Cerpen Chikma W Putri (Minggu Pagi No 45 Tahun 72 Minggu II Februari 2020)

Perempuan Nyaris Gila di Kota yang Hilang Tiga Perempat Bagian ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Perempuan Nyaris Gila di Kota yang Hilang Tiga Perempat Bagian ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

Langit abu-abu diketuk oleh sebuah rindu yang pecah dari masing-masing arah, menebarkan aroma waktu dan beberapa hal yang belum sempat selesai. Tapi jangan pernah kau tanya kapan semuanya akan selesai. Mustahil. Karena terkadang masalah waktu dan sebuah penyelesaian adalah dua hal yang saling bertengkar. Ada sebuah kota yang hilang tiga perempat bagian, melangkah dengan kesenyapan begitu malam, dan menggendong kesendirian begitu dalam. Ia diam-diam menyimpan dendam dengan perhitungan habis-habisan pada kota itu. Dituangkannya semua rumus yang pernah ada ke dalam gelas kaca. Dicampurkan segepok ingatan, lima sendok kenangan, dua sendok omong kosong, sembilan sendok luka yang begitu dalam, dan satu sendok makan sumpah serapah. Lalu diaduk dengan khayalan. Ia menikmati minumannya pelan-pelan. Rasa yang ia ramu sendiri jauh lebih nikmat dibanding vodka. Ia mabuk begitu cepat pada jalan yang hanya menyisakan tangis berlebihan.

Seekor kucing datang dari ujung gang dengan menggigit tikus yang didapat dari perkelahian. Malam semakin larut. Ia makin kepayang dan mencoba membunuh jalanan dengan belati kemudian membakarnya dengan api. Berkali-kali gagal dan ceracaunya semakin berkelanjutan. Jalanan itu masih kokoh memegang cerita-cerita panjang dan kenangan yang mendalam. Ia meraba warung tenda, rumah tua, serta pagar-pagar yang karatan. Masing-masing menawarkan kehangatan. Pada kota yang hilang tiga perempat bagian, ia mengambil karung berukuran besar, memasukkan barang-barang dan semua hal yang dapat menjatuhkan ingatan pada laki-laki itu.

“Mas, aku tidak mau jatuh cinta semakin dalam, setelah kepergianmu.”

Ia seret karung yang sesak dengan ingatan sepanjang jalan.

Dan sampailah pada sebuah rumah lantai tiga berwarna biru, yang ruang dan berandanya masih sama seperti dulu. Di sana ada dua kursi panjang, tempat ia dan laki-laki itu memandang kerumunan anak-anak kecil, sorot panjang lampu pesawat, dan tiang-tiang listrik. Hanya saja kali ini sudut-sudutnya menjadi dingin. Nyaris beku. Kisah-kisah menjadi abu yang terbang dengan liar, membentuk gumpalan yang sesak dalam permukaan, menjelma tirai-tirai sebagai batas keleluasaan.

Baca juga: Pesan Keabadian – Cerpen Rudi Riadi (Minggu Pagi No 44 Tahun 72 Minggu I Februari 2020)

Pada sisi utara, ada sebuah ruang yang memberikan kehangatan kala itu. Dinding-dindingnya terbuat dari bahan kedap suara, tikar yang terbentang dipilih dengan bulu-bulu pilihan, dan jendelanya terbuat dari kayu beringin yang menawarkan kesenduan dari apa yang dihadirkan. Akan lebih hangat lagi ketika laki-laki itu bermain dalam kelembutan tubuhnya. Tergoda dengan hembusan napas dan permainan lidahnya. Berbaring. Pikirannya berkelana kepada waktu yang sebenarnya tidak ingin diingat kembali.

Huruf-huruf berdatangan memanggil kata untuk dirangkai menjadi sebait puisi. Tapi dalam kenyataannya, kata hanya diam saja. Tidak mau datang. Tidak mau menghadirkan puisi lagi untuk laki-laki itu. Dan satu bait puisi telah menjadi puisi kehilangan sebelum kata-kata menjadi genap. Ada sebuah penghianatan begitu dalam yang diwariskan pada ingatan. Perihal ia, laki-laki itu, dan Tuhan. Tiga hal yang sama-sama kuat dan menyatu dalam diri masing-masing. Tembok yang terbentang begitu kuat dan meruntuhkannya adalah usaha kesia-siaan. Rasa yang terbangun dengan laki-laki itu runtuh ketika bertemu dengan Tuhan. Seperti telah digariskan pada sebelumnya.

Dua pilihan datang kepadanya secara terang-terangan, memilih laki-laki itu atau memilih Tuhannya sendiri. Kali ini ia harus benar-benar mempertimbangkan pilihannya. Ia nyaris gila. Hati dan logikanya dipaksanya berpikir lebih dari dua kali dalam satu malam, sampai ia tidur dengan air mata. Begitu seterusnya. Hingga ia memutuskan memilih Tuhannya dan meninggalkan laki-laki itu. Cinta datang dengan tidak tepat. Tidak ada yang salah. Hanya ia dan laki-laki itu dengan terpaksa membuang jauh-jauh perasaan yang pernah ada. Sulit. Ia nyaris menjadi gila lagi. Namun setidaknya, ia telah menunjukkan bahwa ia adalah umat yang baik.

Baca juga: Rumah Belakang – Cerpen Luhur Satya Pambudi (Minggu Pagi No 43 Tahun 72 Minggu V Januari 2020)

Di luar, para pemulung telah datang dengan gerobak sampahnya. Pertanda hari mulai dini. Dan ia tidak mau tenggelam begitu larut dalam ingatannya sendiri. Suara-suara masih bernaung dalam telinga. Bau tubuhnya masih tajam tercium. Kedua mata masih saja melihat kehadiran laki-laki itu yang bahkan tidak ada sama sekali.

Ia mengambil belati. Dilihatnya sejenak. Lalu digunakan untuk memotong daun telinga, hidung, dan mencongkel kedua matanya.

“Jika semua inderaku hanya jatuh kepadamu saja. Maka aku akan memilih untuk tidak memiliki indera sama sekali, daripada hidupku tersiksa dengan mengingatmu semakin jauh”

Ia pergi menjauh dengan darah-darah dan satu karung barang-barang kota. Ketika semesta mulai terbangun dari tidur panjangnya, pertanyaan-pertanyaan mulai terlontar. Kemana hilangnya tiga perempat kota?. Namun perempuan itu telah memilih menjadi tuli, buta, dan semua inderanya telah mati.

Kemana hilangnya tiga perempat kota? Ulangi sekali lagi.

 

Chikma W Putri: mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia UNY. Aktif di seni pertunjukan, seni rupa, dan desain. Tinggal di Samirono Yogyakarta.