Cerpen Bagus Sulistio (Medan Pos, 09 Februari 2020)

Tangisan Siapa di Balik Kamar Itu ilustrasi Istimewa
Tangisan Siapa di Balik Kamar Itu ilustrasi Istimewa

Tidak ada yang tahu kenapa ia mengurung anaknya berhari-hari di kamar. Yang jelas tindakan yang dilakukannya memancing penasaran orang lain. Dulu jika ada seseorang yang bertanya perihal itu, ia enggan menjawabnya. Dulu pula ada seseorang nekad ingin menerobos kamar anaknya, tapi ia ketahuan dan kepalanya jadi taruhan. Sekarang tidak ada lagi yang ingin tahu alasan kenapa ia mengurung anaknya. Percuma saja berusaha keras mencari tahu jika tidak ada hasil yang didapatkan.

Dulu, Paijo bertamu pertama kali ke rumahnya. Semula ia sangat dihormati sebagai tamu. Berbagai macam kudapan dan segelas teh hangat disediakan di depan mejanya. Mereka duduk berhadap-hadapan. Tuan rumah menyajikan sebungkus rokok, “Monggo, Mas Paijo.”

“Jadi gini, Mas, saya sebagai ketua RT ingin mendata jumlah orang yang ada di rumah ini untuk kepentingan desa,” ujar Paijo sambil mengeluarkan pena dan secarik kertas dari saku baju batiknya.

Ia terdiam sejenak saat menerima pertanyaan dari Paijo. Sebatang rokok diambil dari wadahnya. Api dari korek yang barusan ia nyalakan membakar pucuk rokok. Kebulan asap yang pertama dihembuskan menahan kebisuannya, “Tulis saja nama, Mas. Warto.”

“Hanya itu? Anak Bapak namanya siapa?”

“Kapan saya punya anak, Mas?” ia tersenyum kecil. Tidak ada rasa bersalah ketika ia mengucapkan seperti itu. Padahal masyarakat sudah tahu sebelum istrinya meninggal ia mempunyai seorang putri. Akan tetapi saat istrinya telah tiada, ia menjadi pribadi yang tertutup. Orang-orang di desa itu tidak pernah mengetahui kabarnya dan putrinya selama dua bulan. Paling hanya tetangga dekat yang melihatnya berangkat kerja setiap pagi.

Baca juga: Mendoan untuk Tetangga – Cerpen Bagus Sulistio (Radar Banyumas, 26 Januari 2020)

“Sebentar, Mas, saya ingin ke belakang dulu,” Warto mengeloyor dari ruang tamu. Tiada yang bisa menghentikan kehendak tuan rumah di rumahnya sendiri. Paijo hanya bisa menunggu di kursi tamu. Detak jam dinding terdengar jelas memecahkan kesunyian ruangan. Lelaki yang sedang kesendirian mengambil sebatang rokok, menyulut dan menghisapnya dalam-dalam. Satu-dua hembusan ia nikmati betul. Tepat hendak tiga kali hembusan rokok yang telah dihisap, Paijo mendengar suara  seperti wanita menangis sendu. Ia sempat menghentikan aktivitasnya dan menyimak dengan seksama suara apa itu sebenarnya. Ternyata benar apa yang didengarnya.

Paijo beranjak dari tempat duduknya. Sumber suara yang datang menjadi petunjuk untuk mencarinya. Berjalan perlahan, berusaha tak bersuara agar Warto, tuan rumah tidak memergokinya. Sebuah kamar di ujung lorong dianggap Paijo asal dari suara yang dicari. Pintu berwarna merah menjadi batas antara Paijo dan suara itu.

“Mau ke mana, Mas?” teguran dari Warto menguncang jantungnya. Paijo kaget bukan main mendengarnya.

“Tadi aku mendengar suara perempuan menangis di dalam kamar ini.”

“Ohh di dalam tidak ada apa-apa kok. Ayo mas kita keluar. Tidak enak berbincang-bincang di sini.”

Paijo tidak bisa menolak permintaannya. Ia berjalan membuntuti tuan rumah. Kembali duduk berhadapan di depan meja tamu. Rupanya tidak ada perbincangan setelah mereka duduk, hanya kesunyian yang berlanjut.

Maksud kedatangan Paijo sudah terpenuhi, ia menunggu waktu yang tepat untuk pamit dari rumah ini. Tetapi pikirannya masih menganjal atas sebuah pertanyaan; siapakah suara perempuan yang menangis tadi?

Baca juga: Muara Doa – Cerpen Rendi Syahputra (Medan Pos, 02 Februari 2020)

“Maaf Pak saya tidak bisa lama-lama di sini,” ucapnya sambil berdiri. Sebuah salaman terjadi setelah kalimat itu terucap. Paijo pergi membawa sebuah pertanyaan.

***

Sebuah alasan ia buat untuk kembali ke rumahnya; mempertanyakan keadaan rumah untuk data pemerintah. Dengan modal secarik kertas yang ia ketik sendiri, map biru dan sebuah pulpen di sakunya, ia datang lalu mengetuk pintu rumah. Beberapa kali ketukan dan seruan memanggil tidak ada respon dari tuan rumah. Paijo hampir putus asa dengan apa yang telah usahakan. Akan tetapi ketika ia hendak membalikkan badan, pintu terbuka dan sesosok pria berdiri di ambang pintu, “Silahkan masuk, Mas Paijo.”

Pria dengan map itu masuk dan dipersilahkan duduk. Ia sempat mengamati ruangan; merasa kejadian yang telah lewat kembali terulang. Seperti kudapan, teh dan sebungkus rokok ditemuinya lagi. Ada satu yang tidak terulang, mimik wajah tuan rumah yang cerah saat menyambutnya dulu. Kini wajah Warto suram ketika ia tahu tamunya adalah orang yang pernah mengendap-endap masuk ke dalam rumahnya.

“Gimana, Mas? Ada apa ya?”

“Saya ingin menjalankan tugas pemerintah untuk melakukan pengamatan terhadap rumah Bapak. Apakah rumah layak huni atau tidak nanti akan saya laporkan ke atasan.”

“Untuk apa melakukan hal itu? Pemerintah ada-ada saja,” ucap Warto dengan nada kesal. Untuk mencairkan emosinya sebatang rokok ia sulut dan hisap. Hembusan pertama langsung mengaburkan emosinya. Tamunya sempat tegang dan kebingungan mencari alasan, lalu ia kembali tenang ketika melihat wajah Warto tidak berwarna merah lagi.

“Saya hanya menjalankan tugas, Pak.”

“Baiklah kalau begitu. Tapi kau harus kutemani.”

Baca juga: Mengapa Mereka Menjauh? – Cerpen Fahrul Rozi (Medan Pos, 19 Januari 2020)

Semua yang dihidangkan belum satupun dipegang oleh tamu. Mereka keburu beranjak dari kursi. Pertama Paijo melihat keadaan rumah Warto; berkeliling di sekitar rumah. Pengamatan yang singkat menghasilkan tulisan-tulisan di kertas yang Paijo bawa. Setelah mereka masuk ke dalam. Ruang tamu, kamar tidur Warto, dapur hingga kamar mandi tak luput dari pengamatan petugas desa ini. Hingga mereka masuk ke sebuah lorong yang gelap. Yang ujungnya terdapat ruangan tertutup pintu merah.

“Boleh di buka kamar ini, Pak?”

“Jangan! Ini bukan kamar siapa-siapa dan untuk apa-apa,” bentak Warto. Dada mereka sempat saling dorong; Paijo berhasrat mendekati pintu sedangkan Warto menghadang hasrat lawannya, dan dimenangkan oleh si tuan rumah. Mau tidak mau Paijo mengalah lagi. Mereka kembali ke ruang tamu.

Semula biasa saja. Mereka berbincang tanpa menyinggung kamar berpintu merah. Kudapan, teh yang sudah dingin serta rokok dapat mereka nikmati. Akan tetapi Paijo kembali melihat kertas yang dibawanya. Ia ingat apa tujuannya ke rumah ini; yang jelas bukan hanya sekedar bertamu dan merokok bersama. Ada yang perlu Paijo ketahui, terutama tentang isi kamar itu.

Suasana hening sejenak. Warto menikmati rokoknya, Paijo masih bingung mencari alasan agar tuan rumah mengijinkan membuka pintu kamar. Tiba-tiba keheningan terpecah oleh suara tangisan seorang wanita.

“Suara apa itu, Pak?”

“Bukan apa-apa. Mungkin itu anak tetangga yang menangis,” jawab Warto ringan dan tetap menghisap rokok.

Baca juga: Malinda dan Marunda – Cerpen Hendy Pratama (Medan Pos, 19 Januari 2020)

“Tidak mungkin. Pasti suara ini berasal dari kamar itu. Kali ini saya tidak bisa tinggal diam, Pak. Saya harus bertindak. Ini sudah melanggar HAM!”

“Jangan…” belum sempat selesai kalimat yang diucapkan Warto, ia sudah pergi meninggalkannya. Paijo mengeloyor masuk ke dalam. Tuan rumah sempat mengejar namun usia yang senja memperhambat langkahnya. Hingga satu dobrakan dari bahu Paijo ke pintu menghentikan segala kegiatan.

Mata Paijo menyapu isi kamar, tampak seperti biasa. Hanya saja ada seseorang yang terbaring di atas ranjang. Ia mencoba mendekati orang tersebut.

“Jangan!”

Paijo tetap melanjutkan langkahnya. Semakin dekat dengan ranjang dan dekat. Ketika Paijo hendak duduk di tepian ranjang, orang yang berada di atas ranjang menerkamnya.

“Tolong.”

Paijo dihantam, dicabik-cabik oleh wanita yang tertawa gila. Tidak ada yang bisa menghentikan kegilaan wanita itu. Warto, tuan rumah hanya bisa mengintip dari balik pintu merah sambil mengamati lantai kamar yang berubah menjadi merah.

 

Bagus Sulistio, lahir di Banjarnegara, 16 Agustus 2000. Berdomisili di Pondok Pesantren Al-Hidayah, Karangsuci, Purwokerto. Saat ini ia masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab dan bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto.