Cerpen Aljas Sahni H (Media Indonesia, 16 Februari 2020)

Kapitalis Sialann ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia (1)
Kapitalis Sialann ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

PEMBANTAIAN komunis kala itu tak benar-benar bersih. Buktinya, salah satu orang komunis masih hidup dan tak tampak batang hidungnya dalam jeruji besi. Ia adalah Suheb, memilih lari tatkala terdengar suara derap sepatu para tentara. Beberapa obor ciptakan semburat merah menyala di perdukuhan. Bila Suheb tak lari, terkoyak-koyaklah tubuhnya oleh harimau pemangsa komunis di negeri ini.

“Maimuna, aku harus lari,” pamit Suheb pada sang istri. Ia meraih tangan sang istri, enggan untuk melepaskan. “Bila sekarang aku tak bergerak, para bajingan itu yang bergerak memangsaku.”

“Tapi, sampean mau lari ke mana, Mas?”

Suheb tak menjawab. Dadanya bergemuruh ketika air mata sang istri tak dapat lagi dibendung. Ia ingin menangis pula, tapi ia laki-laki, ia adalah komunis, dan pantang buat orang-orang penegak keadilan seperti dirinya menjatuhkan air mata.

Waktu, jam di dinding berdetik. Bila ia tak lari sekarang, maut akan segera menjemput. Cukuplah salam perpisahan kepada sang istri yang cantik tiada tanding. Ia melepas genggaman istrinya hingga terkulai lemah. Sang istri hanya dapat memandang tanpa lagi banyak bertanya, hanya isak yang terdengar.

Baca juga: Mimpi Berjumpa Gus Dur – Cerpen Aljas Sahni H (Kedaulatan Rakyat, 12 Januari 2020)

Suheb bergegas mengambil alat penerang. Ia tak punya waktu untuk mengganti pakaian. Biarlah, ia hanya memakai sarung dan kaus tipis untuk menutupi tubuh kurusnya. Tak lupa ia melambaikan tangan, meski tanpa menatap muka sang istri lagi. “Aku pergi, jagalah dirimu baik-baik.”

Sang istri memandang punggung Suheb yang menjauh. Ia hanya dapat menangis dan menangis. Ia juga tak mungkin menahan suaminya itu. Kepergian sang suami adalah yang terbaik untuk saat ini. Namun, walau begitu, ia merasa tak sanggup berpisah dengan kekasih komunisnya itu.

***

Nyaris Suheb gila hidup berkalang tanah dan berselimut sepi. Rambutnya memanjang lebat, bak hutan belantara. Tubuhnya kian kurus tinggal tulang terbalut kulit. Wajah Suheb yang sebetulnya tampan kini terlihat sangat kumuh dengan ukiran luka yang alami. Andai ia tak masuk ke partai komunis, barangkali kini ia sedang duduk santai di ruang tamu, lantas sang istri datang dengan secangkir kopi dan sesungging senyum.

Namun, ia kini di hutan pegunungan, bersembunyi di dalam gua untuk menghindari binatang buas, baik binatang tulen maupun binatang jadi-jadian yang lebih buas. Selama setahun, perutnya kerap berisi ikan-ikan mentah. Kadang pula ia memakan buah-buahan bila ada pohon yang dapat ia jangkau. Bila pohon itu tak lagi memberi buah, kembalilah ia melahap ikan-ikan kecil dan mentah.

“Semua karena si Damar, babi sialan!” umpatnya suatu ketika. Ya, meski Damar mempunyai darah yang sama dan lahir di rahim yang sama dengannya, Suheb sangat membenci orang itu. Sebab Damar pula, ia masuk ke partai komunis. Suheb ingin keadilan. Kelak ia menyadari, jalan keadilan sulit sekali ditempuh.

Damar, sang anak pertama, duduk di kursi kekuasaan dan berkelakuan seenaknya. Ia mempermainkan para pekerja. Ia mengadu domba mereka, yang ia anggap rajin dapat upah tambahan, sementara yang punya kesalahan, biarpun hanya sekali, langsung dipecat. Saat itulah, Damar akan tertawa terbahak-bahak, menganggap caranya adalah yang paling tepat untuk bertambah kaya dan semakin kaya.

Baca juga: Bulan Pucat – Cerpen Mashdar Zainal (Media Indonesia, 02 Februari 2020)

Berbeda dengan Suheb, ia ingin keadilan. Ia menentang sang kakak, mengacungkan jari telunjuk, sambil berkata, “Cara itu adalah cara pencundang!” dan kata-kata yang keluar dari bibir Suheb itu membuat Damar begitu geram.

Saat itulah, terbagi dua kubu di perdukuhan. Sebagian orang di perdukuhan itu masih mengemis upah pada Damar. Sebagian lagi, menjadi pengikut Suheb yang seorang komunis dan bercita-cita menegakkan keadilan. Begitulah kira-kira kesumat itu tersulut, hingga datang waktu ketika obor-obor meramaikan perdukuhan, dan derap sepatu tentara memekakkan telinga.

Tragedi itu pula yang membuat Suheb harus terdampar di hutan belantara ini, menjalani hari-hari menyedihkan sendirian. Satu sarung dan satu kaus tipis yang ia pakai malam itu, kini sudah amat lusuh dan tak layak dipakai. Ia harus memakan ikan-ikan mentah untuk bertahan hidup dan tak jarang pula harus bertarung dengan penyakit yang bukan sekali menyerang.

Namun, ada yang lebih menyedihkan daripada itu. Ia masih bisa bertahan sampai kini di hutan belantara itu dengan banyak rintangan dan kewaswasan yang mencekam. Akan tetapi, ia nyaris mati bila ingat mata teduh sang istri yang begitu jelita. Baginya, rindu adalah makhluk gaib yang paling berbahaya.

Ia merasa bersalah meninggalkan sang istri sendirian dan rasa bersalah itu beranak pinak menjelma rasa cemas. Pernikahannya dengan Maimuna belum menghasilkan benih dengan arti yang sesungguhnya, anak. Suheb terlalu sibuk pada kegiatan partai sehingga jarang-jarang ia pulang dan menggauli sang istri.

Suheb juga jarang-jarang merayu sang istri dengan kata-kata indah. Malah, ia lebih disibukkan dengan merayu para pekerja untuk ikut dengannya—sama-sama menegakkan keadilan—lantas ia akan berteriak-teriak di hadapan kerumunan para pekerja, “Kaum buruh dunia, bersatulah!”

Baca juga: Sepasang Mata Sunyi yang Mengejar – Cerpen Ita Siregar (Media Indonesia, 19 Januari 2020)

Tak hanya itu, Suheb lebih suka memuja bendera bergambar palu arit daripada memuja sang istri. Suheb lebih suka membaca buku-buku Karl Marx daripada membaca gerak-gerik resah sang istri. Suheb lebih suka berjalan berduyun-duyun dengan sesama komunis daripada duduk bersanding dengan sang istri.

Sekarang, tinggal sesal yang menikam saban waktu. Kini, ketika angin tenggara membuat Suheb menggigil kedinginan, ia merindukan kehangatan tubuh sang istri yang menyelimuti. Ketika penyakit mag, gigi, maupun gatal-gatal menyerang, ia mendambakan kejaiban, Maimuna datang dengan kelembutan dan merawatnya hingga benar-benar sembuh. “Maimuna, aku rindu!” sedunya.

Ia ingat betul malam itu, tatkala ia awal memasuki hutan di pegunungan ini. Ia hanya melambaikan tangan kepada sang istri tanpa menoleh lagi. Perihal itu ia lakukan demi menjantankan diri. Mana mungkin harus ia perlihatkan air mata pada sang istri. Ia adalah laki-laki, seorang komunis pula. Pantang bagi para komunis menjatuhkan air mata.

Ia menjejaki jalan terjal mendaki gunung, berbekal senter dengan daya yang nyaris habis. Dahaga maupun lapar membuat ia sempoyongan. Sebelum ia lari, belum juga ia mengisi perut. Pada malam itu, ia ingin bersenda gurau dengan sang istri. Namun, apalah daya, derap sepatu para tentara dan obor-obor mengobori mengurungkan niatan itu.

Alangkah sial Suheb malam itu. Selain letih, dahaga, dan lapar, seketika senter yang ia bawa mati begitu saja. Ia hanya dapat mengandalkan sinar rembulan malam itu. Ia harus terus bergerak sebab para harimau bajingan itu akan menerkamnya hidup-hidup. Alangkah lebih sial lagi, tetiba ia terpeleset, jatuh, dan berguling-guling ke dalam jurang yang curam.

Baca juga: Tahun-Tahun Kemacetan – Cerpen Risda Nur Widia (Media Indonesia, 05 Januari 2020)

Suheb pikir malam itu tamatlah riwayatnya. Padahal, ia masih dibangunkan oleh sinar mentari pagi hari. Ia merasakan sakit yang amat sangat di sekujur tubuhnya. Lain lagi dengan bunyi berisik perutnya. Ia mencoba bangkit, kendati sangatlah sulit. Ia berjalan tertatih-tatih dengan bantuan kayu yang dijadikan tongkat.

Ia menemukan sebuah sungai, dan dari sanalah sumber kehidupan setahun belakangan bagi Suheb. Ia meneguk air bagai seekor binatang. Dengan bantuan sarung yang ia pakai, ia bisa mengarungi ikan-ikan meski kecil-kecil. Tak hanya itu, ia juga menemukan sebuah gua, dan kelak ia menyadari bahwa gua itu adalah tempat persembunyian paling aman.

Bajingan bukan, selama setahun lamanya Suheb bertahan hidup di hutan itu. Namun, ia tak sanggup lagi membendung rindu pada sang istri. Ia ingin pulang, melihat wajah ayu dan mata teduh sang istri. Ia merasa, di bawah sana, kerusuhan telah reda, dan barangkali sudah waktunya untuk Suheb kembali pulang.

Ia lantas menuruni gunung dengan berbekal ikan-ikan mentah. Ia sudah tak sabar kembali melihat wajah sang istri, menghirup udara kampung halaman, dan merasakan kembali apa yang disebut rumah. Karena angan-angan indah itu, letih pun kini tak lagi ia rasa.

Perjuangan ia bertahan hidup memang tak sia-sia. Ia merasakan kedamaian sesampai di perdukuhan. Di sana, masih ada bekas-bekas gubuk terbakar sebab para tentara malam itu. Ingatan tentang malam kelam itu kembali merayapi tempurung kepalanya, tapi lebih nyatalah ingatan wajah kekasih.

Sekitar tengah malam, ia sampai ke rumahnya. Ada sedikit perubahan pada rumah itu, ada bunga-bunga di pekarangan, dan atap rumah juga terlihat baru. Namun, ada yang lebih membuat ia lebih bertanya-tanya, terdengar desah Maimuna dari dalam rumah.

Antara cemas dan geram bercampur menjadi satu, mengulek dada Suheb hingga remuk redam. Dengan sekuat tenaga ia mendobrak pintu, dan nyatalah oleh mata para binatang itu saling tindih.

“Babi kapitalis sialan!” umpat Suheb. Matanya begitu nyalang menatap kakak dan istrinya bertelanjang dalam keremangan lampu. (M-2)