Cerpen Kartika Catur Pelita (Tanjungpinang Pos, 16 Februari 2020)

Perempuan dalam Sinetron ilustrasi Pur Purwanto - Tanjungpinang Pos (1)
Perempuan dalam Sinetron ilustrasi Pur Purwanto/Tanjungpinang Pos

Panti Asuhan “Kasih Ibu”. Perempuan paruh baya dari balik kaca mobil membaca papan nama sebuah bangunan kuno yang berada di pinggiran kota ukir. Bangunan yang  tembok-temboknya sebagain mengelupas. Bangunan yang lumayan besar  dan berhalaman  luas pula. Pekarangan panti yang rindang dipenuhi tanaman asri. Pohon mangga dan jambu berbaris rapi. Bunga bougenvil tertata  indah, tapi kampungan, kutuk si perempuan sepuh.

Sang supir melirik si nyonya yang duduk  anggun di jok mobil belakang. Perempuan berpakaian branded tersohor,  bermake up mutakhir, rambut yang disasak, dan tas mahal tertentang di tangan. Setelah menghela napas panjang beberapa kali, si perempuan  sepuh yang terlihat lebih muda dari usia  sesungguhnya,   turun dari mobil dan melangkah angkuh memasuki panti

Di taman anak-anak panti sedang bermain.. Seorang pengurus panti, bernama Rukmini, buru-buru menyambutnya, ramah.

“Assalamu’alaikum, Ibu.”

Si perempuan sepuh  pura-pura tak mendengar uluk salam. Ia memlih memandang keadaaan sekitar panti. Kemudian ia memandang perempuan berjilbab di depannya. Perempuan yang seusia dirinya. Perempuan berpikiran putih.

“Selamat siang. Maaf…,Ibu  mencari siapa?  Ibu ingin bertemu siapa?” Pengurus Panti kembali menegur ramah.

“Apakah kau pengurus panti ini?” Perempuan  berpikiran hitam menabur tanya.

“Ya, saya Rukmini,  “ berhati jernih menjelaskan siapa dirinya. “Sudah dua puluh tahun mengurus panti ini. Maaf…apakah Ibu ingin memberi bantuan atau menjadi donatur  panti ini?

“Apakah setiap tamu yang datang ke sini harus memberi makan anak  panti?” Perempuan sepuh berkata datar,  mendecih.

Mendengar perkatan yang kasar, Rukmini menyabarkan hati. Sudah sering dia bertemu orang yang memandang sebelah mata keberadaan  anak panti. Orang-orang yang kaya harta, tapi miskin etika. Hati mereka  teselaput debu kesombongan.

“Apa sebenarnya maksud Ibu. Mungkin ibu salah alamat.” Rukmini berkata lirih.

“Saya Purwasih! Saya satang ke sini bukan untuk memberi sumbangan.  Saya ingin bertemu anak panti asuhan yang bernama Ratih Sari!” si perempuan sepuh berkata lantang.

Sekarang berganti si perempuann berhati jernih yang tersentak. Di mana  anak asuhnya mengenal perempuan sepuh yang arogan dan sesombong ini? “Ratih Sari. Ibu mengenal Ratih…?

“Tentu saja….karena Ratih selalu mengejar-ngejar Bagus anak saya,  mengemis minta untuk dinikahi!”  Tutur perempuan sepuh serupa sembilu yang melukai hati Rumini. Sebagai pengurus Panti ia mengenal  sifat dan karakter  anak asuhnya. Apalagi Sari Ratih, yang diasuhnya sejak kecil.  Bahkan  ia yang merawat, ketika suatu  Subuh pengasuh panti menemukan bayi merah di dalam kardus di  depan pintu gerbang. Rukmini  mengusir pikiran buruk. Ia menyilakan si perempuan sepuh di ruang tamu, sepertinya  mereka akan membicarakan sesuatu yang penting.

Ruang tamu sederhana.  Seperangkat kursi ukir Jepara terrtaa rapi dan beku. Purwasih dan Rukmini duduk, masing-masing dengan pikirannya sendiri,  ketika Ratih muncul dari balik tirai. Ratih-membawa nampan berisi segelas teh panas dan  sepiring  kue lapis, sopan dan ramah menyalami.

“Ibu…apa kabar?”

“Tak usah berbasa-basi. Aku tahu kau punya cara licik mempengaruhi anakku. Ke dukun mana kau pakai pelet sehingga Bagus tergoda padamu, “ cerocos perempuan sepuh, menyerang tanpa tedeng aling-aling

“MasyaAllah…mengapa Ibu menuduh saya sekeji itu?” Ratih Sari beristighfar, memilin jilbab  biru yang dibelikan dari hasil kerjanya menjahit. Ratih terlihat sedih. Ia harus mengklarifikasi  fitnah ini. Ia bukan perempuan  seperti yang dituduhkan.

“Buktinya Bagus sampi tergila-gila padamu.  Padahal dengan Linda, Bagus dulu tidak begitu. Padahal Linda   tak kalah cantik   denganmu. Dia berpendidikan. Sarjana. Keluarganya terpandang. Linda juga tak pakai susuk sepertimu!” Perempuan sepuh semakin menggila menuduh.

Ratih menunduk sedih mendengar tuduhan Bu Purwasih. Perempuan  dua puluh  tiga tahun itu  menangis. Purwasih semakin menghina Ratih.”Aku tahu  kau punya rencana buruk untuk menggaet anakku. Kau ingin mengangkat derajatmu dengan menjadi istri Bagus. Kau pasang susuk pelet di dukun mana, heh?!

Rukmini yang tak tega melihat Ratih dihina, mencoba melerai.”Bu,  Ratih gadis baik-baik. Ratin rajin beribadah, salat, puasa. Tak mungkin Ratih melakukan hal seperti yang ibu tuduhkan.”

“Jelas saja kau membela anak asuhmu. Apakah begini caranya memikat…agar orang jatuh hati memberi sumbangan dan menikahi anak panti?

“Saya tak mengerti, apa sebenarnya maksud ibu ke sini?”

“Maksud saya datang ke sini jelas. Saya kemari untuk ngomong pada anak asuh ibu yang tak memiliki masa depan ini. Saya tak menyetujui hubungannya dengan Bagus! Jangan harap dia bisa menjadi istri Bagus!

Perempuan sepuh dengan langkah congkak ke luar dari panti. Memasuki mobil dan  menyuruh sopirnya kencana  melaju. Sungguh puas ia sudah menghina si  gadis panti. Ia berharap cara seperti ini, anak lelakinya tak mau lagi datang  ke panti menemui Ratih Sari. Sungguh ia tak mengerti, mengapa anak lanangnya lebih memilih gadis  panti daripada gadis anak orang kaya. Uh, sungguh-sungguh ia tak mengerti jalan pikiran anak kesayangannya. Bagaimana pun ia harus tetap mencari cara untuk memisahkan kisah cinta anaknya yang tak  layak. Tak sudi, ia yang perempuan kaya raya,  ayu, ningrat, berdarah biru memiliki menantu yang tak jelas asal-usul, tak jelas  masa depannya pula. Apa nanti kata leluhurnya? Apa kata dunia? Apa pula kata teman-temannya  yang kaum sosialita? Perempuan sepuh  tersenyum sendiri.  Sopir sekilas melihat keanehan si Nyonya. Tapi ia tak berani menegur, Bisa-bisa dipecat!

***

Sepeninggal tamu siang hari yang  menebar fitnah dan  menciderai nurani hingga  sedih gundah, Rukmini dan Ratih berpelukan, merenungi nasib. Apakah seorang gadis panti seperti dirinya tak layak mendapat cinta seorang Bagus-lelaki tampan mapan, anak orang kaya yang  masih berdarah biru?

Rukmini membelai rambut panjang Ratih yang berbaring di pangkuannya.”Apa yang harus Ratih perbuat. Apa yang harus Ratih lakukan, Bu?

“Sudah, Tih. Jangan bersedih, jangan diambil hati apa yang dikatakan Bu Purwasih.”

“Ratih sedih, bingung. Ratih tak tahu apa yang harus diperbuat. Mungkin lebih baik Ratih memutus hubungan dengan Mas Bagus,” keputusan yang mungkin lebih baik,  daripada ia memaksakan diri?

“Kau sudah tak mencintai Bagus lagi?” perlahan pertanyaan  terungkap. Rukmini mencoba menyelami hati  seorang perempuan yang baru pertama kali  jatuh cinta.

“Entah, Bu. Kalau pun Ratih mencintai Bagus, bagaimana dengan orangtuanya yang tak merestui hubungan kami?’ kebimbangan kembali menjelma. Ia pernah mendengar tentang membina rumah tangga yang tak berestu orangtua. Selama berumahtangga  takkan merengkuh bahagia. Ia tak ingin mengalaminya.

“Keputusannya ada padamu, Ratih. Kau yang akan menjalani. Mintalah petunjuk Allah.  Allah niscaya memberi pilihan terbaik untukmu.”

Ratih Sari mengiyakan. Ia memilih menyusut air mata yang  tumbuh di hati dan meluncur dari belah-belah pipi. Ia akan berusaha memperjuangkan. Mekipun kelak perjalanan cintanya akan berakhir seperti  apa, Ratih Sari rela menerima takdir. Rela menjalan garis nasib yang terjadi pada dirinya. Ia tak kan menyesal. Seperti nasib yang tertera  pada diirnya. Sejak kecil ia tak pernah tahu siapa kedua orantya? Mengapa mereka membuangnya? Apakah ia terlahir dari hubungan terlarang? Apakah ia anak orang kaya yang dulu bertengkar, atau  bayi yang diculik mantan pacar dan  dibuang? Seperti  dalam kisah-kisah sinetron itu?

***

Perempuan sepuh menonton sinetron yang tertayang di televisi  yang selebar layar bioskop. Ia tampak menikmati  sinetron  yang menceritakan  ketidakaksukaan seorang mertua  pada mantunya yang miskin. Angela Fania,  pemain yang berperan sebagai mertua perempuan sangat elok  aktingnya, sehingga konon ia  dicubit marah penggemar saat  jumpa fans. Bahkan si pemain senior ini memiliki  hatter sangat banyak di medsos.

Si perempuan sepuh tersenyum,  tertawa, terkekeh-kekeh menonton  sinetron yang semakin  lama semakin dipenuhi adegan licik. Bagaimana cara  mencelakai orang  yang dibenci. Si perempuan sepuh menangis girang ketika ia  terinspirasi untuk menyingkirkan  si gadis  panti yang  berani mencintai satu-satunya anak  lelakinya. Ia harus memisahkan mereka. Seperti dalam kisah-kisah di sinetron itu. ***

 

Kota Ukir, 06 Februari 2020.

Kartika Catur Pelita, penulis prosa dan puisi. Penulis 700-an cerpen. 100 cerpen dimuat 60-an media cetak dan daring. Buku: Perjaka, Balada Orang-Orang Tercinta, Kentut Presiden, Koin Emas Ratu Shima, Kotak Amal. Bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ).