Cerpen Eko Triono (Kedaulatan Rakyat, 16 Februari 2020)

Keluar dan Masuk Neraka ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat (1)
Keluar dan Masuk Neraka ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

“SUDAH dua malam berturut-turut, aku mimpi masuk neraka dan tidak menemukan pintu keluarnya. Di mana-mana api membakar,” kata Junaid menghadap kyai.

Kyai santai saja, biasa saja, dan berkata tentu saja seperti itu, namanya juga neraka. Junaid tersinggung. Kyai bilang bukan tugasnya membuat orang masuk atau keluar dari neraka, itu tugasnya yang punya manusia.

Pikiran Junaid makin tertekan dan dia mengutarakan pendapat imam musholanya tentang mimpi berulang tiga kali akan jadi kenyataan, dia khawatir kalau sekali lagi.

Memang, jawab kyai, ada beberapa tafsir begitu, kalau masih tetap percaya ya, begini saja biasanya tidur kapan? Junaid menjawab Rabu ini dia ronda, tidur dini hari, saat imam musalanya bangunkan orang tahajud pakai speaker. Kalau begitu, kata kyai, coba berbuat baik beberapa jam ini.

“Istriku, sudah dua malam berturut-turut, aku mimpi masuk neraka dan tidak menemukan pintu keluarnya. Hari ini aku mau membagikan apa yang kita miliki,”Junaid menghadap istrinya yang sedang mencari kontak motor.

Baca juga: Ikan Kaleng – Cerpen Eko Triono (Kompas, 15 Mei 2011)

Istrinya mendelik, enak saja, katanya. Kamu mau bagikan semua yang kita miliki, memangnya mana yang milik kita, rumah ini milik bapakku, warung kelontong itu titipan simbok, mana yang punyamu. Kamu datang modal dengkul, itu pun dengkul kropos, tidak bisa ngisi anak, sekarang mau berikan semuanya pada orang lain, berikan itu burung-burung cicit-cuit, senar pancing, botol ciumu.

Harga diri Junaid tercabik dan ingin menempeleng istrinya, tapi tiba-tiba dia teringat neraka dan berkata dia akan tobat.

Istrinya pergi ke rumah orang tuanya. Junaid sendiri, bingung sendiri, sebelum mengambil langkah tegas.

“Sudah dua malam berturut-turut, aku mimpi masuk neraka dan tidak menemukan pintu keluarnya. Beberapa jam ini aku ingin berbuat baik, silahkan ambil, gratis,” Junaid berbicara pada pelanggan.

Dia menempelkan tulisan gratis di toko kelontongnya. Dalam sekejap, orang berdesak meludeskan dagangan.

Junaid senang melihat orang tertawa dan memuji kebaikannya, dia ketiduran dan di dalam mimpinya dia masuk surga bersama bidadari yang juga tertawa dan memuji kebaikannya. Di antara mereka tiba-tiba muncul bidadari yang matanya mendelik dan berteriak, hei, apa-apaan ini, enak saja! Sambil melemparkan kontak motor ke wajahnya, hingga membuat Junaid bangun, dan melihat istrinya mengangkat toples kembang gula kosong, bersiap melemparkan siksa neraka yang lainnya.

 

2019

Eko Triono, novelis. Saat ini bermukim di Kota Xiían, Tiongkok.  ❑-e