Cerpen Rosni Lim (Analisa, 12 Februari 2020)

Masih Ada Cap Go Meh ilustrasi Analisa-1
Masih Ada Cap Go Meh ilustrasi Analisa

Seperti Imlek tahun lalu, tahun ini aku berkunjung ke rumah Nai-nai lagi. Masih seperti yang kulihat di Imlek tahun lalu, Nai-nai berbaring di sofa ruang tamu dengan posisi tubuh menyamping. Bahu kirinya menopang tubuhnya, sedangkan bahu kanannya yang bebas menyatu dengan tangan yang terus bergetar.

Aku tahu, tangannya yang terus bergetar itu bukan atas kehendak Nai-nai sendiri, melainkan suatu kelainan di bagian syaraf hingga membuatnya tak dapat mengendalikan diri.

“Kiong Hi, Nai-nai,” kataku begitu sampai di dekatnya. Lain dengan Imlek tahun lalu, aku membawa tiga anak remaja berkunjung ke rumah Nai-nai, tahun ini aku hanya membawa anakku sendirian untuk menemui cucu Nai-nai, temannya anakku.

Nai-nai bereaksi melihat kedatanganku. Dia tak membalas ucapan Selamat Imlekku. Barangkali karena kondisinya yang demikian, tak satu pun kegembiraan yang bisa hadir di hatinya dalam menyambut datangnya Imlek.

Aku ingat tahun lalu itu aku datang ke rumah Nai-nai dan berbincang-bincang dengannya. Sementara anak-anak remaja yang kubawa saling bercerita dan bercanda tawa satu sama lain, aku malah duduk di dekat Nai-nai mendengarkan kisahnya.

Nai-nai cerita, awal mula dia menderita lumpuh hingga tak bisa berjalan dan susah duduk adalah karena terjatuh di kamar mandi. Pertama kali dia terjatuh beberapa tahun lalu, masih bisa bangkit sendiri dan berjalan. Tapi terjatuh yang kedua kali 2 tahun lalu membuat Nai-nai lumpuh dan hanya bisa berbaring hingga sekarang.

Baca juga: Ayah, di Manakah Ibu? – Cerpen Rosni Lim (Analisa, 08 Januari 2020)

“Nai… sudah 2 tahun Nai-nai seperti ini. Tidakkah pernah diusahakan untuk bisa berjalan lagi?” tanyaku.

“Sudah, aku sudah dibawa cek ke Penang 3 kali. Tapi dokter di Penang bilang tak bisa lagi diobati. Semua tulang di kakiku sudah hancur tinggal serpihan-serpihan,” kata Nai-nai sedih. Airmatanya menetes di pipi..

“Tapi, mana tahu masih ada kemungkinan lagi Nai-nai bisa berdiri atau berjalan? Nai, aku punya seorang mama juga yang sudah 3 tahun duduk di kursi roda. Namun, beliau masih bisa berjalan dengan bantuan tongkat besi yang menopang dua tangan di depan. Walaupun cuma belasan langkah dan harus duduk kembali kalau tidak mau kecapekan.”

“Kamu punya mama yang seperti akukah?” tanya Nai-nai ingin tahu.

“Iya, Nai. Kalau Nai-nai sekarang 80 tahun. Beliau malah lebih tua, 87 tahun. Tapi tubuh beliau lebih berisi, masih bagus dalam berbicara dan mendengar, persis seperti orang muda yang masih sehat.”

“Iya, tapi tulang-tulang di kakinya belum hancur seperti tulang-tulang di kakiku,” kata Nai-nai pesimis.

“Tidak juga, Nai. Tiga tahun lalu, beliau dirawat selama sebulan di rumah sakit. Pas Imlek. Tidak bisa menggerakkan tubuh sama sekali, hanya bisa berbaring. Untuk membalikkan badan ke samping kiri kanan saja susah, apalagi duduk dan berdiri. Tapi, sepulang dari rumah sakit, kami mendatangkan dokter ahli fisioterapi untuk melatih beliau menggerakkan tubuh. Jadi beberapa hari sekali petugas fisioterapi datang untuk melatih beliau menggerakan anggota badannya, mulai dari tangan, kaki, sampai ke punggung. Hanya 12 kali kunjungan, beliau sekarang sudah bisa lagi duduk dan berjalan selangkah demi selangkah.”

Baca juga: Sebingkai Kisah Toba – Cerpen Ayu Sundari Lestari (Analisa, 18 Desember 2019)

“Fisioterapi?” tanya Nai-nai tertarik.

“Iya, Nai, kenapa Nai-nai tak mencobanya?” kataku.

Aku tak tahu apakah fisoterapi yang berguna bagi mamaku 3 tahun lalu itu, akan berguna juga bagi Nai-nai bila dilakukan. Karena melihat kondisi Nai-nai yang sekarang sungguh memprihatinkan. Namun, tak ada yang tak mungkin. Bukankah 3 tahun lalu itu, mamaku juga sepertinya sudah tak punya harapan lagi? Siapa sangka lumpuh total itu bisa diobati sedikit demi sedikit.

Sebenarnya, aku tak ingin ikut campur urusan orang lain. Tapi melihat kondisi Nai-nai yang begitu, membuatku meneteskan air mata ketika malam teringat dirinya. Membayangkan seorang tua jompo yang harus menghabiskan 2 tahun terakhir dengan hanya berbaring di pembaringan, betapa susah dan menderitanya melewati hari. Tapi, ada satu kepercayaan dalam agama yang kuanut, semua yang dialami Nai-nai itu adalah buah dari karmanya di kehidupan-kehidupan lalu. Di kehidupan ini, dia belum habis melunasi karmanya, jadi masih harus menanggung beban penderitaan sampai karmanya lunas.

“Kamu sering-seringlah datang,” kata Nai-nai di Imlek tahun lalu saat aku pamit pulang. Jadi di Imlek kali ini, saat aku datang lagi mengunjunginya, Nai-nai sepertinya terhibur.

Karena hari sudah sore, aku pamit pada Nai-nai untuk pulang. Sekian hari aku memikirkan Nai-nai dengan kondisinya walaupun Nai-nai tak ada hubungannya denganku. Aku ingin Nai-nai bisa seperti mamaku, tidak selamanya lumpuh di atas pembaringan, melainkan bisa duduk setidaknya di kursi roda dan berjalan selangkah demi selangkah memakai tongkat besi penumpu 2 tangan di depan. Itu akan lebih baik baginya melewati hari.

***

“Cap Go Meh ini kita ke mana?” tanya anakku.

“Kita ke rumah Nai-nai lagi,” kataku.

“Untuk apa ke sana?”

Baca juga: Hog Cholera – Cerpen Rosni Lim (Analisa, 15 Desember 2019)

“Mama ingin memberi satu kebahagiaan untuk Nai-nai. Mama ingin membawa Nai-nai keluar jalan-jalan melihat dunia luar yang indah dan ramai. Kamu tahu, sudah 2 tahun Nai-nai tak berinteraksi dengan dunia luar. Sekali-sekali, Nai-nai harus melihat kembali keramaian yang selama 2 tahun ini luput darinya.”

“Bagaimana caranya?” tanya anakku.

“Kamu ikut saja denganku mengunjungi Nai-nai,” kataku.

Malam Cap Go Meh. Aku ke rumah Nai-nai. Dengan berbagai cara aku mencoba meyakinkan anak cucu Nai-nai agar Nai-nai dibawa keluar jalan-jalan di malam Cap Go Meh.

“Tapi Nai-nai susah sekali duduk di kursi roda, bagaimana bisa dibawa keluar jalan-jalan?” tanya seorang cucunya.

“Bisalah, ayo kita coba sama-sama. Dudukkan Nai-nai di kursi roda, taruh 2 bantal di kiri kanan bahunya supaya tidak miring tubuhnya. Kita bopong dia masuk ke dalam mobil, tidurkan di jok tengah. Kendarai mobil ke tempat yang paling ramai di malam Cap Go Meh. Sesampainya di sana, kita bopong Nai-nai duduk di kursi rodanya dan taruh bantal di kiri kanan bahunya lalu dorong Nai-nai berkeliling melihat keramaian.

Akhirnya, usahaku berhasil. Nai-nai dibawa keluar jalan-jalan pada malam itu. Malam Cap Go Meh yang luar biasa ramainya di kompleks tempat tinggal rumah asri yang mana ada vihara terbesar di Asia Tenggara di dalamnya. Di situlah puncak perayaan malam Cap Go meh, malam penutupan perayaan Imlek tahun ini.

Kulihat Nai-nai duduk di kursi rodanya dengan air mata berlinang. Nai-nai terharu melihat dunia luar yang begitu indah di depannya. Lampion warna-warni tergantung di tempat tinggi. Pernak-pernik dan oranamen-ornamen Imlek masih menghiasi tempat yang kami kunjungi. Keramaian tarian barongsai yang dibawakan orang-orang muda diiringi suara tambur di kejauhan disaksikan Nai-nai dengan mata berkaca-kaca.

Baca juga: Mononoke – Cerpen Radja Sinaga (Analisa, 11 Desember 2019)

“Nai, bagaimana dengan Imlek tahun ini?” tanyaku sambil berjongkok di samping kursi roda yang dididukinya.

“Kupikir, Imlek tahun ini akan sama seperti Imlek tahun lalu. Ternyata berbeda,” jawab Nai-nai.

“Nai-nai merasa bahagiakah?” tanyaku lagi.

Nai-nai mengangguk. Air matanya menetes. “Ternyata masih ada Cap Go Meh yang begitu indah selain Imlek hari pertama, dua, dan tiga.”

“Nai-nai ingin melewati Cap Go Meh yang indah dan ramai seperti ini setiap tahun?’

“Iya.”

“Kalau begitu, Nai-nai harus bertekad dalam hati untuk sembuh. Nai-nai harus bisa duduk dengan stabil supaya bisa dibawa jalan-jalan dengan kursi roda. Nai-nai juga harus belajar berdiri dan berjalan selangkah demi selangkah,” kataku.

“Tapi tulang-tulang di kakiku sudah hancur semua, tinggal serpihan-serpihan kata dokter.”

“Nggak apa-apa, Nai. Apa pun kata dokter, tak boleh berputus asa. Berusahalah terus. Selagi masih bernapas, selalu punya harapan. Harapan itulah yang membuat kita bertahan dan bangkit kembali saat terjatuh,” kataku.

Nai-nai memandangku. Tangannya yang bergetar diarahkannya ke arahku untuk meraih tanganku. Dia tersenyum kepadaku dengan senyum paling bahagia yang pernah kulihat.

“Jangan khawatir, Nai. Imlek bukan hanya hari pertama, dua, dan tiga saja. Tapi masih ada Cap Go Meh yang indah,” senyumku, setengah berbisik. ***

 

     (Medan, Februari 2020)