Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 19 Februari 2020)

 

Desember 2019-Februari 2020 saya mengikuti kelas penulisan kreatif di Jakarta. Mengikuti di sini artinya belajar. Menjadi murid. Bukan guru. Bukan instruktur. Bukan pengajar atau pembicara sebagaimana yang kerap saya lakoni selama ini, baik di Benny Institute maupun di forum atau lembaga atau instansi yang mengundang saya.

Saya mencoba mengingat kapan kali terakhir saya menjadi “murid” dan saya menemukan kalau hal itu terjadi 15 tahun yang lalu. Ya, lima belas tahun yang lalu ketika saya kuliah di semester akhir di Fakultas Pertanian, Universitas Andalas. Tentu menjadi murid saat itu dengan saat ini perbedaannya jauh. Meskipun begitu, saya ingin sekali mentransfer kenikmatan menjadi murid waktu itu ke kelas menulis kreatif yang sedang saya ikuti ketika dewasa, saat saya sudah lupa bagaimana rasanya menjadi murid, saat saya sudah telanjur nyaman bagaimana rasanya menjadi tukang ngajar.

Bersama mentor dan “para murid” yang lain di kelas terakhir (Kemang, Februari 2020)
Bersama mentor dan “para murid” yang lain di kelas terakhir (Kemang, Februari 2020)

Ungkapan “belajar sepanjang hayat” memang indah di telinga, tapi belum tentu bisa dijabani dengan baik dan ikhlas bila pembelajaran itu berlangsung di dalam kelas yang mentah-mentah memosisikan seorang dewasa sebagai murid. Saya tahu itu, oleh karena itu saya ingin mengantisipasi dan mencari tahu bagaimana mengatasinya.

***

Prakelas, saya memastikan gelas mahabesar di dalam kepala dalam keadaan kosong agar dapat menampung apa pun yang diberikan oleh pengajar, tanpa pretensi untuk mendebat, berdalih, atau bertahan.

Maka, kelas pun berlangsung.

Saya mencoba menyinggung materi pembelajaran seminim mungkin, meskipun ketika break, di antara sesama murid, saya sebenarnya sukar diam dan gemar melempar lelucon. Dalam merespons tugas pun, saya mengerjakannya dengan semangat seorang murid.

Apakah cara yang saya terapkan bekerja?

Saya pikir begitu. Mungkin.

Baca juga: Kartu Kredit dan Harga Diri Penulis – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 12 Februari 2020)

Mendengarkan pengajar berceramah 4-6 jam di depan kelas; menyerap sari bahan bacaan yang ia ketengahkan, mengamati pola mengajar dan mempelajari bagaimana caranya menjelaskan hal-hal yang sederhana hingga yang rumit dengan cara yang meyakinkan adalah sesuatu yang saya cari-cari hingga beberapa kali pelantang suara dalam kepala saya berbisik: urusanmu adalah belajar, bukan memikirkan bagaimana semuanya bisa kamu terapkan untuk mengajar. Ach!

Benar sekali! Selama kelas berlangsung, beberapa kali alam bawah sadar saya terangsang untuk tak sabar mengadopsi apa yang pengajar sampaikan ke dalam kelas-kelas kreatif saya di Benny Institute. Kalau sadar, saya akan lekas mengembalikan semuanya ke dalam gelas belajar yang kosong dalam kepala itu. Kalau tidak cepat menyadari saya akan larut dalam imajinasi pengadopsian itu. Oh sungguh tak mudah memilahnya.

Makanya kesadaran itu penting. Ya, kesadaran. Saya percaya, kekuatan dasar manusia adalah kesadaran. Kesadaran akan membuat kita mengerti sehingga ego atau hal-hal negatif/kontraproduktif lainnya akan bertekut lutut di hadapan visi diri. Dengan kata lain, orang yang memiliki kecakapan untuk memelihara kesadaran akan mengerjakan banyak urusan dengan beres, akan menyelesaikan tanggungjawab sesuai tenggat dan ketentuan, dan akan meminimalisasi hal-hal buruk yang mungkin dilakukan.

Kesadaran akan pentingnya “kesadaran” itulah yang saya palu kuat-kuat dalam diri ketika mengikuti kelas ini—yang seharusnya saya terapkan dalam segala urusan. Bahwa kelas ini saya ikuti untuk kebutuhan pengembangan (kecakapan) diri. Saya harus menyerap sebanyak-banyaknya. Bahkan hasrat mendebat sesuatu yang saya pikir sangat mungkin saya menangkan pun, dengan penuh perjuangan saya nonaktifkan.

Mulanya kelas itu sungguh melelahkan secara psikologis, tapi pelan-pelan saya mulai terbiasa. Terbiasa lelah, terbiasa mengabaikan kelelahan, hingga akhirnya lelah itu menjadi tidak ada nilainya. Ugh! Belajar ketika dewasa itu oh alangkah tidak sederhananya.

Baca juga: Lokalitas Mengaliri Darahmu (2) – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 05 Februari 2020)

Namun, sebenarnya ada kekuatan lebih belajar ketika dewasa. Hasrat untuk menunjukkan isi kepala, bertanya dengan tendens menguji, mendebat sesuatu yang kita tahu hanya akan membuang waktu, adalah urusan-urusan yang kerap mendarahdaging dalam kedewasaan. Oksimoron sekali, bukan? Makin dewasa seharusnya makin bijak, tapi malah makin tak mau mengalah.

Lalu apa potensi kedewasaan yang bisa diubah menjadi energi kinetik?

Diam ketika belajar.

Diam dan menyimak.

Menyimak dan menganalisis.

Menganalisis dan membuat hipotesis.

Mengujinya dengan ilmu dan percobaan.

Menerapkannya di luar kelas:

Berkarya.

Ya, berkarya. Bukan sibuk memikirkan bahwa semua yang didapatkan akan bisa dibagi-ajarkan kepada orang-orang di luar sana yang kadung menganggap kita sebagai tukang ngajar yang patut didengarkan. Di sinilah, pembelajaran orang dewasa itu kerap membentur batu karang! Alih-alih belajar untuk bisa belajar, tapi sibuk belajar untuk menjadi tukang ngajar, atau … yang lebih parah adalah tak sabar merampungkan urusan hanya untuk melepaskan kewajiban.

Dan itu jamak sekali kita temukan dalam kelas atau lokakarya atau seminar yang diikuti oleh orang dewasa yang merupakan utusan komunitas, lembaga, atau instansinya. Alih-alih siap, sebagian mereka sudah menolak belajar sejak melangkahkan kaki dari rumah. Dan saya, sungguh menolak menjadi bagian dari kesia-siaan itu.

Memang tidak mudah belajar untuk belajar. Semua mau bicara dan didengarkan. Semua mau berdiri di depan dan menjadi Mario Teguh. Semua mau mendapatkan tepuk tangan. Saya bersyukur sekali, merasakan menjadi penyimak, pembelajar, pencatat, dan penepuk tangan, dalam kelas yang bulat-bulat menempatkan saya sebagai murid—paling tidak untuk tiga bulan terakhir. Ach, memang tidak mudah belajar untuk belajar.

Tidak mudah menjaga gelas mahabesar di dalam kepala untuk tidak pecah! *

 

Lubuklinggau, 19 Februari 2020