Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 23 Februari 2020)

Karena Hantu Itu Tidak Ada ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Karena Hantu Itu Tidak Ada ilustrasi Budiono/Jawa Pos

BONG Jung, pamanku, tak pernah kembali dari kematian seperti halnya tokoh-tokoh dalam cerita realisme magis maupun kisah-kisah horor. Tetapi, setiap orang di rumah kami tahu betul kalau ia masih berada di antara kami. Seolah-olah ia memang tak pernah pergi ke mana-mana selepas malam celaka itu. Ya, ia selalu hadir di tengah-tengah kami sekalipun tak terlihat, sekalipun hanya berwujud bisik-bisik di antara kami yang kerap kali kelewat mencemaskan. Meskipun, kau tahu, kadang kala menurut nenekku, ia bakalan nampak juga pada pantulan cermin. Ya, cuma menurut nenekku saja.

”Ia masih belum mengganti piyama tidur yang dipakainya saat ia dibawa,” kata nenek dengan sepasang mata berbinar-binar, ”Ia tetap seganteng dulu. Kukira ia bakal terlihat sedih dan pucat. Tapi tidak, wajahnya nampak segar dan bahagia. Dan ia tersenyum waktu aku memergokinya lewat di depan cermin. Oh, anak laki-lakiku yang disukai banyak gadis!”

Ayahku terdengar bersendawa. Namun, nenek tetap melanjutkan cerita tentang putra sulung kebanggaannya itu dengan mata perlahan berubah jadi sayu.

Ya. Selain nenekku, memang tak seorang pun dari kami yang pernah melihat pantulan bayangan paman di cermin. Namun, sekali lagi, kami semua tahu bahwa ia memang tak pernah meninggalkan kami, bahwa ia tetap tinggal di tengah-tengah kami sebagai cerita yang terus-menerus diulang.

Tentu aku sangat berharap bisa memergoki bayangan Paman Bong Jung yang terpantul di permukaan cermin itu. Barangkali ia akan tersenyum kepadaku atau cuma melintas di depan cermin besar di dinding toko kami. Bahkan hanya bisa menyaksikan bayang-bayang tubuhnya di bawah terang lampu (sebagaimana juga sempat dilihat nenekku di dapur) pun sudah cukup melegakan diriku. Sehingga aku bisa tidur lebih nyenyak tanpa harus terbangun di tengah malam karena bermimpi hidup kembali sebagai robot setelah mati lantaran otakku dipindahkan ke mesin.

Baca juga: Matinya Seorang Peladang – Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 25 Agustus 2019)

Tetapi tidak. Tak seorang dari kami, kalian tahu, bisa melihat bayangan paman, kecuali nenek. Seakan ia hanya berkenan menunjukkan diri kepada ibunya. Tidak seperti orang-orang yang sudah mati di keluarga lain. Yang terdengar begitu kerap menyambangi keluarga mereka. Baik dengan menampakkan diri secara terang-terangan maupun membuat suara menakutkan, atau bahkan merasuki salah satu anggota keluarga. Terutama pada hari-hari besar seperti Chit Ngiat Pan dan Chin Min, ketika orang-orang menggelar sembahyang untuk para arwah.

”Hantu itu tidak ada,” kata ayahku suatu kali saat kami berdua sedang membakar uang arwah untuk mendiang kakekku di sebuah tong besar seusai sembahyang Tahun Baru China. Waktu itu aku masih duduk di bangku SD.

”Kalau begitu, untuk apa kita membakar uang-uang hantu ini?” tanyaku sambil memperhatikan kertas-kertas kuning tebal itu perlahan mengabu dilahap api yang bernyala-nyala dalam tong bekas minyak tanah.

”Ini hanya untuk menghormati kakekmu semasa ia masih hidup,” jawab ayah sembari melemparkan setumpuk uang lagi ke dalam tong. Kemudian, dengan mimik serius, ia melanjutkan, ”Kita memang harus selalu mengingat jasa orang tua dan para leluhur. Tetapi, orang-orang kita, kau tahu, sering kali keterlaluan dalam menafsirkan kata-kata bijak Kong Fuzi.”

Jelas aku merasa kecewa pada jawabannya itu. Bayangan wajah kakekku yang semringah menerima banyak uang kiriman kami serta-merta menjadi buyar. ”Berarti sia-sia saja kita bakar uang ini untuk kakek,” dengusku, meletakkan tumpukan uang arwah di tanganku, urung melemparkannya ke dalam tong. Ayahku kaget, ”Eeh…”

Aku tidak pernah takut kepada hantu. Tidak seperti sejumlah kawanku yang langsung berubah jadi pias setiap kali ada yang mengisahkan cerita-cerita angker atau si Sasha, pacarku ketika SMA, yang tak pernah mau diajak menonton film-film horor. Bahkan, sekali waktu ia sempat mengaku kepadaku bahwa ia baru saja menyaksikan penampakan seorang tetangganya yang sudah meninggal dunia.

”Awalnya, aku tak sadar sama sekali saat bibi itu menyapaku di jalan. Setelah ia lewat beberapa menit, barulah aku teringat bahwa orang itu sudah mati! Kurasa aku kencing di celana…” ia menangis dalam pelukanku.

Baca juga: Jenderal Buta Hurup – Cerpen Adam Gottar Parra (Jawa Pos, 09 Februari 2020)

Waktu kecil aku pernah melihat rambut orang mati nongol di gundukan makam tua ketika mencari buah karet di bukit belakang ruko untuk taruhan. Dua temanku lari pontang-panting, tapi aku justru berjongkok untuk mengamati rambut yang melekat di tengkorak yang separo menyembul ke permukaan tanah itu. Aku juga pernah kencing di batang beringin samping sekolah yang terkenal angker dan tidak terjadi apa-apa. Tak seperti seorang kakak kelasku yang sampai kencing nanah tak lama setelah melepaskan hajatnya di bawah pohon rimbun dengan akar menjuntai itu.

Mau berapa kali pun aku melewati tempat-tempat yang diyakini angker oleh orang-orang, tak satu pun makhluk halus yang berkenan menampakkan diri kepadaku meski hanya berupa bayang-bayang. Tampaknya hantu-hantu dan segala jin itu telah bersekongkol untuk menjauhiku. Dan ini menyedihkan. Padahal, aku sudah bertekad menemukan bukti untuk membantah ayahku yang ngotot bahwa hantu itu tidak ada…

***

NAMUN demikian, toh Paman Bong Jung masih saja terus menghantuiku sebagaimana Robocop. Keduanya sama-sama menyiksaku dengan pertanyaan tentang kehidupan sesudah mati. Ya, walau sesungguhnya aku tak pernah benar-benar mengenal kakak tertua ayahku ini, selain dari foto-fotonya yang tersimpan dalam tumpukan album foto dan tentu saja dari cerita yang terus-menerus diulang dalam keluargaku itu.

”Dinding, lantai, dan genting punya telinga,” ujar ayah. Dulu aku tidak memahami apa yang ia maksud tersebut. Juga ketika ibu mewanti-wantiku agar aku tidak menceritakan apa pun yang kudengar tentang Paman Bong Jung kepada sembarang orang, terutama teman-temanku di sekolah.

”Termasuk cerita nenek soal penampakan bayangan paman di cermin?” tanyaku kala itu. Ibuku tertawa kecil, tetapi kemudian menatapku dengan serius, katanya lagi, ”Kita tidak tahu siapa saja yang diam-diam tidak menyukai kita. Yang jelas, pamanmu itu dulu punya banyak musuh. Kau tidak mau kan ayahmu dibawa ke tangsi?”

Aku menggeleng dengan kaget. Seketika teringat olehku tukang kaleng tetangga sebelah ruko kami yang dijemput paksa oleh polisi dan petugas keamanan perusahaan timah. Semua orang sudah terlelap ketika itu. Kata ibuku, itu menjelang dini hari, tetapi aku yang terbangun dengan syok mana bisa memahami waktu? Yang jelas, semua orang saat itu, termasuk para tetangga lain, terbangun oleh teriakan-teriakan yang disertai suara gedoran keras di pintu ruko Paman Ho. Tak ada di antara kami yang berani bersuara. Kurasa pintu ruko tetangga kami itu nyaris didobrak sebelum seseorang –entah siapa, mungkin salah satu putra tertua Paman Ho– terpaksa membukakan pintu. Terdengar suara isak dan jerit ketakutan dari ruko sebelah yang cuma dibatasi dinding kayu: ratap tangis istri dan anak-anak Paman Ho yang jumlahnya selusin.

Baca juga: Menyusu Ibu – Cerpen Dian Supangkat (Jawa Pos, 02 Februari 2020)

Nenekku tiba-tiba ikut menangis. Tersedu-sedu.

”Mama… Ssssttt…!!” ayahku mendelik.

”Bong Jung… Anakku!” Nenek malah tersedu cukup keras.

Kembali terdengar suara-suara bentakan dari sebelah dinding, ”Ho, turun kau! Turun!” Kemudian disusul bunyi tangga kayu berderak-derak dinaiki sepatu-sepatu berat.

Jauh hari setelah kejadian tersebut barulah kami mengetahui bahwa malam itu Paman Ho terkencing-kencing di bawah ranjangnya di lantai atas. Ia dibawa ke tangsi dengan tuduhan membeli batangan timah untuk solder dari seorang penadah timah curian. Tetapi, toh ia kembali dalam keadaan hidup dua tahun kemudian. Hanya jauh lebih kurus dan dengan mata picak sebelah.

”Mereka juga membawa pergi kakakku menjelang dini hari seperti itu,” kata ayahku lirih setelah menandaskan sisa kopi di cangkirnya. Ya, begitulah. Cerita yang sudah tak terhitung lagi berapa kalinya dikisahkan di rumah kami itu akhirnya menemukan lagi sebuah cara baru untuk dibuka. Tentu dengan nenekku yang memiliki ingatan paling terperinci mengenai segala kejadian. Beliau bahkan masih ingat pukul berapa lewat berapa menit orang-orang berseragam itu datang menjemput pamanku, juga berapa jumlah mereka dan bagaimana persisnya suasana malam celaka itu.

***

”TOKO si A Men waktu itu baru berpintu satu. Guru Liu masih hidup dan saban sore datang untuk minum teh bersamaku,” demikian nenek bergegas menyambut pembukaan kisah dari ayahku.

”Orang-orang selalu mengira kami punya hubungan di masa lalu,” nenekku lalu tertawa sampai matanya tinggal segaris. ”Tapi, itu cuma obrolan tukang gunjing. Guru Liu itu penikmat teh akut. Katanya, hanya teh buatanku yang seduhannya terasa seperti teh di kampung halaman. Ya, kalian tahu, istrinya sendiri lahir dan dibesarkan di sini…”

Kemudian, nenek mendongak, matanya mulai tampak berkaca-kaca. Kami bisa melihat dengan jelas bagaimana senyum memudar dari bibir dan wajah keriputnya.

Baca juga: Mitos Upacara Chúxī – Cerpen Risda Nur Widia (Jawa Pos, 26 Januari 2020)

”Entah kenapa malam itu begitu senyap, jauh lebih sunyi dari biasanya. Tak terdengar suara para tukang ronda, juga tak ada salakan anjing atau ngeongan kucing-kucing yang biasanya suka bikin gaduh di atas genting. Bahkan, pada malam itu Paman Chong tidak terdengar batuk-batuk. Ah ya, kata si Afung menantunya, rupanya malam itu Paman Chong tertidur pulas setelah minum obat herbal racikan Dokter Ng…”

Nenekku ketika itu sudah berusia hampir 90 tahun. Tetapi, ingatannya sama sekali belumlah memudar, seperti pula halnya penglihatan beliau yang kembali pulih menjelang usia 70-an. Tentu saja ia masih mengingat peristiwa-peristiwa besar yang terjadi susul-menyusul sebelum itu.

”Semuanya diawali oleh penampakan sapu besar di langit…” suara nenek seperti tercekat. ”Komet,” potong ayah cepat sambil menoleh kepadaku. Ya, penampakan komet berbentuk seperti sapu raksasa itu terlihat oleh semua warga kota kecil kami. Ia lewat begitu dekat seolah-olah hendak menyapu atap-atap ruko, kata nenek.

”Semua orang ketakutan saat itu. Orang-orang belajar dari pengalaman serupa ketika pada tahun 1942 Dewa Kwan Kong menampakkan golok panjangnya di langit. Dan tak lama Jepang pun tiba. Tapi, kala itu kita hanya bisa menduga-duga bencana besar apa lagi yang bakal terjadi…”

Nenek terdiam untuk beberapa lama sehingga hal itu lagi-lagi memberiku efek ketegangan yang sedikit mencekam. Barulah setelah menanyakan apakah jemurannya sudah diangkat oleh ibuku, ia meneruskan penuturannya.

”Awalnya, kita hanya tahu bahwa Soekarno sakit dan sedang diobati oleh dokter dari Tiongkok. Si Ajung waktu itu bilang kalau presiden sampai meninggal, tentara akan merebut kekuasaan,” nenek terdengar menghela napas. Dan ayahku kembali memotong, ”Ternyata mereka memang sudah berencana untuk mendahului karena khawatir presiden keburu meninggal dan kaum komunis akan memenangi pemilu.”

”Sampai akhirnya kita benar-benar mendengar adanya gerakan militer yang mencoba menggulingkan Soekarno,” nenek melanjutkan tanpa menghiraukan ayah. ”Ya, kita semua lega mendengar ia selamat dan jenderal-jenderal yang hendak melakukan kudeta telah diamankan. Tapi, tak lama kemudian berita sebaliknya diumumkan berulang-ulang oleh tentara lewat radio. Waktu itu kakekmu ikut mendengarnya di rumah Aliong. Mereka mengatakan, ada tujuh perwira diculik dan dalangnya adalah orang-orang komunis yang mau kudeta. Berita-berita selanjutnya jadi kian simpang siur dan sulit dipercaya. Katanya, tentara terpaksa mengambil alih kekuasaan untuk selamatkan negara dan Soekarno ditahan… Lalu, orang-orang komunis mulai diburu seperti babi hutan.”

Baca juga: Perempuan yang Tidur Menghadap Tembok – Cerpen S. Jai (Jawa Pos, 19 Januari 2020)

Tentu saja cerita-cerita itu berbeda jauh dengan apa yang aku baca di buku pelajaran PSPB atau yang kudengar dari guru-guruku sejak kelas satu SD.

”Buku dan guru-gurumu itu bohong semua,” ujar ayahku sambil nyengir. Tetapi, seperti biasa, ia pun terburu-buru menambahkan, ”Eit, tapi jangan kau tanyakan kepada gurumu atau kau ceritakan kepada teman-temanmu di sekolah, ya? Ingat baik-baik, bocah!”

Aku hanya bisa mengangguk lemah.

***

BETUL, ada terlalu banyak kenangan di rumah –tepatnya ruko– kami yang membuat Paman Bong Jung terus-menerus menghantui kami sekalipun yang disebut hantu itu memang tidak ada. Barangkali karena ia terlampau kami cintai atau lantaran kepergiannya yang begitu menyedihkan, pikirku sekarang.

Tengok saja bagaimana dulu mendiang nenekku tak henti-henti mengisahkan betapa cerdasnya paman, yang empat kali lompat kelas sehingga bisa menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah lebih cepat daripada anak-anak lain, yang pernah disebut-sebut banyak orang Tionghoa di kota kecil kami sebagai revolusioner muda di Nanyang. Selalu ada kebanggaan yang tersirat jelas dalam suara beliau, juga tersaput di wajah tuanya jika berkisah atau menyebut nama Paman Bong Jung…

”Kalau itu, aku tidak setuju! Ia sama sekali bukan seorang revolusioner. Itu mengada-ada,” dengus ayahku setiap mendengar kata itu terlontar untuk kakaknya dalam bahasa Hakka maupun Mandarin. Seorang teman lama paman memberitahuku bahwa semasa mereka masih menjadi siswa Zhonghua Xue Xiao, ayah dan Paman Ajung pernah berselisih paham. Bahkan, keduanya selayaknya musuh bebuyutan jika sudah bicara soal ideologi. Maklum, ayah adalah pendukung China Merah, sementara Paman Bong Jung seorang nasionalis, pengikut setia Kuo Min Tang seperti halnya kakekku.

”Ya, itu sebelum ia termakan konsep integrasinya Siauw Giok Tjhan,” ayah tetap saja terdengar ketus.

”Jadi, paman bukan komunis, kan?” tanyaku entah untuk yang keberapa kali.

”Bukan. Pamanmu itu bahkan benci pada ajaran komunis yang menurutnya mengingkari naluri manusia untuk berusaha,” nenek cepat-cepat menjawab sebelum didahului lagi oleh ayahku. ”Ia cuma mengajak orang-orang Tionghoa, terutama yang lahir di sini, untuk masuk warga negara Indonesia. Katanya kepada mereka, kita ini lahir, besar, dan cari makan di negara ini. Karena itu, sudah seharusnya kita mengabdi kepada negara ini. Bukan berarti kita melupakan Tiongkok. Tiongkok tetaplah negara leluhur yang kita hormati, tapi kita harus menjadi salah satu suku dari bangsa Indonesia. Aku telah melihat jauh ke depan,” ujarnya.

Baca juga: Monolog Angka – Cerpen Whani Darmawan (Jawa Pos, 12 Januari 2020)

Tetapi, orang-orang berseragam itu tetap saja menggedor pintu ruko kami seperti kerasukan setan bersamaan dengan disingkirkannya Soekarno. Kendati Paman Bong Jung tak pernah mencoba lari atau bersembunyi, bahkan di malam celaka itu dengan tenang dibukakannya pintu untuk mempersilakan orang-orang yang datang menjemputnya masuk.

”Ya, karena ia masuk organisasi kaum peranakan yang apa namanya itu. Aiss, aku masih sulit mengejanya sampai sekarang…” cerita nenek terhenti, lalu beliau terbatuk-batuk kecil sehingga ibuku bergegas menuangkan untuknya secangkir teh dari teko.

”Baperki,” tukas ayahku akhirnya. ”Ya, hanya karena PKI sering mendukung Baperki sialan itu dalam membela nasib orang-orang Tionghoa, mereka juga dianggap bagian dari PKI,” kali ini suara ayah terdengar antara campuran geram dan sedih. Kami semua kemudian sama-sama terdiam. Ayahku sendiri, meskipun seorang pemuja Mao, tak pernah berkenan bergabung dengan PKI. Kendati PKI sering ikut memperjuangkan hak-hak orang Tionghoa, kendati PKI begitu dekat dengan Tiongkok.

”Itu partai politiknya orang Indonesia. Aku bukan orang Indonesia,” sesederhana itu alasannya kepada kami. Barulah pada tahun 1981, setelah aku berusia lima tahun, ia bersedia mendaftarkan dirinya menjadi WNI.

”Memangnya masih ada pilihan lain?” tanyanya gusar, ”Kalau si Ajung itu dulu tidak memohon-mohon kepada ayah kami agar tetap tinggal, kita semua sekarang sudah berada di Tiongkok.”

”Tapi, tidak anak-istrimu! Kalau kau dulu pulang ke Tiongkok, kau tidak akan menikah dengan Amui. Dan bisa saja kau terbunuh saat Revolusi Kebudayaan seperti putra bungsunya Liu Kong Fui itu,” tukas nenek tajam, tetapi kemudian melirikku dengan tatapan melembut.

***

AH, ada atau tidaknya hantu, pamanku Bong Jung memang tidak pernah kembali sejak dibawa malam-malam 54 tahun yang lalu. Tidak dalam keadaan hidup seperti si tukang kaleng tetangga kami, tidak juga sebagai arwah penasaran seperti orang-orang yang sudah mati di keluarga lainnya sebagaimana yang sering kudengar.

Meski demikian, seperti yang telah aku katakan di awal, ia dan kisah-kisahnya tidaklah pernah sudi meninggalkan kami, seolah-olah begitu ngotot untuk terus menghantui kami sebagai kenangan indah maupun sedih; sebagai kecemasan, amarah terpendam, dan rasa tidak berdaya yang –kalian tahu– cukup menggiriskan…

Dan saat menuliskan semua ini, entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa ingin sekali membakarkan uang arwah untuk dirinya dan membayangkan ia membeli pakaian baru di alam sana untuk mengganti piyama tidurnya. (*)

 

Belinyu, Januari–Februari 2020

Sunlie Thomas Alexander. Lahir di Belinyu, Bangka, pada 7 Juni 1977. Menulis cerpen, puisi, esai, kritik sastra, dan catatan sepak bola. Saat ini sedang merampungkan novel pertamanya, Kampung Halaman di Negeri Asing, sembari berasyik-khusyuk dengan mobile photography.