Cerpen Ilham Wahyudi (Minggu Pagi No 46 Tahun 72 Minggu III Februari 2020)

Perempuan Masa Lalu ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi-1
Perempuan Masa Lalu ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

BARU saja saya hendak masuk ke kamar hotel. Sekonyong-konyong seorang perempuan memegang tangan saya. Lalu mendorong pintu kamar hotel dan menarik saya masuk ke dalam.

“Saya bukan orang jahat,” katanya.

Saya terdiam. Tak menyangka yang baru saja terjadi. Bagaimana perempuan itu bisa ada di sekitar kamar saya, sedangkan hotel sudah disterilkan dari siapa pun yang tidak berkepentingan dengan acara yang sedang saya ikuti.

“Masih kaget, ya? Jangan takut! Saya akan ceritakan maksud saya.” Perempuan itu mencoba menenangkan saya.

Saya masih diam. Sambil memerhatikannya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rambutnya hitam sebahu. Matanya bulat. Kulitnya putih. Bibirnya tipis dan hidungnya mancung seperti keturunan orang Eropa. Cantik.

“Ada perlu apa Anda dengan saya? Saya tak mengenal Anda sama sekali.”

Dia diam. Gantian memerhatikan saya.

“Kata siapa kamu tak mengenal saya!”

“Memang betul kok saya tidak mengenal Anda! Mengapa Anda ngotot? Hei, saya bisa saja berteriak, dan Anda akan ditangkap!”

“Kamu mau berteriak? Minta tolong? Haha… yang ada saya yang akan ditolong. Lagi pula, kamu itu seharusnya kenal saya. Berkat orang seperti saya inilah sekarang kamu bisa berada di tempat ini, di acara yang kamu ikuti ini.”

Baca juga: Perempuan Nyaris Gila di Kota yang Hilang Tiga Perempat Bagian – Cerpen Chikma W Putri (Minggu Pagi No 45 Tahun 72 Minggu II Februari 2020)

Benar juga katanya. Bisa-bisa saya yang dituduh ingin memerkosanya. Brengsek! Dia mulai membuat saya pusing.

“Ok. Sekarang apa mau, Anda?”

Perempuan itu mengeluarkan rokok dari sakunya, kemudian membakarnya. Dia begitu menikmati tarikan rokoknya. Saya sabar menunggu jawabannya.

“Bukannya sudah saya katakan, berkat orang seperti sayalah kamu bisa seperti sekarang ini. Kira-kira, apa yang pantas seharusnya kamu lakukan kepada orang yang telah membuat kamu seperti sekarang? Lima belas tahun lalu saya yang mendandanimu hingga terlihat kinclong dan keren. Saat itu kamu akan kasting sebuah iklan permen pengharum mulut. Iklanmu kemudian sukses. Dan sejak itu tawaran untukmu tidak pernah putus. Ingat tidak?”

Mendandani saya 15 tahun yang lalu? Sumpah saya benar-benar lupa. Seingat saya tidak pernah ada yang mendandani saya secantik dirinya. Bahkan sampai hari ini saat saya sudah begitu terkenal. Lagi pula dia pasti sudah mendapat upah dari hasil kerjanya. Kenapa jadi saya yang harus balas budi. Jelas sudah ini motifnya. Ingin memeras saya. Bukankah orang setenar saya sering dijadikan target pemerasan. Macam-macam alasannya. Malah sampai ada yang mengaku hamil segala. Tak akan saya ikuti maunya!

“Apa urusan saya dengan Anda yang mendandani saya? Itukan sudah tugas Anda, jika pun itu benar Anda yang melakukan. Sudahlah, Anda telah membuat kesa-baran saya hilang. Lebih baik Anda keluar sebelum saya melakukan hal yang membuat Anda menyesal seumur hidup.”

“Oh, mengancam? Baiklah. Saya akan pergi. Tapi ingat, saya akan datang lagi dan meminta apa yang menjadi hak saya!”

Baca juga: Pesan Keabadian – Cerpen Rudi Riadi (Minggu Pagi No 44 Tahun 72 Minggu I Februari 2020)

Perempuan itu membuka pintu kemudian membantingnya. Saya susul dia karena penasaran. Ya, penasaran bagaimana cara dia masuk ke kamar saya. Bagaimana dia bisa melewati penjagaan super ketat. Saat membuka pintu kamar, saya tak melihatnya lagi.

Dia seperti hilang tersapu angin. Saya mengerutkan dahi. Jelas-jelas saya berdebat dengan perempuan itu tadi. Apa hotel ini ada hantunya? Tidak mungkin! Setahu saya hotel ini paling bagus dan paling mewah. Lagi pula dia juga sempat memegang tangan saya. Tidak mungkin  perempuan itu hantu!

***

PONSEL saya berdering. Viola pacar saya menelepon. Ia meminta saya membukakan pintu pagar. Katanya ia tak mau kena panas  matahari. Ia memang pacar saya yang paling manja dari sekian banyak perempuan yang pernah saya pacari. Mungkin itu yang membuat saya jadi sangat betah dengannya. Biasanya tidak pernah lebih satu tahun bila berpacaran.

Saya bergegas ke kamar mandi. Hari ini saya ingin mengajaknya menginap ke puncak. Telat dari jadwal yang sudah kami sepakati hanya akan membuat perang dunia meletus. Saya pun jadi buru-buru. Saat ingin melepas seluruh pakaian, saya dikejutkan hadirnya sesosok perempuan di hadapan saya.

“Sudah jangan panik! Kamu tidak mau pacar kamu tahu saya ada di sinikan?”

Kemudian dia menyalakan kran air. Mungkin  ingin mengesankan saya sedang mandi. Hanya saja saya masih tidak habis pikir bagaimana dia bisa masuk ke rumah? Ke kamar mandi lagi.

“Cukup! Saya menyerah. Kehadiran Anda di hotel tempo hari telah membuat saya pusing bukan kepalang. Baik, saya akan ikuti mau Anda. Sebutkan berapa yang Anda minta?”

Baca juga: Rumah Belakang – Cerpen Luhur Satya Pambudi (Minggu Pagi No 43 Tahun 72 Minggu V Januari 2020)

“Seratus juta rupiah untuk jasa mendandani kamu,  Rp 50 juta untuk makan siang kamu, dan Rp 50 juta lagi untuk pelukan saya kepadamu. Total Rp 200 juta. Saya minta ditransfer sekarang juga!”

“Wow! Anda memeras saya?”

“Mungkin.”

“Tapi tunggu dulu! Kenapa ada uang untuk makan siang dan pelukan segala. Kapan saya minta makan siang kepada Anda, dan kapan Anda memeluk saya?”

“Wah, ketenaran memang telah membuat kamu lupa segalanya. Lupa atau mencoba lupa? Tapi baiklah akan saya ceritakan. Dulu saat kamu masih merintis karier menjadi aktor, kamu pernah mengaku kecopetan sewaktu ingin membayar makan siangmu di sebuah warteg.  Saat itu saya mengikhlaskan kamu tidak membayar makanan yang sudah kamu makan. Lalu, ketika usia kamu sekitar delapan tahunan, saya juga pernah memberikan kamu pelukan saat kamu menangis karena dipukul teman sepermainanmu. Saya yang kebetulan lewat merasa iba. Memberikan pembelaan dan memelukmu. Tangis kamu pun berhenti, dan saya mengantarkan kamu pulang. Sekarang kamu ingat?”

Aneh. Semua yang dikatakan benar adanya. Tetapi, tidak mungkin ibu yang memeluk saya itu dia. Seingat saya ibu itu lebih tua dari ibu saya. Sedangkan dia terlihat sangat muda sekali. Belum lagi soal makan siang itu, mana mungkin. Saya tambah bingung!

“Ok. Semua yang Anda katakan itu benar. Hanya saja, tidak mungkin Anda orangnya? Seingat saya tokoh-tokoh yang Anda ceritakan itu sama sekali tidak mirip dengan Anda. Apakah mereka yang mengirim Anda kemari?”

“Apa pentingnya itu bagimu? Bukankah kamu sudah mengakui bahwa semua yang saya katakan itu memang benar adanya.”

“Ok, saya akan transfer. Tapi izinkan saya keluar dulu. Pacar saya bisa marah besar nanti.”

“Baik, saya tunggu. Kalau dalam lima menit tidak kembali, saya akan berteriak!”

“Tenang, saya tidak akan berbohong. Sumpah! Saya akan kembali untuk menunjukkan bukti transfernya. Anda di sini saja, jangan ke mana-mana!”

Baca juga: Perut – Cerpen Herumawan PA (Minggu Pagi No 42 Tahun 72 Minggu IV Januari 2020)

Saya keluar dari kamar mandi. Viola kelihatan mengantuk. Saya cium pipinya dan langsung mengambil ponsel di kamar. Saya memencet nomer rekening yang dia berikan. Tapi, mengapa nama perempuan itu mirip sekali dengan nama ibu saya?

Berhasil. Saatnya kembali ke kamar mandi menunjukkan bukti transfer. Viola sudah tertidur di sofa. Syukurlah, paling tidak Viola tak melihat saya kembali ke kamar mandi.

Alangkah terkejutnya, di kamar mandi tak saya dapati perempuan itu. Bahkan jejaknya pun sama sekali tidak ada. Padahal dia sempat menghidupkan kran air. Ajaibnya lagi, lantai kamar mandi saya juga kering tanpa setetes air pun. Hantukah perempuan itu?

Dalam merenung, ponsel saya berdering.  Ibu menelepon. Sudah lama saya tak menghubungi beliau sejak ayah wafat. Apa karena itu saya mengalami ini semua?

“Ya, Ibu. Apa kabar, Bu? Maafkan Firman sudah lama tidak menghubungi Ibu.”

“Ibu baik, Fir. Tak apa. Ibu paham kamu pasti sibuk syuting dan wawancara.”

“Ibu, Firman mau minta maaf….”

“Sudah tak usah minta maaf. Ibu malah mau berterima kasih. Kamu akhirnya menepati janjimu.”

“Janji apa, Bu?”

“Masak kamu lupa? Itu lho, janji kamu yang mau memerbaiki rumah dan merapikan makam Ayahmu. Tapi kok jumlahnya banyak sekali, Fir?”

“Maksudnya, Bu?”

“Kamu ini belum menikah sudah pikun. Barusan kamu transfer ke Ibu Rp 200 juta, Firman! Ingat ndak?”

Seketika tubuh saya lemas. Seperti kesambet.

 

Kalibata, 2020.