak perlu bertanya lagi. Dan juga, enyahkan harapan diajak bermain.

Baca juga: Suatu Pagi di Kuburan – Cerpen Acik R (Republika, 16 Februari 2020)

Tanpa suara, mataku mengikuti gerak-gerik Bapak yang siap mengenakan sepatunya. Hingga pada akhirnya, tak tahan lagi, aku dan Pipik—yang ternyata diam-diam mengikuti gerak-gerik Bapak juga—tertawa besar.

“Apa yang kalian tertawakan?” Bapak tiba-tiba berhenti.

Dibiarkannya salah satu sepatu diam menggantung di tangannya. Aku menunjuk lubang besar yang membuat jempol kaki Bapak menyembul keluar. Bapak mengikuti arah telunjukku. Dan dia pun ikut tertawa, kali ini tawanya lebih besar dari kami.

Kenapa kaus Bapak bolong?” Pipik masih berusaha menahan tawa.

“Sepertinya kaki Bapak mengalami masa pertumbuhan sehingga menjadi besar dan kaus kakinya tidak muat lagi.”

Pipik tiba-tiba berlari masuk ke dalam rumah, keluar dengan membawa spidol pink. Di raihnya kaki bapak. Dia dengan cekatan menggambar mata, hidung, dan bibir tersenyum di sana, di jempol Bapak yang menyembul ke luar.

“Itu gambar apa?” Bapak mengamati karya kilat Pipik.

“Orang-orangan.” Pipik berhenti dengan mengakhiri bubuhan titik pada salah satu sudut bibir yang dibuatnya. Tersenyum puas.

“Namanya Pangeran Bapak. Yang akan membawa Bapak berlari jauh, ke ujung dunia.”

Pipik kembali tersenyum puas. Berbeda dengan Bapak yang tertegun sejenak. Namun ikut tersenyum juga, pada akhirnya.

“Bapak tidak akan menghapusnya, kecuali kalau terhapus sendiri.”

“Dan aku akan menggambarkannya lagi untuk Bapak.”

Baca juga: Sketsa Berbingkai Perak – Cerpen Suzi (Republika, 09 Februari 2020)

“Seharusnya Bapak membeli kaus kaki baru.” Akhirnya aku angkat bicara, menggelantung di tangan Bapak yang sudah memasang sepatu dengan sempurna. Bapak meraih kepalaku. Mengelusnya lama.

“Kalau Bapak membeli yang baru, Pipik tentu tidak akan bisa lagi membuat orang-orangan.”

Pada akhirnya, dinding rumah kami yang dulu—tempat untuk mencoret apa saja—tergantikan dengan telapak jempol kaki Bapak. Aku mulai senang melakukan hal itu. Pipik pun begitu.

Akan tetapi hari itu, Bapak tak lagi pulang. Berhari-hari. Dan rasanya itu sangat lama. Aku dan Pipik mulai sering bertanya pada Ibu.

“Bapak pasti akan pulang sebentar lagi.” Selalu Ibu menjawab dengan sesingkat itu.

Hingga mencapai hitungan bulan, Bapak tak pernah memunculkan wajahnya. Aku mulai menangis, Pipik juga. Kami rindu Bapak. Aku ingat pada pagi terakhir waktu itu, pada kali terakhir kami menggambar di jempol kaki Bapak, Bapak menyerahkan spidol baru.

Tapi spidol kami masih bagus. Pipik protes. Dia tentu saja tidak rela spidol pinknya tak terpakai tergantikan dengan pemberian Bapak yang berwarna hitam.

“Spidol ini sangat tahan lama, biar terkena air, gambar kalian tetap akan bertahan.”

“Berarti besok-besok kami tidak bisa lagi menggambar di kaki Bapak.” Pipik mengambek.

Baca juga: Merindukan Nabi di Mushala Kami – Cerpen Supadilah (Republika, 02 Februari 2020)

“Tentu saja besoknya kalian masih bisa menggambar, tapi di sini…” Bapak melebarkan telapak tangannya. Tertawa lebar.

***

Hari ini kami akan berkunjung ke istana Bapak, begitu Ibu menyampaikan berita baik itu semalam. Tentu saja semalaman aku tak pernah benar-benar bisa memejamkan mata. Aku ingin malam segera berganti pagi.

Dan kabar paling baiknya, kami akan bertemu Bapak. Ternyata selama ini Bapak tak pernah pulang, karena sedang membangun sebuah istana. Pasti indah sekali.

“Apakah Bapak sangat merindukan kita?” Di kendaraan yang akan mengantar kami menuju istana bapak, aku membisikkan itu pada telinga ibu.

“Tentu saja, Bapak sangat merindukan kita.”

“Aku sangat rindu dengan Bapak,” gumamku, entah terdengar Ibu atau tidak.

Istana Bapak sangat berbeda dengan istana di film kartun yang pernah kami tonton, benar kata Ibu. Pengawal istananya juga tak mengenakan pakaian kerajaan, melainkan seragam polisi yang sering aku lihat di jalan. Mereka menjemput kami begitu turun dari kendaraan. Juga beberapa orang yang tiba-tiba mengerumuni kami dengan kilatan cahaya kamera yang membuatku benar-benar seperti putri kerajaan. Ibu menggenggam tanganku dengan kuat. Tentu saja tangan Pipik di sebelah sana mengalami perlakuan serupa.

Pengawal istana mengantar kami memasuki lorong-lorong. Dan suara kerumunan orang tadi lambat-laun hilang tertelan dinding-dinding tinggi. Semakin lama semakin gelap.

Kenapa gelap dan sempit?” pipik bertanya.

“Karena hanya raja baik hati yang bisa menempati istana seperti ini.”

Kenapa bukan istana yang terang dengan lampu-lampu yang banyak?” aku ikut berbisik.

“Karena seorang raja yang baik hati lebih memilih tinggal dalam kegelapan daripada tinggal dalam cahaya terang-benderang yang membuat rakyatnya sengsara.”

Baca juga: Yang Lebih Hebat dari Kata Rindu – Cerpen Maya Sandita (Republika, 26 Januari 2020)

Kalimat terakhir ibu terhenti. Sebuah ruangan dibuka oleh pengawal istana. Ada lubang seluas kepala ibu yang menghubungkan dengan ruang di sebelahnya. Dibatasi oleh dinding kaca. Dan … yang kami tunggu itu muncul juga. Bapak … hanya wajah Bapak.

“Bapak … Bapak…,” pekikku. Aku segera menghambur ke arah Bapak. Tapi sayang sekali, kami terhalang oleh dinding itu. Bahkan tangan Bapak begitu sulit untuk disentuh.

“Bapak…” Pipik pun mengikui tingkahku.

Bapak terlihat berusaha ingin memeluk kami. Begitu pun juga aku dan Pipik. Dia tersenyum. Kami pun juga, namun kali ini dibarengi dengan air mata. Aku benar-benar rindu Bapak.

“Ini istana Bapak? Tapi kenapa seperti penjara? Penjara itu tempat orang-orang jahat.” Aku segera menggeser posisi Pipik yang dari tadi menguasai lubang itu.

“Istana Bapak adalah penjara, tapi bapak bukan orang jahat, kalian percaya Bapak, bukan?!”

Aku mengangguk. Tersenyum. Bapak pun begitu. Seingatku, Bapak adalah orang yang paling baik di dunia. Dia suka membantu banyak orang. Juga ramah pada semua orang. Tidak mungkin bapak menjadi orang jahat. Mungkin saja keberadaannya di tempat ini yakni untuk membantu orang-orang jahat yang berada di dalamnya. Membantunya untuk kembali pada kebaikan.

Bapak tiba-tiba melakukan tingkah aneh. Memperlihatkan telapak kakinya. Aku dan Pipik jelas saja terkejut. Gambar terakhir kami masih ada di sana.

Baca juga: Musnahnya Hutan Larangan – Cerpen Bahagia (Republika, 19 Januari 2020)

“Setiap kali warnanya sudah hampir pudar, bapak kembali menebalkannya.” Bapak masih memamerkan senyumnya dari sana. “Bapak masih akan tetap melakukannya sampai akhirnya nanti Bapak benar-benar pulang ke rumah.”

Hujan gerimis membawa kami meninggalkan istana Bapak. Pulang. Kata Bapak, pulang ke rumah ketenangan. Baik Pipik maupun aku tak bertanya macam-macam lagi, tentang apa itu rumah ketenangan. Ibu hanya bilang, bahwa besok-besok kami akan menghadapi kehidupan yang jauh berbeda.

Sepanjang jalan pulang, wejangan Ibu mengalir terus dari mulutnya, tentang kebaikan yang nantinya akan menang juga, dan kejahatan yang seberapa kuat disembunyikan akan muncul pada akhirnya. Aku sama sekali belum mengerti, mungkin Pipik juga, tentang semua yang tiba-tiba drastis terjadi pada keluarga kami, juga kebaikan dan kejahatan yang seperti diucapkan oleh Ibu barusan. Tapi kata Ibu lagi, karena kami masih kecil dan akan tiba saatnya nanti untuk mengerti.

Chaery Ma kelahiran Wantampone, Sulawesi Selatan, penikmat teh hangat dan menyukai segala hal tentang pagi dan senang naik becak. Sudah mulai menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Cerita anak “Rumah Hujan” karyanya terpilih sebagai 20 cerita anak terbaik 2016 Badan Bahasa.