Cerpen Dewi Sukmawati (Merapi, 21 Februari 2020)

Anak Perempuan yang Dikutuk ilustrasi Istimewa
Anak Perempuan yang Dikutuk ilustrasi Istimewa

Jikalau ada anak perempuan bodohnya sedemikian rupa, mungkin itu aku. Aku yang hari-harinya selalu dibentak, dimarahi, dipelototi, dan dibenci. Tapi tolong, jangan kasihani aku. Kebanyakan orang memang biasa melirikan mata dengan sengitnya padaku. Biarlah saja. Itu bukan hal penting untukku, yang terpenting aku masihlah bisa menapakan kaki di tanah ini dan mengabdi pada Tuhan yang sengaja menaruh diriku di sini.

***

“Wati, sudah jam berapa sekarang? Anak perempuan macam apa sih kamu? Terus saja kamu sibuk dengan tidurmu. Pergi saja kamu dari rumah ini. Jangan kembali lagi!,” sambil mengetuk pintu Wati dengan kerasnya.

“Wati sudah bangun dari tadi, Bu. Wati hanya ingin sedikit beristirahat. Sedikit membaca buku setelah tadi menyelesaikan pekerjaan rumah,” jawab Wati sembari membuka pintu kamar.

“Jawab. Jawab terus kalau orang tua sedang bicara. Kamu anggap kamu lebih pintar dari Ibu. Sudah, kemasi baju-bajumu dan pergi dari rumah ini,” bentak Ibu sambil mengeluarkan baju-baju Wati dari lemarinya.

Wati terdiam dan menangis. Tak ada yang bisa ia lakukan. Dalam hati ia hanya berdoa, semoga ada tamu yang datang ke rumahnya segera. Tak lama kemudian Tuhan mengabulkan doanya.

“Permisi, adakah orang di dalam?”

Ibu segera menengok ke ruang tamu dan memastikan. Ibupun mengalihkan pandang ke Wati yang sedang menangis.

“Sudah diam kamu. Bereskan baju-bajumu dan buatkan teh hangat untuk tamu yang datang”

Ibu meninggalkan Wati dan menemui tamunya. Ternyata tamunya adalah anak dari sahabat Ibu. Ia baru pulang dari Korea dan datang untuk memberikan oleh-oleh untuk Ibu juga Wati.

“Oalah, kamu. Saya kira siapa yang datang pagi-pagi seperti ini”

“Saya tidak mengganggukan Bu?”

“Tentu tidak. Ada apa gerangan kamu ke sini?”

“Kemarin saya baru pulang dari Korea. Ini ada sedikit oleh-oleh untuk Ibu dan Wati. Watinya mana yah Bu?”

“Wati, sini. Bawakan tehnya cepat! Maaf yah, Wati memang anaknya kalau disuruh apa-apa lama sekali. Dia persis kaya bapaknya. Tidak bisa diandalkan sama sekali. Beda sama kamu. Kamu sudah cantik, baik, bekerjanya cepat, dan sukses lagi sekarang di luar negeri. Bangga pasti orang tuamu”

“Iya saya juga bersyukur sekali. Wati juga bisa seperti saya Bu”

Wati datang dengan dua cangkir tehnya. Ia melihat ternyata tamunya adalah Devi. Ia berfikir, mungkin Tuhan tidak terlalu ikhlas mengirimkan tamu. Ia akan terkutuk setelah ini.

“Hai Wati, apa kabar?”

“Kabar baik”

“Ini aku ada oleh-oleh buat kamu. Kamu sekarang bekerja di mana?”

“Mengurus rumah saja dia tidak becus. Apalagi bekerja. Wati masih menganggur,” jawab Ibunya.

Watipun segera meninggalkan mereka. Wati memilih masuk ke kamar dan menderaskan air matanya.

***

Ibu selalu saja mengeluh. Anakku benar-benar tidak tahu diri. Setiap hari membuatku marah. Menyesal aku melahirkan Wati. Seandainya saja anakku seperti Devi, bangga sudah diriku. Pastilah setiap hari aku bisa tersenyum tanpa marah. Aku lihat kamar Wati selalu menutup, ingin rasanya aku dobrak dan rusak pintunya. Setiap hari Wati hanya sibuk di kamar. Entah apa yang dilakukan. Wati selalu membiarkan aku lelah sendiri mengurus rumah.

“Wati. Sedang apa sebenarnya kamu? Kamu tidak ingin bantu ibu? Kamu ingin ibu darah tinggi terus mati?”

Wati langsung beranjak dari kamarnya dan mendekatiku. Wajahnya begitu menyebalkan. Ingin rasanya aku menamparnya.

“Ada yang bisa Wati bantu Bu?”

“Banyak. Rumput cabut sana. Sampah-sampah bakar. Jangan sibuk di kamar saja. Pusing kepala Ibu mikirnya. Punya anak gadis tapi bodoh dan tidak berguna sama sekali. Kamu lihat Devi, dia sekarang sukses tidak sepertimu. Lama-lama Ibu banting leptop kamu yang tidak berguna itu. Diperbudak leptop sudah kamu”

***

Hari ini adalah pengumuman naskah buku terbaik. Wati sudah tidak sabar. Doa selalu ia panjatkan. Semoga Tuhan ikhlas memberikan keberkahan. Setelah selesai membersihkan rumah, ia langsung masuk ke kamarnya. Membuka leptopnya yang sudah tua dan segera membuka pengumumannya. Hatinya ketar-ketir saat itu. Matanya tak sabar membaca. Setelah webnya terbuka ternyata ia berhasil menjadi juara satu naskah buku terbaik. Ia begitu bergembira dan langsung mengabarkan kabar baik ini pada Ibunya.

“Bu, naskah Wati juara satu”

“Apa hebatnya kamu. Masih juga hebat Devi. Setiap bulan Devi bisa memberikan Ibunya uang puluhan juta”

Mendengar jawaban itu, Wati sangat putus asa. Ia lari dan masuk ke kamar. Persembahannya yang ia usahakan selama ini kandas. Ibunya sama sekali tidak bahagia akan itu. Wati berpikir, mungkin kematian akan lebih indah kali ini. Di kamarnya ia selalu menyediakan pisau, gunting, dan tambang. Bila ia sudah memutuskan, ia bisa menggunakan salah satunya. Ia jajarkan ketiga benda tersebut di depannya. Sebelum melakukannya, ia menuliskan catatan terakhir untuk Ibunya dan menaruhnya di samping ketiga benda tersebut.

***

“Wati. Wati. Buka pintu kamarmu! Dasar anak tidak berguna!”

Tidak ada jawaban sama sekali. Ada yang tidak beres di sini. Pintu kamar didobrang. Kosong. Hanya ada catatan kecil yang ditinggalkannya. Aku segera mengambil dan membacanya.

“Bu, seandainya Ibu tahu. Dengan susah payah anakmu ini mencari jati diri. Mencari bakat yang sesungguhnya dan selalu berusaha membanggakan Ibu. Tapi, ibu selalu saja menganggap anakmu ini anak perempuan bodoh dan tidak berguna. Bu, aku tidak pernah ingin membenci Ibu. Aku sayang Ibu. Semoga Ibu sayang padaku. Aku pamit pergi Bu. Jaga diri ibu baik-baik”

Hati Ibu hancur seketika. Anak perempuanku satu-satunya meninggalkanku sendiri di sini. Aku memang salah. Sejak dulu aku sibuk mengutuk dan mengusirnya. Dan sekarang aku tidaklah tahu dia masih hidup atau tidak. Pisau yang ditinggalkannya berlumur darah. Tembok, jendela, kasur, dan kertas catatan terakhirnya pula berlumur darah. Aku memegang erat kertas itu dan menangis dengan penuh rasa penyesalan.

***

Duduk di teras dengan berdiam diri menjadi rutinitasnya kali ini. Setelah ditinggalkan Wati, Ibu menjadi begitu hancur dan berantakan. Setahun sudah ia ditinggalkan Wati. Ia sampai sekarang tidaklah tahu, masih hidup atau sudah meninggalkah Wati putrinya. Ia hanya bisa berdoa, semoga Tuhan segera mengembalikan putrinya yang dulu ia sia-siakan. Dari kejauhan terlihat seorang tetangga berlari mendekat padanya. Ia begitu terengah-engah.

“Bu, lihat acara televisi sekarang”

“Aku sudah tidak lagi ingin menonton acara tidak berguna”

“Sudah jangan keras kepala. Tadi saya lihat ada berita tentang Wati”

Ibu langsung beranjak dari duduknya dan langsung masuk ke rumah lalu menyalakan televisi. Terlihat putrinya sedang dalam acara televisi. Mata Ibu begitu serius menatap televisi tersebut ditemani tetangganya.

“Benarkah anda sempat bunuh diri?”

“Iya benar. Saat itu saya bunuh diri di kamar saya sendiri. Tapi, saat itu juga saya langsung tersadar. Bunuh diri bukanlah pilihan yang terbaik. Ketika itu saya segera mengikat tangan saya agar tidak terlalu banyak keluar darah. Saya langsung berlari dan naik angkot untuk pergi ke rumah sakit. Saat duduk di angkot saya sudah tidak sadarkan diri. Beruntunglah saya karena sopir angkot yang saya naiki berhati baik. Ia mengantar saya ke rumah sakit dan menanggung semua biaya rumah sakit saya”

“Apa alasan anda bunuh diri waktu itu?”

“Saya adalah anak perempuan yang dikutuk. Saya anak perempuan bodoh dan tidak berguna. Karena itu saya bunuh diri”

“Lalu, apa motivasi anda sampai sesukses ini dalam bidang menulis? Apa karena kutukan itu?”

“Tentu. Saya ingin membuktikan bahwa kutukan itu salah. Selain itu, saya ingin membanggakan Ibu saya tercinta dan mengiriminya uang puluhan juta untuk memanjakan dirinya. Dirinya begitu tua sampai lupa merasakan sedikit kesenangan”

“Apa yang akan anda sampaikan pada Ibu anda sendainya beliau menonton acara ini?”

“Ibu, Wati sayang Ibu. Besok ibu cek buku tabungan Ibu yah. Setiap bulan Wati mengirim uang untuk Ibu. Wati harap ibu baik-baik saja. Maaf selama ini Wati menjadi anak perempuan bodoh dan tidak berguna. Semoga kali ini Ibu bangga dengan putri Ibu ini”

Mata Ibu seketika itu menangis dengan derasnya. Rasa bangga dan rasa bersalah bercampur menjadi satu. Tetangganya mencoba menenangkanya. Setelah itu, ia segera merapikan rumahnya. Terutama kamar anak perempuannya.

 

Dewi Sukmawati lahir di Cilacap, 21 April 2000. Sekarang sedang menempuh pendidikan di IAIN Purwokerto Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam jurusan Perbankan Syariah. Karyanya telah dimuat beberapa media massa.