Cerpen Maya Sandita (Padang Ekspres, 16 Februari 2020)

Rumah Lumpur Jelaga ilustrasi Orta - Padang Eksppres
Rumah Lumpur Jelaga ilustrasi Orta/Padang Eksppres

Ambun pulang. Kakinya tertuju pada daun pintu yang selama ini ia takuti berpalang. Juga jendela yang sebenar-benarnya telanjang. Hampir dua abad, sejak Ambun memutuskan bahwa dirinya perlu dirawat. Di sebuah tempat tanpa jimat-jimat dan syarat. Tempat yang senyap, begitu senyap. Sampai setelah dua abad berlalu, tempat itu habis dimakan waktu. Akhirnya berpikir ia, tak ada tempat lagi bagi Ambun untuk kembali, selain pada sujud di sebuah kaki yang-ia tak tahu sama sekali-apakah masih sanggup berdiri menjejaki lantai rumah di hadapannya kini.

Ambun diam. Angin berhembus pelan dari timur dan dibiarkan masuk ke hatinya begitu dalam. Ragu ia akan masuk sementara pedang sepanjang perjalanan semakin dalam menusuk-nusuk. Ribuan jumlahnya yang bahkan ia sendiri tak sanggup menghitungnya. Entah apa yang ia tunggu. Mungkin sebongkah keberanian untuk menyebut nama ‘ibu’ begitu sulit didapat hingga lidahnya kaku. Penuh peluh membasahi tubuh. Ia rasa kali ini ia begitu rapuh. Habis tetes darah berceceran sepanjang perjalanan. Tinggal tubuhnya yang kering dan kepalanya yang pening.

Sebuah kenang melesat dimatanya, jadi sebentuk bayang. Air seketika berkumpul di pelupuk mata hendak menggenang.

Seorang laki-laki paruh baya dengan secangkir kopi di atas meja, menghisap dalam rokok untuk kemudian dipadamkannya. Anak perempuan sudah selesai memakai sepatu. Baju putih merah sudah rapi dikenakan dan rambutnya di kepang satu. Senin hari itu.

“Sudah siap, Nak?” tanyanya sembari jari memadamkan api rokok tadi.

“Sudah, Pak!” serunya.

Baca juga: Yang Lebih Hebat dari Kata Rindu – Cerpen Maya Sandita (Republika, 26 Januari 2020)

Mencium punggung tangan sang ibu kemudian bergegas naik ke sepeda tua yang sudah menunggu, telah menjelma jadi sebuah rindu. Lalu bayangan manusia-manusia itu melintas dan hilang jadi debu. Tanpa ia sadari tangannya naik bak menyentuh awan. Seketika ia gelagapan. Ambun di sana hanya sendirian.

Hari-hari berlangsung cepat dalam ingatan. Sebentar kemudian Ambun sudah  berganti pakaian, bukan putih merah, melainkan putih biru. Ambun ingat sekali, betapa Bapak dan Ibu bangga ketika Ambun berhasil masuk sekolah lanjutan nomor satu. Pada pagi-pagi berabad lalu itu, tidak ada lagi sepeda tua yang menunggu, Bapak sudah membeli sebuah sepeda motor baru.

Begitu terjadi berulangkali. Ambun diombang-ambing lamunan dalam serpihan beling yang menambah luka pada di sekujur tubuhnya. Kenangan sederhana yang membekas begitu dalam hingga hilang kesederhanaannya. Bapak dan Ibu, serta ia berabad-abad lalu, menjadi sebuah hal istimewa dalam ingatannya yang tak akan mungkin bisa ia lupa. Kemudian angin kembali meniup rambutnya yang sudah tumbuh sampai paha,

Sepenggal dendang terdengar lewat gelombang udara yang tenang. Nyanyian merdu dari seorang ibu-yang tiap abadnya jadi semakin tua lalu jadi seorang perindu.  Ia sering duduk di beranda, menikmati angin yang berhembus menghapus peluh di dahinya. Ambun kecil terjaga kali itu, ketika ibu sedang sibuk meniup bara di tungku. Digendong anak yang masih dalam kain bedong, diayun pelan ke kiri dan kanan, serta didendangkan dengan suara pelan.

Andorakan, Nak… andorakan. Anak siamang lah si andorai…. Andorakan, Nak… andorakan. Gatoklah pinang kasimumu…,”  tak sadar ikut mulut Ambun mendendangkan lagu. Ia hapal sekali lagu itu, sebab ibu melantunkannya selalu sampai usia Ambun menjelang angka tujuh.

Sekarang Ambun sudah beranjak dewasa, abad-abad indah itu sudah dilewatinya, meski belum puas dalam hati. Tapi apa hendak dikata, waktu terus berjalan dan mengubah segalanya pelan-pelan. Termasuk ayahnya, termasuk ibunya.

Baca juga: Perahu Kesedihan – Cerpen Ongky Arista UA (Padang Ekspres, 09 Februari 2020)

Benarlah ia sungguh merupa embun. Jadi uap tika pagi pergi, jadi air ketika malam berakhir. Sebab merupa embun-lah, jadi seorang pesakitan ia.

Pada masa yang sama, sebelum Ambun kembali menapaki jalan ke beranda, sesuatu terjadi pada ayahnya. Tepat ketika terbenam matahari, sosoknya berganti jadi serumpun daun keladi. Tumbuh ia di tepi jalan raya. Tak ada yang tahu apa yang terjadi kala itu. Semua mengira, ayahnya kabur dan menghilang begitu saja. Meninggalkan istri seorang diri, sementara anaknya Ambun tidak ada yang menuntun. Anak perempuan yang jauh di perantauan.

Sementara itu ibu menunggu seseorang mengetuk pintu. Entah itu Ambun atau suaminya-yang keberadaannya tak tentu.

Pertengkaran antara keduanya kemarin tak bisa dianggap biasa. Kata tetangga, ayah punya sifat cemburu yang terlalu. Sedang ibu-entahlah-Ambun tak tahu apakah memang ada sesuatu.

Siang dan malam tak putus dimamah waktu yang rakus. Ibu perindu yang tak lelah menunggu-akhirnya berubah jadi debu. Terbang dibawa angin, dan melekat di tangkai keladi yang lain. Tapi Ambun sepenuhnya bingung dan habis waktunya merenung. Memikirkan kemana badan harus dibawanya, sebab ibu dan ayah hilang entah kemana.

Ambun membiarkan senja menyelimutinya. Naik ia ke udara, ditahan sampai lelah sang bulan. Keesokan paginya, Ambun turun. Hinggap ia dimana saja tuhan suka.

Daun keladi menanti, debu yang hinggap di tangkainya menunggu. Tapi Ambun tak melekat-malah mengalir ke ujung daun dan membasahi sedikit rumput hijau nan rimbun. Pecah ia.

Tersentak tiba-tiba perempuan yang tadi menaruh kepalanya di atas meja. “Bu!” spontan ia berkata. Tapi apa hendak dikata, di sana tidak ada siapa-siapa.

Sebentar kemudian ponselnya berdering, pesan masuk. Sebuah nama tertera di sana. Ayah.

Aku masih menganggapmu anakku, asalkan kau menghormati istriku sama seperti ibu kandungmu. Kalau tidak bisa, tidak perlu mengabariku apa-apa.”

Baca juga: Sang Peracik – Cerpen Ken Hanggara (Padang Ekspres, 02 Februari 2020)

Seketika terasa kembali pedang-pedang tajam yang tadi. Berulang ia menusuk punggung dan tembus sampai di tulang rusuk. Ayahnya bukan lagi miliknya. Lalu kemana mesti mengadu kalau bukan pada ibu? Segera ia berdiri, diketuknya pintu beberapa kali. Tidak ada sahutan sebagai jawaban. Sunyi dari dalam rumah ia dapatkan.

Setelah hampir satu jam ia memanggil, lelah juga ia dan kemudian diam sembari menahan iba hati kecil.

Ia bersandar di daun pintu. Sebab lelah yang tak kunjung sudah, lekas ia tertidur pulas. Sampai suara motor membangunkannya.

“Bu!” serunya. Kali ini benar ibunya kembali. Tapi sebuah pertanyaan yang diucapkan membuat jantungnya seperti pecah dan berserakan.

“Kenapa pulang? Bukankah pada ayahmu kau lebih sayang?”

Berat kepalanya. Kosong pandangannya tiba-tiba. Kemana mestinya harus ia bawa pulang sebatang raga? Ayahnya sudah jadi daun keladi, bagaimanapun bertahan, gravitasi akan tetap mengalahkan. Sedang ibunya sudah jadi debu, Ambun mesti tahu, bahwa ibunya mesti melekat pada sesuatu, dan Ambun seharusnya tidak di situ.

Diangkat ransel besar yang berat. Dikencangkannya tali sepatu satu-satu. “Kita entah dimana, di rumah atau di lumpur yang jelaga? Jika di rumah, kenapa bisa sakit dengan mudah?”*

 

Padang, 19 Agustus 2019

Maya Sandita, sutradara, aktor, dan penulis. Alumnus prodi seni teater ISI Padangpanjang (2019). Berdomisili di Batam. Tergabung dalam FPL, KOPI TANDA, PCRBM, Bagindo Rajo, dan Teater Ode Batam . Beberapa cerpennya pernah diterbitkan dalam antologi juga media cetak lokal dan nasional. Cerpen terbarunya Penabur Bunga terbit di Republika (2019) dan Lelaki di Bawah Lampu Jalan terbit di Kompas (2020). Peraih juara 1 dalam Lomba Menulis Cerita Rakyat Berbahasa Minangkabau tingkat provinsi yang diadakan oleh Disbud Sumatera Barat, dengan judul cerita Batu Godang Putaran Toluak.