Cerpen Maya Sandita (Haluan, 16 Februari 2020)

Mereka Bilang Aneh ilustrasi Istimewa-1
Mereka Bilang Aneh ilustrasi Istimewa

TIDAK SEMPAT. Demikian kesimpulan yang kuambil setiap saat, bila kutemukan Rubi sudah tidur di kamar dengan kedua kaki ia lipat. Kadang aku berpikir barangkali ia kedinginan sehingga harus mendekap kedua lututnya dengan tangan. Tapi meski sudah kuselimuti, kedua tangannya terus saja enggan beranjak dari posisi yang tadi.

Dulu Rubi tidak pernah tidur dengan cara seperti itu, ia lebih suka menelentangkan lurus-tubuhnya yang kurus. Namun agaknya ada yang terjadi di sekolahnya sepanjang beberapa hari ini. Dan bila aku hendak bertanya atau berharap ia memulai cerita, gadis itu sudah terlelap di kamarnya tanpa sempat mengganti seragam sekolah yang ia kenakan sejak tadi pagi. Kemudian jawaban ‘tidak sempat’ selalu kujadikan obat, hanya demi batin tak berpikir lain-lain.

Satu bulan belakangan ini aku—bahkan mungkin juga Rubi, anakku—merasa kehilangan sesuatu. Sebentuk raga atau rasa yang biasa berdekapan di ruang keluarga sambil melihat layar ponsel, menyapa lelaki mereka yang sampai hari ini masih berada di dalam sel. Jadi, keduanya sekarang punya dua jiwa yang hilang. Bagi Rubi, itu adalah ayahnya dan aku sendiri. Bagiku, tentu suamiku dan siapa lagi kalau bukan permataku, Rubi.

Sesekali ingin rasanya aku meninggalkan kantor sebentar untuk menjemputnya dari sekolah sebab tadi pagi aku juga tak sempat mengantar. Pekerjaan yang mesti kuselesaikan tak kunjung habis sejak direktur perusahaan memutuskan untuk memindahkan pusat tambang ke lain lahan. “Atur datanya sampai di mataku terlihat benar. Sesuaikan angkanya dan buat agak samar. Tidak perlu jujur melulu. Mereka butuh investor, dan tidak sadar kita sedang bermain kotor.”

Baca juga: Lelaki di Bawah Lampu Jalan – Cerpen Maya Sandita (Kompas, 26 Januari 2020)

Terus terang dalam hatiku berontak. Direktur berkenegaraan asing—berkepala botak—itu sangat lihai seperti tupai. Tapi, seperti kata pepatah yang kutahu sejak lama sekali, sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga suatu saat. Entah kapan, tapi semoga rencana buruknya ini segera digagalkan. Oleh Tuhan.

Sebagai seorang perempuan yang membesarkan Rubi sendirian, aku harus punya pekerjaan dan gaji tetap tiap bulan. Membiayai sekolah Rubi adalah kewajiban. Keputusan demikian sudah kutekadkan sejak suamiku masuk rumah tahanan sebab kedapatan menyimpan ganja dalam saku celananya.

Aku tahu apa yang Rubi tidak tahu. Aku kenal suamiku – sudah barang tentu, dan Rubi belum setelaten aku. Multiple Sclerosis telah lama bersarang di tubuh Alit, baru kusadari ketika Rubi berusia satu minggu dan suamiku jatuh sakit. Dokter bilang, “Saraf otak Alit diserang penyakit yang cukup serius, kami menyebutnya MS.” Tubuhku mendadak dingin seolah hendak beku seperti es.

Kami pulang. Setelah Alit meminum obatnya dan aku menyusui Rubi sampai tertidur, aku beranjak dari ranjang. Barangkali sudah lumrah saja jaman sekarang, untuk menggunakan bantuan internet demi mendapatkan informasi dengan gampang. Aplikasi itu membuat daya menghafalku berkurang. Sebab mudah saja mencari semuanya di sana, asal tersedia paket data—tentu saja.

Kuketik kata kunci apa saja, dan voila! Penyakit itu bisa diobati dengan ganja. Aku tahu, berurusan dengan dedaunan ini aku tak punya cukup nyali. Tapi demi Alit, aku mesti berani mengambil keputusan sulit. Kucari buku catatan ketika sekolah jurusan kimia industri dulu. Aku ingat tentang pengekstrakan. Kupikir barangkali akan jauh lebih aman untuk membawanya dalam bentuk cairan daripada daun utuh atau dalam lintingan.

Sekian tahun berlalu dan ancaman penyakit Alit bisa ditekan dengan penggunaan ekstrak ganja yang setiap hari kutakarkan. Sampai pada suatu hari ketika aku mulai disibuki dengan pekerjaan kantor tentang pembukaan lahan tambang di Kepri, aku tak sempat mengekstrak lagi.

Alit kembali jatuh sakit. Ia tak bilang padaku bahwa sesekali ia merasa saraf di otaknya seperti terjepit. Karena melihatku yang sibuk bekerja dan Rubi yang waktu itu sudah sekolah, ia masuk ke ruang laboratorium kecilku di rumah. Ia ambil daun ganja beberapa, rencananya akan ia seduh dengan air hangat nanti di tempat kerja.

Tapi sungguh sial hari itu. Seorang polisi menyergap suamiku. Teman kerjanya melaporkan bahwa suamiku pengganja dan demi kenyamanan ruang kerja, ia mesti ditahan.

Baca juga: Percakapan Orang Hilang – Cerpen Arbi Tanjung (Haluan, 02 Februari 2020)

Perjuangan melawan sakit selama lebih tujuh tahun dengan sulit, berlanjut di sebuah penjara dengan tempat tidur yang sempit. Polisi tidak mau tahu juga tidak percaya dengan Multiple Sclerosis yang diderita suamiku. Aku putus asa. Sejak suamiku mendekam di penjara, aku seperti mendengar ia menghitung napasnya.

Sejak saat itu aku tahu bahwa penjara tidak selalu kaku. Aku menghela napas lega ketika ia berkata, “Aku bisa beli. Tapi harganya naik dengan kelipatan tiga kali.”

Tidak apa. Selama ia bisa bertahan dari sakit yang terus berusaha ia redakan.

Semestinya aku menjenguk Alit ini hari, membawakan peralatan mandi, juga satu tas baju yang belum diganti seminggu ini. Tapi aku dan Rubi sedang kehilangan kesempatan. Aku ditelan pekerjaan dan Rubi… “Oh! Kupikir sekarang mesti kutanyakan!” pikirku, beranjak dari sofa kemudian.

“Nak,” kubelai rambut kusut itu dengan lembut. Ia terjaga, pelan-pelan dibuka matanya.

“Ibu,” jawabnya pelan.

Aku memperbaiki dudukku. Ia menggeser tubuhnya ke ujung kasur itu. Disandarkan punggungnya, dan diselonjorkan kakinya.

“Sepertinya kamu letih sekali pulang sekolah,” kubuka percakapan. “Maaf ya, Ibu tidak sempat menjemput Rubi dan pulang malam hari.”

“Tidak apa, Bu. Rubi mengerti,” ia tersenyum manis sekali. Tapi tak menghapus kecewaku pada diri sendiri.

Anakku yang kuberi cinta dengan utuh, usianya bulan ini genap tujuh. Si kecil pemberani yang sangat kusayangi. Barangkali cinta itu belum mengalahkan semesta rindu ayahnya. “Kamu mau telfon ayah?” aku menawarkan.

Mendengar kalimat ibunya, terbuka lebih lebar kedua mata, duduk lebih tegap ia.

Dari dalam penjara yang penjagaannya tidak seketat yang kukira, Alit masih menggunakan ponsel pintarnya. Ia masih bisa melihat anaknya dan bercengkerama dengan kami berdua.

Baca juga: Bantal Penambal Bulan – Cerpen Maya Sandita (Haluan, 26 Mei 2019)

“Bagaimana sekolahmu tadi, Rubi?” tanyanya setelah beberapa obrolan sebelumnya terlewati.

“Tidak seru.”

“Kenapa?”

“Teman-teman mengatakanku aneh.”

“Aneh?”

“Seingatku sejak kecil ayah dan ibu mengajarkanku makan dengan tangan saja. Langsung dengan tangan yang kupunya. Atau sesekali kalian mengajarkan cara memakai sendok dan ya, Rubi tidak suka.”

“Lalu?”

“Teman-teman menertawaiku. Mereka bilang aku jorok.”

“Bagaimana yang tidak joroknya menurut mereka?”

“Membungkus tangan mereka dengan plastik.”

Alit diam sebentar. Aku mengambil waktu lebih lama. Dalam waktu yang demikian itu ada sesuatu di kepala yang mendadak membuatku gusar. Alit segera mengambil perannya. Ia menasihati dengan caranya sendiri sementara aku terus membelai rambut hitam Rubi.

Seingatku, aku juga pernah membaca tentang kebiasaan baru seperti itu. Di laman internet yang mana, tidak tersimpan baik dalam memoriku. Tangan dianggap tidak steril adanya dan harus dibungkus dengan sesuatu yang lebih bersih menurut mereka. Plastik.

Tepat sesaat setelah tulisan viral itu selesai kubaca, aku merasa ada yang salah pada pemahaman penulisnya, dan sekarang aku juga merasa aneh pada yang percaya bahkan sampai mempraktikannya.

Sedang Alit bicara dengan Rubi, kualihkan halaman ke sebuah aplikasi lain yang kupasang di ponsel ini, mengaktifkan akunku dan mencoba bicara dengan orang tua teman-teman Rubi. Tapi ternyata aku merasa seperti orang normal yang dianggap aneh oleh sekumpulan orang yang ada di pihak rival. Demikian kuatnya informasi dengan mudah tersebar, jadi viral, dan diyakini sebagai pengetahuan baru masa kini.

“Ya, berdasarkan riset yang ditulis di laman web itu, saya sih percaya. Bahkan makanan-makanan olahan industri rumahan juga ndak sehat, Ibu-ibu. Diolah langsung dengan tangan kan?”

Begitu sebuah kiriman pesan di aplikasi media sosial WhatsApp yang sudah lama saya gunakan. Para orang tua lain membalas dengan pendapat mereka yang sama saja alias sealiran.

“Kalau bicara soal kebersihan yang begitu, makanan pabrik kayaknya lebih punya mutu. Tidak tersentuh tangan loh, Ibu-ibu. Semuanya mesin. Ya…, meskipun ada sedikit tambahan micin. Ndak apa-apalah, ya. Namanya juga penyedap rasa.”

Kemudian pesan itu dibalas kelakar dan tawa yang tak habis-habisnya. Aku hanya membaca.

Ponsel pintar lain yang tadi kuberikan pada anakku untuk menelepon Alit masih digunakan Rubi. Pada saat yang sama ketika aku hendak ikut serta masuk ke obrolan, ponsel pintar yang sedang kugenggam menerima panggilan, direktur perusahaan.

“Besok pagi kita adakan rapat, ya. Ini tentang daftar PHK yang akan saya umumkan lusa. Saya harus menekan jumlah pekerja. Sebab mesin baru dari Cina sedang banting harga, dan besok barangnya sudah bisa saya terima. Perusahaan kita perlu lebih efisien saya rasa. Dan penghematan tentunya. Bawa rancangan angka bauksit beserta harga yang kita rancang sebelumnya, ya!” direktur itu bicara pelan sekali dan hati-hati. Tentu sebab pelafalan dan pemahaman bahasa Indonesia-nya sangat berantakan. Tapi menurutku dengan caranya yang demikian, usahanya lumayan.

Barang pasti aku akan mengiyakan, maka tidak perlu baginya untuk mendengar jawaban ‘ya’ atau ‘baik, Pak’ – perlu kusuarakan.

Kumatikan ponsel yang ada di tanganku. Aku kembali duduk mendekat pada Rubi kesayanganku.

“Teman-teman semuanya pakai sepatu sneakers ke sekolah. Mereka pamer harganya yang tidak murah. Lalu menertawakanku karena aku lebih suka memakai sepatu hitam polos merk apa saja yang dibelikan ibu. Harganya aku tidak tahu. Dan mereka bilang ‘Rubi cupu!’”

“Mereka bilang begitu?”

“Iya, ayah! Mereka juga bilang Rubi tidak keren karena tidak punya smartphone. Mereka semua bawa ponsel pintar ke sekolah,” Rubi melirikku, dan aku tahu alasan ia melakukan itu. Segera kubelai lagi rambutnya.

“Rubi boleh main gadget, Ibu ‘kan kasih waktu, Nak. Tapi belum boleh dibawa ke sekolah. Sementara ini, main di rumah sajalah. Ya, Nak?” aku berusaha membujuknya. Rubi yang baik menganggukkan kepala.

Aku merasa tidak ingin melepaskan Rubi jadi anak pelupa yang malas menghapal apa saja dan dengan mudah berkata, “Di internet kan ada!” Anakku tidak boleh ketergantungan dengan elektronik. Itu melemahkan kecerdasannya sebagai anak manusia.

Tiba-tiba kudengar seruan keras dari ujung telepon sana. Seseorang dengan suara keras menghardik Alit yang sedang bicara dengan anaknya. “Sini handphone kau!” begitu saja yang bisa kudengar. Lalu tiba-tiba telepon diputus.

Rubi tiba-tiba pucat. Sepertinya ada kekhawatiran yang hebat.

Aku memeluknya, “Ayah tidak apa-apa. Besok kita ke sana.”

Kupeluk Rubi sampai tertidur pulas, kunyalakan ponsel yang tadi kumasukkan ke dalam tas. “Pak, maaf mengirim pesan tengah malam begini. Rubi demam tinggi dan suami saya masuk ruang isolasi. Saya minta maaf tidak bisa hadir rapat besok pagi. Tapi saya akan singgah ke kantor bersama Rubi, untuk mengantar data yang Bapak minta, sekaligus surat pengunduran diri. Terimakasih.”

Kukemasi barang-barang yang perlu dibawa, aku tak lupa dengan sebotol ekstrak ganja. Pagi hampir tiba. Untuk sementara waktu Rubi kujauhkan dari kota. Desa mungkin jadi tempat yang tepat bagi anak seusianya. Di sana tidak ada teman-teman yang mengatai aneh sebab ia makan dengan tangan, juga tidak ada yang mengejeknya soal sepatu yang merknya tak sama dengan mereka.

Tentu selama; siber belum jadi racun bagi desa.*

 

Batusangkar, 13 Oktober 2019

Maya Sandita, sutradara, aktor, dan penulis. Berdomisili di Batam. IG @sanditaisme.