Cerpen Maya Sandita (Singgalang, 16 Februari 2020)

Dalam Bingkai Jendela ilustrasi Singgalang
Dalam Bingkai Jendela ilustrasi Singgalang

Sepanjang usia yang telah ditempuh, banyak  yang datang dan berlalu, meninggalkan kenangan berupa serpihan atau masih utuh. Tak ada yang bisa dilupakan, kisah-kisah itu telah begitu indah dituliskan. Masing-masing manusia memiliki dan memberikannya, termasuk Hilman. Seorang lelaki yang tengah dipandangi seorang perempuan yang duduk menghabiskan senja, membingkai kepala hingga dada di sebuah jendela kaca. Tak terdengar suaranya, tapi wajahnya saja sudah senantiasa buat bahagia.

Hilman tengah sibuk di meja belajarnya. Terlihat dari jendela seberang yang terbuka. Ia biarkan angin masuk dan menerpa. Jemarinya seperti tak penat berlarian di atas tuts komputer sejak semalaman. Matanya seolah takkan berpaling, kecuali bila telefon genggamnya berdering.

Perempuan itu menyaksikan dari kejauhan, sembari menikmati minuman kesukaan. Secangkir Creamy Latte tanpa gula.

Langit berubah jingga. Ini sore kedelapan sejak Februari bermula dan sejak Hilman sibuk di sebuah ruangan dengan jendela terbuka. Suara qori terdengar dari masjid lewat pengeras suara, sebentar lagi waktu Maghrib tiba. Saat itulah Hilman akan benar-benar beranjak dari meja dan kursi serta melepas komputer dari perhatiannya. Ia akan berdiri untuk menutup kaca jendela dan tirai panjang tanpa pernah memberi perhatian ke seberang. Tanpa ingin tahu bahwa ada kejadian yang terus menerus berulang.

Perempuan itu melakukan hal yang sama. Menutup tirai jendela, beranjak dari tempat duduk dan menaikkan suhu kamarnya. Lalu ingatannya pulang ke belakang, mengenang seseorang.

“Tidak ada yang salah. Wajar saja jika melupakan Hilman jadi perkara yang begitu susah. Aku tahu seberapa dekat kalian sebelum hati jadi kejauhan. Kau selalu menceritakan padaku bagaimana sosok lelaki itu. Ya, meskipun terkadang kurasa cukup berlebihan untuk sekelas manusia seperti dia,.” Nindi duduk di samping Wina, perempuan di balik kaca jendela, secangkir teh dingin dalam kemasan menyusul ke tangannya.

Baca juga: Orang Gila yang Buta dengan Luka Memar di Sekujur Tubuhnya –  Cerpen Maya Sandita (Riau Pos, 26 Januari 2020)

Udara sore dengan cuaca berawan tidak begitu buruk untuk dinikmati dengan duduk di halaman. Sudah lama Wina tak mampir ke rumah itu, sejak libur semester dua tahun lalu.

Angin bertiup menyibak poni tebal Wina tanpa mengusik rambut pendeknya.

“Barangkali sudah tepat keputusannya untuk memilihmu, hanya saja kalian masih perlu banyak waktu.”

Wina menghela napas mendengar ucapan temannya. Hatinya membenarkan. Tapi rasanya percuma saja hari ini masih mengingat Hilman, yang mungkin sudah sama sekali lupa dengan dirinya. Ia memandang lurus ke depan. Dalam ruang pandangannya terlintas semua kenangan.

“Dia sehat?” tanya Wina selepas kenangan itu usai.

“Sehat. Sedang menyelesaikan skripsinya.”

Berkerut kening Wina.

“Ini kesempatan terakhirnya untuk wisuda. Kata teman-temannya, Hilman sedang tidak bisa diganggu. Ia antara hidup dan mati, barangkali begitu. Aku cuma tersenyum menyayangkan. Karena sebenarnya aku ingin mengabari bahwa kau akan datang pada Hilman.”

“Untuk apa mengabarinya?”

Nindi mengangkat bahu sembari melampirkan senyum seolah menyimpan sesuatu. Tapi kening Wina malah semakin berkerut dibuatnya.

“Sudah hampir malam. Aku sudah dapatkan  rumah kontrakan yang kau pesan. Sudah kubayarkan setengahnya tadi pagi, kau tinggal bayar setengah lagi. Ya… anggap saja kau sedang mencicipi hasil proyekku yang jebol tahun ini.” Nindi masuk membawa toples kue dan minuman kemasan.

“Tidak ingin menawarkanku menginap barang semalam?”

“Tidak. Kau akan menyesal tidak pindah segera jika sudah tahu tempatnya.”

Wina beranjak. Sore sudah usai dan malam sebentar lagi sampai.

Baca juga: Salmanah – Cerpen Diego Alpadani (Singgalang, 09 Februari 2020)

Perumahan yang cukup padat, beruntung mobil Nindi masih bisa masuk dan parkir di sisi kiri jalan bersamaan dengan mobil lain yang jadi begitu rapat.

“Masuklah,” ujar Nindi setelah membuka pintu utama.

Rumah sederhana. Hanya ada 1 kamar yang terletak di lantai dua. Ruang tamu, dapur, dan kamar mandi terletak di lantai satunya. Dinding ruangan permanen dengan cat berwarna gading. Wina cukup tertarik dengan desain minimalis dan warnanya yang manis. Tapi tentu ia belum menemukan hal istimewa yang dimaksudkan.

Ia berusaha mencari, mengelilingi seisi rumah beberapa kali. Tapi sampai Nindi pergi, tak ada sesuatu apapun yang bisa jadi kunci teka-teki Nindi.

“Aku pulang sekarang, selamat beristirahat, adikku sayang. Jika kau perlu apa-apa bisa kau cari di swalayan sebelah sana. Lusa temani aku mendaftar kuliah S2 di Sanata Dharma. Baik-baik di rumah, ya…” Nindi ke arah pintu depan diikuti Wina yang masih penasaran.

Vios hitam meluncur dan hilang di ujung gang yang kelam.

Wina naik ke lantai dua, mencoba menikmati ruangan yang selama dua atau tiga tahun ini akan menjadi kamarnya. Ia keluarkan barang-barang, menyusun baju-baju ke dalam lemari berukuran sedang, dan menaruh beberapa buku yang ia bawa di atas meja belajar dengan lampunya yang menyala cukup terang.

Lantas ia membaringkan tubuh. Perjalanan yang ia tempuh cukup jauh. Satu setengah jam dihabiskannya di pesawat menuju Jakarta dan delapan jam lamanya di kereta api menuju Yogyakarta. Ia harap dapat bermimpi  indah malam ini sebagai pembujuk hati risaunya atas lelaki bernama Hilman yang sudah lama gagal ia hapuskan dari memori.

Pagi tiba. Matahari muncul lebih awal dari yang biasa ia dapati di Sumatera. Tentu saja karena kota ini terletak di timur Indonesia. Ini bukan kali pertama ia menjumpai pagi seperti ini, dua tahun yang lalu ketika ia tiba di Yogyakarta Wina sudah bisa merasakan udara pagi di sini.

Baca juga: Burung Hantu pada November Tanggal Satu – Cerpen Maya Sandita (Singgalang, 19 Januari 2020)

Wina bergegas membuka jendela, membiarkan cahaya matahari dan udara masuk ke dalam kamarnya. Ia sangat bahagia. Meskipun semalam tidak ada mimpi di tidurnya, tapi dengan pagi yang begini istimewa, ia bahagia.

Matanya bermanja pada setiap inchi dan tiap bingkai pemandangan yang bisa ia tangkap dari lantai dua. Wina melihat ibu-ibu yang tengah berjalan beriringan dengan tas belanja dan bapak-bapak yang dengan semangat mengayuh becak sepedanya, di bangku depan dua orang anak duduk dan saling bercengkerama. Di sudut lain, seorang ibu sedang menjemur pakaian, sementara anak-anak di sekitarnya berlarian.

Tidak semua rumah di jalan Timoho berlantai dua, hanya beberapa. Salahsatu di antaranya ada di seberang jalan, jendelanya dan rumah Wina saling berhadapan.

Tiba-tiba tirai yang menutupi jendela bergerak dan kemudian tersibak. Sosok laki-laki muncul tiba-tiba, terlihat samar sebab tertutup kaca jendela. Laki-laki itu membuka jendela kemudian mengangkat tangannya tinggi, menghirup udara dalam sekali.

Wina terpaku matanya. Pemandangan pagi yang ia nikmati barusan hilang begitu saja. Perasaan risau yang tadinya sudah memudar jadi lebih kacau.

“Bukankah itu…, Hilman?” ia membatin.

Wina mematung saja. Hilman melihat ke arahnya. Wina ingin beranjak andai Hilman juga tertegun melihatnya. Tapi rupanya Hilman tak peduli, barangkali ia tak kenal dengan Wina lagi. Hilman membalikkan badan, bingkai jendela ia tinggalkan.

Wina masih diam di situ. Pintu jendela kemudian ia tutup buru-buru. Ia sudahi menikmati pagi, ia nyalakan pendingin ruangan dengan suhu rendah sekali, dan berharap pikiran buruk apapun segera pergi.

Hari itu ia habiskan dengan apa saja yang bisa dibereskan. Menyusun sofa seperti yang ia inginkan, menyusun letak lukisan, membersihkan debu-debu, menyapu, dan mengepel lantai dua dan satu, sembari meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lihat tadi pagi adalah sebuah kekeliruan. Wina bahkan berencana akan memeriksakan matanya ke optik setelah pekerjaan selesai semua.

Pada pagi kedua. Seperti yang Nindi janjikan pada Wina, ia akan datang untuk menemani pendaftaran kuliah magisternya di Sanata Dharma. Wina tidak bercerita apa-apa. Ia hanya duduk diam di samping bangku kemudi, sementara Nindi sudah bisa menebak apa yang ada dalam hati.

Baca juga: Ketika Kepalamu Menjelma Jadi Batu dan Aku Ada di Situ – Cerpen Maya Sandita (Singgalang, 08 Desember 2019)

“Win?” Nindi memulai percakapan.

Wina menoleh, sedikit sebal dan serba salah. Ia ingin marah-marah jika boleh.

Nindi tidak tahan lagi menahan tawanya, “Tidak ingin menceritakan apa-apa?”

“Sudahlah.”

“Maaf, Wina. Aku benar-benar tidak tahu kalau Hilman baru saja pindah ke sana. Aku tahu saat sedang mengecek rumah bersama pemiliknya. Waktu aku buka jendela, Hilman ada di rumah seberang ternyata, sedang sibuk megetik sepertinya.” Nindi masih tersenyum menahan ledakan tawa.

“Dan masih tetap memutuskan untuk mengambil rumah itu?”

“Ya, bagaimana? Rumah itu cocok untukmu. Minimalis, strategis, ekonomis, dan semua dekat dari sana. Salon, swalayan, rumah makan, kontrakan mantan…. Ups!” Tiba-tiba tawa Nindi tak dapat lagi ditahannya.

Wina benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi lelucon perempuan yang sedang mengemudi di sampingnya. Haruskah ikut tertawa, kesal, atau malah minta pindah segera?

“Omong-omong, sudah saling bertemu pandang lewat jendela kamarmu?”

“Tidak usah terlalu puitis bahasamu.”

“Ya.., dipahami saja. Hm?”

“Sudah.”

“Lalu?”

“Sepertinya dia tidak mengenaliku.”

Baca juga: Sandal Ustad Buya – Cerpen Syafril (Prel T) (Singgalang, 04 Agustus 2019)

“Kenapa?”

“Tidak tahu. Biarkan saja kami tak saling kenal.”

“Bagaimana kalian bisa berkomunikasi kalau tidak kenal?”

“Tidak perlu komunikasi. Biarkan saja.”

“Ah.., kadang-kadang aku merasa, di usiaku yang lebih tua, aku masih saja tidak mengerti dengan cinta kalian berdua. Sudahlah, kita sudah sampai di kampus. Pendaftaran kuliahmu segera kauurus. Setelah itu, nanti sore sampai malam kita jalan, makan di angkringan Malioboro mau kan?”

Demikian Nindi menyatakan maaf sehingga mereka tetap langgeng berteman.

Libur panjang menyapa Wina di bulan Februari. Perkuliahan magister akan dimulai pada minggu ketiga bulan ini. Dua minggu di awal Februari di rumah saja akan ia habiskan. Membosankan. Nindi juga tidak akan tiba, karena ia diminta menjadi asisten arsitek untuk proyek pembangunan jembatan di Jakarta. Seharusnya ia bisa menghabiskannya dengan tumpukan buku yang kemarin dibelinya, tapi jendela yang selalu tertutup itu seolah memanggil meminta perhatian kedua bola mata.

Wina mengalah pada perasaannya. Ia pikir, Hilman juga tidak mengenalinya. Jadi, tidak ada salahnya untuk membuka jendela, mengamati apa yang bisa ia lihat dari sini. Mulailah sejak saat itu dan berhari-hari ke depan, Wina hafal dengan seluruh kegiatan Hilman. Dari bangun paginya dan jendela terbuka, hingga akhirnya adzan Maghrib tiba dan tirai mengakhiri pertunjukan di mata Wina.

Sampai hari ini Wina masih sering menikmati sorenya dalam bingkai jendela. Entah sampai kapan. Wina tahu, tak ada yang bisa dilupakan. Termasuk Hilman.

 

Yogyakarta, 27 Januari 2016