Cerpen Mugi Astuti (Suara Merdeka, 16 Februari 2020)

Doa-doa yang Terjawab ilustrasi Suara Merdeka (1)
Doa-doa yang Terjawab ilustrasi Suara Merdeka 

Tutut sangat ingat, dulu, saat kecil, matanya membesar mengamati sembilan potong gaun indah di hadapannya. Gaun lebaran. Ia tidak habis pikir, lebaran hanya dua hari, kenapa baju lebaran harus ada sembilan potong? Kapan memakai yang tujuh potong?

Tentu gaun-gaun itu bukan miliknya. Gaun itu milik teman sekampung.

Ia tidak paham kenapa ibunya hanya membeli pakaian untuk adik-adik. Namun ia tidak bertanya. Ia hanya memandang iri baju baru teman-temannya itu dan berharap bisa seperti mereka. Saat itu Tutut harus memakai baju lebaran tahun sebelumnya yang masih terlihat bagus.

Ia juga ingat, saat kelas II SMP, ibunya berkata, “Cacike nyari tenaga buat bantu-bantu resto di Gedong Batu beberapa hari. Kamu mau? Gajinya lumayan, daripada kamu libur keluyuran gak jelas.”

Baca juga: Kota Ini Memberiku Kesedihan Terbaik – Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 09 Februari 2020)

Tawaran Ibu itu menjadi awal bagi Tutut menghabiskan libur lebaran, hingga bertahun-tahun kemudian. Ya, ia jadi tenaga pocokan di warung makan depan sebuah kelenteng besar di Semarang yang mrema setiap kali lebaran, saat perayaan hari besar Tionghoa, dan liburan sekolah.

Ia memang melewatkan keriaan dan keriuhan tradisi Idul Fitri. Saat teman-teman sebaya bersenang-senang, ia bergelut dengan piring kotor atau barang belanjaan jika diajak ke pasar dan banyak hal lain. Namun bayangan akan menerima sejumlah uang, membuat hatinya senang. Senyumnya mengembang manis, membayangkan sepatu kanvas merah seperti milik penyanyi rock idolanya dan kaus hitam lengan panjang bergambar grup metal favoritnya dalam genggaman. Ya…, beberapa hari lagi ia pasti memiliki barang-barang itu. Ia sudah melihatnya waktu mengantar teman belanja baju lebaran di sebuah mal di pusat kota.

Ia juga melubangi salah satu celana jins biru tintanya, menyikat dengan sikat kawat untuk memperoleh efek sobek alami yang cantik. Ia ingin tampil seperti personel band metal pujaannya.

Di mal, Tutut memasukkan kaki ke sepatu kanvas merah setinggi semata kaki. Ia begitu bahagia. Memang tak serupa dengan sepatu bermerek seharga ratusan ribu yang dipakai sang idola. Namun ia tersenyum puas. Dia memasukkan kembali sepatu itu ke dalam dos menyerahkan kepada pramuniaga, dan menuju ke kasir. Mal masih lengang. Ia pulang membawa barang yang begitu ia idamkan.

Baca juga: Merampas Kewanitaan – Cerpen Joss Wibisono (Suara Merdeka, 26 Januari 2020)

Lebaran memang selalu datang terlambat buat Tutut selama beberapa tahun ini. Saat temannya bersuka ria dengan baju baru dan mengunjungi para kerabat, ia harus berhadapan dengan kertas pesanan pengunjung rumah makan, mangkuk, piring kotor, serta pelototan mata pelanggan ketika pesanan mereka terlambat datang, lalu mengakhiri hari dengan merebahkan diri di kasur lipat tipis di antara meja-meja rumah makan. Tak sampai 10 menit, dengkur halusnya telah terdengar.

Tutut membeli baju baru saat mal sudah lengang beberapa hari setelah Idul Fitri. Ia mengenakannya saat beberapa teman seusia sepulang mengunjungi nenek mereka di lain kota.

***

“Aku mau pake kaus ini besok, Bu,” ujar anak Tutut yang berusia di bawah lima tahun sambil menunjuk kaus baru bergambar tokoh kartun yang sedang ditata sang ibu dalam kopor.

“Kemarin kamu bilang mau pakai ini buat salat id. Kamu mau tuker sama kaus lain?”

Mata anak itu lama menatap mata sang ibu sebelum akhirnya menggeleng.

“Sekarang kamu tidur. Besok kita berangkat pagi-pagi sekali ke rumah Mbah. Jangan terlambat bangun.”

Baca juga: Perempuan Tembakau – Cerpen Istifari (Suara Merdeka, 19 Januari 2020)

Lebaran menjelang beberapa hari lagi. Tutut menghela napas. Dia menutup resleting kopor. Semua persiapan mudik sudah siap. Celoteh kakak-beradik, anak-anaknya, sudah tak terdengar. Tutut menuju ke kamar mereka, membetulkan selimut, lalu melangkah keluar kamar dan menyalakan televisi.

Tutut menyesap teh. Matanya tertuju ke layar televisi, tetapi pikirannya terlempar jauh. Betapa bayangan ideal masa kecil tentang lebaran, yang bahkan dulu untuk memimpikan pun dia tak berani, kini dia dapatkan. Ia bisa berbelanja kebutuhan lebaran seperti orang-orang lain, berdesakan di mal, membeli baju baru, memenuhi toples-toples dengan penganan khas hari raya, mudik, mengunjungi orang tua dan kerabat suami. Namun keriuhan hari raya yang dulu hanya bisa dia bayangkan, kini malah membuat dia merasa asing saat berada di dalamnya. “Padahal seharusnya aku bahagia karena ini seperti doa-doa yang terjawab, meski tak pernah kuucapkan,” batin Tutut.

Dia letakkan cangkir dan melangkah ke arah pintu saat mendengar derum mobil diesel sang suami.

***

Tutut menekan tombol end call, mengakhiri obrolan dengan kedua anaknya. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini mereka memutuskan mudik mengunjungi kerabat sang bapak menggunakan sepeda motor. Sebagai ibu, perasaan khawatir menyelimuti hatinya. Tujuh tahun berpisah dari anak-anak membuat Tutut tidak memahami perkembangan mereka. Namun dia segera menepis perasaan itu. Mereka sudah besar. Lagipula dia tak meragukan lagi keterampilan mereka berkendara. Beberapa waktu lalu, saat ia cuti dan pulang ke Tanah Air, anak-anak begitu terampil mengendarai motor ketika mengantar ia mengunjungi banyak tempat. Ia tahu, kekhawatirannya tak beralasan.

Baca juga: Sebelum dan Sesudah Terompet Ditiup – Cerpen Aji Saputra (Suara Merdeka, 12 Januari 2020)

Banyak hal telah berubah, meski berkumpul dengan sanak-saudara saat lebaran masih menjadi tradisi setiap tahun. Tadi Tutut tak mampu menghindar untuk sekadar berbasa-basi dengan mantan ipar-iparnya saat video call dengan anak-anaknya. Mereka baik, tetap sama baik dan tulus seperti dulu. Ketulusan murni orang-orang sederhana. Namun tetap saja Tutut mengambil jarak. Ada perasaan asing yang tak bisa dia jelaskan saat berada di tengah mereka.

Kini, beranda Facebook, seperti hari-hari biasa, disesaki pro-kontra tentang apa pun yang sedang viral. Unggahan orang-orang nyaris seragam. Orang bisa tiba-tiba menjadi ahli dan menyikapi secara kritis apa pun, tak terkecuali hari ini, ketika mereka menghabiskan waktu dan uang untuk menyambut hari raya.

Jempolnya pelan menggeser layar. Dia membaca unggahan teman dalam friendlist hari ini. Sebagian mengutuk tradisi menghamburkan uang saat lebaran, menyalahkan kapitalis, menyalahkan gaya hidup, menyalahkan apa pun yang bisa mereka jadikan argumen untuk membenarkan penilaian. Sebagian lagi dengan berbagai alasan membenarkan perayaan yang butuh uang tak sedikit.

Tutut menghela napas. Ia memilih tidak larut dan memihak salah satu. Ia sudah tak mau lagi mengutuk atau membenarkan tradisi yang tak jarang meninggalkan utang setelah semua berlalu. Ia pernah ingin berada di sana, pernah pula merasakan berada di sana. Ia juga tak mau menyikapi secara kritis orang-orang yang memilih bekerja pada hari raya. Ia sangat paham bagaimana rasanya harus bekerja saat orang-orang lain berkumpul dengan sanak-kerabat.

Baca juga: Kematian Dulahmat dan Suara Kucing Hitam – Cerpen Khairul Fatah (Suara Merdeka, 05 Januari 2020)

Hampir pukul 21.30. Tutut meletakkan telepon. Pikirannya melayang, kembali mengingat obrolan dengan anak-anaknya lewat video call setengah jam lalu. Dia teringat wajah bahagia anak-anak kecil bermain petasan dan kembang api di layar telepon. Lamat-lamat terdengar pula suara takbir dari masjid tak jauh dari tempat mukim anak-anaknya.

Ada perasaan yang sukar dia jelaskan. Bukan rindu atau perasaan yang dulu ia rasakan saat melihat orang-orang merayakan lebaran. Karena sekalipun perasaan itu akhirnya tergenapi, seperti doa-doa yang terjawab, tetap saja ada ruang di hatinya yang tak bisa terisi penuh.

Tutut merebahkan tubuh. Matanya memandang langit-langit. “Apakah aku jenis orang yang tak pernah bersyukur?” batin dia. “Tapi bisakah aku bersyukur atas apa saja yang tak pernah bisa kunikmati secara utuh?”

Gema takbir lamat-lamat saat video call dengan anaknya terus mengiang dalam telinga. Tutut memejamkan mata. Lubang di hatinya makin menganga. (28)

 

Taiwo, Juni 2019

Mugi Astuti, mantan buruh migran di Hong Kong, menulis puisi dan cerpen. Kini, dia tinggal di Semarang bersama kedua anak jejakanya.