Cerpen Suzi (Republika, 09 Februari 2020)

Sketsa Berbingkai Perak ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Sketsa Berbingkai Perak ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Tak lama setelah Haikal memimpin doa kafaratul masjid, ponsel di sakunya bergetar. Haikal langsung ke luar dari majelis tanpa menghiraukan santri-santrinya lagi. Segera panggilan itu diresponsnya.

“Waalaikumussalam warahmah, baik, Pak De, Haikal segera ke sana.”

Dengan tergesa-gesa, Haikal menuruni anak tangga pondoknya dengan terlebih dahulu berpamitan  kepada mudir pesantren dan satpam yang selalu memberikan anggukan hormat untuknya.

Selang beberapa ratus meter, lelaki lanjut usia, tapi tetap gagah sedang menatapnya. Dalam dada laki-laki itu berkecamuk sejuta rasa manakala melihat Haikal semakin mendekat menghampirinya.

Tanpa sadar, lelaki tua itu berkata sendiri sambil menahan rasa haru yang mendalam.

“Maafkan aku, Kang. Baru kali ini aku bawa anakmu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu,” tuturnya lirih sambil menyeka titik air mata yang merembes di ujung kelopak mata tuanya.

“Assalammualaikum, Pak De,” sapa Haikal sambil mencium tangan lelaki itu— yang ia kenal sebagai Pak De Dadi.

Dengan sedikit terperanjat Pak De Dadi menjawab salam Haikal. Rasa heran pun memancar di mata Haikal. Mengapa Pak De Dadi tidak menjelaskan siapa sesungguhnya orang yang meninggal dan akan dimakamkan pada pagi ini.

Baca juga: Merindukan Nabi di Mushala Kami – Cerpen Supadilah (Republika, 02 Februari 2020)

Mobil Xenia seri F yang dikemudikan Pak De Dadi berhenti di TPU Kebon Pedes, sebuah tempat permakaman bergengsi di bilangan Kota Bogor. Tampak pelayat berduyun-duyun menghadiri pemakaman tersebut. Di kanan-kiri, terparkir mobil-mobil mewah berpelat merah sampai mobil pribadi.

Masya Allah, semoga Allah mengampuni dosa orang ini. Rupanya orang ini bukan orang biasa. Di antara ratusan pelayat yang menghadiri pemakaman tersebut, terdapat orang-orang penting di kalangan Muspika *) dan Muspida **) Bogor.

Allahummaghfirlahum war hamhum, kematian terindah dikelilingi dan dihadiri teman serta sanak-saudara. Sepertinya, orang ini amat spesial semasa hidupnya, guman Haikal dalam hati. Tanpa ia sadari, dia sudah semakin dekat dengan pemakaman itu.

Tepat di depan liang lahat, seorang bunda berparas manis sedang mendekap ketiga putrinya. Namun sayang, Haikal harus memalingkan wajahnya. Sebab, selain ketiga gadis itu cantik, pakaian yang mereka kenakan tak biasa Haikal lihat di pondok tempatnya mengabdi. Mereka hanya menutup sebagian rambutnya saja dengan kerudung panjang. Mata Haikal berkeliling menatap sekitar liang lahat itu.

Jantung Haikal berdetak keras saat ia melihat foto dari orang yang akan dimakamkan. Berkali-kali Haikal menggosok matanya. Berkali-kali ia beristighfar dan mencubit pipinya. Serasa ada dalam mimpi. Mengapa Haikal seperti becermin memandang foto itu? Matanya nanar menatap wajah Pak De Dadi yang tengah mendung.

Belum hilang ragam tanya di dalam dadanya, salah seorang yang memimpin pemakaman tersebut memanggil namanya dan menyandingkan nama Haikal dengan nama almarhum. Ya, nama orang tersebut Muhammad Hisyam Noor, sedangkan Haikal benama Muhammad Haikal bin Muhammad Hisyam Noor.

Umi…. begitu panggilan batin Haikal menjerit. Tapi, tak berlangsung lama gundah itu berkecamuk di dadanya. Sang pemimpin pemakaman selaku perwakilan keluarga segera meminta Haikal untuk masuk ke liang lahat dan mengumandangkan azan untuk almarhum.

Baca juga: Yang Lebih Hebat dari Kata Rindu – Cerpen Maya Sandita (Republika, 26 Januari 2020)

Entah rasa apa yang merasuki Haikal. Didekapnya erat jenazah itu, diciumnya dengan air mata tertahan. Tak berapa lama ke mudian, ia mengumandangkan azan dengan syahdu. “Allahu akbar Allahu akbar… .” Serentak hadirin menjawab dan mengikuti azan Haikal sampai selesai.

Perlahan-lahan, tanah merah itu menutup jasad yang baru saja Haikal peluk dengan hangat. Rasa perih menyelinap dalam dada. Bunda dan ketiga gadis itu meratap dengan memanggil, ayah …ayah…ayah.

Sampai timbunan tanah itu menggunung, karangan bunga cantik menghiasi tanah merah itu. Dan, salah satu dari gadis itu tumbang di depan Haikal. Segera Haikal menangkapnya. Ada rasa hangat  yang sama tatkala ia menangkap tubuh mungilnya. Ditatapnya wajah gadis kecil itu. Semakin membuncah keheranan Haikal manakala menatap matanya sama dengan mata miliknya. Haikal bingung berkecamuk sedih, perih yang semakin menukik di relung hatinya.

“Umi…. Umi yang tahu tentang semua ini,” gumamnya.

Satu per satu, para pelayat itu pergi. Bunda berparas manis itu berdiri mematung dengan ketiga gadisnya. Isaknya semakin terdengar manakala ia menghampiri Haikal.

Dia meraih tangan Haikal dan mengajak Haikal berjongkok menghadap batu nisan yang baru ditancapkan. Haikal menarik tangannya dari pegangan bunda manis itu.

Pak De Dadi mengangguk, seakan mem beri isyarat. Tak lama kemudian, Pak De Dadi memperkenalkan kepada Haikal tentang siapa keempat perempuan itu.

“Haikal, perkenalkan, ini Bunda Laila. Ini Rini, ini Rara, dan ini Fitria,” urai Pak De Dadi dengan mata sembap, menatap Haikal dalam tudung penyesalan.

Kemudian, terdengar histerisnya Bunda Laila sambil memeluk batu nisan itu. “Ayah, maafkan Bunda. Bunda egois sampai Ayah menutup mata, Ayah tidak melihat anak lelaki Ayah. Ini, Bunda hadirkan Haikal untuk Ayah. Maafkan Bunda, Ayah.”

Bunda Laila kembali menarik tangan Haikal untuk berjongkok sejajar dengannya.  Haikal bingung. Haikal tidak paham. Dari mulai diajak Pak De Dadi ke permakaman ini, foto almarhum yang sama wajahnya dengannya, dan pengakuan Bunda Laila bahwa Haikal adalah anak lelaki orang yang baru saja dimakamkan.

Tanpa diduga oleh siapa pun, Haikal berlari menuju gerbang keluar sambil berteriak, “Umiiiiii, apa ini artinya!?”

Baca juga: Musnahnya Hutan Larangan – Cerpen Bahagia (Republika, 19 Januari 2020)

Bunda Laila dan ketiga putrinya mengejar. Begitu pula Pak De Dadi, mengejar Haikal dengan kaki terseret. Akhirnya, mereka sampai di mobil yang mereka tumpangi.

“Haikal tidak paham, Pak De. Apa maksudnya semua ini?” tanya Haikal kepada Pak De Dadi.

“Bukankan Abi Haikal sudah wafat sejak Haikal berada dalam kandungan Umi? Jawab, Pak De, jawab! Pasti Pak De mengetahui semua ini, bukan?”

Renteten pertanyaan Haikal tertuju ke Pak De Dadi. Sejenak, Pak De Dadi menghela napas. Dengan lembut, Pak De Dadi meraih bahu Haikal dan memeluknya.

“Haikal maafkan, kami tidak dapat menjelaskan secara detail untuk saat ini. Pak De hanya ingin menegaskan bahwa almarhum yang baru saja dikebumikan ada lah benar-benar abimu. Doakan dan ucapkan selamat jalan untuknya. Pasti dia akan tersenyum melihatmu,” kata Pak De Dadi.

“Dia bangga melihatmu, sosok pemuda berwajah tampan. Perpaduan ketampanan dan kecantikan dari abi dan umimu. Sosok pemuda saleh, santun, dan cerdas mewarisi sifat kedua orang tuamu. Bersabarlah, Haikal, tak ada yang kuasa menolak takdir Allah,” suara Pak De Dadi gemetar terdengar.

Haikal membalikkan badannya, kembali menuju permakaman tempat di mana abinya berbaring untuk selamanya. Bersimpuh lusuh Haikal di atas pemakaman abi yang baru dikenalnya. Ia memanjatkan doa, semoga Allah mengampuni dosa-dosa abinya, diterangkan alam kuburnya, di beratkan timbangan amal baiknya. Dengan lantang, ia luapkan kerinduan yang 25 tahun memuncak di dadanya. Doa-doanya yang mengiris hati siapa pun yang mendengarnya.

“Wahai Rabbku, aku bersyukur kepada-Mu, telah Engkau pertemukan aku dengan Abi meski dalam pertemuan dua dunia yang begitu singkat. Kau aku untuk terus berbakti kepadanya walau Abi telah meninggalkan aku.”

Mentari memutar arah. Semburat warna senja menyala di ufuk barat. Burung-burung malam mengepakkan sayap, keluar meninggalkan sarangnya. Pohon kemboja menggugurkan daunnya.

Sunyi sepi….

Baca juga: Perempuan yang Patut Kusayangi – Cerpen Isbedy Stiawan ZS (Republika, 12 Januari 2020)

Aroma taburan bunga di permakaman Muhammad Hisyam Noor merebak, menawan hati siapa pun yang menghirup aromanya.

Haikal melangkah dengan gontai. Pak De Dadi, Bunda Laila, dan ketiga saudaranya sudah menunggunya.

“Haikal, pergilah dengan penerbangan terakhir malam ini ke Turki. Kabarkan pada umimu bahwa abimu telah tiada.” Pak De Dadi menyerahkan sebuah kantong berisi dokumen penerbangan. Dengan itu, Haikal dapat bertemu dengan uminya yang bernama Ustazah Dania.

Lambaian selamat jalan  dan  senyum ketiga saudara perempuannya begitu mematri di hati Haikal. Namun, kesedihan semakin menggurat di wajahnya. Salim pertama untuk Bunda Laila dan ketiga saudaranya begitu hangat. Sebuah pemandangan baru yang membuat Pak De Dadi tersenyum.

***

Melewati x-ray, tas itu kembali di tambatkan di punggungnya. Tampak semakin kecil tubuh pemuda gagah itu menaiki tangga pesawat dan menghilang ditelan lambungnya.

Di dalam pesawat, pramugari menyambut para penumpang. Penerbangan Malaysia Airlines MH724 akan berangkat dan transit di Kuala Lumpur. Hanya membutuhkan waktu satu jam untuk sampai di sana. Haikal melirik arlojinya. Bersandar malas pada kursi pesawat, Haikal  melanjutkan muraja’ah-nya.

Tepat pukul 11.00 waktu Kuala Lumpur, Haikal berganti pesawat, dan melanjutkan perjalanannya ke Bandara Istanbul. Sekitar pukul 11.15, pesawat akan take-off dan menempuh perjalanan sekitar 12 jam.

Perjalanan yang membosankan apabila tidak diiringi dengan muraja’ah sambil membayangkan wajah sang umi yang akan segera bertemu. Akan Haikal kabarkan pertemuan dengan abinya walau dalam hati yang hancur, namun bahagia.

Penjelasan sang umi sangat Haikal nantikan. Haikal terpejam sesaat, kemudian muraja’ah kembali. Terus bergantian aktivitas itu ia lakukan untuk menghalau kebosanan selama perjalanan.

Baca juga: Riwayat Seorang Guru – Cerpen A Warits Rovi (Republika, 05 Januari 2020)

Pukul 06.10 esok harinya waktu Istanbul. Haikal mendaratkan sepasang kakinya. Suhu udara mencapai 12 derajat Celsius. Haikal meregistrasi paspornya kepada petugas  bandara.

Setelah itu, ia bergegas mencari masjid terdekat untuk menunaikan shalat subuh. Jarak antara Bandara Istanbul ke Hagia Sophia tempat Umi Haikal bermukim sekitar 40,7 km. Jadi, butuh waktu satu jam lima belas menit untuk tiba di sana.

Pukul 08.30 pagi, hiruk pikuk kantor di museum Hagia Sophia begitu terasa. Sedikit sekali orang Turki di sini yang berbahasa Inggris. Kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa isyarat dan bahasa Turki itu sendiri.

Seorang lelaki bertubuh tegap menghampiri dan mengajaknya masuk ke dalam kantornya. Dua buah goody-bag ia serahkan pada Haikal.

Haikal bertanya keheranan. Dalam prolog yang panjang dengan nash-nash Al quran yang menenangkan Haikal,  kembali ia harus mengurai air mata sedihnya setelah mendengarkan penuturan lelaki bertubuh tegap itu.

Ustazah Dania telah tiada. Tepat saat ia mengumandangkan azan untuk sang abi di liang lahat.

Langit serasa runtuh. Napas tersengal bagai terganjal bongkahan batu.  Haikal datang membawa sejuta tanya akan pertemuan singkat dengan sang abi. Namun, kini Umi pun telah kembali menghadap Ilahi Rabbi.

Hanya berbekal sebuah foto dan buku diary milik sang umi yang dititipkan ke rekan kerjanya. Foto dan diary inilah yang akan menjawab tanya Haikal.

Dalam tangis yang tak tertahan, Haikal membuka perlahan bungkus foto itu. Perlahan sekali, tetes air matanya tak kenal henti. Jelas sekali, Umi Dania dan Abi Hisyam ada dalam foto itu dengan gambar wajah bayi yang masih dalam bentuk sketsa. “Inikah aku yang mereka bayangkan?” ■

 

Keterangan:

*) musyawarah pimpinan kecamatan.

**) musyawarah pimpinan daerah.

 

Suzi merupakan nama pena Susilowati (46 tahun). Ia lahir di Desa Pesisir Panimbang, Banten.