Cerpen Diego Alpadani (Singgalang, 09 Februari 2020)

Salmanah ilustrasi Singgalang (1)
Salmanah ilustrasi Singgalang

HARI itu, Salmanah menemui dirinya. Di depan cermin berukuran dua puluh kali sepuluh sentimeter yang tertempel di dinding kamar mandi. Bingkai cermin itu terbuat dari kayu jati pilihan. Ditebang ketika masih berumur muda.

Bingkai yang terpatri ukiran-ukiran ambigu. Cukup sulit untuk dimaknai jika ketelitian dan kesabaran kurang melekat pada badan diri. Sekilas bingkai kiri dan kanan cermin seperti jari-jari tangan bernafsu. Melentik dengan kuku-kuku kecil berkilau. Jari-jari yang seolah meraba buah yang begitu besar. Buah tidak berduri bergala ke ranting tak berbatang. Buah yang tidak seperti durian ataupun nangka. Lebih mirip seperti semangka namun bukan semangka. Buah itu memiliki garis tak beraturan. Seperti benang kusut yang tertumpuk di dalam kotak kecil. Buah yang sangat aneh diraba oleh jari-jari melentik dengan kuku-kuku berkilau. Bingkai ukiran yang begitu ambigu.

Sedang bingkai bagian atas cermin memiliki ukiran garis-garis yang landai. Terdapat bintik-bintik yang cukup menonjol berserakan. Bintik-bintik itu mencipta banda-banda halus yang memperjelas garis landai. Ada juga yang benar-benar menonjol hingga menyamarkan kelandaian garis. Di dua sudut bagian atas terukir garis lengkung serupa siraut yang acapkali digunakan pesilat saat berlaga. Bingkai bawah mencipta ukiran yang sangat berbeda. Hanya segitiga sama sisi berlapis terpahat di tengah.  Tepat di tengah-tengah segitiga sama kaki berlapis garis tegak lurus yang teramat samar. Mungkin, si pencipta bingkai kaca merupakan seseorang yang sangat melankolis. Namun, menjadi anarkis akibat tragedi panjang yang memuakkan. Kejadian-kejadian yang memaksanya mencipta ukiran-ukiran bingkai kaca yang sulit dipahami. Sulit dimengerti dan tentunya sulit diciptakan tanpa proses panjang.

Salmanah sejenak tertegun meraba ukiran di bingkai kaca. Tapak jari telunjuk, tengah, dan manis seolah meraba-raba sisa-sisa penyesalan panjang. Sesuatu di dalam dirinya bergetar kuat. Kencang dan tak dapat ia tahan. Seperti ada kontak fisik dan batin yang memaksa Salmanah terbuai dalam ketaksaan. Tapak jarinya masih terus meraba. Pelan-perlahan mengikuti liuk ukiran bingkai. Matanya terpejam. Getaran dari dalam dirinya masih tetap ia rasa. Ada apa? Ia membatin, kau memang benda mati tapi kenapa aku merasa kau memiliki jiwa, sambung Salmanah sambil mengangkat kelopak matanya.

Salmanah menatap pantulan dirinya. Keningnya tidak berombak tidak berjerawat. Pipinya cukup pipih sedikit memerah karena ada pewarna yang dipoles. Dagunya terbelah dalam, sedikit menggantung dan meruncing. Bentuk hidungnya menanjak dengan sepasang lubang kecil. Bibir atas sedikit tebal daripada bibir bawah. Ia menarik tepian bibir kanan dan terbentuklah senyum kecil yang menggoda. Rambutnya lurus hitam pekat menyentuh kuduk. Sepasang telinga kecil bersubangkan emas putih menggantung menambah pesona.

“Aku tak pecaya kau adalah aku. Bagaimana bisa?” lama Salmanah menatap pantulannya itu. Keterkejutannya terhadap pantulan diri yang berbeda di dalam cermin membuatnya seketika menyentuh kedua pipinya. Memindahkan jemari yang semula meraba pinggir kiri-kakan bingkai, mendarat di pipinya.

Ajaib. Pantulan dirinya berubah. Sangat berbeda. Rambutnya bergelombang seperti debur ombak pada waktu siang. Ombak pantai di pulau terlarang, tak pernah terinjak dari tungkai kaki manusia. Pipinya pucat menonjolkan titik merah serupa bisul di punggung. Berisi darah dan nanah.

Salmanah hanya terkejut tanpa pekik. Tidak seperti wanita pada umumnya yang akan memekik ketika hal tak terduga menghampiri. Getaran di dalam dirinya menghilang. Secara cepat ia ingin keluar dari kamar mandi umum itu. Ia ingin menjauh dari cermin aneh itu. Sialnya, tubuh dan pikirannya bertolak belakang. Hemisfer kanannya memerintah untuk segera pergi, namun tubuh Salmanah tetap tegak berdiri menatap pantulan dirinya.

Bibir yang menghitam keriput seperti sungai kering. Di keriput bibir itu, seakan-akan melata ulat-ulat putih kecil. Berkumpul, menyatu, aneh sekali. Ulat-ulat itu membesar dan memakan bibir Salamanah. Salmanah terbelalak, tapi di cermin tidak. Pantulan matanya tidak memiliki bola mata. Abu-abu warna yang dipantulkan dari matanya. Sudut matanya mengeluarkan cairan hitam. Seperti tinta. Busuk dan memberi rasa tak nyaman. Salmanah gamang menatap pantulan yang sebenarnya bukanlah dirinya. Ia tak mampu berucap. Seolah terdapat benda sebesar tinju lelaki dewasa yang mengakar di kerongkongannya.

Cermin itu memberi dimensi lain dari yang dipantulkan. Tidak masuk akal. Pantulan melawan yang dipantulkan. Tidak sesuai dengan hakikat cermin semestinya. Pantulan diri Salmanah tajam menatapnya. Nyatanya Salmanah hanya menunduk. Tidak ada keberanian untuk menatap cermin yang ada di hadapannya. Pantulan itu mengerakkan bibirnya. Bergumam seolah merapal mantra.

Salmanah lebih-lebih tak percaya, karena yang ada di hadapan bukanlah pantulan dirinya. Ia benar-benar tidak paham. Keningnya berlubang sebesar biji senapan api yang memutar menembus tengkoraknya. Pantulan itu bukan diriku! Salmanah membatin kasar, ini semua tidak nyata, lanjutnya. Pantulan Salmanah di cermin bertindak leluarsa. Sekehendak dirinya. Salmanah berusaha kembali menatap dirinya. Ia mengangkat dagunya yang sedari tadi menyentuh leher.

“Ada apa?” Salmanah berusaha menyembunyikan raut wajah terkejutnya.

“Apa yang salah? Bagaimana semua ini berlawanan dengan kenyataan. Kau memantulkan aku yang berbeda. Dua kali. Aku tak secantik yang pertama, aku tak serusak yang kedua. Kau tidak memantulkan aku!” Bertubi-tubi Salmanah mengeluarkan isi benaknya yang dipenuhi pertanyaan, “kau siapa? Apa salahku? Kesalahan apa yang telah kuperbuat, kutukan dan sumpah serapah apa yang melekat pada badan diriku?”

Pantulan dirinya tersenyum. Namun, senyumnya itu tetap memberi refleks pada bulu kuduk untuk berdiri. Dari giginya bercucuran cairan berwarna merah pekat bercampur coklat muda. Ia membuka lebar mulutnya. Lidahnya terpotong. Salmanah tak lagi bisa menahan jerit untuk keluar dari mulutnya. Ia menjerit sejadi-jadinya. Jeritannya menggema memenuhi ruangan. Kembali ia menutup mata. Telapak tangannya menggenggam bingkai kaca. Ia mengguncang-guncang cermin. Ia terus memekik, menutup mata.

Kamar mandi umum itu terlalu tersuruk di Pulau Duto. Salmanah berhenti mengguncang-guncang cermin yang tertempel di kamar mandi. Namun, jemarinya tetap menggenggam kuat bingkai cermin. Cukup lama Salmanah menjerit hingga menghentikan jeritannya. Ia kembali mencoba membuka matanya.

Salmanah terbelalak. Cermin di hadapannya memantulkan wajah seorang pria gemuk. Lemak bertumpuk-tumpuk di pipinya. Matanya tajam menyala bernafsu. Hidungnya besar tertempel banyak panu. Di belakangnya bergelantungan banyak buah yang tidak berduri. Buah yang serupa semangka namun bukan semangka. Pria di dalam cermin itu tersenyum lebar. Dari sisi kiri dan juga kanan bibirnya keluar jari-jari kecil mempesona merangkak menyentuh dagu bulatnya. (*)