Cerpen Ilham Wahyudi (Bangka Pos, 23 Februari 2020)

Aku, Perempuan Itu, dan Kecoa ilustrasi Bangka Pos (1)
Aku, Perempuan Itu, dan Kecoa ilustrasi Bangka Pos 

Hujan baru saja usai. Airnya masih menggenang di teras rumah. Hujan memang sering turun beberapa hari ini. Sehingga menguras air menjadi pekerjaan yang mengasyikkan. Aku mengintip ke luar dari balik jendela kamar. Kulihat orang-orang sibuk menguras air di teras rumah mereka. Gerakan-gerakan yang serentak itu serupa pertunjukan tari kontemporer.

Kecoa-kecoa parit berhamburan keluar. Entah senang atau nestapa. Entahlah. Tapi kalau dihitung-hitung jumlah mereka tidak sedikit. Bahkan mungkin sudah bisa menjadi syarat untuk mendirikan sebuah negara kecoa.

“Hahaha… negara kecoa yang berantakan di terjang banjir, “ celetuk hatiku.

Aku terus saja memperhatikan kecoa-kecoa parit itu. Beberapa dari mereka ada yang hanyut dibawa arus parit yang deras. Beberapa ekor sibuk memberikan pertolongan. Sementara puluhan, mungkin juga ratusan ekor lagi terlihat seperti menggigil kedinginan.

“Lucu. Kecoa juga bisa kedinginan!” pikirku.

Perempuan!

Perempuan itu menangis di ponselku. Dia baru saja putus dari kekasihnya. Kekasih yang sudah tiga tahun ini mengisi hari-harinya menjadi indah. Berulangkali dia mengatakan menyesal tidak dapat mempertahankan hubungannya. Padahal dia sudah memberikan segalanya. Bukan hanya cinta dan kasih sayang. Tapi sesuatu yang lebih berharga pun sudah dia berikan. Namun kekasihnya memutuskannya begitu saja.

Suara petir dan kilat yang menyambar-nyambar serta hujan lebat seolah menjadi saksi hari yang memilukan itu. Bagaimana tidak. Alasan yang diberikan kekasihnya sangat tidak masuk akal. Ingin rasanya kutinju wajah laki-laki brengsek itu. Dia benar-benar sudah mencoreng wajah kaum Adam.

“Aku tidak mau jatuh cinta lagi. Aku juga tidak mau menikah. Aku benci dia. Dulu dia tidak pernah mempersoalkan penyakitku. Tapi sekarang penyakitku yang menjadi alasannya memutuskanku. Ini tidak adil, Gus. Ini tidak adil!”

Aku diam. Tubuhku seketika kaku dan mematung. Entah bahagia entah kecewa. Entalah. Dia masih juga menangis di telepon genggamku. Dan aku masih juga belum mampu bicara. Mulutku seperti dihimpit batu besar yang sulit untuk disingkirkan.

Kecoa- kecoa dapur itu lalu lalang di depanku. Mereka sepertinya menguping pembicaraanku dengan perempuan itu. Sesekali mereka mengembangkan sayapnya. Berkepak-kepak kencang serupa baling-baling pesawat terbang. Sejurus kemudian kecoa-kecoa itu pergi meninggalkanku.

Aku bingung harus mulai dari mana. Sejujurnya aku suka sekali padanya: perempuan manja yang menangis di telepon genggamku. Tapi dia, aku tak tahu. Pikiranku amburadul. Urat-urat di kepalaku terasa mengembang. Membesar mau pecah.

Terserahlah yang penting aku tidak mau dia menangis lagi! “Sudah jangan menagis. Lebih baik kau pikirkan kesehatanmu. Sekarang istirahatlah! Besok kau kan ada ulangan. Selamat malam.” Telepon putus.

“Bodoh!”

Cepat suara itu masuk ke sela-sela daun telingaku yang lebar. Aku kaget. Siapa pula yang berani memakiku? Sudah sejak dua hari ini Ayah, Ibu serta adik-adikku semua pergi berlibur ke luar kota. Aku sendirian saja di rumah.

“Kalau begitu tadi suara siapa? Jangan-jangan rumah ini ada setannya,” gumamku setengah percaya. Cepat kubalikkan tubuhku ke belakang. Mana tahu setan itu sudah ada sejak tadi di belakangku. Memperhatikanku sambil terus menunggu waktu yang tepat untuk menyerangku. Cepat kubalikan tubuhku. Sebuah lemari es tepat di hadapanku. Pelan-pelan dengan langkah yang sedikit bergetar kudekati lemari es itu.

“Gila besar sekali!” jeritku terkejut.

Bagaimana aku tidak menjerit. Bayangkan saja ukuran kecoa itu tidak seperti biasanya. Ia seperti mouse komputerku yang rusak. Aku diam keheranan. Selain ukuran kecoa itu yang tidak normal, aku juga masih penasaran dengan suara tadi. Suara yang memecahkan keheningan rumahku yang sepi.

“Ah, mana mungkin kecoa itu yang bicara padaku. Lagi pula kecoa seperti itu memang ada. Tapi paling cuma ada satu atau dua dalam seribu. Itu pun pasti raja atau ratu kecoa yang berumur beberapa tahun. Apa yang aneh?” gumamku dalam hati. Kutinggalkan saja kecoa itu lalu pergi berlalu menuju kamar tidur.

Baru saja aku mau membuka pintu kamar. Tiba-tiba kudengar suara itu lagi. Suara yang persis sama memakiku tadi. Tapi kali ini kalimatnya bukan bodoh, “Tolol! Untuk apa kau sembunyikan perasaan kau padanya,” lantang suara itu kudengar.

“Tolooong,” aku menjerit ketakutan. Degup jantungku menjadi sangat cepat. Rasanya aku baru saja lari seratus kilometer per menit. Tanpa henti.

Kali ini bukan kakiku saja yang bergetar. Tapi seluruh sendi tubuhku terasa bergoyang-goyang bagai sampan nelayan yang terombang-ambing di laut. Tak berani kubalikkan tubuhku. Aku buru-buru masuk ke kamar. Cepat kukunci pintu kamar rapat-rapat. Aku langsung meloncat ke kasur sambil menutup telingaku dengan guling.

Beberapa saat kemudian hening. Pelan kubuka telingaku yang sejak tadi tertutup guling. Mataku liar memperhatikan seluruh isi kamar. Seolah sedang menyelidiki sesuatu. Pintu kamar menjadi target pertamaku. Ah, ternyata tidak ada apa-apa di sana. Lalu kuperhatikan meja belajarku. Buku-buku pelajaranku terlihat masih utuh tersusun. Untuk sementara kondisi aman terkendali. Tapi aku merasa ada yang belum kuperhatikan. Apa, ya? O, jendela kamar ternyata.

“Sial,”pekikku.

Ternyata aku lupa kalau tadi sore jendela itu belum aku tutup. Dengan perasaan yang masih diselimuti ketakutan kudekati jendela kamarku. Di luar orang-orang masih saja sibuk menguras air sisa hujan tadi sore. Cepat kututup jendela kamar yang letih menganga seharian.

Kini aku merasa sedikit lega. Kuteguk air putih di gelas merah yang sejak tadi terdiam menungguku di atas meja belajar. Malam ini benar-benar menakutkan. Tapi perempuan itu. Ya, perempuan yang menangis di telepon genggamku tadi. Aku khawatir kalau-kalau dia bertindak nekat. Lamunanku terbang menyusul perempuan itu. Dulu pernah sekali waktu dia tidak mau makan hanya gara-gara aku tidak mau membacakan puisiku padanya. Padahal perutnya belum terisi apapun sejak pagi. Tentu saja aku tidak sampai hati melihatnya kelaparan hanya karena keegoanku. Dia memang perempuan yang manja. Semua keinginannya harus dituruti. Kalau tidak ada saja yang dia lakukan untuk mengancam.

Kenapa aku tiba-tiba jadi kuatir sekali padanya. Bukankah kami hanya berteman biasa. Tidak! Aku tidak boleh mencari kesempatan. Apalagi dalam kondisi seperti ini. Aku tidak mau dijadikan pelarian sesaat. Sekali lagi tidak! Lagi pula mana mungkin dia mau denganku. Baginya aku tidak lebih hanyalah seorang teman. Ya, teman. Tapi teman yang selalu ada setiap kali dia butuhkan. Duh, pikiranku kembali amburadul.

Tiba-tiba kurasakan perutku mau meledak. Sepertinya ingin mengeluarkan sesuatu. Beberapa kali aku dipaksa buang angin. Aduh. Sekarang perutku pula yang terasa makin sakit. Tanpa pikir panjang, cepat aku melompat dari kasurku. Dengan sedikit berlari kugapai pintu kamar. Di depan kamar mandi aku terhenti sejenak. Iringan-iringan kecoa dapur keluar dari kamar mandi. Diam kutunggu mereka keluar. Perutku makin sakit saja. Aku mulai tidak sabar dengan kecoa-kecoa dapur itu. Sssttt… kulompati mereka. Cepat kututup pintu kamar mandi.

“Busyet,” aku setengah menjerit. Kecoa raksasa itu tepat di hadapanku. Kali ini aku tidak bisa menghindar lagi. Sebab rasa sakit sudah mengalahkan rasa takutku. Tanpa pikir panjang kuulanjutkan saja misi muliaku. Baru aku selesai membuka celana panjang, lanjut membuka celana pendekku.

“Berhenti! Jangan kau pikir aku tidak malu melihat kau telanjang!” kecoa itu bicara padaku. Seketika rasa sakitku hilang. Hilang seperti ditelan tsunami.

“Kau bicara padaku?” tanyaku gemetar.

“Tolol,” ia balas menjawab.

“Apa kau bilang?” aku terpancing.

“Tolol. Apa kau tidak dengar? Aku sedang bicara padamu,” ia mengepakkan sayapnya. Aku semakin tidak sabar ingin menginjaknya. Cepat kupasang celana panjangku kembali.

“Enak saja kau mengatakan aku tolol. Kau pikir kau siapa?”

“Aku kecoa. Raja negeri kecoa. Apa kau lihat aku seperti setan. Dasar bodoh!”

Kali ini kepakkan sayapnya semakin kencang. Sepertinya ia ingin menyerangku.  Tidak tinggal diam, aku pun pasang kuda-kuda. Untung dulu aku pernah belajar bela diri di perguruan Bangau Terbang.

“Hei, aku bukan ingin mengajak kau berkelahi. Aku cuma ingin mengatakan sesuatu padamu. Menurutku kau ini laki-laki yang tolol. Kesempatan datang tapi kau sia-siakan begitu saja,” kecoa itu menceramahiku.

“Maksudmu?” Aku mulai pitam.

“Begini, perempuan yang menelepon kau tadi itu sebenarnya sangat menyukaimu. Hanya saja dia tidak mungkin mengatakannya langsung padamu. Kaukan laki-laki mana mungkin tidak mengerti,” katanya penuh semangat.

Kepalaku tambah pusing. Mendengar dia berbicara saja aku sudah bingung. Apalagi ditambah dengan peryataannya yang tanpa bukti itu.

“Bagaimana mungkin kau tahu isi hatinya. Lagi pula mana mungkin aku percaya dengan kecoa hitam jelek sepertimu.”

“Kau benar-benar keterlaluan. Bukannya berterima kasih malah menghinaku pula. Tapi sudahlah. Perlu kau tahu, aku sudah lama tinggal di rumah perempuan itu. Kerajaanku yang megah juga berada di kamar perempuan itu…”

“Lantas apa hubungannya dengan kerajaanmu,” tanyaku bingung.

‘Makanya kau jangan memotong pembicaraanku. Bagaimana kau bisa mengerti kalau kau memotong pembicaraanku!”

“Sudahlah. Lanjutkan!”

“Setiap malam sebelum tidur perempuan itu selalu membaca puisimu. Ia juga sering menyebut namamu berkali-kali. Dan yang paling penting perempuan itu sebenarnya tidak punya kekasih, tahu! Jadi apa lagi yang kau ragukan?”

“Sumpah aku masih belum mengerti maksudmu?”

“Kau memang tolol….tolol!”

“Sudahlah jangan memakiku terus. Katakan saja yang jelas biar aku tidak tambah bingung dengan semua ini. Tolong!”

Kecoa itu menghela nafas. Kali ini sayapnya tak lagi berkepak.

“Tadi dia berbohong soal kekasihnya. Dia itu suka padamuuuuu……………,” kecoa itu menjerit padaku.

“Maksudmu perempuan itu menyukaiku. Begitu?” tanyaku heran.

“Iyaaaaaaaaaaaaaaaa goblokk!” jeritnya kesal.

“Terima kasih kecoa jelek,” aku tersenyum lebar.

Spontan aku meloncat kegirangan seperti bocah empat tahun yang dibelikan mobil-mobilan di pasar pagi oleh ibu. Kutinggalkan saja kecoa itu di kamar mandi. Segera kuambil ponselku di atas meja belajar. Tidak sabar langsung kupencet nomor ponsel perempuan itu. Aku sudah tidak memperdulikan waktu lagi. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.

Tut…..tut…..tut……tut…

Jantungku berdebar menunggu ia mengangkat teleponku. Aku mondar-madir di kamar seperti seorang ayah yang sedang menunggu bayi pertamanya lahir.

“Halo,” ia menjawab lebih dulu.

“Iya. Halo,” jawabku gemetar.

“Iya. Ada apa, Gus? Kok malam-malam telepon Dara?

“Eee..,” mulutku kaku. Aku sudah paksa tapi sulit sekali kurasa.

“Kenapa, Gus?”

“Aku…aku…ee..e..”

“Sudahlah ,Gus. Dara sudah tahu kok.”

“Maksudmu?” jantungku semakin kencang berguncang.

“Kecoa itu tadi datang ke rumah Agus, bukan?” Dara menjawab lembut.

“Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…”

 

Jakarta, 2020.

Ilham Wahyudi. Lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Alumnus FISIPOL Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Aktif menulis puisi, cerpen, esai di beberapa media lokal dan nasional: Analisa, Harian Global, Sumut Pos, Medan Bisnis, Surabaya Post, Radar Surabaya, Suara Pembaruan, Lampung Post, Kompas Online, Waspada, Seputar Indonesia, Koran Tempo, Mimbar Umum, Jurnal Medan, Majalah Esquire,  dan Bali Pos. Puisinya juga termaktup dalam antologi Penyair Muda Malaysia-Indonesia 2009. Selain itu, ia juga menulis skenario film. Beberapa kali terlibat pementasan teater di Medan dan Yogyakarta, juga pernah menjalani profesi sebagai pembaca puisi di atas bus kota: Medan dan Jakarta. Saat ini bergiat di D’lick Theatre Team di Taman Budaya Sumatera Utara, komunitas HP (Home Poetry) , komunitas Kun, dan aktif di salah satu komunitas film di Medan (Lt2 Art Community)