Cerpen Komala Sutha (Medan Pos, 23 Februari 2020)

Bukan Persinggahan Sesaat ilustrasi Istimewa
Bukan Persinggahan Sesaat ilustrasi Istimewa

Aku diam terpaku. Menatap mata elang di hadapanku dalam-dalam. Aldi tersenyum kecut. Ditarik nafasnya sebentar. “Aku paling nggak suka diatur. Baru dua bulan pacaran, Vina udah banyak ngatur aku. Terlalu banyak ngendaliin aku. Dia kira, aku anak ingusan yang mau aja menurut apa yang dia omongin?”

“Vina care ama kamu, Al. Semua yang dia mau kan, demi kebaikan kamu juga.”

“Menurut kamu, aku tinggalin aja cewek itu, Rin?”

Aku menarik nafas panjang. Aku paling bingung kalau Aldi minta saran untuk kelangsungan hubungannya dengan seorang cewek.

“Kamu masih cinta Vina?”

Aldi tak langsung menjawab. Dilengoskan kepala. Beberapa saat kemudian, dia menggeleng. Aku berdiri lalu meninggalkannya yang masih dibalut keraguan. Rasanya, aku mulai bosan menghadapi Aldi yang selalu menemuiku jika ada masalah, dalam urusan cinta kasihnya dengan cewek.- ceweknya.

***

“Boleh kan aku minta pendapat kamu?” mata elang Aldi melirikku.

“Pasti urusan cewek!” kulengoskan kepala. Angin sore meniup lembut rambut panjangku.

Baca juga: Semalam di Jatinangor – Cerpen Komala Sutha (Kabar Cirebon, 01 Februari 2020)

“Tau aja!” Aldi terkekeh, lalu menyandar di pintu mobil. “Kenal Tania?”

“Anak kelas sebelas yang jago basket di sekolah kita?”

“Yo!” Aldi menjentikkan jari. “Semalam, kami baru jadian. Dan malam Minggu ini, kami janjian mau nonton. Ada film baru di Twenty One. Mau gabung?”

Aku menggeleng lesu. “Aku sibuk.” Walaupun Aldi tahu aku suka banget nonton, tapi yakin ajakannya itu hanya basa-basi. Dan aku juga tak berniat ikut koq. Bisa-bisa kehadiranku merusak suasana mereka berdua.

“Aku duluan ya, Al!” segera aku menyetop taxi, tapi tangan Aldi dengan sigap meraih lenganku. Lalu dia memberi isyarat pada sopir taxi yang berhenti, supaya jalan terus tanpa membawaku. “Bentar bentar Rin, kamu lom ngasih pendapat.”

“Apa lagi sih?” kataku acuh. “Aku bukan juru bicara kepresidenan yang setiap saat bisa ngasih pendapat.”

“Gimana Tania?”

Aku menelan ludah. “Dia lincah, cantik dan menarik. Cocok ama kamu.”

“Hanya itu?” Aldi mengerutkan alis.

Aku tak bisa berbuat banyak. Tatapan mata orang yang ada di sekitar kami, membuatku pasrah. Akhirnya aku duduk manis di samping Aldi. Andai saja, aku duduk di sampingnya bukan sebagai sahabat tapi kekasih. Tapi segera kubuang jauh-jauh khayalanku itu. Aku tak boleh banyak berandai-andai. Aldi hanya menganggapku seorang sahabat saja. Tak lebih.

Baca juga: Tangisan Siapa di Balik Kamar itu? – Cerpen Bagus Sulistio (Medan Pos, 09 Februari 2020)

“Aku putus ama Tania,” kata Aldi sebulan kemudian.

“Aku nggak heran,” kataku.

“Nggak kamu tanya alasannya kenapa kami putus?”

Aku hanya menggerakkan kepala.

Lagi-lagi aku tak heran, ketika seminggu kemudian, dia datang ke rumah dengan membawa cerita cewek buruannya.

***

“Kamu kenal Fahima?”

Aku menghela nafas. Al, siapa sih cewek yang tak tertarik dengan pesona yang kamu tebar? Mata elang yang siap menyambar siapa saja. “Kenapa sih, kamu selalu minta pendapat aku?”

“Rin,” kata Aldi pelan lagi. “Wajar aja aku curhat juga minta solusi ama kamu. Soalnya, aku nggak pernah lakuin semua itu ama siapa aja. Cuma ama kamu, Rin. Bener! Karena bagi aku, kamu satu-satunya sahabat aku yang bisa ngertiin aku.”

Kutarik nafas panjang. Aldi menatapku. Kulengoskan kepala. Aku tak kuat membalas tatapan mata elangnya yang terasa menghujam jantungku. Sejauh ini, aku masih menyembunyikan perasaanku dan menguncinya dengan rapat. Jangan sampai Aldi tahu kalau aku begitu mengasihinya.

***

“Tumben, pagi-pagi udah kemari? Ini kan masih jam enam. Ada apa kamu kemari?”

“Nggak boleh?”

Baca juga: Muara Doa – Cerpen Rendi Syahputra (Medan Pos, 02 Februari 2020)

“Bukan gitu. Cuma nggak biasanya pagi-pagi kemari. Mestinya sekarang kamu kan pergi sekolah bareng Rena, gebetan baru kamu itu.” Ada rasa tawar saat kusebut kata ‘gebetan’.

“Kalo aku mau nganter kamu?”

“Itu sih hak kamu. Tapi gimana dengan…”

“Rena?” sela Aldi.

Aku tak menjawab. Lalu mendesah. Tiba-tiba resah menghinggapiku.

“Males bareng Rena.”

“Kalian kan lom sebulan jadian!”

Aldi menggapai tanganku, tapi tak berhasil.

“Ketimbang naik angkot, mendingan naik mobilku, kan? Bisa cepet sampe sekolah! Sambil nyari sarapan. Makan di mobil aja!”

“Kalo aku nebeng mobil kamu, bisa-bisa sampe sekolah, aku diamuk semua mantan pacarmu! Apalagi Rena. Bisa-bisa, aku dibikin cincang buat adonan cireng isi!” kataku lalu melangkahkan kaki. “Keburu siang nih!”

“Rin… Rin! Karina!” Aldi memburuku sampai keluar rumah.

“Aku mau naik taxi!” aku melenggang ke luar pagar.

“Rin!”

Baca juga: Mengapa Mereka Menjauh? – Cerpen Fahrul Rozi (Medan Pos, 19 Januari 2020)

Aku melirik melihat wajah Aldi yang tiba-tiba berubah. Tadi ceria, sekarang jadi murung. Ada apa gerangan? Seperti menyimpan luka. Aku mengernyitkan alis. Ada apa dengan Don Juan yang satu ini? Baru kali ini, kulihat dia berwajah seperti itu.

“Rin… aku ngerasa tenang dekat kamu.”

Aku mengeluh pendek. Ada sebersit kecewa di hatiku. Aldi selalu datang padaku dengan sejuta cerita gebetan barunya. Lalu setelah itu dia raib. Dan saat ketiban masalah dengan cewek itu, dia datang lagi padaku dan minta saran atau sekedar melepas uneg-unegnya. Dan selalu bilang, dia merasa tenang dekat denganku. Kadang aku bosan. Bosan mendengar kisah kasihnya yang tak bisa kupungkiri, membuat perasaanku tergores, perih.

“Aku… tempat pelarian, maksudmu?”

“Rin…”

“Aku… persinggahan sesaat, begitu?”

“Kamu ngerasa dan beranggapan seperti itu?”

Aku mengangguk.

“Keterlaluan kamu!”

Aku tersentak. Jelas sekali wajah Aldi yang sebelumnya murung, berubah. Matanya  membiaskan marah. Dia marah atas ucapanku barusan.

“Al!” tanpa sadar aku menahan cowok itu.

“Bukan maksudku…”

Baca juga: Malinda dan Marunda – Cerpen Hendy Pratama (Medan Pos, 19 Januari 2020)

“Aku ngerti perasaan kamu!” potong Aldi cepat. “Kamu udah malas bicara ama aku kan? Kamu udah nggak mau jadi sahabatku kan? Mungkn buat kamu, aku nggak ada gunanya. Aku cuma playboy yang sering nyakitin cewek tanpa perasaan! Tapi perlu kamu tau Rin, aku juga cowok yang masih punya perasaan. Aku pun punya cinta sejati!”

Gerimis turun membasahi jalan.

***

Ada ragu, ketika kakiku melangkah ke dalam. Tapi aku harus ketemu. Di sekolah, dia seperti setrikaan. Licin sekali, sulit ditemui. SMS-ku pun tak pernah dibalas. Biasanya, sesibuk-sibuknya dia dengan gebetan barunya, masih bisa dihubungi.

Kukira Aldi bakal menyambutku dengan sikap dingin dan wajah tak bersahabat karena masih menyimpan marah padaku. Tapi ternyata dugaanku salah. Seperti sebelumnya, dia memamerkan senyum menawannya. Dia belum melepas pakaian seragamnya.

“Al, aku sengaja dateng kamari. Aku mau minta ma’af ama kamu.”

“Ma’af untuk apa, Rin?” Aldi menatapku.

“Waktu terakhir kita ketemu, kamu kan ngambek?”

“Ooo… itu aku udah lupa, koq. Rin, kamu nggak perlu minta ma’af. Kamu nggak salah,”  kata Aldi serius.

“Aku siap koq nampung semua cerita kamu. Itu kan gunanya sahabat. Lagian kita kenal bukan hanya sebualan dua bulan, tapi udah dua tahun.”

“Walaupun, aku… ceritaaa… cewek lain?” ada nada ragu dalan nada suaranya.

Aku mengangguk. Tapi terasa hampa di ruang batinku ketika dia mengatakan cewek lain. Ada getar di hatiku. Kuberanikan menatap cowok tampan di sampingku. ”Rin, aku mau berhenti memburu cewek.  Sebenarnya, aku nggak pernah suka Vina, Tania, Fahima, Rena, juga cewek-cewek yang aku pacarin sebelumnya. Apalagi mencintainya. Nggak tuh!”

Baca juga: Guse – Cerpen Barokatus Jeh (Medan Pos, 12 Januari 2020)

Aku tak heran kalau Aldi tak pernah menyukai cewek yang pernah dekat dengannya. Karena dia tipe cowok yang mudah jatuh hati. Setelah itu, dengan mudah pula meninggalkan lalu mencari pengganti. Tapi aku heran, kenapa dia sampai berniat berhenti memburu cewek. Apa sudah menyadari atau… mungkin telah menemukan persinggahan terakhir. Kalau iya, alangkah beruntungnya cewek itu. Menjadi persinggahan terakhir Aldi.

Aku belum berkomentar. Tapi kelihatannya, dia bicara sebenarnya.

“Rin… tau nggak, kenapa selama kenal kamu, selama dua tahun ini, kelakuanku seperti itu? Kamu tau alasannya?”

Aku menggeleng.

“Karena aku suka ama seorang cewek. Tapi cewek itu kayaknya nggak punya perasaan yang sama dengan aku. Dia… nganggap aku, cuma sebagai sahabatnya aja. Padahal aku pengen lebih dari itu.”

“Dia udah nolak kamu?” hatiku bergetar hebat. Rasa cemburu menyelusup hatiku.

“Nggak, Rin. Dia nggak tau aku suka dia. Karena aku nggak pernah terus terang. Aku pendem sendiri perasaanku. Memang aneh juga. Ama cewek manapun begitu gampang aku bilang cinta, tapi ama cewek yang satu ini, nyaris nggak ada keberanian sedikit pun. ‘kali ama cewek lain, aku cuma iseng. Sedangkan ama cewek itu… didasari cinta!”

Aku terpana. Aldi cinta?

“Bener kamu cinta cewek itu?” aku meliriknya.

“Iya, Rin,” Aldi menatapku. “Udah dua tahun aku mendem sendiri cinta itu.”

“Kalo ternyata cewek itu juga suka ama kamu, gimana?” pancingku.

So, aku pasti bakal setia. Aku jadiin dia cewek terakhir dalam hidupku,” kata Aldi tulus. Baru kali ini kudengar dia bicara seserius itu.

“Kalo gitu, kamu nggak usah pendem perasaan kamu. Perjuangkan cinta kamu. Deketin dan dapetin dia!” usulku, padahal hatiku perih.

“Cewek itu… kamu, Rin!” pengakuan Aldi setelah keheningan mewarnai kami. Aku tercekat. Tak salahkah pendengaranku? “Aku serius. Sejak dulu, aku menyayangi kamu. Bukan hanya sebagai sahabat. Kalo aku pernah gonta-ganti cewek, itu aku lakuin, biar bisa nguji perasaan kamu. Biar kamu cemburu,” jelas Aldi sambil terus menatapku.

“Kamu… persinggahan terakhirku, Rin!” Aldi seperti menebak apa yang kutakutkan.

Aku semakin tertunduk. Aku tak tahu harus bicara apa. Kini bahagia mewarnai hatiku. Biarlah bias mataku yang mewakilinya, kalau aku pun teramat sangat menyayangi. Menyayangi Aldi, cowok yang selama ini mengisi ruang batinku.***

 

Bandung Barat, 2005